Life

Life
Polosnya.



“ Emm.. emmhh.. rasanya sangat hangat.. dan nyaman..” Juli mengucek matanya lalu ia melihat ke samping.


“ Hemm.. pantas saja, sangat hangat.. ternyata dia terlihat sepulas itu.. Makasih atas semuanya.. makasih sudah menjadi bagian dari hidup ku yang kelam..”


“ Nafasnya yang sangat teratur. Dan suara debaran ini, sungguh membuat ku begitu suka.. entah dari mana perasaan ini ada, padahal awalnya hanya biasa saja, dan penuh dengan pikiran negatif tentang kedepannya. Nyatanya, justru sangat berbeda..”


“ Dan, bulu matanya sangat panjang dan tebal.. alisnya apalagi.. hihi.. “


Juli yang terus memandangi wajah tampan suaminya itu, begitu sangat terpesona akan hal ini. Hingga, tak terasa bahwa ia semakin mendekat ke arah Tama dan.. Hupp..


“ Kalo sudah dipuji sebegitu besarnya, mana bisa aku langsung melepaskannya.”


“ Mas..” terkejutnya Juli saat mendapati Tama sudah bangun.


“ Jadi, dari tadi mas sudah bangun?? Iihh.. kenapa ga dari tadi si, ngasih tahu nya..” kata Juli sambil menutup wajahnya karena sangking malunya.


“ Heh.. kenapa ditutupin wajahnya??”


“ Ngga mau.. aku sangat malu mas..”


“ Eehh.. ga boleh, kau harus memperlihatkan wajah itu pada ku.. aku ingin melihatnya..”


“ Ngga, mau.. aku sangat malu mas..”


Karena Juli masih tetap ga mau melepaskan tangannya dari wajahnya, Tama pun mencoba menggodanya dengan menggigit jari tangannya Juli, tidak lebih tepatnya ia mengemut jari tangan itu.


“ Ahh.. mas, kenapa si.. geli tau.. “


“ Habisnya dari tadi, mas bilang untuk perlihatkan wajah mu, kau tetap bersikeras untuk menutupinya, ya.. terpaksa mas harus keluarkan jurus tadi..”


“ Iihh.. mas.. nakal ya.. belum sembuh betul juga..”


“ Iihh.. biarin.. sama kamu ini.. “


“ Alahh.. mas tuh ya.. bisa aja.. Iihh.. aku semakin malu..”


Ekspresi Juli yang sudah seperti kepiting rebus itu, semakin membuat Tama gemas padanya. Hingga Tama pun mencubit pipinya yang memerah itu.


“ Aaaa... Aaww.. hemmm...”


“ Kamu tuh ya.. pagi-pagi kenapa dah gemesin aja si.. coba aja, mas lagi ga masa penyembuhan gini.. pasti dah mas terkam kamu.. Muah..”


“ Hemmm.. mas.. apaan si.. ya udah, aku siapkan sarapan dulu ya.. sebentar saja.. mas kalo ada apa-apa tinggal hubungi aku saja.. ini telfonnya ku letakkan tak jauh dari mas..”


Baru saja Juli ingin beranjak bangun dari ranjang itu. Tiba-tiba saja Tama menariknya kembali dan masuk ke dalam pelukannya.


“ Tunggu sebentar, mas masih kangen.. mas pengen peluk kamu sebentar saja..” kata Tama dengan suara rendahnya di telinga Juli.


Sedangkan Juli hanya bisa mengangguk dan menurutinya. Beberapa menit kemudian Tama pun melepaskan Juli dan mengijinkan Juli untuk membawakan sarapannya. Namun, tiba-tiba ia justru malah terjatuh kembali dipelukan Tama dengan posisi yang sangat pas.


Ckleek.. ( suara pintu yang terbuka dari luar )


Ya, bagaimana tidak mesra jika posisi mereka yang seperti itu, Juli yang berada diatas Tama sedangkan Tama yang dibawahnya dan terlihat seperti mereka sedang ciuman, karena jarak mereka yang begitu dekat, apalagi kerudung Juli sebagian itu menutupinya.


“ Heh.. sepertinya aku salah waktu dan salah masuk kamar.. hehe.. maaf..” kata Feli meminta maaf dan langsung keluar dengan wajah yang sangat terkejut itu.


" Eh.. eh.. auww.. fel.. Feli!! tunggu.. kau salah melihat.. feli.."


" Syuutt.. sudah, biarkan saja ia keluar justru itu sangat bagus.. kau memang tetap ingin berada didekat Kikan makanya kau kembali ke pelukan ku.. haha.."


" Eh.. eleh.. ga mas.. aku bukan ingin kembali ke pelukan mu, tapi ada salah satu benang di kerudung ku itu mengangkut di kancing baju mu.. jadi aku spontan deh balik lagi.."


" ...... " Tama sangat malu mendengar pengakuan itu dari istrinya yang polos.


" Tak bisakah kau berkata kau memang tak ingin jauh dari ku.. agar aku merasa bahagia..." cetusnya Tama dengan wajah datarnya.


" Eh.. maksudnya mas??"


" Hadehh.. sudahlah.. sudah terlepas kan.. jadi sekarang cepat ambilkan sarapan ku.. aku lapar.. lapar~.." Kata Tama dengan suara yang ia buat seperti anak kecil.


" Iya.. iya.. sebentar ya.. hehe.." tawa kecilnya Juli saat ia sudah turun dari ranjang pasien.


" Eh.. apa itu tadi.. kau.. kau tertawa.. wah.. hah.. kau sudah berani ya.. menertawakan ku.. lihat saja nanti.. hem.."


" Apa mas?? aku tak bisa mendnegarnya.. dahh.." Kata Juli langsung kabur saat ia merasa bahwa dirinya kan terancam jika ia terus disana..


Juli yang sudah berada di koridor rumah sakit pun, akhirnya ia bertemu dengan Adirata yang sudah membawakan Bubur untuk Tama.


" Loh.. Pah.. "


" Eh.. loh, kenapa keluar??"


" Ini aku mau bikin Tama bubur di kantin rumah sakit.. jadi aku keluar dulu.."


" Ah.. sudah, tak usah.. Papah bawakan bubur ini untuknya.. karena tadi kau memberi pesan pada ku jika Tama sudah siuman, Papah pikir ia pun akan lapar juga, kan.. jadi papah sekalian saja, menyuruh Bibi membuatkan bubur untuk Tama. Dan ini.." Kata Adirata sambil memperlihatkan bekal itu.


" Ah.. iya.. Pah.. makasih.. Papah sudah repot-repot jadinya.."


" Ah.. tidak ko.. justru papah seneng banget.. "


" Emm.. maaf pah, papah, masuk saja.. Tama juga terlihat sudah sangat membaik.. dan aku ingin mencari teman ku dulu.. tadi dia, datang tapi malah kabur.. hehe.."


" Ya, sudah.. Papah, masuk ya.."


" Iya.. Pah.."


Melihat Adirata sudah, masuk Juli pun segera pergi dan mencari Feli yang tadi ingin menemuinya.


°°°