Life

Life
Cerai.



Di dalam rumah Safa..


Suara keras terdengar sampai keluar bahkan suara hentakan pun terdengar dengan jelas dari dalam sana. Tak lama suara tangis pecah dari dalam rumah tersebut.


“ Hikss.. hikss.. maaf.. maaf.. maafkan aku.. huhu.. aku takkan pernah mengulanginya.. “ ucapnya Safa sambil tertunduk dilantai dengan air mata yang terus keluar dari matanya.


“ Bagus.. hapus air matamu dan cepat kau kerjakan dengan baik apa yang ku suruh tadi.. cepat sana.. jangan sampai kau memecahkan piring kembali. Cepat sana..” kata bapak tirinya.


Safa pun mengusap air matanya dan bergegas pergi ke dapur untuk membereskan barang disana. Di dapur ia terus membersihkan piring dan gelas yang sudah ia cuci, sambil menangis.


“ Hikss.. kenapa aku selalu seperti ini??”


Ia terus menerus menyalahkan dirinya dan keadaannya. Terkadang ia juga bertekad untuk pergi dari rumah dan ia takkan mau kembali ke dalam rumah yang penuh dengan hal yang mengerikan ini. Ia hanya ingin kabur dari sini. Namun, ia langsung teringat oleh mamahnya dan ia tak mau meninggalkan mamahnya.


Ia pun juga sadar jika ia masih membutuhkan mamahnya. Walau ia terluka dan tersakiti, dengan banyak luka kebab ditubuhnya ia tak bisa tunjukan pada mamahnya. Ia takut jika mamahnya akan kena akibatnya juga.


Tak lama, mamahnya pun pulang dari rumah tetangga.


“ Fa.. nak.. kau didapur??”


“ Ah.. ya.. mah.. aku didapur.. Safa lagi beresin cucian piring..”


“ Emm.. itu pecahan beling apa disamping rumah??”


“ Owh.. itu tadi, aku memecahkannya mah.. maaf ya.. aku takkan memecahkannya lagi.. maaf..”


“ Ya.. tak apa.. tapi sudah bersihkan?? Eh.. tunggu, Safa menangis??”


“ Ah.. ngga ko mah.. ini abis kelilipan tadi..” kata Safa sambil menyeka air matanya.


“ Tapi..” kata mamahnya Safa terhenti sambil melihat intens ke arah dagu kiri yang terlihat memerah seperti pukulan atau benturan.


“ Tunggu.. kesini sebentar Fa.. mamah mau lihat ini..” dilihatnya dagu kirinya Safa, dan memang benar jika itu adalah benturan yang menyebabkan tanda kemerahan disana.


“ Nak.. kau kena omelan kan oleh papa?? Coba sini mamah lihat..”


“ Ah.. tidak.. ko mah..” mengelak nya Safa.


“ Sudah.. jangan mencoba berbohong pada mamah.. sini, sini mamah mau lihat..”


Ia pun melihat luka-luka yang ada ditubuh anaknya itu dan ya.. benar sekali anaknya telah disiksa oleh.. lalu, ia pun menangis karena tak mengetahuinya sejak awal.


“ Maaf.. maaf.. maafkan Mamah nak.. maafkan.. maaf janji kali ini untuk terakhir kalinya kau memiliki seorang bapak seperti dia.. mamah.. janji.. tak akan menikah lagi.. sampai kamu besar nanti.. maafkan Mamah nak.. hikss.. kemari, mamah akan mengobati mu..”


“ Sudah.. mah.. mamah ga bersalah.. memang keadaan yang bersalah.. hikss.. sudah.. jangan menangis.. aku baik-baik saja mah..”


Setelahnya tiba-tiba saja Bapak tiri Safa pulang kerumah dengan keadaan yang babak belur karena dipukuli, sebab ia menunggak hutang hingga berbulan-bulan lamanya.


Pllaakkk.. ( suara tamparan keras menampar pipi Bapak tiri itu )


“ Kau, kau!! Sudah gila ya!! Bisa-bisanya kau melakukan hal seperti itu pada anak yang bahkan isinya saja belum genap 10 tahun.. tega ya.. tega!! Pokoknya aku mau cerai mas.. aku mau cerai!! “


“ Hei.. Apa-apaan kau ini, hah!! Kau.. ah.. baiklah, jika itu mau mu.. baik.. oke.. ya.. aku pun juga sudah muak dengan mu.. jadi silahkan, aku akan mengirimkan surat pengadilannya langsung pada mu.. “


“ Hah!! Dasar wanita sialan.. dengan gampangnya bilang mau cerai.. padahal dia sendiri yang ingin menikah dengan ku.. tak apa, tak apa.. toh, dia pun juga sudah tak berguna.. haha..” katanya sambil pergi meninggalkan rumah.


Sedangkan itu, mamahnya Safa terlihat sangat sedih akan hal ini.. ia seperti wanita tak berguna sama sekali. Sudah kesekian kalinya ia bercerai. Dan hal sama pun sudah menimpa anaknya yang sangat ia cintai.


“ Sudah, mah.. sudah.. mamah jangan menangis.. hikss..”


“ Mamah.. tidak menangis.. ayo kita masuk.. sekarang kau takkan pernah mendapatkan perlakuan yang menyedihkan lagi.. dan mamah janji, mamah ga akan mencarikan papah lagi untuk mu.. karena mulai sekarang mamah yang akan memberi mu segalanya.. hiikkss..”


“ .... “ Safa pun hanya mengangguk saja mendengar mamahnya berkata seperti itu.


Dan mereka pun berpelukan.


°°°


Beberapa hari sudah berlalu namun Tama masih belum sadarkan diri. Hingga suatu malam, ketika Juli sedang ke kamar mandi. Lalu ia kembali dari kamar mandi dan berlanjut untuk menemani Tama. Sebelumnya memang banyak sekali kerabat Tama dan Feli berserta dengan Bryan menjenguk Tama disela kesibukan mereka.


Bahkan Feli pun sempat menemani Juli sampai larut malam, dan akhirnya ia pun dijemput oleh Bryan sepulang kerja.


Tapi, malam ini rasanya Juli sangat begitu merindukan sosok Tama yang selalu bertingkah aneh padanya. Ia merindukan suaranya dan sosoknya yang terkadang membingungkan baginya.


“ Mas.. mas.. apa kau tetap terus ingin seperti ini.. apa kau tak kasihan pada ku.. kau bilang di mimpi waktu itu, kau akan kembali dan menyatakan perasaan mu pada ku, tapi.. sekarang kau tetap seperti ini.. hikss, aku.. aku.. aku merindukan mu mas.. hikss.. aku sangat merindukan mu.. sangat..”


“ Aku selalu berdoa agar kau bisa kembali kesini berkumpul dengan keluarga mu dan aku.. apa kau betah disana?? Ku harap kau tak betah disana, dan segera kembali kesini.. aku sangat merindukanmu mas..” kata Juli sambil terus mencium tangannya dan menggenggamnya dengan erat.


Lama ia terus menggenggam tangannya, ia pun merasakan seperti tangannya Tama bergerak sedikit. Namun, ia masih menganggap itu adalah ilusi baginya, karena ia ingin sekali jika Tama sadar.


Namun, detik berikutnya. Tangannya benar-benar bergerak dan menerima respon gerakan tangan Juli. Mengetahui hal itu, Juli pun langsung memanggil dokter untuk diperiksa.


Hingga akhirnya...


Hal itu terjadi, Tama benar-benar kembali. Tama siuman dan itu membuat Juli begitu sangat terharu. Ia terus bersujud syukur atas hal itu.


°°°