Life

Life
Time travel.



" Hemm.. aneh, kenapa paman yang memberikan ini.. Padahal, papah sendiri belum membicarakan hal ini.." batinnya Tama.


" Baiklah.. tak apa paman.. hari itu aku ada waktu.. dan aku bisa mendatangi party itu.."


Disaat yang bersamaan, Juli yang sedang asik dengan tanaman dan bunga disana yang sedang bermekaran. Tiba-tiba ada satu bunga yang jatuh, ia tak tau mengapa bunga itu jatuh. Bunga Kamboja merah itu jatuh dan Juli mencoba untuk mengambilnya, setelah ia mengambil bunga itu.


Dan ia sudah mendapatkan kelopak bunga itu. Ia terkejut, karena dengan tiba-tiba nya, ada sepasang kaki yang sangat familiar baginya. sedang menghadap dirinya.


Lalu ia pun bangun..


" Kau.. kenapa kau muncul disini??"


"......" Ia hanya diam dan terus menatap matanya Juli lalu meraih tangannya dan membawanya pergi.


Syunngg..


" Loh.. aku ada dimana?? kau membawa ku kemana??"


" Diam dan ikuti saja aku..." Kata wanita itu.


" ....." ( " Dia ingin membawa ku kemana??" batinnya)


" Loh.. ini kan.. bukannya ini masa lalu mu.. Kenapa kau membawa ku ke masa lalu mu ini??"


" ....."


Ia hanya melihat sekilas tentang diri wanita ini lalu ia langsung berpindah ke waktu berbeda lagi. Dan ia melihat diri wanita itu lagi, namun wajahnya berbeda. Selama itu ia terus berpindah dari waktu ke waktu sampai tiba pada akhirnya, ia kembali ke waktu saat ini.


Namun anehnya, mengapa ia melihat Adirata ayah dari suaminya.


" Apa ini?? maksud mu apa??"


" .... "


Wanita itu tetap diam bahkan sampai ia menyaksikan dan menyadari sesuatu. Dan ia tau mengapa wanita ini terus berada di samping Tama dan kalung itu terus menempel bersama dengan Tama.


" Jadi, Nama mu saat itu adalah Heraiyan?? dan kau adalah Ibunya Tama.. Kau bukan tersiksa karena suami mu melainkan adik dari suami mu?? dan kehidupan lalu mu itu penuh dengan siksaan sampai kau terus terlahir untuk membalas dendam, namun.. kau masih tak bisa sampai sekarang.." jelasnya Juli.


"......"


" Tapi, mengapa kau juga menyiksa ku waktu itu?? Dan pergi menghilang setelahnya.."


" Apa kau melihat sesuatu??"


" Apa?? "


" Ayo.." Sambil menarik lagi tangannya.


" Loh.. ini.. Siapa?? dan mau apa dia??"


Heraiyan kembali menariknya lagi.


" Dia, Adik dari suami ku yang selalu melecehkan ku.. Aku selalu menutupinya dari suami ku dan Tama.. karena aku tak ingin persaudaraan mereka hancur.. dan kami berpisah.."


" Lalu?? Apa yang kau inginkan sekarang??"


" Aku hanya ingin melindungi anak ku Tama.. Aku hanya ingin dia tak seperti ku.. Dihabisi oleh pria baj*ng*n itu.. "


" Memangnya.. Tidak.. Bagaimana bisa dia menghabisi mu sedangkan kau adalah Kakak iparnya?? Dan motifnya apa dia sampai menghabisi mu dan memanfaatkan mu??"


" Aku sama sekali tak tahu.. mengapa ia menghabisi ku dan melecehkan ku?? tapi, yang ku tahu.. dia ingin menguasai seluruh aset kekayaan dari Papah.."


" Maksudnya?? Kakeknya Tama??"


" Ya.. dia adalah pemilik semua perusahan yang dibawah Amartha groups. Itu yang ia incar dari dulu.."


" Jadi,.. hah.. Itu artinya Tama dalam bahaya.. Tapi, bagaimana kau bisa meninggal??"


" Ayo ikut aku.."


Heraiyan membawa Juli pergi kembali. Ke suatu tempat dimana Ia dilenyapkan.


Di sebuah bukit..


• Ceritanya..


Masih dirumah..


" Her.. Apa kau ada kerjaan hari ini??"


" Emm.. sepertinya masih ada satu kerjaan lagi.. Tapi, memang kau ingin ikut bersama ku?? Hem.." Sambil memeluk Adirata dari belakang.


" Hemm.. pengennya si.. tapi,.. " Dengan wajah lesunya.


" Tapi apa sayang ku??"


" Hemm.. bisakah kau tak pergi untuk kali ini?? aku sangat ingin kau sekarang ada disisi ku.."


" Hemm.. tapi, maaf.. hari ini aku sangat tak bisa, aku harus menemui klien Papah yang ingin bekerja sama dengan proyek ini.."


" Tapi, aku hanya ingin kau disini.. entahlah, aku tak tahu kenapa aku ingin kau disini.. bisakah, kau menundanya??"


" Aku pun juga inginnya, tak mau kemana-mana tapi, ini demi perusahaan.. Dan dengan cuaca yang sepertinya ingin hujan.."


" Muach.. baiklah, pergilah.. jika kau ingin pergi. tapi, ingat jika terjadi sesuatu atau hujan lebat nanti.. kau, harus segera menghubungi ku.. Jangan pernah kau mematikan ponsel mu.."


" Iya, sayang ku.. kau juga harus baik-baik, jangan sampai Tama mencari mu.. atau kau terus bertengkar dengan Alex.. aku sangat mencintai mu dan yang lain.. muah.. dah.. aku pergi dulu ya sayang.. dah.."


" Iya Daahh.." ( " Mengapa hati ku sangat berat untuk melepasnya pergi.. Hati ku sangat gelisah.. apa aku suruh saja bodyguard untuk membuntuti Hera..")


Hingga Hera pun pergi meninggalkan rumah dengan supir pribadinya. Heraiyan tak memiliki perasaan apapun saat ia meninggalkan rumahnya namun, ia terus berfikir dia harus pulang dan kembali dengan keluarganya setelah urusannya kelar.


Selama di perjalanan ia terus saja memandangi jalanan dan sesekali ia pun memandang ke depan untuk melihat jalanan depan yang sangat sepi karena ia harus melewati perbukitan.


Sebab lokasi yang dipilih oleh kliennya ini berada ditempat yang sangat tidak strategis, mereka beralasan jika meeting-nya akan berjalan lancar jika sekalian melihat pengerjaannya juga.


Maka dari itu Heraiyan memilih untuk datang kesana, walau jalannya sangat sepi dan sunyi.


Hingga hampir setengah jam, ia pun sampai ditempat itu. Ya, seperti yang ia duga.. orang itu sudah sampai disana dan mereka sedang memantau pengerjaannya walau dalam cuaca yang kurang bagus ini.


Tapi, ada satu orang yang membuatnya terkejut. Yaitu, Adik iparnya sendiri ada disana.


" Loh, dia?? mengapa dia ada disana??"


" Mungkin ia hanya ingin mengecek saja gimana pembangunannya." gumamnya.


Ia pun berjalan mendekati mereka.


" Hallo, Bu Hera.. sudah datang rupanya.." Tanya kliennya.


" Hallo.. ya, baru saja sampai.. gimana?? apakah masih ada kekurangan dalam proyek kalo ini??"


" Emm.. kurasa tidak.."


" Loh.. Kakak ipar? wah.. kebetulan sekali ya.. ketemu disini.." kata Rivaldi.


" Eh.. mengapa kau ada disini?? bukannya kau tak pernah ikut campur dalam proyek kalo ini??"


" Haha.. kau sangat detail ya.. Ya.. memang aku sama sekali tak bertanggung jawab atas proyek kali ini namun, ada satu hadiah untuk mu.." Rivaldi langsung mengkode pada anak buahnya untuk menyekap Hera.


" Eh.. eh.. apa, apaan ini?? lepas ngga?? Pak.. apaan ini, atau jangan-jangan, bapak juga ikut berkomplot dengan nya?? Hah! tak ku sangka kalian se-bejat dan sejahat ini.. hah!! dasar kau.. adik ipar yang sangat naif.. kau selalu saja melecehkan dan men-jahati ku.."


" Aku memang selalu diam, karena aku ingin menjaga keluarga ku.. tapi kali ini kau sudah keterlaluan.. lihat saja, karma apa yang akan kau tanggung atas hal ini.. hidup mu akan menjadi susah dan bahkan lebih susah dan mungkin kau akan dipenjara hingga membusuk didalamnya!.."


" Ingat ini baik-baik Rivaldi.. Kau takkan bisa kabur dari takdir mu yang kejam, bahkan lebih kejam jika kau terus menyakiti ku.. bahkan jika kau merencanakan untuk membunuh ku saat ini.. ingat itu baik-baik.." Kata heraiyan sambil terus memberontak.


" Kau!! apa-apaan kau bicara seperti itu pada ku.. kau tak ada apa-apanya bagi ku.."


" Kaulah, yang tak ada apa-apanya bagi ku Rivaldi!! kau akan mati sangat mengenaskan ingat itu.."


Zrruutt..


(Sebuah pisau tajam menusuk dadanya heraiyan.)


°°°