Life

Life
Berantem.



Keesokannya..


Di sebuah lokasi pemotretan Glenci berada..


" Oke.. Cut.. ya, bagus Glenci.. oke.. kita tunda dulu sampai jam 1 siang untuk pemotretan selanjutnya.."


" Oke.. kita tunda sampai makan siang.. " Kata staf yang lain kepada yang lainnya.


Mereka pun semua sudah bubar dan kembali ke masing-masing kerjaannya.


" Hah.. akhirnya selesai juga.. Hemm.. gimana kalo aku pergi ke Mall saja sekalian shopping.. Emm.. sepertinya seru.. walaupun teman ku yang lain tak bisa menemani.." kata Glenci.


Ia pun akhirnya memesan taksi karena ia sedang tak membawa mobil. Ia datang ke pemotretan kali ini pun juga karena Hans yang menyarankan agar mobilnya tak usah dibawa dulu sebab ingin di servis. Jadi, ia diantarkan oleh Hans ke pemotretan ini.


Hans, memiliki nama lengkap. Hans Adi putra, ia adalah seorang anak dari Pak Wawan dan Ibu Sari. Yang merupakan teman dekat dari Bapaknya Glenci, namun karena orang tua Hans yang tiba-tiba bangkrut saat Bapaknya Glenci sudah sukses, mereka pun akhirnya dipekerjakan dan diberi tempat tinggal hingga Hans dan Glenci menjadi teman dari kecil.


Sekarang Pak Wawan sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan milik Bapaknya Glenci, Sedangkan Ibunya hanya membantu dirumah Glenci. Sebagai bentuk balas budi pada keluarga Glenci.Bahkan sampai sekarang pun Hans tetap disuruh untuk menjaga Glenci oleh Papahnya.


Ketika dalam perjalanan telfon pun berbunyi..


Trriingg.. Trriingg..


" Ah.. Papah.." Kata Glenci sambil mengangkat telfon itu.


" Ya.. Hallo Pah.. "


" Ah.. ya.. sayang.. eh.. apa kau bisa datang ke Cafe Furry didekat Taman Anggrek?? dengan asisten Papah ini sebagai perwakilan Papah, karena papah ga bisa datang untuk menemui klien Papah ini.. tolong ya sayang.."


" Ah.. Tapi, Pah.. jam satu nanti aku masih ada pemotretan lagi.. gimana dong Pah??"


" Hemm.. apa kau tak bisa menundanya beberapa menit saja?? Papah, beneran ga bisa datang menemui mereka.."


" Papah kan masih ada Hans Pah.. memang dia ga bisa??"


" Hans ga bisa sayang, jika bisa pun Papah akan menyuruhnya bukan kamu.. bisa ya.. hanya sebentar saja kok pertemuannya.. tak ada satu jam.. Papah yakin.. bisa ya.."


" Haaaahhh.. ya, baiklah.. aku akan menemui klien Papah.. ya sudah daahh.. bye papah.."


" Iya.. makasih ya sayang.. bye.."


" Iya.."


Tuuuttt.. ( telfon pun terhenti.)


" Aiihh.. si papah.. huh.. ya sudah lah.. hanya sebentar ini.. aku akan menemui kliennya dan setelah itu.. kembali.. tapi, sebenarnya siapa si yang jadi klien Papah ini.. tumben sekali papah segitunya.. seperti klien penting saja." Gumamnya ia sambil menatap kaca jendela mobil.


" Pak.. kita ga usah ke Mall ya.. putar balik saja ke arah Cafe Furry didekat Taman Anggrek.."


" Baik, mba.."


Tak lama kemudian..


Glenci pun sampai di tempat yang di tuju..


Glenci yang sudah sampai di depan cafe pun ia sudah ditunggu oleh asisten papahnya itu didepan pintu masuk.


“ Mba, Glenci.. mari masuk saya sudah memesan tempat dan, klien kita pun sudah menunggu disana.. “


“ Ah.. ya.. baiklah.. ayo..”


“ Ah, ya.. Mba baik..”


Mereka pun berjalan menuju ruang rapat itu untuk menemui klien mereka. Sesampainya disana saat membuka pintunya.


Ckleek.. Kriieett..


Ketika pintu sudah terbuka wajah Glenci benar-benar sangat terkejut. Tak disangka jika klien papahnya itu adalah orang yang selalu ia kagumi saat kecil dulu sampa sekarang.


“ Tama?? Jadi, Tama yang akan menjadi partner bisnis papah?? Hah!.. ya ampun..” kagetnya Glenci dalam hatinya melihat Tama yang sedang duduk di kursi itu dan ia pun juga sangat terkejut melihat jika Glenci lah yang akan meresmikan rapat kerja sama kali ini.


“ Kau, sudah mempersiapkan semuanya kan Fendri?? Aku disini hanya untuk meresmikan saja kan.. ” tanya Glenci pada asisten papahnya itu sambil berbisik padanya.


“ Ya, mba.. aku sudah mempersiapkannya dan mba hanya perlu mempertimbangkan sisanya apakah itu bagus untuk perusahaan atau tidak.. “


“ Oke baiklah..”


“ Emm.. baik, apakah rapat kali ini bisa segera berlanjut??” kata asisten Tama.


“ Ah.. ya.. baiklah..”


Mereka pun mulai rapatnya, dan semua pihak pun berdiskusi untuk proyek selanjutnya akan seperti apa dan lain-lain.


Hingga akhirnya rapat pun selesai dan mereka semua pun bubar dengan tenang, tapi Tama dan asiatennya belum keluar karena ada janji kembali dengan seseorang disini.


Gkenci yang mendengar hal itu pun langsung berpura-pura terjatuh didepan ruang itu. Sontak saja Tama pun langsung membantunya untuk bangkit. Setelah ia menolong Glenci tiba-tiba saja Glenci terjatuh kembali hingga mau tak mau Tama pun langsung menariknya dan masuk ke dalam pelukannya. Dan sialnya kejadian itu pas sekali dengan kedatangan Juli yang baru saja ingin menemui suaminya itu.


“ Apa-apaan ini.. mas..” Juli yang langsung menghampiri suaminya itu pun langsung bertanya dengan nada sedikit marah dan bingung.


Mendengar hal itu dan melihat dengan jelas jika istrinya itu sudah sampai dengan keadaan ia sedang memeluk seorang wanita yang bukan muhrimnya. Ia pun langsung mendorong Glenci dengan keras sampai orang it terjatuh.


“ I.. ini.. bukan.. bukan seperti yang kau pikirkan Jul.. tolong.. jangan salah paham.. yang.. sayang.. aku bisa jelasin hal itu..”


“ Mas.. sudah lebih baik aku pulang.. dan mas ga usah pulang.. dan ikutin aku..” Kata Juli sambil berjalan menjauh dari Tama.


“ Jul.. sayang.. sayang.. Juli.. istri ku.. tunggu..” Tama pun sambil ingin menarik tangannya namun Glenci tak membiarkan Tama pergi dari sana.


“ Apaan.. si kau ini.. lepas tidak.. lepas.. “


“ Ga.. mau Tama.. ga mau.. aku ga akan mau.. seharusnya aku yang menjadi istri mu bukan dia.. kenapa kau menerima pernikahan itu..”


“ Aku bilang lepas!.. lepas.. lepas, glenci. Ku bilang lepas.. huh!!..” Tama langsung melepas tangan Glenci dari pergelangannya dan mendorong Glenci kembali.


Setelahnya Tama pun langsung mengejar Juli yang sudah pergi menjauh darinya.


Di samping itu juga, Juli yang sudah pergi menjauh dari Tama dan ingin memanggil taksi untuk mengantarnya kembali ke Apartemen.


“ Mengapa, mengapa kau seperti itu di depan matanya.. Ahkk.. mas.. apakah yang kau katakan malam itu benar?? Apakah tulus mencintai ku?? Ahhk akhirnya.. apakah aku sudah masuk kedalam jebakan itu.. ah.. “ batinnya Juli yang sangat sakit melihat kejadian itu.


Sambil berlari dan menyetopi para taksi yang lewat tapi tak satu pun taksi itu berhenti untuknya. Hingga..


Greebb..


Seseorang memeluknya dari belakang.


“ Maaf.. maaf, maafkan aku sayang.. “


“ Semua yang kau lihat barusan itu tidaklah seperti yang kau pikirkan.. aku hanya menolongnya tak lebih dari itu..”


“ Sudah, lepas mas.. ini dijalankan umum.. malu..”


“ Tidak.. aku ingin mengklarifikasi disini..”


“ Apa lagi.. apa lagi.. mas.. aku ingin pulang..”


“ Ya.. baiklah.. ayo kita pulang.. aku akan mengantar mu.. dannkita selesaikan ini ya.. ayo..” ajaknya Tama ke tempat mobilnya terparkir.


“ Tidak.. mas.. maaf.. aku ingin pulang sendiri..” kata Juli kekeh untuk tetap pulang sendiri.


“ Tidak.. mas ga akan membiarkan mu pergi sendiri.. ngga.. ayo kita bicarakan ini baik-baik dan akan ku jelaskan semuanya..” Mohon-nya Tama pada Juli yang sudah tak ingin lagi mendengar apapun dari Tama.


“ Maaf mas..” Juli pun melepas tangannya Tama dan ingin pergi menjauh darinya. Namun..


“ Ngga.. aku ga akan membiarkan mu sendiri sebelum kau mendengar semua penjelasan ku itu.. Ayo ikut aku.. ikut..” tarinya Tama dengan sedikit memaksa pada Juli.


Dan akhrinya Juli pun mengikuti kemauan suaminya itu. Mereka pun berjalan masuk ke mobil dan melakukannya keluar dari cafe tersebut.


“ Apa yang mau kau jelasin.. bukankah itu sudah cukup untuk aku tau..” kata Juli dengan mata yang sudah memerah karena Manahan tangisnya.


“ Aku.. tak pernah ada hubungan apapun dengan dia.. ya.. jujur tadi itu memang secara tak sengaja hal itu terjadi.. tapi, bukan berarti aku memiliki hubungan dengannya.. tolong, percaya pada ku.. jika kau masih tak bisa percaya pada apa yang kukatakan barusan.. lihat.. kau lihat bukan.. didepan sana ada jembatan..”


“ Lalu?? Apa yang mau mas lakukan..”


“ Jika kau masih tak percaya bahwa aku memang tak memiliki perasaan apapun padanya.. aku akan melompat dari jembatan itu dan terus berenang sampai kau berkata percaya pada ku..”


“ Apa kau sudah gila mas.. mas.. hey.. mas.. tunggu.. jangan keluar.. jangan.. lakukan itu.. mas..”


“ Tidak.. kau masih belum percaya pada kata-kata ku ini.. jangan hentikan aku.. jika kau masih belum mempercayainya..” Tama keluar dengan tergesa-gesa menuju kepinggiran jembatan.


Disusul dengan Juli yang keluar juga dari mobil dan mengejar Tama.


“ Mas. Itu ga akan baik mas.. mas..” panggilnya Juli yang sama sekali tak di dengar oleh Tama yang terus saja berjalan menuju pinggiran jembatan.


Sesampainya disana.. Tama membalikan badannya untuk melihat Juli yang berhenti berjalan disana.


Tama pun kembali lagi melihat ke arah sungai itu. Dan..


“ Tidakk!.. mas.. tidak.. aku percaya.. aku percaya.. tolong jangan lakukan itu.. “ kata Juli sambil berlari menghampirinya dan memeluknya dari belakang untuk mengehentikan Tama.


°°°


Happy reading 😉.


Maaf, atas keterlambatan update.. kondisi author sedang kurang baik.. mohon dimaklumi..🙏🙏 π~π.. terimakasih kepada pembaca semua yang telah mampir ke novel ini.. semoga kedepannya bisa lebih baik lagi..🙏🙏🙂