Life

Life
Part 2. End~



“ Hah.. ada apa sih dengannya?? Ini tak biasanya.. kenapa dia bersikap seperti itu?? Hemm, pasti ada hal yang tak beres.. “ gumamnya Alex dan langsung menyelesaikan urusannya lalu mengikuti kemana Devina pergi.


Namun saat ia ingin mengikuti istrinya itu tiba-tiba saja ponselnya berdering dan ia pun langsung mengangkatnya.


“ Iya, ada apa??”


“ Pak, maaf.. meetingnya akan segera dimulai bapak diharapkan untuk hadir ke ruangan.. tuan besar pun sudah datang pak..” kata sekretarisnya.


“ Ya, aku akan kembali 5 menit lagi..”


“ Baik, pak..”


Tutttt...


Telfon pun terputus dan Alex langsung berjalan menuju ruang rapat tersebut. Ia akhirnya mengabaikan sementara mengenai istrinya itu.


Sesampainya disana, ia langsung masuk ke ruang meeting itu.


Alex pun langsung menunduk tanda ia memberi hormat pada pemimpin didalam sana terutama pada Opah nya itu..


Meeting mengenai peralihan nama perusahaan pun berlangsung sangat tegang dan penuh dengan kecurigaan dan was-was..


" Hei, menurut kalian siapakah yg akan dipilih untuk menjadi pemegang perusahaan selanjutnya saat ini??" tanya seorang investor yang ikut dalam rapat tersebut.


" Hemm.. menurt ku ya pasti Pak Tama lah sebab dari semua segi dialah yang sangat cocok untuk mengambil alih itu semua.. "


" Emm.. ya mungkin aja.. kita lihat saja.."


Setelahnya tak lama ha l itu berlangsung tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam rapat tersebut dengan membawa sebuah flashdisk kecil.


" Pak, sebentar ini ada sebuah titipan sya yidak tahu dari siapanya tapi titipan ini katanya untuk rapat hari ini.." kata seorang satpam yang bertugas untuk mengantarkan flashdisk itu.


" Oh ya, baiklah.. terimakasih.."


Satpam tersebut itu pun segera pergi dari ruangan tersebut.


" Baiklah.. kami mohon maaf atas gangguan seperti itu.." kata jubir dari pemilik perusahan besar itu.


" Pak bolehkah saya memutar isi dari flashdisk ini sebentar?? " tanyanya.


" Ya.. boleh.."


Ia pun langsung bergegas ke meja komputer yang ada di samping white board.


" Okay.. sebelum saya ingin melihat terlebih dahulu apa yang ada didalam penyimpanan yang tadi sempat diberikan kepada saya."


Ketika ia memutar video.. tak disangka ternyata video itu berisi tentang bagaimana tindak kejahatan yg sudah dibuat oleh Rivaldi.


" Apa?!! bagaimana itu bisa terjadi?? apa yng sedang ia pikirkan.. aku sudah memberikan segalanya kepadanya namun.. bagaiaman bisa ia membuat rencana yang begitu sangat menyakitkan.. uhkuhk.." terkejutnya Suryadi ( opah dari Alex dan Tama ) pemilik perusahan besar yang sekarang masih dipegangnya. Walau ia dibantu oleh kedua anaknya yang sangat ia sayangi.


Pada akhirnya Suryadi pun memilih untuk menundanya kembali dan ia hanya berkata bahwa keputusannya tetap sama yaitu.. pemegang perusahaan yang selanjutnya akan diserahkan kepada Tama.


Disisi lain, setelah beberapa jam kemudian.. Devina yang sedang berada di cafe karena ia sedang bosen dan bersantai itu. Ia didatangi oleh Alex disana.


" Vina.. kau.. apa yang sudah kau lakukan bersama dengan paman, Vina?? apa kau tak berfikir terlebih dahulu apa akibatnya? kau sudah mempermalukan semuanya.. kau berfikir apa Vina sampai kau menerima tawaran dari paman dengan semudah itu.." bicaranya Alex dengan nada menekan pada Devina.


" Apa maksudmu??"


" Huh.. kau masih menyangkal ya.. nie lihat ini semua.." kata Alex dengan tegasnya.


Devina pun melihat video apa yang sudah terjadi dalam rapat pemegang perusahaan saat itu.


" A.. apa??.. ga.. ini.. tolong aku bisa menjalankan semuanya Lex.. Alex aku bisa menjalankan semuanya.. tolong percaya dan dengarkan aku dulu.." mohonnya Devina pada suaminya.


Alex yang sepertinya sudah tak mau mendengar apapun dari istrinya itu pun sudah tak tahu harus apa lagi..


" Sudah cukup Vina.. sudah cukup Devina.. aku sudah tak mau mendengar apapun pada dirimu.. aku benar-benar kecewa pada dirimu.. kau sama sekali tak pernah berhenti tuk berbuat semau mu dan tak pernah berhenti untuk tetap menyakiti aku dan keluarga ku.. " kecewanya Alex sambil ia pergi begitu saja dengan rasa hati yang sudah hancur itu.


" Lex.. Alex.. ku mohon dengarkan aku sebentar saja.. kumohon Lex.. ya aku memang bersalah aku sangat bersalah.. tapi ijinkan aku untuk menjelaskan semuanya.." ujar nya Devina sambil mencoba untuk menahan Alex yang sedang berjalan pergi.


Devina tetap saja mengejarnya sampai titik dimana ia tak bisa mengejarnya.. sebab Alex sudah masuk ke dalam mobil pribadinya dan bergegas pergi dari sana tanpa memalingkan wajahnya pada istrinya itu.


" Akkhhh.. sial.. sial.. dasar! kenapa semuanya harus seperti ini?? akhh.. kau bodoh Vina sangat bodoh.. semuanya jadi runyam gini kan.. " kata Devina sambil terus menyalahkan dirinya dan mencoba untuk tetap terus menghubungi Alex.


" Ayolah.. sayang, angkat.. Alex angkat telfonnya ku mohon, Lex.. itu semua tak benar sepenuhnya.. ku mohon angkat. aku bisa menjelaskan semuanya Lex.. "


" Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif ..... Tut.. Tut.."


" Akhh.. sial.. sial.. semuanya sial.. harus apa lagi aku dong.. huh! ahkk!!.." teriaknya Devina sambil menjambak rambutnya sendiri.


____


Dirumah Utama..


" Pah.. gimana keadaan opah sekarang ini??" tanya Tama pada papahnya yang baru saja keluar dri kamar Suryadi.


" Opah mu, sudah lebih baik dari yang tadi dia sepertinya hanya kecapean sebentar.. Tama.. mari ikut papah sebentar.. ada hal yang papah ingin bicarakan pada mu.." ajaknya Adirata.


Mereka pergi menuju balkon rumah. Pemandangan yang sangat indah dan sejuk cocok untuk mengobrol santai.


" Sebenarnya ada apa si pah?? ada apa dengan opah saat ini?? kenapa opah tetap kekeh untuk aku yang menjadi pengurus selanjutnya?."


••


Maaf banget updatenya sangat terlambat🙏🙏 next time, semoga bisa tepat waktu lagi.. and happy reading now..😉