
Juli pun langsung mencoba gaun itu setelah Tama berkata ya, padanya.
Di dalam tempat mencoba, Juli nampak sangat kesulitan untuk memakai gaun ini sebab ia baru pertama kali menggunakan hal semacam ini. Ya, maklum saja.. ia baru saja lulus sekolah setahun yang lalu, sekarang ia sudah dilamar saja ini membuatnya sedikit tak nyaman dan canggung.
" Duh, gimana ya.. makainya.. Apa aku minta bantuan saja ya, ke pelayan toko ini.. Tapi, Hem.. sudahlah coba saja siapa tau bisa.."
Juli pun mencoba gaun itu, dan lihat setelah ia pelajari bagaimana memakai yang benar, ia pun akhirnya bisa memakai gaun tersebut dengan sangat pas di badannya. Badannya yang tak terlalu gemuk dan tak terlalu kurus itu, membuat ia tampak sangat pas mengenakan gaun itu.
Juli pun akhirnya keluar dengan memperlihatkan gaun yang ia pakai. Dan, jelas saja saat ia memperlihatkannya tampak Tama sangat senang melihat hal itu, seperti ia sudah terpesona padanya sampai ia tak berkedip sedikit pun walau dengan raut wajah yang sedikit dingin.
" Emm.. gimana?? apakah ini cocok??"
" Waahhh.. Cantik.. sangat cantik.." Gumam Tama saat melihat Juli memakai gaun itu walau dengan suara kecil tetap saja terdengar oleh Juli.
" Emm.. apa kau bilang tadi??"
" Hem.. Eheemm.. tidak, tidak.. ko.. aku hanya sedang bergurau.. sangat pas.. ya sudah kita ambil saja yang itu.. untukku aku hanya akan memakai jas putih dan kemeja putih saja.. jadi kau jangan khawatir.."
" Eleh, siapa lagi yang akan mengkhawatirkan mu.. hah!!" batinnya.
" Emm.. oke, baiklah.."
" Ya sudah, kau bisa pulang sendiri kan.. aku akan kembali, kau pun juga harus menggantinya kembali bukan.. owh, ya.. kerudung mu, hanya itu saja??"
" ......" Juli hanya menganggukkan saja.
" Akan aku belikan satu untuk mu yang seperti itu."
" Apa dia bilang?? serius.. sejak kapan dia jadi se-peduli ini pada ku??.. akkhh, sudahlah.." batin juli
Tama pun langsung pergi dengan hati yang sangat gembira. Entah itu perasaan apa yang ia rasakan namun ia sangat menyukainya. Ia terus saja mengingat ingat kejadian tadi di butik dan itu membuat ia senyum-senyum sendiri saat menyetir. Ya, hari ini memang ia yang menyetir dan ia tak membawa bodyguard-nya.
" Hah, lucu sekali.. ckckck."
...
Hari-hari pun berlalu dengan cepat dan tanpa makna apapun bagi Juli, ia hanya menunggu dan menunggu saja sedangkan yang lainnya. Justru sibuk dengan urusan masing-masing.
" Hari ini, tampak sangat tak menyenangkan untuk kemanapun.. Keluar, aku takut bertemu dengannya lagi.. seperti kemarin."
Flashback on.
Juli disuruh pergi ke pasar oleh Emaknya karena persediaan makanan dirumah sudah menipis, dan kebetulan ia pun ingin membeli sesuatu di pasar.
Dia pun akhirnya pergi menggunakan sepeda miliknya yang dulu. Walaupun usia sepeda itu sudah menginjak 6 tahun tapi masih kokoh dan semuanya masih kuat seperti sepeda baru. Dalam perjalanan ia ke pasar ia tak sengaja menyenggol sebuah mobil mewah itu saat keadaan jalanan sedang macet karena ada perbaikan jalan sedikit.
Awalnya ia hanya berfikir bahwa hal itu takkan jadi masalah buatnya karena pastinya orang yang memilki mobil itu takkan bisa menyadarinya. Namun, yang terjadi justru salah. Orang itu tiba-tiba keluar dari dalam mobil dan langsung siap-siap memarahi orang yang telah menggoreskan mobilnya.
" Hei, kau.. Apa-apaan ini.. kau tau harga untuk mengembalikan ini semua itu berapa?? hah!!"
" Kau.. Ouppss.. " Juli langsung menutup mulutnya karena sangking terkejutnya.
" Kau! owh.. jadi kau yang sudah menggores mobil ku ini?? apa kau tau berapa harganya jika memperbaiki ini semua!?.."
" Dia, seperti orang lain." batinnya Juli.
" Hei, kau.. cepat jawab.. kau tau tidak?.." sambil mendekat dan memegang dagunya Juli agar bisa menatapnya.
" Tidak.. aku tidak tau.." Juli langsung menghempaskan pegangannya.
" Ah! sudahlah.. sudah sana lebih baik kau cepat pergi dan ga usah berada dihadapan ku lagi.."
Juli pun langsung pergi mendengar Tama berkata seperti itu padanya dan dengan nada kasar.
" Hei.. kalian sudah cepat antar kan aku ketempat rapat itu cepetan.. aku sudah tak ada waktu lagi.."
" Hah! hari benar-benar ya.. bikin emosi saja, huh.. sudah macet.. trus ada dia yang gores mobil ku.. aduh.. rapat pun ga ada yang bisa ngehandle. Aiihh.." gerutunya Tama dalam mobil.
Sementara itu Juli yang sudah pergi dari tempat ia bertemu dengan Tama, ia pun terlihat sangat kesal dibuatnya. Terlihat bagaimana cara ia mengayuh sepeda dan merutuki dirinya sendiri.
" Aduh.. lu tuh bodoh banget si Jul.. masa lu sampe ga tau mobil orang nyebelin itu gimana.. mana lu udah di marahin didepan banyak orang dan orang itu dengan gampangnya ia pergi gitu aja malah diusir lagi elu dari sana.. hah! bagaimana nasib lu kedepannya.. apa elu akan jadi patung batu disana.. Hemm.."
Flashback off.
Tapi ga enak juga berdiam dirumah kerjaan di rumah juga sudah semuanya dibereskan, lalu.. cucian juga sudah dicuci, bahkan gosokan pakaian pun juga sudah.
" Apa yang harus ku lakukan.. bahkan sebentar lagi aku sudah ingin dinikahkan oleh orang lain.. hanya tinggal 4 hari lagi. dan besok aku akan lebih sibuk dari hari ini.. apa aku pergi saja ya ke rumah teman sebentar.. tapi, dia pasti pergi bekerja.. huh! apa yang harus kulakukan.."
Saat ia sangat galau akan dirinya yang sepetti ini tiba-tiba saja temannya datang. Ya, teman yang sangat dekat degannya dan bahkan teman
yang sudah ia anggap seperti saudaranya.
" Waahhh... Feli.. ku kira kau takkan menemui ku untuk terakhir kalinya.. huhu.. aku sangat merindukan mu.."
" Hei, sudah.. sudah.. jangan bersedih gitu aku datang kesini untuk menyemangati mu dan memberikan bingkisan ini.. aku tau, kau suka sekali ini.. ya, itung-itung ini sebagai kenang-kenangan agar kau tak melupakan aku saat kau sudah menjadi milik orang lain. hehe.."
" Waaa.. makasih.. kau kapan kembali dari Kairo??"
" Baru kemarin.. saat ku tahu bahwa kau akan menikah.. aku tak menyangka kau akan secepat ini mendapatkan pendamping hidup..."
" Ya.. begitulah.."
" Apa benar kau dijodohkan??"
" Ya.. aku memang dijodohkan, bahkan mungkin jika aku sudah menikah nanti aku takkan bisa kemana-mana.. bahkan mungkin hanya melihat adik ku saja.."
" Hush.. jangan su'uzon dulu.. siapa tau ia akan membebaskan mu dan mungkin bisa membiayai kuliah mu.. bukankah kau ingin sekali kuliah ngambil psikologi.. Kau kan sangat jago dalam hal membaca karakter seseorang."
" Hemm.. aku pun tak tau.. Feli.. aku hanya ingin semoga aku baik-baik saja disana nantinya.. dan Bapak sama Emak pun bisa bahagia apalagi adikku bisa mendapatkan apa yang ia cita-citakan tanpa perlu pusing-pusing untuk memikirkan biayanya."
.....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.. happy reading guys..😉