
" Lalu kau sendiri, gimana? kapan kau akan kembali ke Mesir?? Lalu kau tinggal dengan siapa disini?? bukankah orang tua mu ada di Bandung??" tanya Juli.
" Emm.. aku kembali sampai kau resepsi.. setelah itu baru aku akan kembali ke sana, dan aku sekarang tinggal dengan Bibi ku yang ada disini.." jelasnya.
" Emm.. apa kau tak sebaiknya tinggal disini saja?? aku pasti akan merindukan teman terbaikku nanti apalagi kau sekarang sudah menjadi mahasiswa dari universitas di Kairo, Mesir."
" Owhh, sahabat ku ini ternyata sangat kesepian ya.. tapi, jika aku tak kembali aku akan menjadi nyamuk saja disini.. haha, apalagi kau kan juga akan memiliki pendamping."
" Iya.. si, tapi.. Kau kan tau.. kau satu-satunya sahabat terbaikku.. atau, hari ini kita jalan-jalan gimana?? sekalian kita ke tempat biasa.. ngopi-ngopi gitu.. haha.."
" Baiklah.. ayo.."
Mereka pun pergi ke tempat biasa mereka sering bercerita dan bersenda gurau.
Namun tak disangka ketika mereka sedang ada dicafe itu, mereka bertemu dengan Teman kecil Feli. Awalnya Feli hanya diam dan ia hanya menatapnya saja dan tak ingin memanggil. Tapi, entah kenapa teman kecilnya Feli duluan yang memanggilnya.
" Feli.. Feli ya?? Iya kan kau Feli??" kata Bryan teman Feli sewaktu kecil.
" Iya,.. hehe.."
" Loh, kau.. Kau bukannya sekretaris pribadi Pak Adirata??" tanya Juli.
" Iya.. kau, Juli bukan calon istri dari anaknya??"
" Iya.. Jadi, ternyata kau temannya Feli pas waktu kecil.. wahh.. jangan-jangan orangnya kau lagi, jadi tuh si Feli...."
Terhentinya ucapan Juli karena Feli langsung membekap mulutnya agar tak berbicara lagi.
" Emm!!.. epas.. Lepas Feli.."
" Eh.. hehe maaf Jul.. owh, ngga kok.. maksudnya Juli tuh..kami memang sering ke tempat ini.. dan tak disangka malah bertemu dengan mu.."
" ......." Bryan sangat bingung ketika Feli menjelaskan.
" Apaan si Feli.. Hemm.. ada sesuatu yang aneh.." batin Juli.
" Owh, ya udah ya.. kita mau kesana dulu ada hal yang mau di beli.. daahh,.."
" Eh, Feli.. kenapa kita langsung pergi gitu aja.. kayanya dia mau ngomong sesuatu lagi deh.."
" Sudah, kita pergi saja.. aku tak enak dengannya.."
" Hemm.. nie anak mencurigakan.." batinnya Juli.
Di satu sisi yang lain, Bryan hanya terdiam disana saat melihat Feli dan temannya itu pergi.
" Hemm.. lagi-lagi gini, padahal masih ada yang ingin ku tanyakan, kenapa dia memilih pindah ke luar negeri dan melanjutkan sekolah disana.."
" Ya, sudahlah.. jika nanti kita ketemu lagi aku ingin berbicara dengannya seperti dulu.."
.....
Ditempat berbeda, kotak yang selalu membuat semua orang penasaran apa isi dari kotak itu dan mengapa ketika orang memegang kotak itu ia akan berubah perilakunya. Kotak itu memang sudah berusia puluhan tahun, terlihat dari pahatannya yang sangat kuno.
Kotak itu bersinar namun sinarnya seperti memancarkan aura yang sangat negatif, seseorang sedang melihatnya dengan sangat ketakutan bahkan aura yang dipancarkan oleh kotak itu mampu membuat ia menggigil hebat.
Orang itu hanya diam sambil memeluk lututnya dan duduk dipojokan saja. Bahkan sampai ia merasakan sesuatu hal seperti rasa dendam yang sangat menumpuk hingga rasanya seperti menyesakkan.
Hingga seseorang datang, seorang perempuan yang sangat cantik namun tiba-tiba ia berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan. Sosok yang mengerikan, penuh dengan luka lebam dan darah ada di sekujur tubuhnya. Dia berjalan mendekat ke arah wanita yang sedang ketakutan itu dengan tatapan yang sangat tajam dan menusuk seakan wanita itu akan binasa.
Ia berjalan dan terus berjalan mendekat ke arah wanita itu sambil memegang kotak tersebut yang sudah tak mengeluarkan cahayanya. Ketika mendekat, dan lebih dekat lagi.. dan lagi.. tepat didepan wajahnya.
" Hah! hah!.. hah.. Astaghfirullah! Astaghfirullah.. Ya, Allah.. mimpi apa itu tadi?? hah! hah!.. " Kata Juli saat ia bangun dari tidurnya.
" Hem!.. pertanda apa itu?? aku masih belum mengerti? kenapa disaat aku ingin dinikahi oleh pria itu, aku mendapatkan mimpi seperti ini.. Apa maksud dari ini semua??"
" Huh.. sudahlah, sudah jam segini.. lebih baik aku sholat agar tenang.."
Paginya...
Semua orang sudah sibuk dengan acaranya baik Bapak maupun Emak ku. Mereka sudah siap-siap seperti memasak makanan banyak buat para tamu yang akan datang ke rumah mereka nantinya. Walaupun akad nikah dan resepsi bukan di rumah Juli seperti pada umumnya orang kampung. Tapi, tetap saja Emak dan Bapak tetap menyediakan hal itu bagi tetangga sekitar yang tak bisa hadir dalam acara anaknya.
Fifit masih merias Ryan karena ia harus tampil baik di depan semua keluarga bos besarnya. Lalu Bapak, ya.. bapak pun juga sedang mandi dan siap-siap untuk itu. Sedangkan Fifit ia masih sibuk dengan urusan dapur sekaligus menyuruh penata riasnya agar cepat-cepat merias anaknya. Lalu ia pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya itu dan langsung mengganti pakaiannya dengan rapih dan sedikit polesan make up.
Hingga waktunya tiba, mereka pun berangkat menuju ke tempat yang sudah disediakan oleh Adirata. Mereka sudah disiapkan mobil dan lainnya untuk keberangkatan mereka.
Dan kini Juli pun sudah sangat cantik dan elegan dengan gaun pengantin yang pas dengannya. Baju pengantin Jawa putih dengan riasan yang disesuaikan dengan hijabnya.Ia tampak anggun seperti pengantin wanita Jawa pada umumnya.
Disisi lain Tama dan beserta keluarga besar lainnya sudah menunggu calon mempelai wanitanya.
" Tama, bisakah kau lepas dulu kalung kotak itu.. Papah mohon.. lepas dulu ya.."
" Tapi.. Baiklah, walaupun seperti itu, akan ku lepas ini."
Ia meninggalkan kalung kotak itu di tepi meja rias kamar hotelnya.
" Tama, ayo kemari.." Kata Saras kakak iparnya.
Tama pun mengikuti arahannya.
" Ya, kak.. baiklah.."
" Kau, duduk saja disini.. kau hapalkan ijab Kabulnya.. jangan sampai salah.."
" Baik kak.."
" Hemm.. rasanya kenapa hari ini ada yang aneh ya? aku merasa sangat senang tapi juga gugup secara bersamaan, baru kali ini aku merasakan hal ini.. Apakah aku bisa mendapatkan kebahagiaan itu Bu??" Gumam Tama dalam hatinya.
Hingga saatnya, para anggota dari mempelai pria dan calon pengantin wanitanya datang. Semua hadirin pun langsung menyambutnya.
" Apakah ini rasanya dinikahi tanpa ada rasa suka maupun cinta? Akankah aku bahagia?? Akankah aku bisa bahagia walau ku tak tahu diujung jalan sana aku akan bertemu dengan kesulitan apa lagi.."
" Namun, untuk kali ini.. dan untuk pertama kalinya aku harus siap atas semuanya. Demi mereka yang ku sayangi.." batin Juli sambil tersenyum ke arah semua orang.
Ia pun akhirnya memasuki aula utama dan disambut oleh Adirata dan keluarga besan lainnya.
" Waahhh.. ternyata cantik juga ya, besannya Pak Adirata ini.. " Bisik para tamu yang berbaris disamping.
" Iya, ya.. tapi katanya ia itu anak dari kalangan bawah.. Hemm, jadi curiga gimana ia bisa diterima ya.."
" Iya, ya.." Kata tamu yang lainnya.
Para tamu yang sangat tak penting itu terus saja berbisik dibelakang Juli.
" Kuatkan lah hamba mu ini.. ocehan orang yang tak penting itu."
.....
Jangan lupa ya.. kasih jejaknya disini..🥰