Life

Life
Dendam dan cinta.



Mana yang akan kau pilih antara dendam dan cinta??


Bisakah kau memilih salah satunya??


Bisakah seseorang bisa melupakan dendamnya dan lebih memilih cintanya??


Atau bisakah seseorang itu lebih memilih dendam dibandingkan cintanya, yang mungkin itu akan membuat dirinya hancur??


Bukankah itu adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab bahkan untuk dilakukan sekali pun..


Hal yang awalnya tak berhasil kemudian berhasil pada akhirnya, apakah cerita ini akan berhasil juga pada akhirnya??


Semuanya tak tahu.. akhir seperti apa cerita ini terbentuk.. Bahkan itu pun tak bisa ditebak oleh siapapun, baik ia yang sudah tiada maupun yang masih memperjuangkan dirinya atas keadilan yang tak ia dapatkan.


“””


“ Mas.. andai, kau tahu.. ketika aku meninggalkan mu dan lebih memilih untuk bersama dengan orang lain, hati ku tetap saja tak bisa pergi dari diri mu.. aku selalu ingin kau bisa memahami diri ku dan meninggalkan dendam mu itu..” batinnya Dea yang terus memikirkan Rivaldi dan masalahnya.


“ Namun kau masih tetap memilih dendam mu, hingga aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mu.. namun, sekarang aku sadar, jika hal itu takkan pernah bisa berhenti, dendam itu akan tetap tumbuh semakin besar dan besar, dan jika saatnya tiba kaulah yang akan menyesal.. “


“ Ketika aku menyadari hal itu, aku, kembali berfikir, harus ada yang bisa menghentikan dendam itu. Agar takkan ada yang menyesal pada akhirnya. Namun, sampai sekarang pun aku masih belum tau apa yang sedang Rivaldi pikirkan dan rencanakan. Aku bahkan tak bisa mendekatinya sedikit pun..” Ia masih terus saja bergumam sendiri sambil meminum teh halaman rumah.


Saat ia dengan santai menikmati duduk santainya. Tiba-tiba Rivaldi pulang, ia dalam keadaan yang sangat parah. Ya, ia mabuk dengan sangat parah. Bahkan berjalan saja ia seperti tak sanggup. Berkali-kali ia terjatuh, dan berkali-kali pula ia bangun dan berjalan dengan keadaan tak seimbang.


Melihatnya seperti itu membuatnya tak sanggup dan membantu Rivaldi untuk masuk kedalam kamarnya.


“ Hei.. kau.. kau.. dasar penghianat.. kau, selalu saja mengkhianati ku.. kau, tau.. kau adalah seorang istri yang ga berguna.. kau menghianati ku dengan kau pergi bersama dengan orang itu.. kau.. tak bisa selalu bersikap seperti itu pada ku.. tak bisa.. tak bisa..”


“ Ya.. aku penghianat Vadi.. maaf, maaf.. aku sudah menghianati mu.. maaf..”


“ Ya.. kau memang penghianat.. kau penghianat.. lepas! Aku bisa sendiri..” Rivaldi melepaskan tangannya Dea dengan tenaga yang ia punya, ia berhasil melepaskan tapi tidak keseimbangan tubuhnya.


“ Ahhkk.. aku harus membalaskan dendam ku ini.. esok.. esok.. sudah tiba waktunya untuk menyusun rencana.. rencana yang sangat akurat dan tak ada yang bisa menghancurkan rencana itu..” katanya dengan nada ngaco..


“ Rencana apa yang ia buat..”


“ Emm.. besok waktunya untuk menjalankan rencana itu.. rencana untuk membuat Tama, Alex bertengkar.. dan membuat keluarga itu semakin renggang hubungannya.. haha..” tawa jahatnya mengiringi nya.


“ Aku harus menghentikannya.. walaupun itu sulit.. dan aku janji pada mu Vadi.. aku akan membuat mu kembali ke dirimu yang dulu.. diri mu yang begitu penyayang..”


“ Eumm.. itu, semua karena mu.. itu karena mu.. karena kau, kau.. yang telah membuat ku seperti ini.. “


Mendengar perkataan terakhir dari Rivaldi, membuat hatinya sangat merasa bersalah.. bahkan ia merasa dirinya sudah tak berguna.. dan tak pantas untuk mendapatkan kembali diri Rivaldi kembali.


^^^


Di lapangan dekat rumah safa.


Malam yang sangat menyenangkan.. ya, bagaimana tidak menyenangkan, mereka sangat terhibur dengan suara petikan gitar dan nyanyian dari teman mereka yang pandai bernyanyi.


Baik Safa dan yang lainnya sangat menikmati acara liburan itu.. walau mereka hanya berkumpul, bercanda ria dengan satu sama lain, itu sudah membuat semuanya terhibur satu sama lainnya.


" Eh.. eh.. ada satu pertanyaan nie, yang dari tadi tuh terus mengganjal.."


" Apa emangnya??" tanya yang lainnya karena penasaran.


" Emm. klo kita dah gede nanti apakah kita bis kaya gini lagi??"


" Emm.. aku pun tak tahu.. tapi.. jika itu terjadi dan kita justru sibuk dengan masing-masing kerjaan dan tugas.. ya, mau gimana lagi.. ya harus diterima.."


***