
" Ini jadi sangat canggung.. aduh.. kenapa si anak ini.. padahal dia dulu tak pernah mau seperti ini.." gumam Feli dalam hati.
" Kau.. barusan kau bilang apa??" Tanya Bryan tiba-tiba seakan dia mendengar suara hati Feli.
" Hemm.. aku?? kapan aku bicara??"
" Loh.. ah.. sudahlah.. apakah sudah enakan??"
" Ya.. sudah.."
" Jadi, apa yang
membuat mu bisa sangat menghindari ku??"
" Emm.. apakah aku harus menjawabnya disini??"
" Ya.. kau harus jawab.. karena hanya itulah aku bisa memperbaiki kesalahan ku pada mu.."
" Emm... ........"
" Heemmm!.." menghela nafas.
" Kau ingat waktu sebelum kita kelulusan??"
" Emm.. aku hanya ingat sebelum itukita sempat berkata bahwa.. kita akan tetap saling berhubungan.. sampai SMA nanti.."
" Lalu setelahnya??"
" Emm.. tidak.." jawab Bryan sambil mengingatnya.
" Hemm... Setelah kita lulus dan memilih sekolah sendiri.. Kau dan aku berpisah namun kau masih menemui ku.. mengajak ku jalan dan lain sebagainya.. Saat kita sudah naik kelas 3 SMA, saat itu.. kau.. mengalami kecelakaan.. kecelakaan yang membuat mu melupakan semua hal, kau kehilangan ingatan mu sampai sebelum kita lulus SMP.."
" Saat itu aku sangat terpukul, apakah kau akan melupakan ku.. dan kau takkan pernah mengingat ku bahkan nama panggilan kita masing-masing??.. aku selalu berkata seperti itu dan bertanya seperti itu.." ceritanya Feli.
" Hingga, hal itu benar-benar kejadian.. kau melupakan ku dan semua tentang kita.. Dan pada akhirnya.. kau berciuman dengan Vira saat kelulusan SMA ku.. pas saat aku ingin mengatakan yang sebenarnya kepada mu.." Jelasnya Feli.
" Hah.. Waktu.. itu jadi, kau melihatnya??"
" ........."
" Tidak, kau sudah salah paham pada ku Fel.. aku ga ada apa-apa sama Vira justru waktu itu aku sedang mencari mu dan memberikan mu ucapan selamat tapi, aku bertemu dengan dia.. dan tiba-tiba saja dia mencium ku, aku terkejut. dan..."
" Sudahlah.. tak perlu kau jelaskan lagi.. Aku sudah.. tak ingin mendengarnya lagi.." Feli langsung pergi.
" Eitt.. tunggu dulu Fel.."
" Fel... Fel.. Eci.. tunggu.."
Mendengar panggilan itu, Feli pun berhenti.
" Barusan kau panggil aku apa??"
" Emm..... ..,....."
" Ah.. sudahlah.."
" Eci.. "
" Eci.. apa kau lebih suka aku memanggil mu ini??"
" Ah.. Sudahlah.." Feli pun ngambek dan memutuskan untuk pergi meninggalkannya.
Namun tak semudah itu untuk lari dari Bryan. Bryan pun kini menarik tangannya hingga Feli masuk kedalam pelukannya.
" Maaf.. maaf.. maafkan aku.. aku baru bisa mengingat akhir-akhir ini.. dan aku baru mengetahui mengapa kau sangat membenci ku hingga kau selalu menghindari ku terus menerus..." tulusnya Bryan.
" Kau.. tidak.. maaf.. aku tak bisa seperti ini.." Feli pun melepaskan pelukannya.
" Eci.. maaf.. maaf kan aku.. maaf.. bisakah kita menjalin hubungan lagi.. hubungan yang baru.. beri aku kesempatan agar aku bisa memperbaiki semuanya.. maaf.."
" .........." Feli hanya duduk diam di tanah rerumputan itu.
" Please.. kumohon.. aku takkan pernah mengecewakan mu lagi.. i'm promise.. please.."
" Sudah.. sudah.. Bryan, aku sudah memaafkan semua itu.. toh aku juga sudah ga perduli lagi dengan soal masa lalu itu.. hihi.." Tawanya Feli.
" Jadi, kau.. jadi.. Ini semua.. hah!..kau.. mengerjai ku ya.. Iya kan.. kau mengerjai ku.."
" Fel.. Eci.. Eci... awas ya kau.. hey.. jangan kabur kau.. Eci.. awas ya kau.. hey.. tunggu.. tunggu.."
Bryan pun terus mengejar Feli, mereka saling main kejar-kejaran seperti anak kecil. Dan ketika Feli tertangkap. Bryan langsung menangkapnya dan takkan membiarkannya terlepas dengan mudahnya.
" Huh.. huh.. kau ini takkan bisa kabur lagi.. hahaha.." Tawa Bryan yang begitu bahagia saat melihat Feli pun tertawa.
" Haha.. kau sama sekali. tak berubah dari dulu.. untung saja aku ingat apa kelemahan mu.. hahaha.. Tapi ingat jangan seperti itu lagi.. dan selalu jaga keselamatan mu.."
" Haha.. iya.. jadi.. kita udh baik kan dong.. hehe.."
" He'emm.. "
Flashback off....
***
Beberapa hari kemudian...
Di rumah utama keluarga Adirata.
Tak ada yang berubah dari rumah itu.. Baik orangnya maupun pemandangan disana. Rumah yang berdiri dilahan seluas sekitar seribu hektar lebih itu ditempati hanya beberapa orang saja.
Seperti para pembantu, tukang kebun, juru masak dan lainnya.
Juli yang baru saja merasakan hal seperti itu, masih sangat asing baginya. Terkadang ia pun juga sedikit kesepian dan tak memiliki kerjaan apapun disana. Setiap ia ingin mengerjakan sesuatu, pasti ada saja yang melarangnya. Bahkan sampai mau masuk ke ruang mana pun.
Hingga ada saatnya ia bisa leluasa berjalan kesana-kemari sambil melihat pemandangan, walau hanya ketika matahari telah terbenam. Namun ia sudah cukup merilekskan dirinya dan menghibur dirinya sendiri.
Tapi, tidak dengan malam ini. Ia merasa sangat berbeda dan terasa familiar akan hal ini. Ia keluar dari kamarnya hanya untuk menikmati pemandangan disekitar kamarnya. Karena Tama belum pulang ia pun memberanikan diri untuk pergi keluar rumah.
Namun saat ia melewati salah satu kamar. Ia merasa sangat kedinginan dan rasa aneh pun ia rasakan saat melewati kamar itu.
Ya, katanya kamar itu, memang sengaja dikosongkan. Entah untuk apa, Juli pun tak tau. Tapi saat itu, ia benar-benar merasa sangat aneh dengan kamar itu.
" Ah, mungkin Hanya perasaan ku saja.."
" Tapi, aku sedikit penasaran akan kamar itu.."
" Apa aku cek saja ya.. Aku merasa sangat familiar dengan suasana ini.. tapi apa ya??.." tanyanya Juli dalam hatinya.
Akhirnya Juli pun memasuki ruangan itu.
Ceklekk... Kriieett...
Dibukanya pintu itu. Awalnya ia merasa biasa saja, namun perlahan aura dalam kamar itu semakin tajam dan menusuk.
" Auranya, dan perasaan ini.. Apa jangan-jangan ini adalah tempatnya??" Pikirnya Juli.
Ia pun terus melanjutkannya, rasa penasarannya membuatnya terus berjalan masuk kedalam ruangan itu.
Lalu ia melihat sebuah benda tak asing baginya. Ya, benda itu tampak seperti pertama kali ia melihatnya. Kalung kotak itu, berada di atas meja rias yang ada disana. Dindingnya pun dipenuhi oleh lukisan abstrak yang sangat cantik, namun ia merasakan ada yang aneh dengan semua lukisan itu.
Matanya pun menerawang di setiap sudut ruangan itu. Hingga matanya tertuju pada satu lukisan dinding. Tampak sangat menyeramkan tapi, seperti memiliki suatu makna tersendiri.
Juli pun menghampiri lukisan itu. Ia berdiri didepannya dan terus memandanginya. Anehnya ketika ia memandangi lukisan itu, tubuhnya seperti melayang.
Bahkan ketika ia memegang lukisan itu. Lukisan yang bergambar sebuah bunga mawar merah yang cantik namun aura disekelilingnya Terasa mencekam dan penuh dengan ketegangan, dan juga menyeramkan itu.
Ia merasakan suatu yang aneh padanya. Ia merasa bahwa lukisan itu adalah kunci dari semua pertanyaannya tentang kotak itu.
Kemudian tanpa ia sadari, dibelakangnya muncul sosok wanita itu. Wanita itu terus menatapnya dari jauh tanpa ingin mendekatinya. Ia hanya terdiam disana didekat kotak itu berada.
Setelahnya Juli pun membalikkan badannya. Dan wanita itu pun menghilang.
Ia kembali melihat kotak itu sekali lagi, lalu memegangnya dalam tangannya. Ia merasakan kesedihan yang sangat dalam. Hingga ia mengeluarkan air matanya.