
Di satu sisi lainnya Juli yang sedang duduk di atas ranjang sambil terus memeluk kakinya dan menangis dalam diamnya. Ia merasa sangat bersalah dan juga sedih, karena dirinya masih belum bisa menerima semua keadaan ini.
" Apa aku sudah sangat gagal menjadi seorang istri yang baik?? Tapi, hati dan pikiran ku pun masih belum bisa menerima ini semua."
" Gimana sekarang?? aku harus apa?? aku ga ngerti harus gimana??.."
Di suatu tempat yang lain..
" Hah! Ada apa si dengan Feli?? dia tak seperti biasanya??"
" Aku hanya ingin memperbaiki semuanya aja seperti dulu.. seperti saat-saat kita berteman dulu.."
" Dulu tuh kita deket banget sampai kau curhat apapun dengan ku.. tapi, kenapa sekarang kau berubah.. kau seperti menghindar dari diri ku.. kenapa Fel??.."
" Sebenarnya ada apa dengan mu?? aku harus bagaimana pada mu??"
Flashback...
" Hahaha.. kau, kah ini.. ada apa itu dengan muka mu itu?? hahaha.. rasanya aku ingin tertawa sampai puas sekarang ini.."
" Ah.. kau ini, jangan terus mengejekku deh.. Huuhh.." Cemberutnya Feli saat Bryan terus saja menertawakan dirinya karena muka cemong-nya.
" Hush.. sudah, sudah.. aku kan Hanay bercanda saja.. sini, sini aku bersihin muka mu itu.. Dasar kau seperti ini justru sangat terlihat imut kau seperti kelinci kecil yang menggemaskan.. Hemm.." Sambil mencubit pipinya dengan gemas.
" Humm.. aku bukan kelinci.. udah deh... "
" Ayen, Jika nanti kita tak bersama setelah kelulusan SMP ini apakah kau akan tetap bersama ku dan kau takkan bersama dengan yang lainnya??" tanya Feli serius pada Bryan.
" Emm.. aku akan tetap bersama mu.. Jadi, kita akan tetap bersama sampai kita bisa menggapai mimpi kita masing-masing, dan jika kita harus ke pisah, aku akan menemui mu setiap saat. Aku janji itu pada mu.."
" Serius.. Ayen janji pada ku.. baiklah.. jangan sampai kau mengingkarinya oke.."
" Iya.. "
Mereka pun menyematkan kelingking mereka dan tersenyum bahagia.
Flashback off..
Lamunan Feli tentang hal itu sangat membuatnya merasa semakin sakit dihatinya.
" Kenapa kau melupakan hal itu semua kau yang berjanji pada ku tapi kau juga yang mengingkarinya.. apa kau sama sekali tak sadar?? "
" Dulu kau selalu berkata jika aku sangat manis, aku sangat imut dan lainnya sampai aku tak bisa memalingkan pandangan ku pada mu.. Tapi, dengan teganya kau membuat ku kecewa, itu yang membuat ku memilih pergi menjauh dari mu.."
" Eci.. Nama panggilan yang kau buat untuk memanggil ku waktu kita masih bersama sebagai teman.. Namun, kau sama sekali tak menyadarinya bukan? aku hanya menganggap mu sebagai apapun.. Guru, pendamping dan teman.. tapi, itu semua hanya masa lalu.. kau bahkan sudah tak pernah memanggil ku dengan nama itu lagi.. setelah kejadian itu, kau melupakan semua hal.. bahkan tentang diri ku.."
Renungnya Feli dalam kamarnya. Dia seakan-akan sudah sangat lelah akan hari ini.. dia seperti sudah muak tapi dia tak bisa selalu menghindari Bryan. Hatinya masih sama seperti dulu namun ia tak bisa bersikap seperti dulu.
" Aku harus secepatnya kembali, pergi darinya adalah jalan terbaik untuk ku agar aku tak sakit lagi.."
" Ya.. besok aku akan pergi, dan kembali ke sana.."
Feli pun mulai membereskan semua barangnya dan berkemas. Ia juga sudah memesan tiket pesawat menuju Kairo, Mesir.
Masih dalam malam yang sama..
Karena terlalu lelah Juli pun tertidur pulas di ranjang itu Ia pun juga sudah melepas hijabnya karena ia tak bisa memakainya terus menerus.
Sedangkan Tama dia masih dalam bak kamar mandinya. Masih berfikir dan terkadang mengkhayal yang tak mungkin terjadi. Karena itulah ia masih dalam perendamannya.
" Perempuan yang aneh.."
Tama pun keluar dari kamar mandinya. Dan mendapati seorang wanita yang baru saja ia nikahi itu ada di atas ranjangnya. Dengan raut wajah yang tenang, damai dan sangat manis ketika ia tertidur seperti itu. Seperti seekor kucing yang kedinginan.
" Hei, Tama.. kau Jan berfikir yang bukan-bukan.. Kau baru saja mengenalnya jangan sampai kau melewati batas duluan.." Ucapnya dalam hati.
" Tapi, dia sudah menjadi istri mu bukannya bebas ya, kau ingin ngapain saja.. " Kata pikirannya yang lain.
" Hei.. stop Tama.. Jan berfikir yang bukan-bukan, sudah lebih baik kau tidur.. dan temani dia.." Kata keteguhan hatinya.
Akhirnya ia pun mengikuti keteguhan hatinya. Ia naik ke atas ranjang dan menyelimuti Juli dengan benar. Jujur ia masih tak tau kenapa perasaan sejak awal mereka bertemu sampai sekarang ini, menurutnya itu sangat aneh.
Seperti rasanya ia kembali menjadi dulu.
.....
Pagi pun tiba dengan sangat cerah dan sejuknya.
" Emmhh.. sudah jam berapa ini??" tanya Tama.
" Owh, kau sudah bangun??"
" Aku sudah membuatkan sarapan untuk mu.. apa kau ingin mandi dulu, atau kau ingin sarapan dulu??"
" Aku mandi.. " ucapnya cuek.
" Ah, ya aku akan menunggu di meja makan.."
Juli yang sudah rapih dan terlihat sangat segar dipandang, membuat Tama yang berjalan ke kamar mandi itu merasa senang dan tersenyum kecil.
" Hemm.. sepertinya ia sudah melupakan kejadian kemarin.." ucapnya.
Juli yang masih setia menunggu di meja makan pun hanya diam dan merenung apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Tama pun akhirnya keluar dari kamar mandinya dengan tubuh yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek santai saja.
" Ahhkk.. kau, kau.. kenapa kau hanya memakai celana saja.. maaf, aku tak biasa akan hal ini.. bisakah kau memakai baju mu.."
" Hei, bukankah.. seorang pria itu memang seperti ini ya.. lagi kau kan sudah jadi istri wajar lah.. Aku memang selalu seperti ini.. dan aku tak mau memakai baju untuk saat ini.."
" Baiklah.. " Iya mengangguk namun tetap dalam tundukan kepalanya.
" Hei, aku ada di sini bukan dibawah.. jadi lihat aku saat berbicara.."
Tama langsung mengangkat dagunya Juli dan menatapnya.
" Iya.. aku mengerti.."
" Nah gitu dong.. kan enak diliatnya.."
" Aneh, dia benar-benar sangat aneh?? pria macam apa dia dan aku menikahi pria macam apa ini??" batinnya Juli menangis.
" Aku akan pergi kerja.. jadi kau diam saja disini dulu, terserah kau akan berbuat apa.. yang jelas jangan sampai memegang barang ku dan membuat berantakan." Tegas Tama.
Mereka pun sarapan dengan sangat santai dan tenang. Sampai waktunya Tama harus pergi ke kantornya untuk tugasnya. Sebenarnya mereka sudah disuruh untuk bulan madu.. namun, Tama menolak dan dengan tegas ia katakan bahwa kami takkan pernah bulan madu sampai kapan pun. Aku yang mendengar Tama berkata seperti itu hanya bisa diam dan tunduk saja.
....