
" Kau ingin mengambil ini kan??.." tanya Tama tiba-tiba."
" Emm.. ya.."
" Kalau tidak bisa.. kenapa ga minta bantuan?? kau sudah pendek dan lihat kondisi mu tak memungkinkan untuk dapat mengambil garam ini.." Sambil menyerahkan kotak garam padanya.
" Memangnya kau ingin membuat apa?? ini masih pagi buta loh.." kata Tama.
" A-aku.. hanya ingin membuat telur dadar.."
Kruyuukk.. Kruyuukk..
Suara perut Juli terdengar sangat kencang hingga ia merasa sangat malu.
" Hemm.. Kau sangat lapar rupanya.. sudahlah akan ku buatkan telur dadarnya. Kau duduk saja disana.."
" Emm.."
" Aduh.. apa si.. jadi salah tingkah.. dasar perut ku ini tak bisa dikendalikan.. aduh.." malunya Juli dalam hatinya.
Ia yang masih saja terus bergumam sendiri bahkan sangking malunya ia hanya terus menunduk walau terkadang ia juga memperhatikan Tama yang sedang memasak.
" Hem.. kalau dilihat-lihat ia sangat berwibawa saat memasak seperti itu.. eit, tunggu.. apa ini?? kenapa aku memujinya?? padahal ia tadi telah memukul ku dan bertindak seenaknya.. aishh.."
" Tapi, walau begitu aku tau bahwa yang tadi itu bukanlah sosoknya. Justru sekarang ia sangat perhatian.. hah.. Ya memang benar dia suami ku namun.."
" Aku masih ragu apakah aku bisa mendapatkan hatinya dan terus berada disisinya sampai wanita itu lenyap dan merelakan dendamnya bahkan mengikhlaskan semuanya dan kembali ke alamnya.."
" Hah.. sudahlah Jul.. tak ada gunanya kau terus memikirkan hal yang tak berguna.." Sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dan ketika ia membuka tangannya dan ingin melihat apakah sudah selesai masaknya, karena ia sudah tak mendengar suara seperti orang masak lagi.
" Loh.. ko sepi.. Hemm.." Ia ingin membuka matanya, dan ketika ia membukanya Tep....
" Ka-kau.. Ka-kau.." terkejutnya Juli saat mendapati Tama sudah ada tepat didepannya.
" Ini.. kau sudah lapar kan.."
" Bisakah kau tak mengageti ku.. kau terlalu dekat.." Juli mencoba untuk menjauh.
" Maaf.."
Mendengar Tama meminta maaf padanya jantung Juli semakin berdetak kencang seperti ingin meledak. Baru pertama kali ia mendengar pria ini meminta maaf padanya walau dengan suara kecil.
" Ya.. terimakasih.."
" Mau ku suapi?? kau terlihat masih belum banyak tenaga.."
" Eh.. tidak, aku bisa.. aku bisa sendiri kok.."
" Sudah.. sudah.. sini aku saja.. mungkin ini sebagai tebusan atas kesalahan ku.."
" Eh.. ti-tidak.."
" Sudah aku saja.."
" Emm.."
Dimasukannya makanan itu kedalam mulutnya. Seketika itu juga, mata mereka bertemu dan ada rasa tak biasa yang mereka berdua rasakan.
" Hemm.. apa ini?? perasaan apa ini?? ini sangat asing dan.. sangat lembut dan.. hangat.." batinnya Juli.
" Eheemm.. apa enak??" Tanya Tama.
" Emm.. enak.." Tuturnya Juli yang seperti anak kecil.
" Haha.. kau sangat imut.."
" Ah.. hah.." Kaget dan bingungnya Juli mendengar pernyataan itu.
" Sudah.. nie, lagi.. tinggal sedikit lagi.."
" ....... " ( " Apa aku masih bermimpi?? ataukah aku masuk ke dalam dunia khayalan ku sendiri?? ditengah pagi buta gini.. ada seorang pria dan itu adalah suami ku sendiri yang kadang bersikap aneh dan ga bisa ditebak.. sekarang dia bersikap sangat lembut pada ku.. hey.. Jul, sadarlah.. ini hanya mimpi kan.." batinnya)
" Syuuuttt.. kau.. melamun??"
" Ah.. tidak.. aku tidak melamun kok.. hehe.. makasih.."
" Tak usah seperti itu.. aku masih belum baik.. jadi jangan terlalu berharap.. aku pun masih bingung dengan diri ku sendiri.." ujarnya Tama yang tak sadar jika ia sudah curhat pada Juli.
" Aku mengerti.. tapi, bisakah kau mencoba terbuka pada orang yang bisa kau percayai.. ku rasa dengan begitu kau akan merasa lebih baik.."
Ucapnya Juli pada Tama yang membuat Tama menyadari suatu hal.
" Kau.. begitu...." kata Tama yang terpotong karena suatu hal.
Bruukk..
" Eh.. apa itu..."
" Hey.. siapa disana??"
Karena gelap dan lampu pun tak dinyalakan. Tama hanya bisa menegur saja.
" Eh.. saya tuan.. maaf.." kata Jeni pembantu yang belum lama bekerja di rumah utama.
" Kau.. sedang apa kau??" tegasnya Tama.
" I.. itu.. tuan.. saya hanya ingin mengecek apakah kompor nya menyala.. soalnya tadi saya dengar dan mencium bau masakan jadi saya ingin melihatnya.. dan.. ternyata tuan dan nyonya.. hehe.. maaf.. saya permisi tuan, nyonya.." perginya Jeni saat ia menyadari bahwa kehadirannya itu salah besar.
" Emm.. sudah.. mas.. apa kau tidak mengantuk??"
" Ya.. sedikit.."
" Ya.. lebih baik, kau tidur kembali.. "
" Maksud mu kau, menyuruh ku untuk tidur??"
" Eh.. eh.. bukan.. maksud ku.. siapa tau pagi nanti kau ada kerjaan yang masih menumpuk atau ada meeting gitu.. daripada nanti ngantuk di kantor kan ga baik.. gitu maksud ku.." jelasnya Juli dengan terbata-bata.
" Tidak, aku sangat lenggang untuk pagi nanti dikantor.. kau sendiri kenapa ga tidur juga.. apa masih sakit??"
" Sudah tidak.. "
" Jangan bohong.. buktinya kau tadi masih belum bisa apa-apa.. sudah sini.."
Tiba-tiba saja ia langsung mengangkat Juli yang masih duduk di bangku dan menggendongnya ala pengantin baru. Ia menggendong Juli sampai ke kamar mereka. Lalu, Tama mendudukkannya di kasur mereka dan ia mengambil sesuatu di kotak laci.
" Kau.. ingin kemana??"
" Kau takut sekali ya, kehilangan ku.. Pfftt.."
"......." ( " Hemm.. pria ini memang sangat pede.. haishh.." gumam Juli dalam hatinya.)
Lalu Tama pun kembali mendekat pada Juli.
" Bolehkah aku melihat luka mu itu?? tadi aku sempat lihat luka lebam itu.. tapi, aku tak tau kenapa kau bisa mendapat kan luka itu??"
" Bukankah ini kau sendiri yang melakukannya.. " batinnya Juli.
" I.. ini.. itu.. aku terjatuh karena kehilangan keseimbangan.. ya begini deh.. Emm.. boleh kok.."
Lalu Juli pun memperlihatkan luka lebamnya pada Tama. Ia hanya berfikir bahwa ia mengijinkan itu karena mereka sudah sah.
" Ini, sangat.. " Belum ia melanjutkan kata-katanya Tama menanyakan lagi.
" Apa sakit??.." sambil sedikit menekan lukanya.
" Auww.. sshhh.."
" Sakit ya.. maaf.. aku akan pelan-pelan mengolesi minyaknya dan sedikit menekannya agar cepat baikan.. bilang ya jika sangat sakit.."
Tama dengan serius dan penuh hati-hati ia mengolesi minyak itu dan dengan hati-hati juga menyentuh lainnya.
" Apa ada lagi??"
" Tidak hanya ini.. ini.. saja.."
" Coba aku periksa lagi yang lainnya.."
" Eh.. tunggu.. "
" Kenapa?? aku hanya ingin mengobati saja, apakah masih ada luka lebam yang lain selain di sekitar dada mu dan pundak.. Atau masih ada disekitar lainnya?? biar sekalian gitu.." jelasnya Tama.
" Eh.. sudah tidak ada lagi kok.."
" Benar.. coba perlihatkan.."
" Emm.."
Akhirnya ia pun memperlihatkan semuanya. Memang ada di bagian lain yaitu dibagikan pinggang. Tapi, Juli merasa sangat gugup dan sangat malu saat itu karena terus diperhatikan seperti itu.
Tama pun terus mengolesi agar bisa lebih baikan lagi. Saat itu, hanya keheningan saja yang tercipta didalam ruangan itu. Sangat sunyi hingga yang terdengar hanyalah detak jantung masing-masing mereka.
Bahkan Juli sangat gugup dan canggung rasanya hatinya sangat tak karuan dan penuh dengan kecanggungan. Ia hanya bisa pasrah saat Tama terus mengobatinya. Hingga akhirnya selesai. Dan Tama menyuruhnya untuk kembali tidur agar bisa lebih baikan lagi. Tak lupa sebelum itu ia harus meminum antibiotik dulu untuk mengembalikan kekebalan tubuhnya.
" Terimakasih..." Dengan nada rendah ia berkata saat Tama sudah tidur kembali disampingnya.
....
Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejaknya..😉
@meilianti21