
Situasi yang sangat berbeda dari biasanya.. Entah hanya Juli saja yang merasakannya atau mungkin Tama dan pasien yang ada dirumah sakit ini pun juga ikut merasakannya juga. Juli hanya berharap jika perasaannya ini tidaklah benar.
Hari pun sudah menunjukan pukul 12 siang. dan waktunya makan siang. Juli hanya memesan roti isi, buah-buahan dan jus alpukat untuk Tama dan dirinya. Lalu tak lupa ia juga memesankan makanan untuk para bodyguard yang selalu menjaga didepan untuk makan siang dulu sambil berjaga.
Tak lama, salah satu ART yang ada dirumah Adirata pun datang membawakan pesanan yang Juli pesan itu. Ya, memang awalnya Juli bersikeras untuk tidak merepotkan ART yang ada dirumah Papah mertuanya itu, namun Adirata memaksa jadi ia harus menurutinya.
" Ini.. Non.. makanannya.. semua yang tadi Non pesen.." Kata ART tersebut sambil menaruh semua bungkusan makanan itu di meja yang berada tak jauh dari samping Tama.
" Dan yang ini untuk Den Tama dan Nona.."
" Ah.. iya, Mba.. makasih.. maaf merepotkan.. " ia memanggil mba karena terlihat tua' an ART itu dibanding dirinya.
" Ya.. sama-sama Non.. saya permisi pulang dulu.."
" Ya.. sekali lagi terima kasih ya.. "
" Baik.. Non.. saya permisi.." ART itu pun pergi kembali.
Setelah ia pergi, Juli pun kemudian membagikan makan siang itu pada para penjaga didepan sana. Tak lama setelah ia selesai membagikan bekal makan itu ia melihat pria mencurigakan itu berada di dekat ruangan Tama tepatnya di pojok kanan ruangan, dia duduk termenung disana seperti orang yang sedang menimbang-nimbang masalahnya sendiri.
“ Loh.. orang itu.. bukannya dia yang tadi ingin ke ruangan sekitar sini? Tapi kenapa duduknya di depan situ dekat dengan ruangan mas Tama apa jangan-jangan bener dia ingin mencelakai seseorang disini, Hemm.. tapi, orang itu terlihat sangat kasian sekali. Entah mengapa aku merasa ada beban yang sangat besar didirinya yang sulit sekali untuk dihilangkan.” Gumam Juli.
“ Apa aku kasih saja bekal satu ini.. sisa satu si.. ku pikir akan pas tapi sisa satu gini.. daripada mubazir mending kasih saja lah..”
Juli pun menghampirinya dan memberikan kotak makan siang itu padanya.
“ Emm.. maaf, pak mengganggu... Ini, kotak makan untuk Bapak.. saya tidak bermaksud, hanya saja saya perhatikan bapak seperti sedang kelaparan, dan kebetulan juga saya ada sisa nasi kotak jadi.. ini untuk bapak.. “
“ Eh.. tidak usah mba.. aduh, tak apa.. saya juga tak terlalu lapar.. tidak terimakasih mba..”
“ Sudah, ini untuk bapak saja.. tak apa.. atau jika bapak tetep tidak mau, ya bapak bisa memberikannya kepada anak atau istri bapak.. atau siapapun itu.. saya permisi dulu ya pak..”
“ Ah.. ya.. makasih mba..”
“ Iya.. “ tersenyum Juli lalu, ia pergi meninggalkan pria itu disana.
Juli pun kembali ke ruangan Tama tapi sayangnya Tama sudah terlalu berekspresi cemberut gitu padanya. Juli yang melihatnya pun merasa sangat gemas padanya rasanya ia ingin mencubit pipinya itu.
“ Kenapa wajah mu terlihat seperti itu.. seperti ikan buntel.. Hemm.. padahal aku hanya meninggalkan mu sebentar.. “
“ Hemm.. kau keluar begitu sangat lama.. apakah aku terus menunggu selama itu sedangkan perut ku ini sudah sangat lapar..”
“ Hemm.. “ angguknya sambil bertingkah imut.
“ Hehe.. mas beneran seperti anak kecil.. ya udah, ini nie.. Aaaa... “ Juli pun menyuapi Tama sampai sandwich nya habis tak tersisa begitupun juga dengan punya nya.
“ Enak.. aku suka ini.. tapi, aku lebih suka masakan buatan mu.. mengapa kau tak membuatkannya??”
“ Hemm.. mas, masih saja bilang seperti itu, padahal aku selalu disini dan aku hanya sesekali saja pulanh ke rumah dan itu pun hanya mengambil pakaian ganti saja.. bagaimana bisa aku memasak untuk mu..”
“ Ya.. aku mengerti, tapi baguslah.. karena dengan begitu kau selalu disisiku..”
“ Ya.. ya sudah.. setelah ini mas istirahat begitu pun juga dengan ku.. ada hal yang harus ku persiapkan untuk nantinya..”
“ Persiapan? Memangnya kau ingin apa??”
“ Aku, ah.. tidak, adalah.. pokoknya ini menjadi rahasia untuk mu sampai kau bisa keluar dari rumah sakit ini dan kembali ke rumah nantinya..”
“ Hemm.. iya deh.. pokoknya besok aku harus meminta ijin untuk segera dikeluarkan dari rumah sakit ini agar kau bisa memberi tahu ku semua hak yang sudah terjadi..”
Saat Juli dan Tama sedang istirahat untuk menenangkan diri dan memulihkan keadaan, justru sirine kebakaran berbunyi menandakan adanya kebakaran disekitar gedung rumah sakit itu. Begitu kencangnya hingga Juli pun sadar. Dan ia langsung memanggil para bodyguard itu untuk mencari tahu dimana letak kebakaran itu. Sambil ia terus berjaga di dekat Tama.
Ia panik sekaligus khawatir akan keadaan Tama nantinya.
“ Kenapa hal ini harus terjadi.. perasaan ku kenapa menjadi kenyataan.. aku harus apa?? “
“ Ohokk.. ohokk.. Jul.. Jul.. ada apa?? Kenapa sepetinya ada asap di sekitaran sini??”
“ Iya.. mas.. aku pun juga tak tahu.. dan para bodyguard pun sebagian mencari tahu apa akibatnya.. apa kita keluar saja dari sini.. tapi ini cukup bahaya.. aku juga ga tahu harus bagaimana?? “
“ Tenang.. pasti ada jalan keluarnya.. ahhkk..” Tama merasakan sakit pada lukanya itu.
“ Mas, ga papa??”
“ Ngga, mas ga papa.. hanya sedikit sakit saja.. Tapi, tapi.. asapnya sudah hampir menyelimuti ruangan ini.. ini akan bahaya..”
“ Baiklah.. aku akan meminta bantuan pada bodyguard yang lainnya untuk membawa mas keluar dari sini..”
Juli pun membuka pintu dan ia meminta bantuan pada bodyguard itu untuk membawa Tama keluar dari sana dan mencari tempat yang paling aman.
°°°