Life

Life
Memulai hubungan



.....


" Hemm, sekarang Feli sedang apa ya?? kalau benar kata Juli dia itu tinggal di Hotel Mulligan untuk sementara waktu artinya sekarang ia masih disana dong.. aku harus kesana untuk memperbaiki hubungan pertemanan ini.. rasanya sangat menyesakkan saat ia mengacuhkan ku.." kata Bryan yang langsung bergegas menuju hotel tersebut.


Ia melajukan mobilnya dengan sangat cepat namun santai.. Setibanya disana, ia menanyakan dahulu di resepsionis hotel tersebut.


" Ada yang bisa kami bantu pak??" Tanya wanita resepsionis itu.


" Ah, saya hanya ingin menanyakan satu hal aja kok.. Emm, apa disini ada pengunjung bernama Feli?? Ah, maksudnya atas nama Felisa Arfiah??"


" Emm, sebentar ya pak.. kami cari sebentar.."


" Ah.. ini, ya.. memang ada pengunjung yang bernama Felisa Arfiah yang memboking kamar hotel nomor 54 di lantai 4, tapi dia sudah keluar sejam yang lalu pak.."


" Hah!.. Owh, maaf.. maaf, terimakasih.." Bryan pun langsung pergi meninggalkan hotel tersebut dan langsung menuju tempat mobilnya dan pergi ke arah hatinya berkata.


" Kenapa kau tak pernah memberi ku kabar jika kau akan pergi lagi.. sebenarnya ada apa dengan mu Fel??


" Kenapa kau berubah?? apa yang salah pada diri ku?? Aku tak bisa seperti ini.. aku akan menyusul mu ke sana.. Aku harus mendapatkan penjelasan dari mu.."


" Setelah sekian lama aku menunggu mu dan akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan mu, tapi kau tetap membuat ku merasa diacuhkan gini.."


" Kau, adalah satu-satunya orang yang membuat ku selalu ingin dekat dan dekat lagi pada diri mu.. dari jaman SMP dulu, tapi kau berubah saat kita bertemu kembali saat kelulusan SMA itu.. Sejak saat itu aku hanya bisa menunggu dan menunggu mu untuk kembali ke sini.. tapi, saat kita dipertemukan kembali kau justru semakin menghindar dari ku.."


" Aku selalu, meminta maaf dari mu tapi tetap kau mengacuhkan ku.. aku salah apa Fel.."


Brrakk..


Ia memukul setir kemudinya dengan sangat kencang.


" Ahhkk!! Aku ga tau perasaan apa ini tadi sekarang rasanya benar-benar sangat menyakitkan.. sakit Fel, ini sangat sakit.."


Hingga ia menepikan sebentar mobilnya, tak lama dadanya merasa sangat sakit hingga ia tak tahan akan rasanya. Ia terus memegang dadanya dan meremasnya hingga sampai ia mengingat satu potongan ingatan melintas dalam kepalanya.


" Eci.. Eci.. kau, jangan pernah meninggalkan ku ya.. sampai kapan pun, aku hanya ingin kau tetap bersama ku sampai kapan pun.. kau, tau kau lebih manis dipanggil dengan nama Evi dibanding dengan nama Feli.."


" Iya.. aku memang manis kan.. hahaha.. hahaha.. Ayan, juga sangat imut hihi.."


" Hei, kenapa aku bisa imut, aku kan bukan seekor kelinci.. Hemm, aku bukan imut.. tapi aku ganteng kan.. iya kan??.."


" Ngga, Ayan sama sekali ga ganteng.. Ayan ku itu sangat imut.. hehehe.."


Ingatan itu terhenti saat senyuman Feli menghias di bibirnya.


" Hah! apa itu?? kenangan itu, kenapa aku baru bisa mengingat itu sekarang? sebenarnya apa si yang terjadi pada ku??"


" Aku harus bertanya pada Ibu.." Bryan pun melajukan mobilnya menuju rumahnya.


.....


" Jul.. Juli, apa kau sudah sadar??" tanya Tama sambil sedikit mengguncangkan badannya.


" Ah, Emm.. aku dimana??"


" Kau di kamar lah.. kau, kenapa bisa pingsan di lantai depan pintu?? Kau ingin kemana dan kenapa??"


" Maaf, maaf.. aku hanya ingin pergi ke rumah Mamak, aku merindukan Vian adik ku.."


" Lalu??"


" Ya.. aku ga tau, tiba-tiba saja aku sudah disini di atas ranjang, aku sama sekali ga ingat apapun.."


" Ya.. aku akan lakukan itu.."


" Owh, ya.. ini.."


" Apa?? "


" Itu, nomor telfon ku.. kalau ada apa-apa kabarin aku.."


" Emm.."


" Eh, dimana kalung itu?? bukankah aku sudah memegang kalungnya tadi.. kemana?" batinnya Juli.


Lalu, ia melihat kalung itu sudah berada di tangan Tama. Ia pun menjadi khawatir jika dugaan dia benar.. maka, Tama akan kembali menjadi pria dingin tanpa ada rasa.


" Entah mengapa aku merasa sangat aneh dan khawatir disaat yang bersamaan saat ia sudah memegang kalung itu kembali.." gumamnya Juli yang hanya bisa melihat Tama semakin menjauh dari pandangannya.


Ia sedikit mengingat apa yang ia lihat, awalnya ia mengira itu hanya mimpi tapi setelah ia rasakan dan ia melihat Tama kembali tadi saat memegang benda itu. Ia merasa dan melihat bahwa ada yang aneh di sekeliling Tama seperti hawa negatif yang terlalu kuat itu terus berada disekelilingnya.


" Hemm.. untuk apa aku memikirkan hal ini semua, toh.. ia bukan siapa-siapa ku, dia pun juga ga akan se-peduli ini pada ku saat aku kenapa-napa.. huh! tapi, dia cukup kasian juga si.. aku belum tau banyak tentang dirinya tapi aku sedikit mengerti bagaimana perasaannya dia tipe orang yang ga bisa membuka diri dengan mudah pada orang yang baru ia temui.."


" Aku seperti melihat diri ku pada dirinya.. Emm... Apa aku bantu saja? Dia pun juga sekarang sudah menjadi suami ku.. Ah, sudahlah.. biarkan saja dulu, aku akan memantaunya dulu.."


" Owh, ya.. aku tadi kan mau ke ketemu sama Vian ya.. Emm.. nanti saja lah, aku ingin memasak makanan saja untuk makan malam nanti.. "


Sebelum ia pergi ke dapur ia mengecek ponselnya dulu. Ternyata sudah banyak pesan yang masuk, bahkan pesan Feli pun sudah banyak sekali.


" Jul.."


" Juli..."


" Julianti.."


" Hehe.. aku spam sedikit ya.."


" Jul.. aku akan kembali hari ini... maaf ya, aku ga bisa menemui mu untuk saat ini, aku ga bisa ada urusan yang tiba-tiba mendesak ku untuk kembali saat ini.. Dan aku juga tau.. kau pun masih sibuk.. karena kau baru saja jadi pengantin baru.. mungkin awal tahun nanti aku akan kembali lagi kesini.. kita ketemuan ya.. daahh, see you.. 🥰"


Setelah ia membaca pesan itu. Juli pun meneteskan air matanya..


" Hikss.. aku tau Fel, kau pergi sekarang ini karena kau ingin menghindarinya bukan.. aku sudah menebaknya dari awal tapi, kau tetap mencoba diam, dan terus diam.."


Lalu ia pun segera membalas..


" Ya.. tak apa Fel.. aku tau itu.. makasih ya, udah sempetin untuk menghadiri acara ku.. semoga kau juga bisa mendapatkan seseorang yang sangat menyayangi mu nanti.."


" Hati-hati ya.. ingat setelah sampai kau harus hubungi aku.."


" Daahh.."


Setelah selesai mengirim pesan itu, ia langsung masuk ke dapur dan melihat barang masakan yang ada di kulkas. Dan, ya.. ketika ia melihat kulkasnya.


" Hah! Apa ini.. kenapa ga ada satu pun bahan masakan.. telur pun tak ada trus ayam pun tak ada.. sayuran pun tak ada.. yang ada hanya minuman semua.. apa ia tak makan seharian.. aiihh.. apakah semua pria seperti ini ketika hidup sendiri.."


Lalu ia pergi mencari bahan lainnya di rak dapur. Dan apa yang ia lihat...


" Ya ampun.. disini hanya mie instan aja.. Hemm..dan ini pun juga sudah tinggal 3 bungkus.. "


***