Life

Life
Andai waktu berhenti.



Di meja makan...


" Jadi, hari ini kau ingin kemana??"Tanya Tama dalam obrolan ringan saat sarapan pagi.


" Emm... aku tak ingin kemanapun.. aku akan dirumah untuk mencuci pakaian dan menyetrika." Sambil pergi membenahi piring kotor.


" Ah.." ( " Hah.. ada apa dengan dia tumben sekali berbicara cuek gitu.. pada ku??" )


Dan akhirnya Tama yang masih dirumah pun hanya dicuekin saja. Sedangkan Juli sendiri sibuk dengan kegiatannya yang sedang mencuci piring.


" Hemm.. membosankan.. apa aku ajak dia saja ya pergi jalan sebentar. sebelum ketemuan sama paman dirumahnya. Atau sekalian saja aku ajak dia untuk ketemu sama paman juga."


Tama pun beranjak dan mendekati Juli yang masih dalam kegiatan mencuci piring.


" Eheemm.. Emm.. kau hanya di rumah saja.. Mau ngga pergi jalan bersama ku.. Aku tak tahu mengapa kau cuek gini pada ku.. Tapi, bisakah kau ikut dengan ku untuk pergi keluar??"


" Hemm.. Baiklah.. ya.. aku akan ikut.. maaf jika aku telah cuekin mas.." Sambil pergi ke kamar untuk mengganti baju.


" Eiittss.. tunggu dulu dong.. Kau kenapa si??"


" Aku.. tidak.. aku tak apa kok.. baik saja ko mas.."


" Tapi.. kamu sangat aneh.."


" Itu hanya perasaan mas saja.. sudah, aku ingin masuk dan siap-siap.."


" Eh.. tunggu.."


" Apalagi mas??"


" Iihh.. pengen ikut.." rengek nya Tama seperti anak kecil pada Juli.


" Tak boleh.. gantian saja.."


" Kau jahat.. Oke tak apa.. lihat saja nanti.."


Juli yang sudah masuk kamar dan menguncinya dari dalam, takkan bisa mendengar apa yang Tama ucapkan itu. Hanya saja ia terus membatin.


" Kenapa si, dia harus bersikap seperti tadi.. itu sangat membuat ku ga tega untuk bersikap seperti itu padanya.. Lagi pula aku hanya tak senang jika ia dekat dengan wanita lain.. apalagi aku melihatnya langsung tadi pagi.. "


" Huh.. bikin ga mood aja.. Tapi, ga tega juga.. dan sedikit takut juga.." nge-batinnya Juli di dalam kamar.


Setelahnya, Juli pun keluar dengan dandanan yang biasa namun terlihat elegan. Ia memakai baju dress muslim panjang warna peach dan dengan jilbab yang ia sesuaikan.


Terlihat anggun dan sederhana tapi sangat indah dipandang. Juli pun keluar dan memperlihatkannya pada Tama yang sedang menunggu di depan kamarnya.


" Waahhh.." Kagumnya Tama saat melihat Juli berpakaian rapih seperti itu.


" Apa?? hah.."


" Eh.. engga ko.. ya sudah.. kau tunggu saja disana.. aku ganti dulu.. "


" Ya.." Sambil menunduk dan segera duduk di sofa depan tv.


Tak lama kemudian, Tama pun keluar dengan gaya nya yang sangat kasual.


" Nah.. ayo.."


" Emm.. memangnya kita akan kemana mas??"


" Sudah ikut saja.. "


" Emm.. baik.."


Diperjalanan, mereka hanya duduk diam dan sibuk dengan perasaan masing-masing saja, tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya. Hingga..


Ckkiitt..


Ngeremnya Tama karena ada segerombolan kambing yang menyeberang jalan.


" Huh.. kambing-kambing ini gimana si masa ga dijagain gini.. klo ketabrak kan berabe.. huh.. "


" Jangan gitu mas.. mungkin kambing itu memang tak diurus.. karena suatu hal.."


" Ya.. walaupun gitu kan bahaya bagi pengguna jalan.."


" Iya.. si mas.. tapi kita juga ga boleh seperti itu.. sudah.. yang jelas kan kambing itu sudah pergi.."


" Hemm.. ya.. Tapi, kenapa ga dijagain tuh kambing.. padahal klo dijadikan sumber penghasilan itu akan sangat bagus.. dan justru sangat menguntungkan.. apalagi susunya...."


" Iya, juga si.. "


" Apa aku bikin peternakan kambing aja ya.. biar semakin dapet penghasilan.. gimana??"


" Pfftt.. mas, bukannya kau sudah memiliki banyak usaha.. dan kau sangat kaya.."


" Iya si.. tapi dari pada hal seperti itu tak diurus dan hanya akan membuat kecelakaan dijalan lebih baik seperti itu kan.. dan semakin banyak penghasilannya.. mungkin kalau bisa sampai diekspor itu akan mendapat keuntungan banyak.. Hemm.."


" Ya sudah.. terserah kau.. atau, jika kau mengijinkan aku yang akan mengurusnya.."


" Hemm.. sepertinya bisa.. haha.."


" Hehehe.. " Tawanya Juli yang juga membuat Tama ikut tertawa juga..


" Hemm.. rasanya sangat menyenangkan jika seperti ini. Andai waktu berhenti disaat yang seperti ini.. aku ingin menikmati lebih lama lagi.." batinnya.


Sesampainya disana. Entah mengapa perasaan Juli menjadi semakin was-was saat melihat rumahnya.


" Ini dirumah siapa mas??"


" Ah.. ini, ini dirumah paman ku. dia yang sangat dekat dengan ku daripada paman ku yang lainnya."


" Ahh.. gitu ya.." (" Tapi, rasanya kenapa sedikit tak asing ya.. Hemm.. mungkin perasaan ku saja.." batinnya)


" Iya.. ayo.. kita masuk.."


Mereka pun masuk bersama-sama, lalu memencet bel.


Ting... tong..


Lalu. pintu pun terbuka..


" Eh.. Den Tama.. Cari Bapak ya Den??" Kata Bi Sumi, asisten rumah tangga Bapak Rivaldi Amartha, Paman sekaligus direktur di perusahaan Adirata.


" Ya.. Apa paman ada dirumah Bi??"


" Iya.. ada di rumah Den.. mari silahkan Den, Nona.. masuk.. Bibi akan buatkan teh dulu.."


" Iya, Bi makasih.." Kata Juli masuk bersamaan dengan Tama.


Mereka duduk di sofa depan sambil menunggu dan meminum teh yang dibuatkan hingga Rivaldi keluar. Namun Tama yang sudah tak sabaran pun akhirnya berdiri dan berjalan ke ruang kerja pamannya.


" Kau ingin kemana??" tanya Juli.


" Tunggu sebentar disini ya, aku ingin ke ruang kerja paman.. dia terlalu lama keluarnya."


" Baiklah.."


" Emm.. sedikit aneh si.. apa semua orang kaya seperti ini ya?? Rumah besar tapi terasa sepi dan muram.. Dan juga, Istrinya Pak Rivaldi itu kemana ya?? Masa ga mau nyambut ponakannya yang datang.. tapi ga mungkin kan.." Gumam Juli saat Tama sudah pergi menjauh.


Ia yang masih terus menunggu di sana tak bisa berbuat apa-apa. Hingga ia berfikir bahwa ia lebih baik keluar menghilangkan kejenuhannya.


Ia keluar sambil melihat tanaman yang ada didepan sana. Di samping itu Tama yang sudah hampir dekat dengan pintu ruangan kerja pamannya, ia sempat mendengar pamannya itu memarahi seseorang dibalik telfonnya.


Ia sangat marah karena nada tingginya itu terdengar sampai keluar. Lalu Tama berhenti didepan pintunya. Ia pun sedikit tercengang saat mendengar bahwa pamannya itu berbicara.


" Jika kau masih belum bisa menghabisi orang itu dan membuat orang itu hancur. Kau tak boleh kembali dan tak boleh menampakkan dirimu dihadapan ku lagi.." kata Rivaldi didalam ruangannya.


" Hah.. apa maksud paman itu?? sebenarnya siapa orang yang ingin dia habisi??" Batinnya Tama.


Tak lama, dan Tama pun penasaran akhirnya ia membuka pintunya.


Ceklekk..


" Ya.. siapa??" tanya Rivaldi.


" Ah.. masa paman ga inget klo ada temu janji sama.aku.."


" Eh.. iya.. maaf ya.. Biasa, paman lagi sedikit sibuk walaupun hari ini weekend.. loh.. bukannya paman waktu itu bilang ketemuan di cafe dekat Apartemen mu ya??.."


" Iya.. hanya saja, aku sekalian jalan-jalan jadi ya udah lah aku ke rumah paman saja.."


" Kau datang sendirian??"


" Tidak.. aku datang dengan istriku.."


" Emm.. ya karena kau sudah datang dan masuk kesini, jadi ngobrolnya sekalian saja.."


" Paman hanya ingin berbicara, bahwa maukah kau menggantikan paman ke suatu pesta perusahaan disana?? Emm.. detailnya, ini.." Sambil memberikan undangan party perusahaan milik Bapak Soedibyo.


" Hah.. loh, dia bukannya teman bisnis papah, yang sedang bekerja sama dengan perusahaan juga kan??.."


" Iya.. hanya saja.. Kakak tak mau.. dan diserahkan oleh paman.. Ya, paman pun tak bisa menghadiri pesta itu.. dan lagi pula Bude mu itu juga ga ada disini dia masih ada diluar negeri demi proyek yang disana. jadi, ku pikir kau pasti bisa datang sebagai perwakilan dari perusahaan kita."


" Hemm.. aneh, kenapa paman yang memberikan ini.. Padahal, papah sendiri belum membicarakan hal ini.." batinnya Tama.


°°°


Happy reading..😉


Maaf, baru bisa update hari ini.🙏🙏😖