Life

Life
life



Aku tak pernah tau hidup seperti apa yang aku jalani.. aku seperti antara hidup dan tidak.. Tapi, tetap saja aku harus tetap hidup bagaimana pun caranya.. ada kalanya aku juga berfikir mungkin lebih baik aku mati.. mungkin lebih baik aku tak pernah dilahirkan.. dan mungkin lebih baik aku tak diciptakan..


Namun, pikiran ku menjadi sangat dalam dan menyesakkan. " mengapa aku dilahirkan jika kau tak bisa bebas, jika aku harus terus mengikuti semua peraturan yang ada dalam rumah, dan harus terus berada dirumah, bahkan keluar pun harus ijin dengan datail... mau kemana, dengan siapa.. aku tau aku wanita dan harus selalu hati-hati.. tapi.. itu sudah bukan lagi peraturan rumah biasa.. aku seperti terkurung dan terikat.. tak bisa bebas.."


" Sakit, sangat sakit.. tapi aku coba tuk tetap berfikir positif.. bahwa akan ada waktunya aku bisa merasakan kebebasan itu.. walau nyatanya aku tetap tersiksa.. batin ku terus tersiksa dan terkurung.. gelisah, ya.. itu sangat membuat ku gelisah.. rasa takut yang sangat mendominasi pada diri ku sendiri ini.. takkan bisa hilang dengan semudah itu.."


Aku tak tahu harus seperti apa.. semua itu tetap saja ku tutupi dengan rapat, bahkan semua orang yang didekat ku pun tak pernah merasakan kesedihan dan kesakitan ku itu, walau terkadang aku sedikit menunjukannya. Tapi tetap saja mereka seperti menganggapnya itu hanyalah hal biasa.


Hingga rasanya aku sudah tak ingin apapun lagi di dunia ini. Walau aku tetap mempercayainya.. mempercayai bahwa ia akan mengabulkan semua doa dan harapan ku kelak. Dan membuat diri ku terus percaya bahwa mungkin hal ini adalah hal terbaik dan satunya hal yang akan sulit untuk terjadi lagi, hingga akhirnya aku tetap bersikap biasa dan terus mengikuti apapun yang mereka mau.


Aku masih seperti ini.. seperti apa yang mereka mau sampai mereka puas. Walau begitu aku pun masih berusaha keras untuk membungkam mereka dengan kerja keras ku ini. Tapi, lagi-lagi aku kalah oleh rasa sayang yang kadang mereka tunjukan pada ku. Kadang aku membencinya.. Bukan, aku membenci diriku ini.. diri ku yang tak bisa berbuat apa-apa, dan tak melawan ini..


Hingga aku benar-benar tenggelam dalam kenangan yang tak pernah bisa ku gapai dan ku inginkan.


Namun, sekarang ketika ku membuka mataku, aku mulai menyadari jika saat ini masih ada yang mau mengerti diriku dan memperhatikan diri ku. Orang yang sangat baru ku kenal, tapi orang inilah yang membuat ku merasa bahwa aku masih dibutuhkan di dunia ini..


Mungkin mulai sekarang aku akan melanjutkan hidup ku dan menatanya kembali. Dan mencoba untuk menyembuhkan diriku kembali.




" Jul.. hei.. kau sudah sadar??" kata Tama dengan raut wajah yang sangat khawatir padanya.



Juli yang baru saja sadar, ia langsung berhadapan dengan wajah yang selalu ada dipikirannya.



" Emm.. ya, aku sudah sadar.. tapi,.. tunggu.. bukannya aku tadi ada di bawah dan ingin masuk ke dalam apartemen ini.. tapi, kenapa aku sudah disini?? bagaimana bisa??" kata Juli yang terus mengingat apa yang sudah terjadi padanya.



" Ya.. aku yang membawa mu ke dalam, tadi kau pingsan disana dan ada orang yang bilang pada ku jika kau pingsan di sana.. Jadi, aku membawamu." bohongnya Tama pada Juli mengenai kejadian aslinya.



" Ahhkk.. seperti itu.. Ah, auww.. sshh.. "



" Kenapa?? ada apa??" tanya Tama yang tiba-tiba panik.



" Kepalaku sakit.. rasanya kepala ini muter-muter.. sshh.."



" Hah.. gimana.. aku ga tau harus apa?? apa aku panggil dokter saja?? "



" Sudah.. mungkin ini hanya efek dari pingsan ku yang tadi.. aku ga papa.. Bisakah, kau menemaniku disini.. aku ingin ditemani.." pintanya Juli.



" Baiklah.. jika itu mau mu.." kata Tama mengikuti kemauan istrinya itu.



Ia pun akhirnya tiduran di sampingnya dan terus melihat ke arah wajah istrinya dari dekat saat ia memejamkan matanya, yang belum pernah ia lihat sejak mereka menikah. Ia hanya bisa memandangnya dan terus memperhatikan bagaimana istrinya itu tertidur disampingnya.



Hingga, ia tak sadar jika ia pun mulai merasa mengantuk dan tertidur juga disampingnya. Mereka yang saat ini sama-sama tidur pun akhirnya sama-sama pula saling memeluk satu sama lain.



Tak lama, Juli pun terbangun dan sedikit menggerakkan dirinya. Ia tersadar jika ia sedang memeluk orang yang selalu ada dipikirannya. Hingga ia tak sadar jika air matanya mengalir begitu saja, perasannya pun seperti sangat terharu melihat tangannya pun melingkar dan memeluk dirinya.



" Apakah ini rasanya disayang?? apakah ini rasanya diperhatikan dan dimanja?? dulu aku sangat berharap hal ini terjadi selama ku hidup.. dan ternyata keinginan itu terwujud.. Sungguh, aku sudah tak tahu, apa yang harus kukatakan dan kulakukan untuknya nanti.."



“ Mungkin jika, hal ini tak terjadi.. aku akan tetap dalam kesuraman itu.. aku, sangat berterimakasih pada mu yang mau menerima perjodohan ini.. Awalnya ku pikir kau takkan mau dan melepaskan ku, tapi.. kau menyanggupinya dan menerima pernikahan ini.. dan ini sangat lucu bagi ku.. kau yang pertama kali menemuimu di dekat rumah, dan kau saat itu, sangat menyebalkan.. ya sangat menyebalkan, baru ketemu dan masih belum kenal.. sudah seperti ingin mengajak ribut.. haha..” tawa Juli dengan nada kecil atas perkataannya sambil terus menatap pria dihadapannya yang sedang tertidur lelap.



“ Emm.. bahkan ku pikir, aku akan terkurung kembali, dan mungkin akan ada hal yang membuat ku akan tersakiti lagi.. namun, setelah dipikir, mungkin jika aku mencoba tuk tetap membuka hati ini, dan tetap mengetahui segala hal tentang mu, aku akan bisa mencintai mu dengan sepenuh hati sebagai apapun.. dan melewati segala hal bersama..”



“ Kadang pula, aku berfikir.. bisakah aku menjadi istri yang baik?? Bisakah aku tetap bersama dengan pria ini?? Dan pantaskah aku bersamanya?? Aku tau.. banyak orang yang pasti bilang, jika aku takkan pantas dengan orang seperti pria di hadapan ku ini.. Tapi, melihat mu.. membuat ku ingin terus berada di sampingnya dan tak ingin pergi..” kata Juli terputus karena orang yang di hadapannya itu menjawab.



“ Ya.. sudah.. kau takkan pernah ku ijin kan untuk pergi dari ku.. sampai kapan pun..”



“ Hah.. oouuppss.. kau, sudah bangun??” Juli sangat terkejut saat mengetahui ternyata ia mendengar semua curhatannya itu.




“ He’emm.. aku mendengar semuanya..”



“ Jadi, apakah kau sudah mencintai pria yang menyebalkan ini Hem..??” tanya Tama sambil mempererat pelukannya di kasur.



“ Aiihhh.. emmm.. kau, tuh jahat..” malunya Juli saat itu hingga ia terus saja menutup wajahnya itu.



“ Eh.. eh.. kenapa di tutup wajahnya coba?? Malu ya.. Emm.. tapi aku jahat dari mananya ya??” sambil pura-pura berfikir.



“ Ah.. ga tau ah.. “



“ Jadi.. apa kau sudah jatuh cinta pada ku?? Jika.. iya.. bagaimana jika aku pun juga sudah jatuh cinta dengan mu juga?? Hemm??..”



“ .......”



“ Ko diem?? Jawab dong..”



“ Hemm.. mungkin.. tapi kau tadi sangat jahat.. kau, membiarkan ku terus berkata tapi.. kau mendiamkan ku.. dan pura-pura tidur.. Hemm.. jahat tau ga..”



“ Ya.. ya.. aku memang jahat.. tapi, pria jahat ini sekarang sudah jatuh hati pada wanita yang sekarang ada dihadapannya.. gimana dong??”



“ ...... , Gimana apanya??” tanya Juli yang polos.



“ Emm.. ya gimana.. jadi, apakah kita bisa menjadi pasangan sesungguhnya??”



“ Emm.. tapi, apakah aku layak bersama mu??”



“ Tidak..”



“ Ah.. Hemm.. ya aku tau..”



“ Tidak untuk masa yang lalu itu.. tapi sekarang kau sudah sangat layak bagi ku.. aku sangat mengerti tentang diri ku yang bahkan aku sama sekali ga mengerti mengapa aku bisa menjadi sosok yang berbeda dulu.. dan sekarang kau memberi ku semua jawaban itu.. terimakasih.. “ kata Tama sambil mengecup keningnya.



“ Pfftt.. ya.. aku juga. Terimakasih atas segalanya ini.. aku sangat bahagia.. memang jawaban apa yang kau temukan??”



“ Ah.. tidak, nanti akan ku beri tahu kau.. saat aku sudah menemukan hal yang ku cari saat ibu ku meninggal..”



“ Apakah kau bertemu dengan ibu mu??”



“ Ya.. aku bertemu dengannya.. dan ia mengatakan semuanya.. bahkan sekarang kita harus berhati-hati.. ada hal yang masih belum terungkap.. maukah kau tetap menemaniku saat itu dan sampai kapan pun??”



“ Ya.. aku mau.. karena ada hal yang sudah lama aku ingin katakan.. Aku, sering bertemu dengan Ibu mu..” kata Juli pada Tama yang justru membuat Tama sangat terkejut.



°°°



Happy reading 😉.