Life

Life
Godaan.





Brrakk..



Suara tas yang terlempar di lantai..



" Huhh!! apa-apaan si Hans itu.. bisa-bisanya dia bersikap seperti itu pada ku.." kata Glenci.



" Ahhkk.. bukankah memang hal itu benar adanya.. gadis itu tuh hanya gadis kampung yang tak punya apapun.. bahkan cantikan aku kok.. huh.." kesalnya Glenci yang terus merutuki segalanya.



" Pokoknya aku ga bisa kalah gitu aja.. lihat saja gadis kampungan.." desisnya Glenci.



Bandara Soetta..



Feli dengan wajah dinginnya sambil menahan amarahnya. Ia berjalan menuju ke arah orang yang sangat membuatnya kesal.



“ Kau.. kenapa tiba-tiba memindahkan ku kembali ke Indonesia lagi?? “ Kata Feli sambil terus memukul Bryan karena dialah.. proyek yang sudah ia kerjakan untuk presentasi di kampusnya gagal.. dan ia harus mengulang kembali di kampus barunya nanti yaitu kampus terkenal milik keluarga Bryan.



Buk.. buk..



“ Iiihhh!!.. kau tuh jahat.. sangat jahat.. aku sudah capek-capek ngerjain proyek disana terus tiba-tiba kau mengirim surat, bahwa aku harus kembali.. dan pindah kampus.. menjadi disini.. dan sekarang hasil yang sudah ku kerjakan itu gagal.. hiks..” Kata Feli sambil menangis didadanya Bryan.



“ Maaf.. maafkan aku.. aku, hanya ingin menjaga mu saja.. dan ini satu-satunya cara untuk memulai hubungan lebih baik.. dan aku pun juga bisa lebih dekat lagi dengan mu..”



“ Tapi, cara mu salah.. kau.. sama saja mengacaukan semua usaha ku.. dan kau sama sekali ga pernah membicarakan hal ini pada ku terlebih dahulu.. hiks..”



“ Ya.. maaf.. aku minta maaf, tapi aku akan membantu mu dalam mengerjakan tugas di kampus baru mu ini.. oke.. “



“ Bener ya.. awas aja sampe kau beralasan tak bisa.. akan ku unyeng-unyeng kau.. lihat saja..” kata Feli mengancam.



“ Ya.. jadi.. mari kita pulang, kau sudah capek kan.. ayo.. atau, mau aku gendong??”



“ Hemm.. tidak.. itu akan sangat memalukan.. sudah.. ayo kita pulang, aku sudah sangat capek..”



“ Oke.. baiklah, sayang ku..” kata Bryan sambil menarik tangannya dan menggenggamnya, lalu berjalan keluar menuju tempat parkir mobilnya.



“ Emm.. perkataan ku benar kan Eci.. bahwa.. aku akan bawa kamu kembali dan akan terus menetap disini bersama ku..” Kata Bryan dengan pedenya.



“ Emm.. ya.. kau menang.. tapi awas aja kamu sampai ga mau bantuin tugas ku disini..”



“ Iya, deh.. hehe, dah silahkan masuk sayang.. hehe..” Bryan mempersilahkan Feli untuk masuk kedalam mobilnya.



“ Terimakasih..”



Mereka pun pergi meninggalkan bandara tersebut.



Sedangkan disisi yang lainnya...



Tama masih mengobati luka Juli.. Walaupun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan semua godaan itu. Ya, bagaimana tidak mungkin tergoda.. saat baru saja ia mengolesi obatnya pun Juli sudah mendesah dan meringis, dan lebih parahnya ia tak pernah terpikirkan jika ekspresi wanita itu akan se menggodanya.



Entahlah, ujian apa yang sedang ia terima dengan melihat hal seperti ini.. ditambah ia juga belum bisa mendapat kan hatinya dan belum sangat dekat dengannya.



“ Huh.. kenapa harus ada hal yang seperti ini.. sungguh ini sangat menyiksa ku..” gerutunya Tama.



“ Apa mashh??”



“ Ah.. tidak.. ini sudah dikit lagi..”



“ Su.. sudah.. mashh..aku sudah baik saja tapi tubuh ku terasa panas.. aku ga betah.. rasanya pengen buka semuanya..” kata Juli sambil mendekat ke arah Tama yang berada disampingnya.



“ Eh.. eh.. tunggu.. apakah rasanya sepanas itu??” tanya Tama yang seperti panik.



“ Ahh.. ini sangat panas..”



“ Waduh.. ini obatnya sudah bereaksi.. Hemm.. dasar wanita licik.. menaruh obat ke dalam minuman yang akan ia berikan pada wanita ku.. hiiyyh.. dasar awas ya kau Glenci.. shiitt..” mengumpatnya ia karena sudah membuatnya harus menahan segala rasa itu.




“ Mashh.. Iihh.. panas banget..” sambil merangkul leher Tama dengan spontan.



“ Ya.. ya.. baik.. kau, ingin buka kan.. ya buka saja.. tak apa.. tapi habis itu langsung ke kamar mandi ya..”



“ Ahh.. ga mau.. mau buka semuanya, tapi habis itu tidur..” manjanya Juli pada Tama.



“ Hmm.. tidak.. tidak.. kau harus ke kamar mandi okey.. agar kau sadar dulu.. ya..”



“ Ya udah.. tolong buka’in baju ku??”



“ Heh.. ga.. ga bisa.. kau harus membukanya sendiri..” kata Tama yang langsung sedikit menjauh darinya.



“ Ahh.. ga mau.. bukain.. mas.. bukain.. kalo ngga, aku ga mau ke kamar mandi..”



“ Aduh.. harus gimana ini.. apakah ga ada penawarnya selain hal itu?? Ahhkk.. sudahlah.. lagi pula ia tak sadar ini.. sudahlah..”



Akhrinya ia pun kalah dengan raut wajah dan tingkah menggemaskannya Juli itu. Ia pun menuruti apa kata Juli. Dengan perlahan ia membuka satu persatu bahan yang melekat di dirinya.



Ia melepas semua itu. Bahkan saat bagian yang sangat menonjol itu. Ia membuka perlahan-lahan, ia tak memerhatikan bagaimana cara pandang Juli padanya. Ia hanya fokus ke bagian yang terluka dan sakit itu. Tapi, walaupun sudah berhati-hati, tetap saja terkena luka itu.



“ Auww.. sshh.. “



“ Ahh.. sakit ya.. maaf.. aku akan berhati-hati.” Kata Tama sambil melepaskannya secara perlahan.



Rasa sunyi dan canggung itu memenuhi ruangan tersebut dengan sangat kuat. Tama hanya terus mengalihkan perhatiannya terhadap hal-hal yang belum pantas ia lihat.. Namun, tidak bagi Juli, ia yang memang masih dalam pengaruh obat. Tapi ia seperti tersihir oleh suasana tersebut.



Ia terus merasakan sentuhan Tama yang sangat perlahan membuka resleting gaunnya. Ia seperti sangat senang ketika sentuhan itu mendarat di kulitnya.



Sentuhan yang lembut dan sangat hati-hati. Membuatnya terhanyut dalam suasana tersebut.



“ Nah.. sudah.. ayo.. kau harus berendam untuk meredakan panas mu..” Tama menggendongnya agar ia lengsung masuk ke kamar mandi.



“.....”



Ia menggendongnya tanpa ada perlawanan darinya. Yang ia khawatirkan adalah, jantungnya tak bisa berdiam untuk sedetik saja.. jantungnya seperti terus berdetak kencang dan tak mau tennag sedikit pun. Bahkan dengan keadaan seperti ini. Apalagi, wanita yang ia gendong itu terus saja menatap wajahnya.



Byuurrr..



Tama pun langsung menempatkan Juli dalam bak mandi itu. Ia memang tak melepaskan semua pakaiannya agar ia merasa tak kedinginan. Tapi tetap saja, ada bagian tertentu yang terlihat.



“ Apa sudah baikan??”



“ Emm.. dingin.. dingin banget.. hiiyy..”



“ Hah.. eh.. ya sudah.. ayo keluar dari sana..”



“ Gendong..”



“ Hah.. ah.. “ loading nya Tama saat Juli berkata seperti itu.



“ Gendong.. gendong aku..”



“ Apa??.. ah.. ya.. ya..” Tama pun menggendongnya juga dan menurutinya kembali.



Sebelumnya ia pun memakaikan kimono handuknya. Lalu ia menggendongnya. Tapi, lagi-lagi Juli berulah. Belum sempat Tama menggendongnya, ia sudah lebih dulu melompat tepat di punggungnya.



“ Hiyyaa.. ayo.. mas.. ke sana.. aku sudah kedinginan disini.. yeyh..” girangnya Juli saat ia berhasil menangkring di punggung Tama.



“ Aduh.. lain kali aku harus tegas bilang padanya jangan mau jika dikasih minuman apapun itu.”



Pusingnya Tama dibuatnya..