Life

Life
Mengakui kesalahan.



Zrruutt...


" Ahh.. Kau takkan bisa lepas dari takdir mu yang kejam itu Valdi.. ingat ini baik-baik.. ahhkk.."


Bruukk..


" Sudah.. cepat kita kabur dari sini.. ayo.. tinggalkan saja ia disini dan segera kabut, jangan sampai meninggalkan apapun disini.."


" Baik mengerti.."


Mereka pun pergi meninggalkan Heraiyan disana sendirian hingga hujan pun turun dan membasahi tubuhnya sampai darahnya terus mengalir dan sudah tersebar kemana-mana.


Tak lama, para bodyguard suruhan Adirata pun datang, dan mereka sangat terkejut melihat istri bosnya sudah tergeletak disana dengan bersimbah darah..


Mereka pun akhirnya membawanya dan langsung ke rumah sakit terdekat.


Mereka mengabari bos nya..


" Bos.. maaf.. kami gagal.. dan kami tak tahu siapa yang menyerang ibu bos pak.. maaf.. "


" Memang Hera kenapa??!! jawab aku Rul!! sekarang kau ada dimana?? biar aku kesana.." Kata Adirata.


" Kami di rumah sakit Pelita. Kondisi ibu saat ini sangat kritis pak.. "


" Baik aku akan kesana saat ini juga.." Adirata pun segera pergi ke rumah sakit tersebut.


Tak beberapa lama kemudian Adirata pun sudah sampai di rumah sakit tersebut. Namun..


Saat ia hampir saja menemui istrinya yang ada di unit gawat darurat.. Istrinya dinyatakan meninggal.. meninggalkannya dan anak-anaknya. Baik Tama maupun Alex, mereka sama-sama bersedih.


" Dimana Istriku?"


" Bu bos.. ada di sana.. ia.. telah.. meninggal Pak.. Maaf pak.. kami gagal.." kata para bodyguard nya.."


Adirata pun langsung bergegas memasuki ruangan itu guna memastikan apakah benar istrinya telah meninggalkannya?..


Ia masuk secara perlahan ke dalam ruangannya..


" Sayang.. kau, tak meninggalkan ku kan??"


" Iya kan.."


" Mah.. Mamah.. mamah.. huhu.. hiks.." Panggilnya Tama dan Alex yang juga ikut bersama papahnya masuk kedalam ruangan.


" Sayang.. ini ga benar kan?? sayang, jawab aku.. jawab.. aku, disini.. aku.. ada disamping mu.. tolong, kumohon buka mata mu, Hera.. Hera.. ku mohon buka mata mu.. Hera.. hiks.."


" Pah.. mamah ga papa kan Pah?? Pah.." tanya Alex sambil bersedih.


" Papah,.. hah!!.. Hera.. Hera!!.."


Bruukk..


Adirata terjatuh karena ia sudah tak tahan lagi melihat jenazah orang yang ia cinta itu, benar pergi meninggalkannya untuk selamanya.


" Papah.. huhu.. hiks.. Mamah.. mah.. hiks.. hiks.." Suara tangis terus terdengar didalam ruangan itu.


Keesokannya, Pemakaman Heraiyan pun dilaksanakan dengan penuh haru. Bahkan ibu Mertuanya dan ibunya pun menangis terus menerus. Mereka hanya bisa mengenang nya..


Namun hal itu tak berlangsung lama, Alex yang sudah mengerti akan gimana keadaan perusahaan Papahnya dan keadaan papahnya. Ia pun mengajukan dirinya pada Kakeknya. Ia mengajukan diri, untuk membangun kembali perusahaan Papahnya itu.


Dan selama kurun waktu yang tak terlalu lama, yaitu sekitar 9 bulan, ia berhasil membangun kembali perusahaan Papahnya itu menjadi semakin membaik. Hingga keadaan Papahnya pun berangsur membaik dan ia kembali ke perusahaan untuk mengembangkan menjadi lebih besar lagi.


Ia dan Alex sangat berusaha untuk mengembalikan keadaan menjadi lebih baik dan baik lagi. Dan saat nya tiba, Alex pun memutuskan untuk pergi dari Indonesia untuk membangun bisnisnya di luar negeri. Ia pergi saat usia Tama sudah 17 tahun.


Saat itulah, semuanya kembali seperti semula lagi. Adirata sudah mengikhlaskan kepergian orang yang paling ia cintai, walaupun kasus nya sudah berhenti dan tak mendapatkan titik terang. Bahkan Adirata pun sudah menugaskan kepada para pengawal dan pihak polisi untuk menangkap pelakunya.


Namun, lagi-lagi tak menemukannya. Pelakunya masih belum dapat ditemukan, hingga pengadilan memutuskan untuk menutup kasusnya. Dan di tutup kasusnya.


Adirata dan semua keluarganya sudah sangat bersedih atas putusan pengadilan itu. Mereka sangat kecewa atas hal itu. Bahkan sampai Aditya lepas kontrol dan mengamuk di persidangan tapi tetap tak ada satu pun dari mereka yang berkata untuk melanjutkan penyelidikannya.


•••


" Kau sudah mengerti bukan?? mengapa aku sangat melindungi Tama dan yang lainnya. Hingga aku mencoba untuk Membalaskan dendam ku ini padanya."


" Kau tau, Dia itu siapa?? Dia bukan hanya sekedar menyiksa ku didunia ini tapi, dia jugalah orang yang sudah menyiksa ku di masa lalu. Dia orang yang sangat kejam dan tak memiliki perasaan. Dia memang memiliki seorang istri yang cantik, namun tak sedikit pun ia mencintai istrinya itu." Jelasnya Heraiyan.


" Lalu, mengapa ibu, pergi waktu itu.. dan tak pernah muncul kembali?? awalnya ku pikir Ibu adalah sosok yang sangat jahat dan ingin membalaskan dendam pada ku.. "


" Tunggu.. Lukisan itu?? lukisan yang ada di salah satu ruangan kosong di dalam rumah.. itu bukankah itu ada kaitannya dengan Ibu dan kalung kotak itu??"


" Yah.. itu memang benar, itu ada kaitannya.. Tapi, lukisan itu bukanlah aku yang menempati. melainkan sosok yang lain.. Sosok yang sangat menaruh dendam yang besar pada Suami ku.."


" Hah.. maksudnya??" Tanya kembali Juli yang masih tak paham dengan apa yang ia dengar.


" Ya.. dia sosok yang berbeda dari ku.. Suami ku tak tahu jika aku dan kalung kotak itu ada kaitannya. Ia hanya tau bahwa semua kesulitan yang ditanggung oleh Tama adalah karena lukisan itu.."


" Memang siapa dia? mengapa dia ingin balas dendam pada keluarga Papah??"


" Aku tak tau.. karena setiap kali aku keruangan itu aku selalu tak bisa keluar, dan hanya berlindung dalam kalung kotak itu. Intinya apapun yang akan terjadi nanti.. Aku berharap lukisan itu dan dirinya pergi dari rumah itu.."


( " Awalnya aku memang tak percaya jika hal seperti ini nyata.. namun setelah bertemu dengannya aku percaya bahwa hal semacam ini ada.. dan yang bisa melindungi kami hanyalah dia.. yang maha kuasa.." )


" Ya.. aku mengerti, namun.. keyakinan ku tetap kokoh, bahwa tak ada satu pun yang bisa melebihi dari yang maha kuasa Bu.. aku yakin itu.. dan suatu saat pasti ia akan kembali padanya dan melepaskan semua kekuatannya untuk balas dendamnya. "


" Hemm.. ya.. kau benar, mungkin aku yang memang telah bersalah.. hingga aku mengalami nasib seperti ini.. Maaf kan aku atas segala dosa yang ku perbuat.. mungkin ini terlambat.. tapi aku hanya ingin hidup tenang dalam alam ku dan melihat keluarga ku bahagia pada akhirnya."


" Ya.. "


" Bisakah, aku meminjam tubuh mu?? "


" ..... "


Tanpa sempat Juli berkata lagi.. Tubuhnya sudah diambil alih oleh Ibu Mertuanya.


Disaat itu Tama yang langsung bergegas keluar dari ruangan Pamannya, kemudian ia mencari Juli yang ia lihat tak ada di sofa. Ia mencari kemana pun didalam rumah pamannya, namun tak juga menemukan Juli.


Sedangkan Rivaldi menyusul dibelakangnya untuk segera menemui Mantunya.


" Sayang.. kau kemana?? " Tama terus mencari Juli disana namun tak menemukannya.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencarinya diluar, namun yang ia temukan adalah keadaan Juli yang terbaring di taman depan rumah.


°°°