
" Ah..maaf.. aku terlalu berlebihan.. tapi, ini memang sangat sejuk.. Aku suka.." Katanya yang langsung menunduk kembali.
" Pffttt.. Hem!..Jadi, mari kita dinner disini.."
" Apa??.."
" Iya.. dinner, makan malam disini.. kau tidak masak kan??"
" Tidak, tapi.. "
" Tapi apa??"
" Apakah aku harus memberitahunya jika ini pertama kalinya aku melakukan hal yang disebut dinner itu?.." batinnya Juli.
" Emm.. aku tak menyangka jika akan seperti ini.."
" Maksudnya??"
" Owh, haruskah aku menjelaskan semuanya padanya??" Batinnya lagi.
" Emm.. maksudnya ini adalah pertama kalinya aku melakukan ini dengan seseorang.."
" Pffttt.. hahaha.. haha.. Hemm.. Hemm.. maaf.. maaf.. hahaha.."
Tawanya Tama membuat Juli terkejut karena baru kali ini dia melihat sosoknya yang tertawa lepas seperti itu padanya. Dengan wajah bingung namun senangnya karena dia bisa melihat ekspresi ini untuk pertama kalinya.
" Kenapa??"
" Eh.. Pfftt.. maaf.. ngga, cuman lucu aja.. ku pikir kau tuh wanita yang sudah sering dinner gini.."
" Apa karena kotak itu tak bersamanya.. seingat ku kotak itu sudah tidak ada seminggu yang lalu.." Batinnya.
" Hey.. kau sedang memikirkan apa?? apa ini semua aneh bagi mu??" tanya Tama.
" Tidak.. justru ini adalah hal paling indah dalam hidup ku.. ku kira akan..."
" Akan apa??"
" Akan bisa merasakan seperti ini.. terima kasih.. ku pikir kau orang yang tak bisa menunjukkan ekspresi senang mu seperti tadi.. "
" Hemm.. apa aku segitu kaku dan cueknya pada sekitar?? Atau aku sangat terlihat dingin??"
" Ya.. kau memang terlihat seperti itu.."
Mereka pun terus saja mengobrol sampai pesanan tiba. Yang awalnya Juli merasa dia takkan bisa memakan makanan seperti steak daging ini, namun ia mencoba untuk bisa memakan itu.
" Aduh, gimana cara potong dagingnya.. aku ga terbiasa pakai garpu dan pisau seperti ini.." batinnya Juli.
" Apa kau bisa melakukannya??"
" Ya.. ya.. " Dengan suara bergetar karena gugup.
" Coba sini deh.. "
Tama pun langsung beranjak dari bangkunya dan menghampirinya.
" Eh.."
Terkejutnya Juli saat Tama menyentuh tangannya dan mulai untuk mengajarinya cara memotong dagingnya.
" Jadi, gini caranya.. kau harus lemas kan tangan mu, jangan kaku.. ya seperti kau sedang memotong daging untuk dimasak. Nah garpu ini gunanya untuk menekan dan menahan agar dagingnya tidak loncat atau kemanapun. Nah gini.. apa kau bisa??"
Suaranya yang lembut dan menuntun dengan halus, membuat Juli semakin berdebar kencang. Ditambah dengan dirinya yang sangat dekat dengannya membuat ia tak bisa berkutik. Dan suara nafasnya pun sangat terdengar olehnya. Hingga ia tak bisa memikirkan hal lain.
" Hey.. apa kau mengerti??"
Ia pun dikagetkan oleh Tama, dan itu membuat pikirannya kembali ke nyata.
" Ah, ya.. terimakasih.."
Tama pun kembali ke tempat duduknya. Raut wajahnya pun berubah menjadi lebih senang lagi. Itu membuat Juli semakin malu.
" Apa dia tadi mendengar suara degupan jantung ku?? tidak, tidak mungkin dia bisa mendengarnya.. owh.. ini sangat memalukan.." batinnya.
" Emm.. setelah ini, apa kau ingin jalan ke tempat lainnya??" tanya Tama tiba-tiba sambil melanjutkan makanannya.
" Emm.. aku si tidak, tapi jika kau ingin ke suatu tempat aku akan ikut menemani mu.."
" Baiklah, jika begitu.. Kau harus benar-benar memperhatikan langkah ku nanti.. dan jangan sampai salah langkah nantinya.. okey.."
" Memang kita akan kemana lagi??"
" Rahasia.. kau akan tau setelah kau benar-benar mengikuti langkah ku.." kata Tama.
....
Kairo, Mesir.
Pukul 9 malam.
Trriingg.. Triring..
Suara telfon berbunyi dengan kencang memecah keheningan malam di kamar seorang gadis yang terlelap tidur karena kecapean.
" Emm.. apa sih? kenapa ganggu aja deh.. aku baru saja ingin istirahat tak bisakah mereka semua menghubungi ku pagi hari?.. "
Trriingg..
" Iya.. iya.." Feli pun langsung mengangkat telfonnya.
" Eheemm.. ini dengan saya Bapak..... "
" Eh.. iya, iya pak.. maaf.. tugasnya, Eits.. tunggu, kok pake bahasa Indonesia ya.. "
" Emm.. kau!, kenapa si kau ini selalu saja menganggu ku disaat seperti ini??!!.."
" Eh.. sorry, maaf.. memangnya kau sedang apa?? sampai aku sepertinya telah mengganggu mu?"
" Hihhh!.. kau ini.. Hemm.. sudahlah, kau ada perlu apa menelfon ku??"
" Tidak, aku hanya ingin mengingatkan mu saja. Kalau besok jangan lupa.. kau harus ikut bersama ku ke Al-Azhar park oke... ku jemput tepat waktu.."
" Emm.. iya.."
" Baiklah.. kau tidurlah kembali.. dah.. Eci, selamat malam.."
" Iya.."
Tuuuttt..
" Apa?? barusan dia panggil Eci?? Kenapa?? kenapa baru sekarang??"
Rasa yang sulit untuk dijelaskan pada dirinya saat ini. Rasa itu semakin kuat seperti duri kecil yang sudah menusuknya dan kembali menusuknya lagi.
" Apakah besok aku bisa bertemu dengannya?? ini sangat menyesakkan bagi ku.."
" Baiklah, aku harus menghadapinya."
....
Tama yang menepati kata-katanya ya itu membawa Juli pergi ke suatu tempat. Mereka berjalan santai disana sambil Juli yang terus mengikuti langkah kemana Tama akan membawanya.
" Tunggu sebentar, Bisakah kau menutup mata mu saat ini??" tanya Tama tiba-tiba dan menghentikan langkahnya.
" Emm.. baiklah."
Juli pun menutup matanya. Dan melanjutkan perjalanannya dengan dituntun oleh Tama.
" Apakah sudah??"
" Belum, sebentar lagi.."
" Hemm.. baiklah.."
Dengan perlahan Juli menyusuri jalanan yang dituntun oleh Tama. Walau begitu ia tetap merasakan bahwa ini seperti diranah yang penuh bebatuan, dan udaranya semakin terasa dingin hingga menusuk kulitnya.
" Apakah kita sudah sampai??"
" Emm, belum.. sedikit lagi kita sampai kok.."
" Oke.. "
" Nah, stop disini.. "
" Hemm.. baiklah.. Apakah aku boleh membuka mata ku??"
" Belum.. belum saatnya kau membuka mata mu.."
" Apakah masih lama?? Tama?.. Tama?.. kau ingin kemana??"
" Tunggu ya.. tunggu dulu sebentar.. kau diam saja dulu disini sebentar dan jangan muka mata mu dulu.. aku akan mengambil sesuatu sebentar saja.."
" Tama, baiklah.. aku akan menunggu disini dan takkan membuka mata ku dulu.."
Tama pun pergi dari sana, dan mengambil sesuatu di sebuah semak-semak disana. Sebuah benda tajam kecil. Tak tau apa yang akan ia lakukan dengan benda tersebut. Ia mengambilnya dan ditangan satunya ia membawa bunga mawar putih.
Bunga itu ia genggam dengan erat ditangannya. Setelahnya ia kembali ke sisi Juli. Awalnya Juli pun merasa biasa saja, bahkan dia sudah tidak sabar untuk membuka matanya.
" Baiklah, sekarang kau bisa membuka mata mu.. ayo buka.."
Juli pun membuka matanya, dan mendapati bahwa dirinya ada disebuah tebing tinggi dimana hanya ada dirinya dan Tama saja disana.
" Loh.. kenapa kita disini??"
" Ini untuk mu.. " Sambil memberikan bunga tersebut padanya.
" Waahh.. terimakasih.. ini sangat cantik.. " Juli pun langsung memeluk Tama yang berada dihadapannya.
Namun Tama langsung memasang wajah dingin dan tak berperasaan itu kembali saat Juli tengah memeluknya.
" Jul.. ini kali terakhir kita bertemu.. maaf.."
" Kau harus pergi.." Sambil mengacungkan senjata tajam kecil itu.
" Kau harus pergi!!.."
Jlleebbb...
Tama menusuknya tepat di urat nadinya belakang kepalanya. Lalu ia mendorong tubuhnya Juli ke jurang.
" Kau! Ah.. ssshhh.."
Darah terus saja keluar dari kepala belakangnya. Ketika ia melihat Tama, ia melihat pula sosok wanita itu didalam dirinya Tama. Namun sayang ia sudah jatuh dari tebing tinggi itu.
" Inikah akhir ku.." Dengan memejamkan matanya seakan ia benar-benar akan tiada.
....