Life

Life
Pilihan.



Di markas tersembunyi..


Seseorang sedang bertelfon dengan anak buahnya. Sambil duduk dengan memakai kaca mata hitamnya. Ia masih berbicara dengan anak buahnya. Dengan nada santainya ia menyuruh anak buahnya itu untuk tetap berada disana sampai semua hal yang sudah dipersiapkan itu berhasil sampai tahap terakhir.


“ Baik bos.. akan dilaksanakan..”


Sementara itu kembali ke tempat Tama berada..


“ Eh.. Feli.. kau kenapa baru masuk?? Aku tadi mencari mu tapi.. kau tiba-tiba menghilang..” kata Juli sambil nyengir padanya.


“ Aku.. ah.. itu aku kabur dulu, abis pas mau masuk malahan ngelihat hal yang membagongkan itu.. haha..”


“ Apa maksud mu?? Haisshh.. apa yang kau lihat tadi itu.. sebenarnya itu tak semuanya benar.. dan yang kau pikirkan itu tak sepenuhnya benar..” jelasnya Juli dengan wajah yang sudah sangat malu akan perkataan yang dilontarkan oleh sohibnya itu.


“ Alah.. emang iya juga..”


“ Hei.. kalian berdua.. kalian tak mengingat kami semua disini.. berdebat aja dari tadi kaya diruangan ini hanya kalian saja berdua.. “ kata Bryan dengan wajah melasnya.


“ Eh.. iya.. ya.. hehe.. maaf.. om.. hehe kami sudah terbiasa seperti ini, klo sudah berdebat suka lupa keadaan.. maaf, hehe..”


“ Huh.. Feli makanya lihat keadaan dong.. suami ku lagi kaya gitu.. dan kau masih saja tak mempercayai perkataan ku ini..” Bisik-nya Juli pada Feli.


“ Hiisshh.. kau ya..”


“ Emm.. jadi, sekarang gimana keadaan bapak??” tanyanya Bryan ke Tama.


“ Ah.. ya.. aku sudah mendingan dan Papah, dan istri ku ini yang sudah selalu menemaniku disini, membuatku ingin cepat-cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi.”


“ Ah.. gitu.. Maaf, tadi saya tiba-tiba masuk dengan Feli ke ruangan ini tanpa memberi tahu kepada kalian semua terutama Bapak bos..”


" Sudah.. tak apa, tapi, kenapa kau sampai seperti itu?? memang keadaan diluar kenapa??" tanya Adirata penuh selidik.


" Anu bos.." kata Bryan terhenti, dan ia langsung membisikkan sesuatu pada bosnya.


" Ah.. oke.. kau ikut aku.. kita akan membicarakan lebih lanjut tentang hal ini.. "


" Oke.. pak.. mari.."


" Tama.. Papah, keluar dulu ya dengan Bryan, ada hal penting yang ingin dibicarakan.. "


" Mengenai apa Pah??"


" Sudah.. kau tak perlu tahu hal ini sekarang.. nanti saja.. Emm.. ini hanya urusan kantor saja nak.. jadi, kali ini biar papah yang menanganinya.. "


" Baiklah, Pah.. "


" Eci.. kau tak apa kan ku tinggal disini.. atau kau mau pulang atau gimana??" tanyanya Bryan.


" Emm.. sepertinya aku pulang saja, karena aku juga ada kelas siang ini.."


" Ahh.. gitu padahal aku ingin kau menemani ku Fel.." sahutnya Juli.


" Iya.. jadi abis ini aku ingin langsung ke kampus.."


" Maaf ya, karena ga bisa anterin kamu.." kata Bryan sambil berbisik.


" Ya.. tak apa, pekerjaan mu jauh lebih penting.."


" Ya, udah.. kalo gitu Nak Feli, kenapa ga ikut bareng kami, biar Bryan nanti ke depan kampus mu sekalian.." ujarnya Adirata.


" Ah.. Ba-baiklah.. apa tidak merepotkan Om??"


" Ah.. tidak.. sudah ayo.."


" Iya.. kami pergi ya.. dah.." kata Bryan sambil berpamitan dengan Tama dan Juli yang masih saling suapan.


" Tama... Gas terus... haha.." nyeletuknya Bryan pada Tama.


" Husshh.. apaan si Luh.. sudah cepat pergi sana.."


Mereka pun sudah pergi namun mereka meninggalkan para bodyguard didepan pintu ruangan untuk berjaga disana.


Tak Tuk.. tuk.. ( suara ketukan sendok makan yang dimainkan )


" Ada apa??" tanya Tama.


" Tidak.. aku tak apa.."


" Kenapa, apa kau merasakan ada hal yang sangat kau khawatirkan??"


" Aku.. aku hanya khawatir jika hal seperti kemarin lagi akan menghampiri kita semua.. aku hanya takut.." kata Juli sambil memeluk Tama yang terbaring.


" Sudah.. sudah.. itu takkan terjadi lagi.. tenanglah.."


°°°


Dilain situasi. Dan lain tempat pula, Rivaldi baru saja pulang dari kantornya. Ia terlihat sangat lelah, bahkan saat seperti itu, ia tak pernah disambut dengan siapapun kecuali pembantunya.


“ Lelahnya.. rencana itu harus segera terlaksana.. Aku hanya ingin bagian ku, walau aku memang tak memiliki anak setidaknya dengan aku memiliki asetnya maka aku sudah puas tanpa memiliki anak.” Gumamnya Rivaldi didalam kamarnya.


Ia pun langsung mengganti pakaiannya dan pergi ke kamar mandinya. Tak lama kemudian, ia keluar.


Ia keluar menuju pelataran rumahnya. Dan ia sudah mendapati istrinya itu sedang bersantai disana.


“ Kau.. kapan kau kembali??”


“ Aku, baru saja.. aku merindukan mu mas..” katanya sambil berjalan menuju Rivaldi dan memeluknya.


“ Sudahlah, jangan seperti ini.. kau tak biasanya..”


“ Memangnya ada apa si?? Aku kan memang kangen sama suami ku.. masa ga boleh..”


“ Sejak kapan kau sepeti ini.. apa kau sudah dicampakkan oleh pria itu.. bahkan jika itu terjadi pun aku sudah tak perduli lagi.. kita menikah hanya karena tuntutan, jadi jangan berlebihan..”


“ Apa sih mas.. aku tak seperti itu.. mas yang selalu tak mau membuka diri mas.. hingga pernikahan ini menjadi seperti ini.. kenapa mas ga ceraikan saja aku dan memilih pilihan lain dibanding memilih menikahi ku?? Dan sekarang aku sudah kembali.. dan aku sadar, bahwa aku tak bisa meninggalkan mas..”


“ Lalu, apa!?? Apa kau masih ingin mendengarkan perkataan dari ku yang selalu kasar ini?? Apa kau menginginkannya.. hah..”


“ Ya, aku menginginkannya.. tak perduli kau seperti apa bersikap pada ku.. namun, kali ini aku takkan pernah kabur lagi.. aku menyadari semua itu.. dan aku ingin menjalani kehidupan pernikahan kita ini menjadi jelas dan menjadi pernikahan yang sesungguhnya..”


“ Alah.. sudahlah.. jangan seperti itu pada ku.. kau hanya sosok wanita yang takkan bisa mencairkan hati ku ini.. dan sekarang terserah kau mau apa dan bagaimana aku tak perduli..”


“ Tak apa.. kau tak perduli pada ku, tapi aku akan mengembalikan rasa perduli mu pada ku kembali.. dan itu pasti..”


“ Huh.. kau begitu naif ya.. sudahlah, terserah dirimu aku ingin beristirahat.. dan tolong jangan pernah kembali masuk ke dalam kamar ku.. cari saja kamar lain..”


Rivaldi pun pergi meninggalkan istrinya sendiri di luar.


“ lihat saja.. akan ku pastikan kau akan kembali padaku dan mencintai ku kembali.. Rivaldi kali ini, aku yang akan mengembalikan mu ke diri mu yang sejujurnya..” gumamnya ia sambil terus memandang pundak belakang Rivaldi yang berjalan semakin menjauh.


Dea Wiratama, perempuan cantik yang memiliki usaha dibidang kecantikan dan pemilik perusahaan WO terkenal dikotanya bahkan di beberapa negara tetangga. Wanita karir yang dulunya sangat disukai dan dicintai oleh Adirata namun semenjak ia memilih untuk pergi meninggalkan rumah dan membangun bisnisnya di luar negeri membuatnya terpicut oleh pria bule dan ia selingkuh dari Rivaldi.


Namun walau seperti itu, tetap saja Rivaldi tak pernah mengatakan untuk bercerai dengannya, justru ia mengubah sikapnya menjadi sangat dingin terhadapnya. Sampai ketika Dea sadar jika pria bule itu pun juga menyelingkuhi dirinya dan memoroti semua uangnya, ia akhirnya memilih untuk kembali dan ia bertekad akan kembali untuk mendapatkan hati Rivaldi kembali.


Bahkan walaupun ia tahu jika hati Rivaldi itu sudah sanagt tertutup untuknya. Namun ia akan terus memaksa untuk membuka kembali hati yang tertutup itu.


°°°