Life

Life
Tolong jangan terjadi lagi...



“ Mas.. mas, sudah bangun?? Mas, beneran sudah bangun??” Tak percayanya Juli saat melihat tangan Tama benar-benar mersponnya.


“ Tunggu.. tunggu sebentar.. akan ku panggilkan dokter..”


Juli pun langsung memencet tombol pemanggil. Dan tak lama kemudian seorang dokter dan suster pun datang ke ruangan Tama untuk diperiksa lebih lanjut lagi.


“ Baik, Bu.. keadaan pasien sudah, lebih baik.. dan mungkin besok semua peralatannya akan dilepas jika keadaan semakin baik..”


“ Baik.. makasih dok..” Juli pun langsung kembali ke ruangan Tama.


Ia berniat ingin menghubungi keluarga besok pagi. Lalu, ia duduk kembali di kursi dekat ranjang pasien Tama.


Ketika ia sudah duduk ditempatnya, dan menggenggam tangannya kembali, tam pun langsung merespon dan ia membuka matanya sambil memanggil namanya.


" Juli... " dengan suara lirihnya ia memanggil nama orang yang sudah membuatnya terjatuh semakin dalam, dalam perasaan yang sangat unik itu.


Mendengar Tama terus memanggil namanya, membuat Juli tak kuasa menahan air mata bahagianya. Ia hanya terus ingin melihat dan merasakan perasaan ini semakin dalam dan semakin dalam lagi, hingga ia bisa merelakan apapun miliknya bahkan jika itu adalah hal tersulit baginya.


" Ya.. aku disini.. aku selalu disini.." kata Juli sambil mendekatkan wajahnya ke Tama.


" Maaf, aku tak bisa menepati janji ku waktu itu.." Sambil tersenyum ia meminta maaf padanya.


" Seharusnya aku yang bilang seperti itu.. pokoknya mulai sekarang aku yang akan terus membawakan makan siang untuk mu.. sehingga kau tak perlu mengkhawatirkan apapun yang akan terjadi nantinya, begitu pun juga dengan ku.. "


" Pfftt.. kau ini, kenapa bertindak seperti aku ini anak kecil.. Hemm.. sudahlah.. aku tak apa.. tapi jika memang kau menginginkan itu, aku tak apa.. justru kita akan semakin sering bertemu dan..." kata Tama terhenti karena ia langsung terdiam dan terus menatap wajah Juli dengan penuh membara.


Juli yang mengerti tatapan itu pun langsung mencubit lengannya hingga ia meringis kesakitan.


" Auww.. kau ini sakit tau.. huhu.."


" Eh.. eh.. abisnya kau duluan yang memulainya padahal baru saja sadar dari masa itu. Kau sangat membuat ku panik dan cemas tau.."


" Memang aku memulai apa??"


" Iihhhh.. tau ah.. tadi, kenapa kau menatap ku seperti itu??"


" Seperti apa??"


" Ya.. seperti itu??"


" Apa, iihhh.. sayang ku ini sudah berfikir dewasa ya.. haha.."


" Ahhkk.. tau ah.. mas yang mulai, tapi aku yang terpojokkan.. Hem.." Ngambeknya Juli saat Tama terus saja menggodanya.


" Ya.. maaf.. jangan ngambek dong.. "


" Ya sudah.. mas.. harus istirahat lagi.. agar besok cepat pulih.. karena jika mas besok tak kunjung pulih, kejutannya akan dibatalkan.."


" Eh.. kejutan apa??"


" Sudah.. mas belom boleh tau.. Nanti saja.. mas pulih dulu, baru deh.. kejutannya akan ku beri tahu.. Dan kata mamah, dia sangat berharap jika mas cepat pulih.. mamah selalu muncul disini, saat mas masih dalam keadaan belum sadarkan diri.."


" Benarkah??"


" Ya.. mamah, sangat mengkhawatirkan mas.. sampai ia tak mau pergi dari sini waktu ia tau jika mas terkena tusukan dari orang ga dikenal.."


" Ahh.. seperti itu.. apa, pelakunya sudah berhasil ditemukan??"


" Belum.. papah dan mas Alex masih mencarinya.. sudah, ah.. mas pokoknya harus istirahat dulu malam ini sampai keadaan mas besok sudah pulih.."


" Hemm.. ya.. ya.. baiklah.. mas tidur dan istirahat sekarang.. tapi, apa kau akan tidur di bangku??"


" Ya.. aku sudah terbiasa.."


" Sudah.. jangan.. kau takkan ku ijin kan untuk tidur disana lagi.. ke marilah.. ahhkk.." kata Tama sambil menggeser tubuhnya pelan-pelan agar Juli bisa naik dan tidur disampingnya.


" Eh.. eh.. mas.. ga boleh.. mas masih terluka, dan lukanya belum sembuh betul.."


" Sudah.. tak apa.. sudah, kau naik ke sini dan tidurlah disamping ku.. aku menginginkannya.." Kata Tama yang terus menepuk-nepuk sampingnya.


Untungnya ranjang pasien untuk Tama itu berukuran sedikit lebar dan gede, jadi bisa memuat 2 orang.


Mau tak mau.. Juli pun menuruti permintaan Tama yang ingin dirinya tidur disampingnya itu.


" Apa tak apa mas?? nanti kalau suster masuk gimana??"


" Mm.. biarkan saja.. toh mereka bukan siapa-siapa dan mereka takkan berani.. sudah, jangan pikirkan apapun itu.. kau bilang aku harus tidur kan.. jadi, ayo tidur.. jangan pikirkan yang lain.." kata Tama sambil memejamkan matanya.


" Ya.. mas.." begitu pun Juli yang memejamkan matanya juga.


Mereka tidur sambil berpelukan. Hingga pagi menjelang.




Di rumah Adirata..



“ Jadi, apakah kau sudah menemukannya??” Tanya Adirata pada Bryan.



“ Sudah, pak.. tapi, orang ini sulit sekali untuk ditangkap.. saya dan anak buah yang lainnya pun juga sangat susah ketika ingin menangkapnya.”



“ Hem.. ya, aku paham, tapi, kali ini usahakan dia harus ketangkap.. bahkan jika perlu sampai atasannya juga ketangkap. Karena ku yakin dia pasti memiliki bos..”



“ Apakah kau mendapatkan foto pria tersebut?? Atau identitasnya??” Tanya kembali Adirata.




“ Ah.. jadi orang ini.. pokoknya kau dan seluruh anak buah mu harus segera menyelidiki kasus ini.. dan satu tugas untuk mu.. “ kata Adirata terhenti dan ia langsung membisikkan suatu tugas rahasia untuk Bryan.



“ Baik.. akan saya laksanakan..”



Setelahnya Bryan pun pulang ke Apartemennya, diperjalanan pulang ia hanya mampir membeli nasi goreng saja. Karena ketika pulang semua makanan masih kosong dan ia enggan untuk belanja kebutuhannya.



Sesampainya di apartemennya, ia langsung membuka pintu dan masuk dengan wajah yang terlihat sangat lesunya.



Ia langsung mengambil piring, air putih, dan sprite dengan kentang goreng. Lalu, ia menyetel tv. Tapi sayangnya ketika ia sudah menyetel tv itu, tak ada satupun berita atau film atau apapun itu yang menarik minatnya. Hingga ia pun menghubungi Feli sambil makan.



Tuuuttt.. ( suara sambungan telfon pun masih berbunyi )



“ Hai.. sayang..”



“ Ehh.. assalamualaikum dulu baru gitu..” kata Feli dari telfonnya.



“ Eh.. iya.. iya.. maaf.. assalamualaikum sayang ku yang selalu bikin kangen ini.. gimana hari-harinya di kampus milik keluarga ku?? Apakah kau disana ada yang mengganggu mu??” tanyanya Bryan.



“ Hemm.. yah begitulah.. sama seperti disana.. hanya saja aku masih perlu beradaptasi lagi dengan lingkungan ini.. dan sejauh ini tak ada yang mengganggu.. dan kau tak perlu khawatir.. Apa kau sedang makan malam??”



“ Ya.. aku sedang makan malam sambil terus membayangkan mu berbicara dihadapan ku..”



“ Alah.. kau ini.. jadi, kau lagi makan apa??”



“ Emm.. kau menanyakan hal ini, apakah kau ingin makanan ku??”



“ Heh.. ah.. ga ya.. aku hanya menanyakan saja.. apakah makanan mu itu sehat atau ngga..”



“ Ciee.. Ciee.. ternyata kekasih ku ini sangat peduli ya.. ah.. jadi makin cinta deh.. hehe.. ini, aku lagi makan nasi goreng sama kentang girang dan sprite..”



“ Heh.. itu kan ga baik jika dimakan untuk makan malam.. Hemm.. gini ya.. pokoknya jangan makan, makanan seperti itu lagi besok.. “



“ Loh. Memangnya kenapa?? Toh aku kan ga ada yang masakin.. jadi wajar dong aku makan.. makanan seperti ini..”



“ Ya.. walaupun begitu juga.. tetap saja itu ga baik.. oke.. oke.. besok aku buatin untuk makan malam mu.. tapi, ingat jangan makan, makanan yang seperti itu lagi.. “



“ Ya.. calon istri ku yang cantik.. hehe.. tapi, beneran nie, mau masakin aku makan malam?? Emm.. kenapa ga sekalian aja buatin aku sarapan juga.. aku sudah sangat menderita harus sarapan dikantor terus, yang menunya itu-itu aja..”



“ Emm.. ya.. ya udah besok aku buatin juga sekalian sarapannya.. tapi, aku bakalan anter pake kurir ya..”



“ Ya.. ga papa.. makasih sayang kuh.. Muah..” kata Bryan sambil mengecup ponselnya yang seperti dirinya Feli.



Telfon pun terputus dan masing-masing dari mereka sedang melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Sedangkan Bryan ia masih melanjutkan makan malamnya.



“ Hemm, gini ya.. klo punya kekasih tuh.. apalagi ntar klo dah jadi suami istri.. adehh.. rasanya apa-apa pengen selalu ditemenin deh.. hihi..”



Dengan girangnya Bryan, sampai tak sadar jika dia maish ada satu tugas lagi..



°°°