Life

Life
Terkurung



" Kapan aku bisa bebas??" Kata seorang wanita yang memegang kalung kotak itu.


" Aku ingin bebas.. aku ingin bermain dan tertawa bersama yang lain.. Bisakah aku bebas dan tertawa seperti yang lainnya??"


" Aku hanya ingin hidup ku lebih baik lagi.. aku tak ingin seperti ini.. ini sangat menyesakkan.. Ini sangat membuat ku kesulitan untuk bernafas..."


Wanita itu bernama Lasti, wanita yang berumur 15 tahun namun dia terus terkurung didalam rumahnya yang kumuh karena orang tuanya bilang, " diluar sangatlah kejam dan kau takkan bisa menghadapinya."


Ia hidup ditahun 1980-an. Dimana keadaan saat itu sangatlah mengenaskan bagi kalangan miskin sepertinya.


Sepanjang hari, sepanjang tahun, ia hanya duduk diam didalam rumahnya tanpa pernah keluar rumah sedikit pun. Ia hanya memiliki kalung kotak itu sebagai temannya dan sebagai pegangannya agar tak kesepian.


Hingga suatu ketika di cuaca yang sangat dingin dan air hujan yang terus menerus jatuh ke tanah tanpa pernah ingin berhenti sedikit pun.


Derasnya hujan tersebut hingga membuat udara disekitar menjadi sangat dingin dan semakin dingin. Ia hanya bisa duduk meringkuk saja sambil menggenggam kalung kotak itu.


Tak ada satu orang pun yang bisa menghangatkannya. Hingga akhirnya ia pun meninggalkan dunia itu dalam kedinginan nya.


***


Criippp.. criippp..


Suara burung berkicau di pagi hari yang sangat menyejukkan bagi siapa pun yang sedang berjalan dipinggir taman.


Namun tiba-tiba...


Prraanng...


Suara gelas jatuh dari meja karena seseorang yang melemparnya.


" Kau.. kau.. ini apa, apaan si?? kenapa minumannya rasanya pahit gini si?? mblleehh..." Kata Tama yang marah pada Juli karena ia membuat kopi itu terasa sangat pahit.


" Maaf.. Maaf.. akan ku buatkan lagi.." sambil membersihkan pecahan cangkirnya.


" Sudah.. sudah.. tak usah.. huh! lebih baik aku pergi saja.."


" Dia.. Hemm.. dia kembali lagi.. " gimana Juli.


" Tunggu.. mas.. tunggu.."


" Ada apa lagi sih??!"


Tanpa basa-basi Juli pun langsung meraih tangannya dan mencium tangannya, sebagai bentuk rasa hormat pada suaminya.


" Hah.. dia.." batinnya Tama yang terkejut dengan perlakuan Juli.


" Hati-hati saat dijalan.." sambil tersenyum Juli melihat kepergian Tama.


" Mungkin dengan begini, aku bisa membuat ia kembali ke sifat aslinya.. dan, ku terima semua hal tentang dirinya.. sambil menyelidiki mengapa hal ini bisa terjadi padanya.." gumam Juli saat Tama sudah pergi meninggalkan rumah.


***


" Hei.. "


" Hemm.. ya... ada apa??"


" Tidak.. aku hanya ingin menegur mu saja, maaf ya.. soal kemarin.. "


" Alah sudahlah.. lagi pula.. kau memang seperti itu.."


Dengan wajah cemberut Vian sudah menduga jika Safa masih ngambek padanya. Karena studi wisata kemarin dia habis-habisan dikerjain olehnya.


" Hemm.. rasanya aku ingin sekali menjitak kepalanya itu.. kemarin dia sudah benar-benar keterlaluan di museum.." batinnya Safa yang masih menggerutu.


" Fa.. Fa.. sini dong.. Iihh.. kan aku kemarin sudah minta maaf.. masa kau masih ngambek gini si.. maaf deh.. janji ga bakal ulangi lagi.." rayunya Vian.


" ........."


Safa tetap diam saja sambil cemberut pada Vian yang masih berusaha merayunya agar bisa memaafkannya.


" Fa.. Fa.. Hemm.. ya sudah, jika kau masih ngambek gitu.. aku pergi sajalah.. tadinya aku ingin mengajak mu ke suatu tempat yang menyenangkan, ya.. sekalian main kan liburan ini masih panjang. "


" Tapi, karena kau masih ngambek gitu.. ya udah aku pergi sama yang lain aja lah.." Serunya Vian.


" Dasar anak itu.. bukannya beneran dibujuk atau apa ke.. ini dia malah.. ingin kabur dengan teman lainnya.. ngga, aku ga akan membiarkannya.." batinnya Safa.


" Tunggu.."


" Ada apa?? bukannya kau tak mau memaafkan ku.. kenapa kau masih memanggil ku??.."


" Hemm.. Ya.. aku memaafkan mu.. tapi... sini dulu deh.."


Vian pun mengikuti perintah Safa.


Pleettuukk..


Safa menjitak kepalanya Vian sampai dia meringis kesakitan.


" Aduh.. duh.. huh.. sakit tau.. kenapa kau menjitak ku??.."


" Hu.. hu.. sakit tau.. dasar Safa eyek.."


" Heh.. apa itu eyek??"


" Jelek.. Safa jelek.. Mblleehh..." Vian mengejek Safa.


" Eh.. kau.. awas ya.. kau.. sini kau.. jangan lari.. kau Vian!!.. Vian jangan coba lari kau ya.. hey... Vian!!.."


Safa yang terus mengejar Vian.. tapi ia tetap tak bisa mengajaknya. Hingga semua taman rumahnya itu terus saja melihat mereka yang main kejar-kejaran seperti kucing dan tikus.


" Huh.. huh.. stop.. stop.. udah.. ya.. iya.. maaf, maaf.. oke.. sudah ya.. aduh.. capek nie.." kata Vian yang ngos-ngosan karena terus dikejar oleh Safa.


Begitu pun dengan Safa yang juga capek karena mengejar Vian. Hingga mereka baru menyadari jika mereka terus dilihatin oleh teman-temannya yang menunggu mereka untuk belajar bersama. Walaupun liburan tetap saja mereka mendapatkan tugas dari gurunya.


" Safa.. kau si.. mengejar ku.. kan kita jadi dilihatin gitu sama teman-teman kita.."


" Loh.. kok, jadi aku si.. kau.. kan yang duluan.. snifftt.." Safa pun seperti ingin menangis karena Vian menyalahkannya.


" Eh.. ja-jangan, jangan nangis dong.. maaf.. aku tak bermaksud.."


" Hwueee.. Hwueee... huhu.. hikss.." tangisnya Safa pecah.


" Eh.. Safa.. maaf.. aku tak bermaksud tadi.."


" Jangan nangis dong.. eh.. sudah dong.. maaf.. aku minta maaf.."


" Hey.. kalian pergilah.. dari sini!!.. cepat.. kalian pergi.."


" Huh.." kata taman lainnya.


" Ayoloh.. Vian.. anak orang di bikin nangis.. ayoloh.. wahh.. Vian parah.." Kata nak satunya lagi yang masih melihat disana.


" Woo.. ayoloh Vian anak orang nangis tuh.. wah.. tanggung jawab kau.."


" Hey.. sudah ku bilang kan.. sana pergi.. pergi!!.. ku bilang pergi.. pergi.!.." Serunya Vian pada temannya yang masih saja tak mau pergi dari sana..


Hingga akhirnya mereka pun pergi.. Dan tinggallah Vian dengan Safa yang masih disana.


" Hemm.. sudah dong.. aku kan tak bermaksud seperti itu pada mu.. masa kau diambil hati si..


" Sudah dong Fa.. jangan nangis lagi.. aku jadi bingung nie, harus apa??.."


" Fa.. Fa.. Fa.. aa..aa.." Dengan nada yng ia bikin asal


Akhirnya Safa pun berhenti menangis. Tapi ia tetap kesal pada Vian yang seperti itu padanya.


Dan ia pun memutuskan untuk pergi dari sana. tanpa memperdulikan Vian yang masih duduk diam disana. Namun, Vian sadar jika Safa ingin pergi dari sana.


" Eh.. eh.. kau mau kemana.. tunggu.. jangan ngambek gitu dong.."


" Hemm.. aku harus apa agar kau tertawa lagi??.."


" ........ "


" Baiklah.. jika kau masih tak ingin berbicara pada ku.. oke.. aku punya sesuatu..."


"....... "


" Taraaa..."


Vian memberikan mahkota bunga yang ia buat sendiri. Sebenernya itu dibuat saat mereka ditaman dekat museum kemarin pas studi wisata. Ia sudah memperkirakan jika Safa akan marah padanya. Makanya ia buat mahkota bunga itu untuk Safa agar dia tak ngambek lagi.


Tapi, sayangnya baru ini dia bisa memberikannya. karena tadi tak sempat.


Dan tentu saja, wajah Safa menjadi berseri-seri saat mendapatkan hadiah seperti itu. Walau sederhana tapi itu sangatlah cantik. Hingga ia pun memutuskan untuk tak lagi ngambek pada Vian.


" Makasih, apakah ini kau sendiri yang membuatnya.."


" Ya.. aku sendiri yang membuatnya.. untuk mu agar tak ngambek lagi.."


" Kapan kau membuat ini??"


" sebenarnya kemarin.. hanya saja kau masih marah pada ku.. dan niatnya aku ingin memberikan itu tadi pada mu.. tapi, begini.. ya sudah, sekarang baru bisa ku kasih.."


" Tapi.. bagaimana bunganya bisa tak layu.. kan dari kemarin kau buatnya.."


" Ya.. itu rahasia.. hehe.. apa kau benar-benar menyukainya??"


" Ya.. aku sangat menyukainya.. apa aku sudah terlihat cantik dan tak seperti kata mu.. yang jelek.."


" Ya.. kau, sudah sangat cantik saat memakai itu.." senyumnya Vian yang membuat Safa menjadi senang atas pujiannya.




Happy reading..🥰