
" Lalu, apa yang benar?? Apa ada maksud lain mengapa kau mau menikah dengan ku?? Jawab.. jika tidak pakaian mu akan ku robek.." Kata Tama dengan nada rendah namun menusuk.
" ........ "
" Ah.. apa sekarang kau bisu?? sehingga kau hanya diam saja.."
Juli pun tetap diam dan menunduk saja, ia masih belum berani untuk menatapnya.
" Hey.. ayo bicara!.. apa kau benar-benar bisu.."
" Hah! dasar wanita tak berguna.." Kata Tama sambil menghempaskan Juli ke lantai.
" Kau.. kenapa kau menatap ku seperti itu.. hah!.." Mendekatnya Tama untuk melihat dengan jelas raut wajah Juli yang sangat tak senang padanya.
" Hey.. kenapa kau masih menatap ku seperti itu?? hah! jawab.."
Pllaakk..
Tampar Tama pada Juli yang dianggapnya sangat kurang ajar. Tapi seketika itu juga raut wajah Tama seakan menunjukan sisi khawatirnya.
" Kau... " Kata Juli dengan suara kecil.
Ia seperti sadar bahwa apa yang ia lakukan padanya bukan kehendaknya. Tanpa sadar Juli pun mengulurkan tangannya ke pipinya Tama.
" Tak apa, jika kau ingin mengeluarkan amarah mu pada ku.. aku terima.. jadi kumohon pergilah, dan biarkan ia istirahat untuk kali ini.. Bismillahirrahmanirrahim.. " Kata Juli.
Saat ia mengatakan hal itu, Tama seperti kehilangan kesadarannya. Namun ia masih sedikit tersadar.
" Kau.. apa yang barusan kau katakan?? Berani sekali kau mengatakan hal yang berguna itu.. hah!!.."
Lagi-lagi Tama masih belum sadar sepenuhnya. Itu sangat terlihat jelas dari cara pandangnya. Dan dia terus menerus memukul Juli. Hingga batasannya sudah habis.
" Sudah, cukup!! ku bilang sudah cukup Mas.. apa kau masih tak sadar juga?? Mas.. mas.. kau orang baik Mas.. aku percaya itu.. Jangan kau dengarkan ucapan apapun itu pada telinga mu.. Mas.. Mas.."
Ucapnya melemah karena sudah tak sanggup untuk menyadarkan Tama. Dirinya sudah sangat kesakitan saat Tama terus memukulnya tadi dibawah air shower.
" Kumohon mas.. jangan dengarkan apapun kata-kata yang kau dengar.. ......."
Pluukkk..
Pingsannya Juli diperlukan Tama karena sudah tak tahan akan sakitnya.
Sedangkan Tama, ia hanya diam seperti orang yang tengah kebingungan. Dan saat ia merasakan bahwa Juli pingsan. Seketika itu juga.. ia sadar.
" Kenapa aku?? Ada apa dengan ku??.."
" Loh.. dia.. kenapa ada di sini?? sebenarnya ada apa?? apa yang sudah aku lakukan??"
" Hah.. apa yang sudah terjadi.." Tama pun langsung membawa Juli ke dalam dan menyelimuti dirinya dengan handuk hangat.
Dilihatnya beberapa bagian tubuhnya yang terlihat itu. Ia melihat ada bekas memar banyak sekali.
" Sebenarnya apa yang sudah terjadi.. apa yang terjadi pada ku.."
Tama yang masih bingung akan dirinya, pun terus menjambak rambutnya terus. Tak lama kemudian Juli sepertinya siuman dari pingsannya.
" Errmm.. "
" Hey.. kau, sudah sadar?" tanya Tama pada Juli yang masih setengah sadar.
" Mas.. Apa kau..." ( " Tidak, jangan tanya soal tadi dulu.." batinnya )
" Apa?? kau ingin katakan apa?? katakan??"
" Mas.. apa kau merasa baik-baik saja.."
Mendengar hal itu Tama pun semakin tak menentu.
( " Memang aku kenapa?? Wanita ini kenapa terlihat sangat tulus dan khawatir sekali pada ku.. padahal kita baru menjadi pasangan dan sebelumnya kita tak pernah mengungkapkan perasaan.." batinnya )
" Aku.. aku baik.. kau.. kenapa menanyakan hal itu??"
" Tidak, aku hanya tak ingin kau kehilangan kendali lagi.." jawab Juli seraya mengulurkan tangannya.
" Kepala ku pusing Mas.." alihnya Juli.
" Apa.. kau butuh apa?? akan aku bawakan.."
" Tidak, aku hanya ingin tidur sebentar.."
" Ya sudahlah.. Tidurlah.. aku akan keluar sebentar.."
Tama pun keluar untuk menenangkan dirinya sebentar. Ia keluar dan bertemu dengan Adirata.
" Loh, Tama.. kenapa kau ada diluar?? Apa Juli sudah tidur??"
" Sudah, Pah.. dia sudah tidur.. Papah, kenapa baru pulang sekarang, bukannya kerjaan Papah hanya sedikit??"
" Ah, itu memang benar tapi Papah ketemuan sama sahabat Papah dulu.. ya kami makan malam dulu.."
" ...... " ( " O, ya.. Dia kan belum makan malam, dan aku pun juga hanya makan roti doang tadi. Seperti ada yang aneh?? apa ya??.." batinnya Tama. )
" Baiklah Pah, aku masuk kembali ya.. Papah, istirahat saja.. "
" Iya.. owh, ya besok akan ada acara pesta di rumah sahabat Papah, itu loh yang namanya Rahklim Atmadja teman Papah yang dulu suka datang kesini saat kamu masih kecil.."
" Ah.. dia.. baiklah aku akan datang.."
" Ya sudah.. Papah, ke kamar.."
" Ya.."
Mereka pun kembali ke masing-masing kamarnya.
" Seingat ku terakhir aku, sedang makan roti di ruang makan. Lalu aku melihat kalung kotak ku, terus.. Apa lagi setelahnya.. aku merasa setelahnya diri ku seperti bukan diriku.. hah!.. sudahlah.. lebih baik aku istirahat.." gimana Tama.
Ia pun langsung berbaring di samping Juli dan memeluknya tanpa sadar seperti bantal guling.
Beberapa lama kemudian....
Jam pun sudah menunjukan pukul 2 pagi. Juli mengerjakan matanya dan perutnya seperti sangat berat sekali. Ia sama sekali tak bisa bergerak sedikit pun. Lalu ia mengubah posisi tidurnya dan menghadap ke Tama.
Saat itu ia masih belum terlalu sadar jika Tama masih memeluknya. Saat ia ingin mengubah posisinya kembali tangannya menyentuh tangannya Tama yang berada di perutnya.
" Apa ini.. seperti tangan?? Hemm.. ini sangat berat.. Hemm.. "
Lalu ia membuka matanya dan melihat tangan siapa itu yang ada di atas perutnya.
" Huahh.. " ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Sungguh ia sangat kaget karena hal itu. Ia pun berusaha sekuat mungkin untuk memindahkan tangan Tama dengan pelan-pelan agar orang itu tak bangun dan terganggu. Ia pun akhirnya bisa memindahkan tangan itu dan menyingkirkannya.
" Hah.. rasanya tubuh ku sangat sakit dan badan ku sangat tak enak.. rasanya sedikit meriang. Hemm.. perut ku lapar.. tapi ini masih jam 2.. aduh gimana ya?? apa aku ke dapur saja untuk memasak sedikit."
" Ah.. sudahlah.. daripada besok aku tak bisa sama sekali bangun.. dan lebih parah.."
Akhirnya ia pun beranjak turun dari ranjang dan segera pergi menuju dapur.
Ia berjalan sendiri ke dapur. Sambil berpegangan pada tembok untuk membantunya meringankan rasa sakitnya.
Ia menyiapkan segala bahan yang ingin ia masak. Namun ada satu bahan masakan yang susah ia jangkau dengan tangannya. Sedangkan dirinya sendiri sedang dalam keadaan yang tak bisa jika harus mengangkat suatu yang berat.
" Aduh.. gimana ini bumbunya ada yang susah ku gapai.."
" Aku ga bisa harus mengambil bangku itu.. itu sangat berat. tubuh ku tak bisa mengangkat nya. Gimana ya.. masa aku cuman pake saus saja si, untuk buat telur dadarnya. Masa ga pake garam.. Aduh.. gimana ya.. Apa ga usah aja ya.. tapi perut ku lapar.. dan aku pengen makan nasi sama telur."
Tiba-tiba Juli merasakan dipundaknya seperti ada seseorang. Ia pun sangat terkejut akan hal itu. Jarak yang sangat dekat itu. Membuatnya sangat gemetar dan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia menengok dan menatapnya walau ia sangat gemetaran.
" Apa ini mimpi?? kenapa ia bisa tau jika aku terbangun dan ke dapur.. apa tadi aku mengganggunya.. ini sangat membuat ku sangat lemas."
" Kau ingin mengambil ini kan??.." tanya Tama tiba-tiba."
.....
Happy reading.. Jangan lupa tinggalkan jejaknya..🥰😉😊