
Esok paginya....
Juli sudah bangun dari tadi walau ia merasa masih sedikit kesakitan. Tapi ia harus bangun dan menyiapkan hidangan sarapan dibantu oleh para tukang masak didapur.
Namun, ada satu hal yang masih mengganjal dibenaknya Juli. Entah apa itu, ia pun merasa ada yang aneh. Tapi, ia belum tau apa itu..
Adirata pun datang ke meja makan.
" Emm.. Tama belum juga bangun??"
" Iya, Pah.. Mas, belum bangun.. soalnya tadi malam ia sempat bangun dan baru beberapa jam saja ia tertidur kembali.. aku tak enak membangunkannya.."
" Ah.. seperti itu.. O, ya.. tadi malam, Papah, kayaknya mencium bau telur dadar.. sangat harum.. apa tadi malam ada yang masak telur dadar??" tanyanya Adirata pada Juli.
" Hah.. Emm.. ya.. itu.. itu aku Pah.. aku yang bangun dan makan.."
" Pfftt.. memangnya kenapa kau makan malam-malam gitu.. apa kau belum makan malam sebelum tidur??"
" Emm.. hehe..ya.."
" Pah.. aku panggilkan Mas dulu ya.."
" Iya, sana.. kalau dia tetep ga bangun siram aja pake air.. dia tuh kadang suka susah dibangunin kalau udah nyaman..."
" Baik, Pah.."
Juli pun pergi dari sana..
Ia masuk kembali ke kamarnya dan mencoba membangunkan Tama yang masih tertidur lelap. Ia mencoba untuk membangunkannya namun Tama tetap terlelap dan bahkan dia seperti sangat terganggu, hingga akhirnya Juli memutuskan untuk menyiapkan air hangat untuk Tama, agar ketika ia bangun ia bisa langsung mandi.
Setelahnya, ia kembali lagi.. Ia terus memperhatikannya, tanpa sadar ia duduk disampingnya dan membelai rambutnya yang hitam pekat. Dan terus memperhatikannya.
" Kau.. sangatlah tampan.. tapi, sebenarnya ada apa dengan diri mu dan masa lalu keluarga ini?? aku, masih belum paham.. dan semua kasusnya masih samar-samar.." batinnya sambil terus membelai pelan rambutnya.
" Aku terus bermimpi tentang wanita itu.. wanita yang terus bersembunyi di dalam kalung kotak yang sering kau bawa itu, dan terkadang kotak itu muncul tiba-tiba dihadapan ku, atau di ruang kosong tempat semua lukisan itu berada dalam rumah ini.."
" Apa itu semua ada kaitannya?? dengan mu dan keluarga mu dimasa lalu.. Aku tak tahu kenapa aku masih ingin terus mengungkap hal ini.. padahal aku merasa bahwa hubungan ini hanya sebatas pernikahan yang tak jelas.. dan tak memiliki perasaan apapun.. "
" Tapi, setiap kali aku menatap mu seperti ini aku merasa ada yang aneh terhadap diri ku.. tapi, aku masih bingung dan tak tau harus berbuat apa??.."
Juli masih terus membelainya, bahkan Tama seperti nyaman dengan itu. Namun tiba-tiba ia berkeringat seperti ia memimpikan kejadian yang menakutkan dan mengerikan. Juli yang menyadari hal itu ia langsung mencoba membangunkannya. Tapi, ia tak bangun, justru genggaman tangannya yang semakin kuat ditangan Juli.
" Hah.. hah.. huh.. Apa itu?? mimpi apa itu?? Kau.. kenapa kau ada disini??" tanya Tama saat ia sudah terbangun.
" A.. aku.. disini, hanya ingin membangunkan mu.. karena Papah, menunggu dibawah. Apa kau memimpikan hal buruk??" dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
" ......." ( " Apa dia sangat mengkhawatirkan ku??" batinnya)
" Mas??.. Ah.. itu, aku sudah menyiapkan air hangatnya untuk kau mandi.. aku akan segera keluar dan membantu yang lainnya di bawah.. "
Ketika ia ingin meninggalkan Tama disana. Tangannya ditarik oleh Tama.
" Kau.... Tidak.. maaf.. aku akan mandi.. kau tunggu saja dulu sebentar dibawah. "
" Ah.. ya.."
Juli pun meninggalkan kamarnya dan berjalan ke bawah.
" Apa, maksudnya tadi??" gumam Juli seraya terus berjalan menuju ruang makan.
Lalu, ketika ia sudah sampai di meja makan, ia tak menemukan Adirata. Ia pun langsung bertanya dan ternyata Adirata sudah pergi, karena ada kerjaan yang harus diselesaikan.
Akhirnya Juli pun hanya menunggu dan terus menunggu sampai Tama turun dari sana dan sarapan bersama.
Tak lama ia menunggu, Tama pun datang.
" Kau.. kenapa menunggu ku?? Papah, sudah berangkat??"
" Ya.."
" Huh.. Papah.. itu selalu saja seperti ini, lebih baik aku tinggal di Apartemennya. Ya, sudahlah.. Apa kau menunggu ku??"
" Emm.. ya.."
" Ya.."
Mereka pun sarapan bersama, tanpa ada satu pun yang berbicara. Suasana terasa sangat hening dan yang berbunyi hanya ketukan sendok dan garpu.
" Apa tubuh mu masih sakit?? ah.. maksud ku apakah sudah mendingan??" tanya Tama tiba-tiba.
" Ya.. sudah mendingan.."
" Bagus lah.. Apa kau mau tinggal di Apartemen ku saja??"
" Emm.. aku si terserah Mas saja, aku ikut saja.."
" Baiklah.. jika begitu besok kemasi barang-barang mu dan kita akan pergi besok.. "
" Baik.. tapi, Papah gimana??"
" Sudahlah.. tak apa.. beberapa hari lagi pun juga Kakak ku akan kembali dari luar negeri dan akan tinggal disini.. kau tak perlu khawatir.."
" Baiklah.."
Setelahnya.. Tama pun pergi dan membawa dokumen yang ada untuk kepentingan pekerjaannya. Walau ia tak ke kantor tapi ia bisa mengerjakan di ruang kerjanya.
Sedangkan Juli ia hanya membereskan kembali piring-piring yang sudah kotor dan ingin mencucinya.
" Nyonya.. sudah.. biarkan aku saja yang mencuci semua piring itu.. " kata Jeni.
" Sudah tak apa.. biar aku saja.. lagian ini hanya sedikit."
" Tapi, Aku tak bisa membiarkan nyonya mencuci piringnya.."
" Sudah.. tak apa.. lebih baik kau.. membersihkan meja disana.. dan membuatnya terlihat cantik dan mengkilap.."
" Baiklah.. jika nyonya butuh bantuan panggil saya saja.."
" Iya.. sudah sana.."
Juli pun kembali ke pekerjaannya itu.
Hari ini ia merasa sangat bosan disini.. dia telah melakukan berbagai pekerjaan rumah, tapi ia masih merasa bosan. Ia pun juga sudah membuatkan kopi dan cemilan ke ruang kerja Tama.
Tapi tetap saja.. ia masih merasa bosan..
Akhirnya ia pun menelfon keluarganya.
Tut.. Tut.. Tut..
" Hallo.. Bapak.. pak.. gimana kabarnya?? Emak ada pak??"
" Iya.. Mak mu ada.. Disini baik semua.. Apa kau juga baik disana.. ga ada hal yang membuat mu kesulitan kan??"
" Iya.. pak.. ga ada ko.. O, ya.. Pak, Vian lagi apa Pak?? Juli kangen banget sama Vian.."
" Ah.. adek mu.. ya.. dia lagi main di rumah Safa katanya lagi kerjain tugas sekolah.."
" Ya sudah.. Pak, Pak.. Akhir-akhir ini aku masih belum bisa menjenguk kalian disana.. Aku masih harus menyesuaikan disini.. tapi, aku baik-baik saja ko pak.. bapak ga usah khawatir.. dan sehat-sehat ya pak disana semua.."
" Hiks.. hiks.. iya nak.. maafkan bapak mu ini ya.. Bapak sadar, seharusnya bapak ga usah bersikap egois pada mu.. dan hanya memikirkan keadaan kita.. tapi, kau benar kan baik-baik saja disana.. Kalau ada apa-apa langsung hubungi bapak ya nak.."ucapnya sambil terus menyesal pada Juli di telfon.
" Ya.. pak.. aku baik-baik saja.. salam ya.. buat orang rumah.. aku baik-baik saja pak.. mereka baik-baik semua terhadap ku.."
" Ya sudah..jaga diri mu ya.. segera hubungi bapak jika kau ada masalah.."
" Ya, pak.. Dah.. assalamualaikum.."
" Ya.. wa'allaikumsalam.."
Tutttt.. ( Suara telfon terputus.)
" Maaf pak.. kali ini aku masih belum bisa menceritakan apa yang terjadi pada ku disini. Nanti akan ku ceritakan semuanya pada kalian disana.."