Life

Life
Party 2.



" Mas... Apakah ini tempat pestanya??" tanya Juli yang sudah sampai di tempat party itu.


" Ya.. memang ada apa??"


" Ah.. tidak.. hanya ini terlihat begitu mewah dari pada pesta yang waktu itu ku datangi bersama kalian.."


" Ya.. maka dari itu aku meminta kau memakai gaun ini.. ya sudah ayo kita turun.. " Sambil keluar berbarengan dengan Juli pun ikut keluar dari mobil.


" Ayo.." Ajaknya Tama sambil menggandeng tangan Juli dan disampirkan di lengannya.


" Apakah harus seperti ini??"


" Memang kenapa??"


" Tidak.. baiklah.. ayo.." Juli pun mengeratkan pegangan itu.


Mereka pun berjalan masuk..


Di sana sudah banyak sekali tamu yang hadir dalam acara tersebut. Dan tibalah acaranya dimulai. Para hadirin yang datang pun sudah duduk dimasing-masing di bangku yang tersedia di sana.


Acara pun sudah dimulai dengan sang MC membacakan pembukaan untuk acara ini. Para tamu yang hadir pun juga sudah datang semua dan menikmati acara tersebut.


Awalnya acaranya berjalan dengan baik.. para undnagan yang datang pun langsung berparty ria..Ada yang sudah minum dengan pasangannya dan makan. Sedangkan Juli, hanya terus mengikuti kemana Tama pergi. Ia hanya duduk-duduk saja.


Sedangkan Tama sedang berbincang dengan para teman bisnisnya. Rasa jenuh pun menghampirinya. Ia ingin memanggil Tama namun ia tak bisa, karena takut mengganggu nya. Lalu tiba-tiba ada wanita uang menghampirinya.


“ Mau minum?? Sepertinya kau terlihat sangat kesepian disini??..” kata wanita itu yang baru pertama kali dilihat oleh Juli.


“ Ya, mba.. hehe..” ( “ kalo ditolak ga enak.. tapi, kata mas Tama, ga boleh minuman disini.. katanya ga baik.. aduh gimana ya.. udahlah.. sedikit ga apa kali ya..” batinnya) jawab Juli sopan.


“ Hah.. mba.. kamu ini beneran dari kampung ya.. aiihh.. hah.. ternyata benar ya, gosip itu.. seorang pria muda kaya raya, menikahi wanita desa yang masih belum jelas asal-usulnya.. haha..” sindirnya wanita itu.


“ Maaf, memang apa masalahnya?? Toh.. bukan aku yang menginginkan ini semua.. “


“ Kau.. berani sekali kau bernada seperti itu pada ku.. ah.. aku mengerti, kau ini kan memang gadis desa yang tak memiliki etika.. hah.. dan, lihatlah, dandanan mu ini.. aduh sangat.. hiihhh.. “


“ Lebih baik Tama menikah dengan ku saja.. daripada dengan gadis yang seperti ini.. hihh..” gumam wanita itu yang terdengar oleh Juli.


Mendengar hal itu Juli dengan hati yang sudah ia tahan dari tadi untuk tidak marah dengan wanita ini pun sedikit kesal dalam hatinya.


“ Maaf ya, mba.. jika mba memang tidak suka dengan saya.. ga papa.. tapi, tolong mba jangan pernah berfikir hal yang rendah seperti itu.. memang saya dari keluarga tak berada.. namun, saya memiliki etika dan sopan santun yang baik.. sedangkan mba.. mba dari tadi hanya terus merendahkan saya, padahal mba sendiri pun belum terlalu mengenal saya.. bukankah itu yang sangat tidak sopan ketika berbicara dengan orang yang baru saja didatangi. “


“ Wah.. wah.. kau ini ya.. huh.. berani sekali kau menceramahi ku seperti itu.. hiiyyh..” katanya sambil mendorong Juli dengan sangat kerasnya.


Brruukk..


“ Sshhh..”


Para tamu yang melihatnya pun ikut terdiam saat Juli terjatuh dan sikutnya berdarah karena terbentur ujung kursi. Mereka yang melihat hanya diam tak ada satu pun dari mereka yang mencoba untuk membantu Juli untuk bangun.


“ Ayo, ku bantu kau tuk bangun..” kata seorang pria yang tiba-tiba muncul dan mengulurkan tangannya.


“ Ah.. tidak.. terimakasih aku bisa sendiri..” ucapnya Juli sambil bangun dan berdiri dari sana.


“ Hans, apa-apaan kau ini.. mengapa kau ingin membantu gadis Ini??” Kata wanita itu sambil menarik lengan pria itu.


“ Kau yang apa-apaan.. bukan kah kau duluan yang memulainya.. hemm.. sudahlah.. minta maaf sekarang..”


“ Tidak.. aku takkan mau meminta maaf padanya.. titik!!..”


“ Glenci!! Kau.. yang sudah salah padanya.. cepat minta maaf..”


“ Hans.. kau tuh kenapa si?? Dan ingat ya, kau itu bukan siapa-siapanya aku.. aku ga mau ya ga akan mau.. sudahlah, aku ingin pergi..”


“ Glenci.. hey.. kau.. tidak apa-apa kan??” tanya Hans pada Juli.


“ Ya.. aku tak apa, terimakasih.. apakah itu teman mu??”


“ Ya.. dia teman ku sejak kami SMP.. ah.. jadi cerita deh.. hehe..”


“ Iya, ga papa ko..”


Dari kejauhan terlihat seseorang yang sedang menahan amarahnya. Tama pun segera menghampiri Juli yang sedang berbincang dengan Hans.


“ Eh.. mas..” ( “ Aduh.. bakalan gimana nie.. mas Tama sepertinya dia marah.. karena aku berbincang dengan pria ini..” batinnya)


“ Loh.. kau Tama, ah.. jadi.. dia.. “


“ Ya, dia adalah istri ku.. orang yang kunikahi kemarin..”


“ Owh.. haha.. sorry.. sorry.. ku pikir wanita ini memang datang ke party ini sendirian.. ahk.. ternyata dia bersama suaminya.. huh.. sayang sekali..” gumamnya Hans yang didengar Tama itu sangat tak mengenakan.


“ Ya.. jadi kau sudah tau bukan.. silahkan kau pergi dari sini.. “ sinis-nya Tama pada Hans dan langsung memegang pundak Juli dengan sangat erat.


“ Ah.. ya.. ya.. aku akan pergi.. daahh.. cantik..”


“ Kau!!..”


Hans pun pergi.. meninggalkan Tama dan Juli berdua di tengah keramaian party itu.


“ Kau.. terluka?? “ Cemasnya Tama yang mengetahui bahwa sikutnya Juli berdarah.


“ Ah.. ini.. tidak.. ini hanya luka biasa..”


“ Apa.. ini jelas luka sangat dalam.. sudah, sini perlihatkan pada ku..”


“ Tidak, bisa mas.. jika disini..”


Tama pun langsung melihat ke sekitarnya. Ya.. tempat party itu masih begitu ramai. Dan banyak orang yang sudah terbawa arus party itu.


“ Ya sudah.. ayo kita ke mobil.. akan ku obati luka mu itu..”


“ Sshh.. ah.. awhh..” ( “ kenapa badan ku terasa sangat panas ya.. dan ga enak banget rasanya.. huh.. “ batinnya.)


“ Eh.. kenapa Jul??”


“ Engga.. aku ga papa.. ayo.. ke mobil..” Kata Juli sambil berjalan dengan sedikit tak seimbang.


“ Eh.. eh.. kau kenapa si??” tanya Tama yang merasa jalannya Juli tak benar.


“ Ga.. tahu mas.. aku merasa sangat susah berjalan dan badan ku panas..”


“ Loh.. loh.. ya sudah.. ku gendong saja ya.. biar kita sampai lebih cepat ke dalam mobil..”


“ Eh.. ga usah, mas.. ga papa kok.. mungkin cuman meriang aja..”


“ Heh.. apa itu??? Sudahlah.. aku gendong saja.. jangan bantah lagi.. sudah.. ku gendong saja..”


“ Ba-baik.. mas..”


Tama pun akhirnya menggendong Juli dan ya, ia merasakan suhu tubuh Juli yang panas. Baginya itu terasa hangat didiri nya. Tama menggendongnya sampai masuk kedalam mobilnya.


“ Sudah, kau diam dulu.. owh, ya.. apakah kau meminum sesuatu disini??”


“ Emm.. sebenarnya aku meminumnya.. tapi sedikit.. ku pikir itu minuman biasa dan efeknya tak buruk.. jadi ku minum..”


“ Darimana kau mendapatkan minuman itu??”


“ Itu.. dari mba.. yang tadi, mendorong ku..”


“ Hah.. mba.. mba.. siapa memangnya.. berani sekali ia mendorong ku seperti ini..” sambil melihat luka disikutnya dan mengobati lukanya.


“ Kalau ga salah.. namanya, Glenci.. deh.. Sshhh.. aahh..” Mendengar ringisan Juli yang seperti itu... Membuat Tama sedikit goyah.


“ Bisakah, kau tak bersuara seperti itu??..” kata Tama sambil terus menatap Juli dengan intens.


“ Hah.. apa?? Tubuh ku memang ga enak mashh.. dan tadi kau mengobati ku.. aku merasa ada yang aneh..” jawab Juli..


“ Hemm.. sudah.. lebih baik kita pulang..”


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal. Tama yang juga sudah merasa ada yang tidak beres pada Juli pun segera mempercepat laju kendaraannya agar cepat sampai di Apartemen.


°°°