Life

Life
Mimpi buruk



" Aku, hanya ingin bertemu dengan mu saja.."


" Hah.. tak bisa dipercaya.. Katakan pada ku dengan jujur mengapa kau datang kesini?? apa ada suatu hal yang membuat mu datang ke sini??"


" Itu kau.. kaulah alasan ku datang menemui mu.." batinnya Bryan.


" Emm.. ya bisa dibilang gitu si.. "


" Owh.. gitu.."


" Emm.. pekan ini ikut aku yuk.. ke Al-Azhar park.. kau ada waktu kosongkan??"


" Emm.. maaf.. aku tak bisa kesana.. aku sedang ada tugas.. kau saja yang kesana.." Feli pun berdiri dan ingin pergi dari sana.


" Tunggu..." tahannya Bryan.


" Jika kau masih tetap seperti ini.. aku rasa aku benar-benar sia-sia datang kesini.. tanpa pernah tau apa kesalahan ku.. tolong untuk kali ini kasih aku kesempatan satu kali saja.. aku akan coba perbaiki apa yang menjadi beban mu.." ucap Bryan.


" Dan jika saatnya tiba dan kau tetap masih marah pada ku dan membenci ku.. aku akan pergi.. pergi dan tak pernah muncul dihadapan mu lagi.. Kumohon.." Mohon-nya Bryan sambil berlutut dihadapan Feli


Hal itu sangat membuat Feli tak enak hati. Hingga akhirnya ia pun mengiya kan.


" Ya.. untuk kali ini aku akan menuruti apapun yang kau inginkan.. pagi, kau harus menjemput ku.. dan jangan sampai telat!.."


" Baik.. siap bos.."


....


Diruang gelap yang diterangi hanya dengan cahaya bulan yang masuk dari salah satu jendela.


" Tolong.. Tolong.. ku mohon tolonglah aku.. huhu.."


Terdengar suara tangisan dan rintihan minta tolong. Tak tau dari mana asal suara itu.


Ia hanya bisa mendengar namun tak bisa menemukan orangnya.


" To.. long.. tolong.."


" Hah! siapa itu?? siapa kau?? dimana kau?? " teriak Juli.


" Tolong.. tolonglah aku..."


Rintihan itu semakin berdengung ditelinga Juli.


" Baiklah.. aku akan membantu mu jika kau bisa menunjukan dirimu.."


Dan suara itu pun tiba-tiba hilang bahkan suara tangisannya pun sudah berhenti. Namun hal itu digantikan oleh rasa dingin yang sangat menusuk kulit hingga bulu kuduknya berdiri.


" Kenapa hawanya jadi begini ya?? firasat ku tak enak.." ucapnya dalam hati.


Angin pun langsung berhembus kencang dan masuk melalui celah-celah fentilasi ruang itu. Rasanya sangat mengerikan bahkan sangat mengerikannya. Hingga Juli pun sangat frustasi dibuatnya. Ia terus menutup telinganya dan berlutut dilantai. Telinganya terus menerus dibisikkan sesuatu dan sangat berisik rasanya hingga ia seperti sangat muak mendengarnya.


" Tolong berhentilah.. ku mohon.. aku sama sekali tak memiliki kesalahan apapun pada mu.. ku mohon berhenti.. berhentilah!!"


" Berhenti!!.."


Ia teriak sangat kencangnya. Dan tiba-tiba semuanya berhenti..


Namun ada yang mengganjal. Ada seseorang yang muncul dan menghampirinya dengan wajah yang sangat tak asing baginya serta ia mengenakan pakaian adat Jawa. Lalu tercium bau sangat anyir bercampur dengan melati saat ia menghampiri Juli.


" Tolong, Jangan mengganggu ku dan pria itu!.."


Tiba-tiba...


" Hah!!.. hah.. hah.." Ngos-ngosan Juli saat Bangun dari tidurnya.


" Duh.. mimpi itu.. rasanya sama, tapi kenapa tempat dan auranya sangat menekan ku.. apa ini.." Lalu ia melihat disampingnya.


" Loh.. mas.. kok dia tidur disamping ku.. biasanya dia selalu menghindar dan tidur ditempat lain.. Akhir-akhir ini setelah kejadian kemarin aku membuatkan makan malam dan menunggunya. Ia jadi tidur terus disamping ku.. Padahal kalung itu sedang didekatnya.."


Batinnya Juli sambil terus memperhatikan Tama yang masih tertidur pulas disampingnya.


" Jika seperti ini dia terlihat sangat tampan dan tenang damai sekali melihatnya.. Dan auranya sedikit hangat nyaman tapi seperti masih ada halangan."


" Apa aku bantu saja dia.. tapi, aku takut dia berlaku kasar bahkan sampai melukai ku.. karena sekarang aku tau.. tentang hal negatif yang terus menyelimutinya."


Juli pun akhirnya segera beranjak dari tempat tidurnya untuk shalat subuh. Ia ingin mengajak Tama tapi.. dia tak tega membangunkannya.


" Emm.. sudahlah.. Kotak itu.. apakah masih ada sama dia ya.."


Ia pun mencari kotak itu disekitar Tama. Tapi, ia masih belum menemukannya. Dan ketika ia ingin mencari di bagian bawahnya.


" Hei.. sedang apa kau disana??"


Tama yang tiba-tiba bangun dan berkata seperti itu membuat Juli terkejut.


" Emm.. Emm.. aku, sedang.. Ini sedang mencari sesuatu.. disini.."


" Aduh dimana ya.. barangnya.. maaf, permisi.."


Juli pun mencoba berlagak mencari sesuatu disana trus ia juga berpura-pura menyingkap semua selimut yang menutupi Tama tersebut.


" Aiihhh.. kau ini sebenarnya sedang mencari apa si!.."


Tama langsung menariknya hingga Juli menjadi sangat dekat dengannya. Juli yang terkejut dan hanya bisa terdiam saat ia ditarik seperti itu, Lalu mata mereka bertemu menjadikan suasana semakin canggung dan tak karuan.


" Anu.. anu.. Aku sedang mencari.. "


" Kau, mencari apa??"


" Itu.. itu.. aku mencari, peniti ke kecil milik ku.. Tadi, sepertinya jatuh disini.. Makanya aku mencarinya disini.."


" Ah.. ya sudah.. kau sangat mengganggu.. Lain kali, kalau mencari sesuatu bilang dulu.."


Dengan nada dinginnya ia berkata seperti itu. Namun Juli menanggapinya bahwa ia akan membantunya jika sesuatu nanti terjadi.


" Hemm.. Apa aku bisa?? Ku rasa bisa.."


Setelahnya, baik Tama maupun Juli. Mereka sama-sama sibuk sendiri, Tama yang sehabis itu langsung pergi ke kamar mandi, dan Juli yang langsung pergi ke dapur untuk memasak makanan untuk sarapan pagi. Ia hanya memanggang beberapa roti dan beberapa sosis lebar, lalu ia juga mengiris mentimun dan tomat secara tipis. Setelahnya ia kemudian memasukkan bahan tadi ke dalam roti yang akan ia buat menjadi sandwich sederhana.


Untuknya ia tambahkan saus tomat dan saus pedas. Tapi, untuk Tama ia tambahkan sedikit saus pedas. Tanpa diduga olehnya, Tama yang masih bertelanjang dada itu menghampirinya dan muncul dibelakangnya seperti hantu.


" Hei, kau sedang buat apa??"


" Ahk.. huh.. Ini aku sedang buat sandwich sederhana apakah kau ingin menambahkan sesuatu didalam isian punya mu??"


" Tidak sudah cukup.. Tapi sosisnya boleh ditambahkan satu lagi.."


" Emm.. apa kau, suka pedas?? jika kau suka pedas akan ku tambahkan lagi sausnya.."


" Tidak, itu sudah cukup.. ah, ya kau membeli semua ini darimana??"


" Ya dari uang ku lah.. sejak kau menikahi ku kapan kau memberi aku uang.. hah!.."batinnya Juli.


" Itu.. ini dari.. uang pribadi ku.."


" Ni.. setelahnya jangan pakai uang mu sendiri.. aku tak mau jika aku terlihat sangat tak perduli pada istri ku.."


Tama memberikan kartu hitamnya padanya. Sontak saja Juli sangat terkejut melihat hal itu, bagaimana tidak seumur hidupnya ia tak pernah melihat atau merasakan kartu hitam itu. Dan sekarang ia mendapatkan dengan mudahnya.


" Ah.. tidak.. itu terlalu berlebihan.."


" Sudah.. gunakan itu untuk apapun yang kau inginkan.. tak apa.. tapi.. jika kau tak mau, ya sudah.. kau bisa memilih keluar atau tak makan apapun disini dan menggunakan peralatan disini bahkan jika kita sudah pindah.. nanti.."


" Eh.. tidak.. baiklah.. aku akan mengambilnya.. Emm.. terimakasih.." Senyumannya Juli padanya seakan ia sangat berterimakasih.


***