Life

Life
Menyadari.



Lama mereka mengerjakan tugas bersama..


Hingga tak terasa mereka pun sudah hampir menyelesaikan tugas mereka. Waktu pun sudah menunjukan pukul 7 malam. Menit terakhir dan soal terakhir mereka mengerjakan, disitu terdapat satu pertanyaan yang sangat membuat Safa terus berfikir dan terdiam disamping Vian.


Pertanyaan yang sangat mendalam, walaupun mereka masih sekolah SD namun bagi Safa pertanyaan itu adalah sesuatu yang sangat dalam baginya. Apa arti keluarga bagi kalian??


Pertanyaan essay yang sangat sulit untuk dijawab Safa. Hingga ia pun tetap terdiam dan masih belum menulis jawabannya. Sedangkan Vian yang sudah selesai menjawab dan ia pun sudah membereskan buku-bukunya.


“ Fa.. ada apa?? Kok diam?? Apa ada yang sulit soalnya??” tanya Vian.


“ Emm.. aku.. aku, hanya tak bisa menjawab pertanyaan ini??” kata Safa sambil menunjuk soal terakhir miliknya.


“ Emm.. loh ini kan pertanyaan mudah Fa.. kenapa kau tak bisa menjawab pertanyaan ini??”


“ Entahlah, aku sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan itu?? Aku bingung harus jawab apa?? Pikiran ku serasa kosong saat membaca pertanyaan itu..”


“ Kau, pasti ada masalah kan dengan keluarga mu?? Iya kan??”


“ Emm.. “


“ Kenapa kau tak bilang dari tadi.. apa, masalah apa yang sedang terjadi?? Apa kau dipukul lagi oleh orang tua mu??” Bisik-nya Vian di telinganya.


“ ...... “ diamnya Safa namun ia hanya menganggukkan kepalanya saja.


“ Hah.. sudah ku duga.. ayo.. “ sambil memegang tangannya dan Vian langsung menariknya keluar dari rumah Safa.


“ Eh.. eh.. mau kemana?? Kemana heh.. Vian, tunggu.. “


Safa yang sudah tak bisa melawan dan menghentikan langkahnya Vian, ia pun menyerah dan mengikuti kemana Vian membawanya. Sampainya mereka di pasar malam yang letaknya tak jauh dari rumah mereka.


“ Hah.. sejak kapan kampung kita ada pasar malam gini?? Emang di kasih selembaran gitu??” tanya Safa.


“ Jelaslah.. kau tak bisa tahu.. orang ketika selembaran itu dikasih kau sedang bengong gitu.. dan melamun terus.. ya gimana mau tahu..” jelasnya Vian.


“ Lalu, mengapa kau mengajakku pergi ke tempat ini?? “


“ Kau itu ya.. kenapa banyak sekali bertanya si.. sudah lebih baik.. kita keliling saja dulu.. Emm.. maaf ya.. aku ga bisa mengajak mu menaiki wahana disini.. seperti kincir ria atau yang lainnya.. uang jajan ku mungkin hanya bisa membeli gulali kapas saja atau sosis bakar.. hehe..”


“ Ahhkk.. tak perlu seperti itu.. aku sudah sangat senang Vian.. makasih sudah mengajak ku ke sini.. hehe..” senyumnya Safa yang membuat Vian merasa bahagia.


“ Oke.. sekarang kau hanya perlu mengikuti ku saja.. ayo.. kita kesana..”


“ Ya.. hehe..”


Mereka pun pergi berkeliling di pasar malam itu. Orang tua mereka sama sekali tak mengetahui mereka telah pergi ke pasar malam itu. Mereka berjalan kesana-kemari, lalu membeli permen kapas, lalu sosis bakar, lalu menikmati ayunan gratis disana.


Sambil melihat anak-anak lainnya juga main disana dengan orang tuanya dan ada juga dengan kakaknya atau hanya ibunya. Mereka semua yang berada di pasar malam ini terlihat sangat bahagia, dan hal itu membuat Safa merasa semakin suram hatinya. Tak terasa Vian pun juga menyadari hal itu. Ia menyadari jika hal itu membuat Safa kembali termenung.


Entah apa yang sedang mereka pikirkan masing-masing, tiba-tiba di depan mereka seorang anak dengan makanan ditangannya berlari menuju mamahnya yang baru saja pulang dari kerja.


Lalu sang anak itu dengan sangat gembiranya ia terus berlari hingga ia tak menyadari jika ada batu didepannya, hingga ia pun tersandung dan terjatuh disana. Ia menangis sangat kencang sambil memperlihatkan lututnya yang berdarah.


Melihat itu, Safa ingin membantunya tapi, ia tak jadi sebab ibunya sudah menghampirinya dan berkata..


“ sudah.. cup.. cup.. cup.. mana tadi yang sudah melukai anak mamah ini?? Sini.. sini.. biar mamah pukul dia.. biar kamu ga nangis.. sudah.. ya.. sudah.. jangan nangis.. tukk.. tukk.. tuh.. kan mamah sudah pukul dia.. sudah ya.. jangan nangis.. ayo.. mamah obati..”


“ Mamah.. huhu.. maaf.. “


“ loh.. maaf kenapa??”


“ Maaf.. gara-gara aku.. mamah jadi mencari ku kan.. aku dah pergi ke pasar malam ini trus beli ini.. “


“ Lalu??”


“ Mamah.. jadi kecapean kan cari aku.. “


“ Euumm.. sudah.. sudah.. mamah baik-baik saja ko.. malah ga capek.. sudah.. mamah ga papa.. jadi ayo kita pulang dan obati lutut mu dulu.. ya.. Emm.. anak mamah memang kuat dan hebat.. Muah.. dah ayo kita pulang.. Emm.. makanan buat mamah mana?”


“ Ini.. ini buat mamah..”


“ Hehe.. hahaha..” sambil berjalan menjauh mereka terlihat sangat senang.


Melihat hal itu Safa seperti berfikir mengenai mamahnya. Mamah yang selalu ada disaat ia sedang dalam keadaan buruk dan selalu disalahkan oleh papah kandungnya maupun tirinya. Dan mamah pula yang selalu membela diri ku saat itu terjadi.


“ Jika kau ingin menangis, menangis lah.. aku akan terus menemani mu disini.. aku mengerti keadaan mu saat ini.. jadi, menangis lah Fa..” kata Vian sambil memeluk Safa yang terus menangis.


“ Aku.. merasa sangat sedih Yan.. di saat aku sudah tak percaya jika orang tua ku menyayangi ku.. aku dihadapkan oleh ingatan yang sangat membuat ku merasa jika hanya mamah lah yang menyayangi ku..”


“ Ya.. aku paham sudah.. mau kembali ke rumah?”


“ Ya.. aku pun tau jawaban dari pertanyaan tadi Vian..”


“......” mendengar itu Vian pun tersenyum.


“ Ya.. ayo kita kembali..”


“ Ya..”


Mereka kembali pulang dan Vian pun juga pulang ke rumahnya.


“ Ya.. sudah ya.. aku pulang ya.. Fa.. dahh.. besok berangkat bareng ya.. Mari Bu.. saya pulang..”


“ Ya.. nak Vian.. salam ya.. buat Mak mu..”


“ Ya.. baik Bu...”


Vian pun pergi meninggalkan rumah Safa.


“ Mah.. maafkan Safa ya.. mah.. “


“ Ya.. mamah, selalu memaafkan mu nak.. karena mamah sangat menyayangi mu sampai kapan pun..”


Mereka pun berpelukan..


Di rumah Feli..


“ Fel.. apa kau sudah dapat kabar??” tanya Bryan.


“ Heh.. apa memangnya??”


“ Itu.. mengenai pak Tama anaknya pak Adirata, bos ku..”


“ Hah.. memangnya ada apa dengannya?? Tapi, dari tadi Juli tak mengabari ku apapun itu..”


“ Waktu itu.. Bapak sempat bilang jika anaknya ditusuk orang ga dikenal dan ini ada kaitannya tentang peralihan nama perusahaan dan saham terbesar di perusahaan yang dipegang oleh kakeknya Pak Tama atau bisa dibilang pemilik perusahaan Martha group..”


“ Apa!.. Trus.. gimana keadaannya?? Kenapa kau tak menjenguknya??”


“ Keadaannya tadi sangat genting sepertinya.. dan tugas dikantor pun juga masih ada jadi Bapak menyuruh ku untuk membedakan terlebih dulu kerjaan itu dan aku bisa datang ke tempat mu juga karena sudah selesai..”


Trriingg.. Trriingg.. ( suara ponsel Bryan berbunyi )


“ Ya.. Hallo, Pak.. “


“ Ryan.. coba kamu, cek.. atau cari apapun itu cctv yang mengarah ke parkiran mobil di perusahaan yang dipegang Tama.. cari tahu apapun itu.. bahkan sampai yang terkecil pun sekalian..”


“ Ya.. baik.. Pak.. “


“ Cepat ya.. Yan.. pokoknya besok harus dapatkan hasilnya.. dan sekalian kau jika sudah menemukannya.. kau harus cari orang itu sampai dapat.. suruh orang-orang mu untuk mencarinya.. “


“ Baik.. pak.. siap..”


Tuutt.. ( telfon pun terputus )


“ Siapa Yang??”


“ Ah.. ini.. Bapak bos.. “


“ Yang.. maaf ya.. aku harus pergi ada hal yang gawat.. dahh.. aku pergi.. salam buat mamah papah.. aku ga bisa nemuin mereka.. daah..”


“ Ya.. hati-hati Bryan.. “


“ Ya..” kata Bryan sambil buru-buru masuk kedalam mobil dan pergi berlalu.


°°°