
Tama pun menghentikan aksinya dan berbalik untuk membalas pelukan istrinya itu.
" Kau!.. apa yang kau lakukan dengan seperti itu?? apa kau sudah tidak waras?? hah.. kau.. sama sekali tak mencintai ku kan?? iya kan.. makanya kau bersikap seperti tadi.. huhu.." Juli pun menangis terus menerus di pelukan Tama.
" Ah.. bukan.. bukan seperti itu.. Maaf.. maafkan aku.. aku tak bermaksud seperti itu.. aku hanya.. ingin kau percaya bahwa aku bukan pria yang seperti kau pikirkan.. sudah ya.. "
" Huhu.. Hikss.."
" Ya.. baik.. aku salah.. jadi, ayo kita kembali.. aku akan membatalkan semua janji ku hari ini pada mereka semua.. ya udah ayo kita kembali.."
" Emm.. ...."
Tama pun menggandeng Juli dan kembali masuk kedalam mobilnya.
Ia terus melajukan mobilnya sampai di apartemen. Sesampainya di dalam, Juli hanya tetap diam dan ia pun langsung pergi ke dapur untuk mengambil makanan di kulkas. Setelah ia mengambilnya, ia langsung duduk dan menyalakan tv. Mereka sama sekali berdiam dan tak ada satu pun yang berbicara untuk memecah keheningan itu. Namun tiba-tiba..
Kruyuukk.. ( Suara perut berbunyi dari salah satu perut mereka karena belum makan siang )
" Pfftt.. haha.. kenapa hal ini sangat menggelikan bagi ku.. tapi memang itu pantas untuk nya yang bersikap seperti itu pada perempuan yang waktu itu pernah mendorong ku dan bersikap tak sopan.. Pfftt.. haha.. rasanya aku ingin tertawa didepannya.. tapi.." Perkataan dalam hatinya terhenti saat Tama tiba-tiba mendekat kearahnya.
Tama terus berjalan mendekat kearah Juli yang sedang duduk di sofa depan tv.
" Aku... lapar.. bisakah kita sudahi drama seperti ini.. tolong.. rasanya aku sudah tidak kuat.. aku sangat lapar.. "
" ..... "
" Apa kau puas.. melihat diri ku seperti ini?? "
" ..... "
" Baiklah.. jika kau masih tetap diam.. oke.. jangan salahkan aku jika hidangan makan siang kali ini adalah kau.." ucap Tama seperti seorang singa yang ingin menyantap makanannya.
Ia pun mendekat dan lebih dekat dengan Juli bahkan ia pun sudah mulai ingin membuka kerudung dan menuju ke hak lainnya.
" Eh.. eh.. mas.. kau.. mau apa?? "
" Bukankah aku sudah bilang jika.. aku lapar.. dan kau masih tetap diam bukan tadi.. jadi makan siang ku kali ini adalah dirimu.. kau harus siap apapun itu.." jawab Tama dengan santai namun intens.
" Tunggu.. maksud mu.. kau akan membunuh ku gitu.. kalau memakan ku??" tanya Juli kembali dengan ekspresi lugunya.
Tama yang mendengar hal itu pun langsung berhenti melakukan aksinya. Ia tak habis pikir jika istrinya ini sangat lugu dan polos sekali.
" Haiiihh.. ini sangatlah menyebalkan bagi ku.."
" Apa mas??"
" Untuk pertama kalinya aku bersikap menjadi seorang pria yang ga tau harus bagaimana menghadapi seseorang.. Haahh.. kau sungguh mengacaukannya.. "
" Maksud mas.. apa sih?" tanya Juli dengan polosnya kembali.
" Ahh. sudahlah.. ayo.. ke dapur.. kita masak makan siang bersama.."
" Hemm.. klo aku ga mau gimana.."
" Owh.. jadi kau tak mau.. oke baiklah.. tak apa.. tapi lihat nanti malam.. aku takkan membiarkan mu tidur sampai subuh.."
" Hah.. owh.. tidak.. tidak.. mas.. baiklah.. aku akan masak.." Sadarnya Juli saat Tama sudah berkata seperti itu padanya.
Mereka pun akhirnya memasak bersama untuk makan siang. Ya seperti biasa.. kalau bukan iseng ya bukan Tama. ia selalu saja membuat Juli nge-blush dan apapun itu ia selalu saja menggodanya dan membuat acara masak itu menjadi semakin panas.
Setelahnya mereka makan bersama di meja makan.
Tak.. Kling.. Klang..
" Mas.. apa kau mencintai ku??" tanya Juli tiba-tiba.
" Hemm.."
" Emm.. Apa Kau cemburu atas kejadian tadi??" tanya Tama kembali.
" Emm.. Ahhkk.. mas tuh bikin mood ga enak lagi.. udah ah.."
" Ya.. maaf.. aku dan Glenci tak ada hubungan apapun.. kami memang sempat satu sekolah saat SD dan kami pun juga kuliah di satu univ yang sama, namun.. aku sama sekali tak pernah tertarik dengannya. Walau memang ku tau jika ia menyukai ku, tapi aku sama sekali tak pernah suka padanya."
" Lalu.. kau.. kenapa kau bersikap berlebihan seperti itu, jika bukan karena kau cemburu??"
" Ah. Ahkk.. Ehem.. Ehem.." ke-selek nya Juli saat mendengar Tama mengatakan hal itu dengan penuh percaya dirinya.
" Eh.. eh.. minum dulu.."
" Ohok.. hookk.. Hemm.. Emm.. mungkin iya.. "
" Iya apa??"
" Ya.. iya.. aku cemburu, melihat mas pegang atau peluk seperti itu di depan ku.. maupun di belakang ku.. aku memang sangat kesal akan hal itu.. Sudah ah.. tak usah dibahas.."
" Pfftt.. segitu cintanya ya dengan mas mu ini.. hihi.. " tawanya Tama yang terus meledeknya.
" Iihh.. udah ah.. ahh.. mas.. Iihh.. kalau mas tetep ngeledekin aku oke udahan nie ya makannya.. dan mas ga boleh masuk ke kamar.."
" Ehh.. tapi, jika begitu apa kau akan tega dengan mas mu ini, trus apa kau akan bisa tidur tanpa mas disamping mu.. Hemm??"
" ....., ah.. udah ah.. mas tuh ya.. Iihh.." ngambeknya Juli dan ia langsung pergi menaruh piringnya.
" Eh.. eh.. ko pergi.. sini dulu dong.. "
Greebb..
Tama menarik tangan Juli dan memposisikan ia di pangkuannya.
" Tunggu dulu.. ada hal penting yang mas pengen bicarain dengan mu??" tanya Tama dengan serius.."
“ Ada apa memangnya mas??”
“ Bagaimana jika besok kita ke rumah paman lagi.. aku akan coba cari alasan untuk bisa ke rumah paman. Karena mamah, bilang pada ku waktu itu, hal ini ada kaitannya dengan paman. “
“ Ya.. baiklah, aku akan ikut dengan mu.. mungkin ada satu petunjuk mengenai masa lalu mas dan keluarga mas.. “ ( “ Andai aku bisa menceritakan semua yang ku tahu ini pada mu mas.. mungkin kau akan lebih terkejut lagi.. namun aku memilih untuk menyembuhkan dulu ini, sampai satu bukti keluar nanti.. “ batinnya )
“ Apa weekend ini kau ada luang mas?? Jika ada gimana pas weekend aja.. sekalian ke rumah papah juga.. “
“ Emm.. sepertinya senggang, ya udah.. weekend ini kita kesana.. pokoknya apapun itu.. jika ada sesuatu disana.. kau harus memberikan kode..” kata Tama sambil memberi tahu kode apa yang harus ia gunakan saat ada sesuatu yang tak baik.
“ Baik.. aku mengingatnya..”
Setelahnya mereka hanya terus berbincang sambil melihat ke arah jendela yang masih terbuka dan menikmati pemandangan kota ketika sore tiba.
Dilain cerita namun dengan waktu yang sama. Sekumpulan anak sedang bermain benteng. Ada pula yang bermain congklak dan permainan tradisional lainnya. Namun sangat berbeda dengan Vian dan Safa.
Vian yang sangat bingung karena sifat Safa yang tiba-tiba menjadi pendiam seperti itu, membuat ia menjadi resah dan tak enak padanya.
“ Fa.. kau sebenarnya kenapa?? Cerita dong dengan ku.. aku akan mendengarkannya..”
“ Vian!!.. kau dipanggil oleh Mamak mu itu.. Mak mu bilang kalau kau harus segera mandi dan ikut ke mushola bersama bapak mu..” seru Dimas yang tetangga samping rumah Vian.
“ Ah.. ya.. aku akan pulang.. makasih, mas..”
“ Ya..” Kata Dimas sambil melanjutkan tujuannya yang ingin ke warung Bude Min.
“ Sudah.. Vian.. kau, pulang saja.. toh aku tak apa.. dan aku juga harus pulang.. Dah.. besok lagi..” pulangnya Safa tanpa berbicara apapun lagi.
“ Ya.. daahh..” Vian, pun juga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan mandi.
°°°