
Aku terus berlari.. Terus berlari sampai ku tak tau harus berhenti sampai dimana??
Bahkan ku tak pernah berfikir, sampai mana diri ku akan berhenti untuk berlari.. Rasa takut, rasa cemas, rasa sedih dan semua rasa yang ada ku selalu menutupi itu semua. Walau ku tau, itu takkan baik. Tapi, aku tetap tak bisa mengungkapkan pada siapapun.
Apa yang harus ku lakukan??
Aku sama sekali tak tahu.. Sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi di persimpangan jalan itu..
Hidup ku, seakan runtuh saat orang yang ku sayang pergi untuk selamanya dan tak pernah kembali.
Sosok yang sangat membuat ku tenang saat aku bersamanya. Sosok yang sangat bisa ku jadikan sandaran diri ku saat aku sedang ingin terlelap dalam pangkuannya. Sosok yang bisa mengajari ku dengan kelembutan dan kasih sayang. Sosok yang sangat baik, walau diri ku terkadang sering berbuat nakal.
Dia pergi, tapi aku tetap disini. Entah bagaimana aku bisa bertahan. Entah bagaimana aku bisa menjadi diri ku yang dulu lagi. Hingga aku memutuskan untuk menjadi sosok yang sangat tak disukai oleh orang lain, bahkan Kakak ku sendiri terkadang tak peduli pada ku.
Aku tahu seorang anak laki-laki tak boleh bersedih hanya karena suatu hal, tapi tak bolehkah aku mengeluarkannya sedikit saja?
Aku sering bertanya pada diri ku sendiri tentang apa yang harus kulakukan saat hati ini sedang terpuruk.
Aku hanya ingin bersandar.. Aku hanya ingin tertidur dalam pangkuan seseorang yang hangat dan nyaman.
Namun, lagi-lagi aku tak bisa.. hingga aku memilih untuk tetap berlari tanpa pernah memperdulikan hal lainnya.
Lelah..
Sungguh Lelah..
Pastinya aku takkan bisa kembali lagi ke titik awal ku..
Hingga akhirnya aku menemukannya, Ku pikir awalnya ia, sosok yang tak penting dan sangat rendah. Tapi, ku salah.. sangat salah.. Dia sosok yang berani namun takut juga.. Pfftt.. Sungguh menggelikan.
Aku tau betul, diri ku ini..
Diri ku memang sangat berbeda dari yang lainnya.
Tentang kalung kotak itu.. Ya, Kalung itu, dari ibu ku.. Walau yang memberikannya bukan dari tangan ibu ku langsung. Bibi ku yang memberikannya. Dia sosok yang sangat dekat dengan ibu ku. Bahkan mereka sering jalan bareng ketika aku kecil dulu.
Memang benar, kalung itu seperti memiliki kekuatan. Awalnya aku tak tau, tapi ada satu kejadian yang membuat ku percaya bahwa dia memang ada.
Saat itulah, aku selalu membawanya karena aku merasa nyaman setiap kali aku memakainya terasa seperti ibu selalu ada di dekat ku.
Namun, ada satu kejadian yang akhir-akhir ini selalu membuat ku merasa aneh. Aku seperti tak bisa mengendalikan diri ku sendiri. Seperti ada yang masuk dan mengontrol diri ku.
Hingga aku benar-benar tak bisa mengontrol dan aku mulai melakukan kekerasan pada setiap orang disekitar ku saat itu.
Ketika aku sadar, orang-orang itu sudah terkapar. Bahkan sampai saat ini.. Aku masih belum tau mengapa aku seperti itu..
Yang ku bisa hanya diam dan kembali berlari lagi. Hingga aku tak tau harus berjalan kemana lagi. Bahkan sampai saat ini..
Aku masih tak tahu mengapa aku selalu begitu. Hingga dia hadir dalam hidup ku dan hari ku. Dan saat itu, aku sama sekali tak tau mengapa aku bisa berbuat itu padanya. Aku memukulnya, walau tak ingat bagaimana aku memukulnya, tetap saja aku tau bahwa, aku yang sudah melakukan itu padanya.
Hati ku sangatlah sakit, tapi aku tak bisa memperlihatkan padanya. Dan saat kalung itu sudah tak ada dan aku pun juga tak tau kemana kalung itu hilang. Aku mulai merasakan hal yang sangat ku rindukan. Rasa yang sangat hangat seperti belaian kasih ibu ku.
Ku dapatkan dari dia. Dia yang padahal hanya seorang gadis biasa dan tak memiliki apapun selain keluarganya dan dirinya. Dia yang sangat menjaga jarak dan tetap mempertahankan prinsipnya, membuat ku sadar dan semakin tak tahu perasaan apa ini yang sedang memuncak dalam hati ini.
Hemm... Namun ia masih belum tau perasaan apa itu. Mungkin yang orang lain bilang itu benar, mengenai cinta dan lainnya. Tapi, hal itu sangat sulit dicerna oleh Tama sendiri.
Walau seperti itu, anehnya aku tak ingin dia menjauh, dan pergi. Dan aku membiarkannya tetap menjadi istri ku, walau tanpa rasa yang pasti.
Aku masih sering berfikir, mengapa ia tetap menerima pernikahan ini padahal dia pasti sudah tau sifat ku yang jelek. Walau pastinya dia akan menjawab itu karena ia ingin membahagiakan keluarga, tapi itu bukan alasan yang kuat. Kadang ada pikiran negatif apa dia ingin harta ku saja.. Namun, selama sebulan ini ia begitu sangat baik pada semuanya.
Ia mengikuti apapun yang ku perintah, bahkan sampai ia menutupi apa yang sudah ku lakukan padanya sampai luka-luka.
°°°
Di taman sekitar Apartemennya.
Seperti biasa Tama berjoging disana. Sedangkan Juli, ia membereskan segala hal di setiap ruangannya. Lalu memasak dan menyajikan di meja makan.
Brruukk..
" Eh.. sorry.. maaf.. maaf.." kata wanita itu yang menabraknya.
" Ya.. tak apa.." Dengan sikap dinginnya ia langsung kembali berjoging lagi.
" Eh.. kau, Tama kan??"
" Hemm, ya..siapa ya??"
" Masa ngga inget si.. ini aku, Fanka, Jifanka.. teman kecil mu dulu.."
" Hah.. siapa si?? aku ga kenal, lupa.."
" Hemm.. sedih deh.. masa ga inget si.. itu loh.. yang waktu itu, ibu mu sering mengajak mu main ke rumah ku.. dan kita selalu main bersama. Masa tetep ga inget.."
" Ah.. ya.. ya.. ngapain kau disini?? bukannya semenjak kalian sekeluarga pindah ke Jepang kalian ga pernah ke indo lagi.."
" Hemm.. emang susah ya, ngomong sama orang yang dingin dan jutek gini.. ga ada manis-manisnya.. Ya.. kami ke indo baru bisa tahun-tahun ini.. Sekalian aku belajar pegang perusahaan Papah disini."
" Owh.. gitu.. ya udah.. selamat ya. kau sudah berhasil pegang perusahaan disini.. dah.. aku pergi dulu.." Tama langsung cabut dari sana.
" Leh.. Leh.. kok.. pergi.. loh.. masa gitu doang.. ampun deh.. punya temen lama baru ketemuan lagi.. juteknya kebangetan.. huh.."
" Tapi, dia terlihat berbeda.. dari terakhir aku melihat fotonya."
Tak disangka.. Ada seseorang yang melihat kejadian itu dari atas sana.
•••
Sampainya Tama di Apartemennya, ia langsung masuk dan meminum air yang ada didekat rak meja dekat pintu.
" Huh.. capeknya."
" Iya.. Apa kau mau langsung sarapan setelahnya atau.."
" Aku akan mandi dulu.. Muah.. "
Tiba-tiba ia langsung mencium keningnya Juli. Itu sangat membuatnya merasa semakin campur aduk.
.....