
Di rumah utama keluarga Adirata..
" Jul.. Juli.. bisakah kau membuatkan kopi untuk Papah??"
" Baik Pah.. "
Adirata pun duduk ditempat duduk favoritnya. Tempat duduk yang terbuat dari kayu dan tampak sedikit ukiran dosis pinggirnya. Lalu, menghadap tepat di tamannya yang tertata rapi dan segar dipandang.
" Hemm.. Gulanya berapa takar ya?? aku baru pertama kali membuatkan kopi untuk Papah.."
" Coba deh.. tanya Bibi saja..."
Juli pun meninggalkan dapur dan mencari Bi Sanju, Dia adalah Kepala pembantu di rumah ini, dan dialah yang sering membuatkan kopi untuk Adirata. Tapi, entah mengapa Adirata ingin Juli yang membuatkan kopinya.
" Bi.. Bi Sanju,.."
" Iya ada apa Non??"
" Itu, saya ingin bertanya, kira-kira gulanya berapa takar ya buat kopi Bapak?? Owh.. maaf, buat kopi Papah??"
" Emm.. satu sendok kurang dikit Non.. Bapak ga terlalu suka manis.."
" Owh.. gitu ya.. makasih ya Bi.."
Setelahnya Juli pun membuatkan kopi untuk Adirata sesuai dengan petunjuk yang sudah diberikan oleh BI Sanju.
Namun ketika ia ingin memberikannya ke pada Adirata, ia sama sekali tak menemukannya di tempat tadi.
Di samping itu, di waktu yang bersamaan Adirata masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan kosong yang pernah dimasuki oleh Juli.
Ia mendekat ke salah satu lukisan yang bergambar mawar merah itu. Lalu, ia memegangnya dan membersihkan debu yang disana.
" Kau.. apakah kau masih memiliki dendam yang sama?? Sama seperti waktu itu.. dan benda itu pun sepertinya masih ingin membuat anak ku tersiksa.."
" Masihkah, kau ingin membalaskan dendam mu itu?? Bahkan sekarang anak ku ini sudah memiliki istri.."
Tetes air matanya mengalir begitu saja saat ia mengatakan hal itu pada lukisannya. Seolah lukisan itu bukan benda mati. Ia terus saja bersikap seperti memohon pada lukisan itu.
Tak lama kemudian Adirata pun keluar dari sana.
" Loh.. Juli.. sedang apa??" tanya Adirata.
" Ah.. itu.. itu Pah.. tadi kan Papah menyuruh ku membuatkan kopi.. aku sudah selesai membuatkan tapi Papah ga ada ditempat jadi aku mencari Papah, sampai kesini..."
" Ah.. Ya sudah.. sini biar Papah saja yang bawa. Setelah ini, Papah akan pergi ke perusahaan ya.. jika kau ingin keluar, keluar saja dengan supir.. "
" Baiklah.. terimakasih Pah.. Emm.. apakah aku bisa menjenguk keluarga ku Pah??.."
" Ya.. boleh lah.. ya sudah, sana.. jika kau ingin pergi, pergi saja.. aku tak melarang mu.. Emm.. sampaikan pada Bapak mu.. tolong datang ke rumah utama lagi.. untuk sedikit membereskan kebun belakang itu.. Papah ingin membayar tukang kebun lain.. takut dia ga se-rapih Bapak mu kerjakan.."
" Baik.. Akan saya sampaikan Pah, pada Bapak dirumah."
" Ya sudah.. sana jika kau ingin pergi segera.. Emm.. panggil saja Pak Dadang ya.. untuk mengantar mu kesana.."
" Iya.. terimakasih Pah.."
......
Di lapangan bola dekat rumah Vian.
" Hei.. kalian.. apakah kalian tidak capek, kami membawakan rujak buah untuk kalian semua dan es teh manis.." serunya Rani yang merupakan teman dekatnya Safa dirumahnya.
" Ya.. kami akan kesana setelah ini selesai.." kata Fano.
Para teman rumah Safa dan Vian pun sedang berkumpul di lapangan tersebut untuk sekedar ngerujak bersama dan menghilangkan letih untuk para teman laki-laki yang sedang main bola itu.
" Hei.. Vian.. apa kau masih ingin terus melanjutkan permainan itu dan tak mau ngerujak bersama??" serunya Safa padanya.
" Ya . sebentar, sedikit lagi akan ku selesaikan ini dengan kemenangan tim ku.." Sambil berusaha menyerang lawan dengan gol yang sempurna.
" Eh.. liat deh.. Safa.." kata Rani sambil terus melihatnya dengan tatapan tak sukanya.
" Iya.. ada apa emang??" kata yang lainnya yang sedang menyiapkan rujaknya.
" Emm.. dia seperti ada hubungan lebih dengan Vian??"
" Iiihhh.. Sara.. kamu apa-apaan si.. aku hanya menduga.. lagi pula aku juga ga tau kok apa itu.."
" Ya kalau kamu ga tau kenapa kamu berkata seperti itu.. " Kata salah satu teman lainnya.
" Iya.. kenapa kamu bicara seperti itu.."
" Eh.. sudah, sudah.. kalian kenapa jadi ribut gini si.. Tadi bukannya baik-baik saja.. sudah ayo kita bagikan biar mereka ga berebut.."
" Jangan Fa.. lebih baik gini aja.. kan biar seru.. itu kan sambelnya udah di cobek.. sayang klo harus ditaruh di piring satu-satu.. mending gini aja.. kan lebih rame gitu.. haha.."
" Iya.. udah, gini aja.. dari pada harus ditaruh di piring masing-masing kerajinan banget tau.."
" Ya sudah.. begini saja.. biar makin akrab ya.. haha.." Kata Sara.
Dan akhirnya para anak laki-laki pun sudah selesai dengan permainan bolanya. mereka pun segera menyusul ke tempat anak perempuan yang sudah menyiapkan rujaknya.
" Eh.. eh.. kalian dapat mangga sama jambu dari mana?? mana'an banyak banget lagi.." kata Fano.
" Owh, itu.. kita-kita abis manjat pohonnya.. dan langsung metik ini buah.."
" Ah.. siapa yang metik??"
" Itu.. si Sara.. sama Irma... Tadi hampir aja ketauan sama pemilik rumahnya.. dan kita hampir aja digebukin Ama yang punya jambu nya.. haha.." Tawanya Safa.
" Loh.. wahh.. kalian, bisa-bisanya kalian berbuat seperti itu tapi ga ngajak-ngajak kita.. ya kan Ton.. hahaha.."
" Iya.. wah.. parah kalian.. coba kalian ngajak kita.. kan kita pasti ngambil banyak tuh jambu nya.. haha.." kata Vian.
" Terus itu, mangga nya??"
" Itu.. juga. sama cuman kita ngambilnya di kebun pak Kirman itu.. loh.. yang punya ladang luas.. untung aja yang punya ladangnya ga ada ditempat.. coba ada.. aduhh.. habislah kita.. haha.."
" Hahaha.. kalian ini ya.. cewek-cewek bandel banget.. ckckc.."
" Hahaha.. biarin kita ini masih kecil bebas ajalah dulu.. ya kan.. hahaha.." cetusnya sara.
Mereka pun menikmati rujak yang mereka buat dengan penuh kegembiraan dan canda tawa.
.....
Setelah sekian lama ia diperjalanan ke rumah orang tuanya Juli menjadi sangat tak sabar ingin ketemu dengan Vian adik kesayangannya yang sangat menggemaskan itu jika ngambek.
" Hemm.. pak.. belok kiri ya.. lurus sedikit nah itu rumah saya.."
" Iya.. Non.."
Akhirnya sampai juga.. Juli pun langsung masuk dan mencari adik kecilnya itu.
" Assalamualaikum.. Mak.. Pak.. Vian.."
" Hemm.. kayanya ga ada orang deh.. Emak juga ga ada deh.. apalagi Bapak.. Hemm. Vian juga ga ada kayanya. ya udah deh.. aku cari aja didekat lapangan bola disana.. Vian kan biasanya disana.."
Juli pun akhirnya pergi ke lapangan bola dekat rumahnya itu. Dan memang benar Vian dan teman-temannya memang ada disana. Mereka sedang berkumpul dan makan bersama.
" Huh.. akhirnya ketemu juga.. Vian!!.." panggilnya Juli pada adiknya.
" Vian!!.. Vian.. Mba datang..."
Vian pun segera menengok ke arah suara itu berasal.
" Loh.. Mba!! Mba.. wah.. Mba akhirnya kembali.."
Vian berlari dan segera memeluk mbaknya yang sudah dinantikannya.
" Wahh.. kau ini sedang makan apa kau dengan teman-teman mu itu??"
" Itu.. Mba, lagi makan rujak.. mba, mau.. ayo mba ikut gabung dengan kami.." Ajaknya Vian.
Happy reading.. jangan lupa ya.. tinggalkan jejaknya..🥰😉