Life

Life
Gagal



Tak disangka. Tama mendekat ke arah Juli dan lebih dekat lagi hingga ia menyatukan keningnya. Tapi, sayangnya itu hanya pengalihan saja.


Ia langsung membuka pintu kamarnya dan dengan sigap ia langsung mengendong Juli dan membawanya ke atas ranjangnya.


" Eh.. mas.. turunin aku.. turunin.." Juli sedikit memberontak saat Tama menggendongnya tiba-tiba.


" Aku kan tadi sudah bilang.. kali ini kau harus menjadi istri yang baik.. Jadi.. boleh kan.. aku melakukannya.."


" ........" ( " Maksudnya itu.. atau apa?? oh.. otak ku kenapa nge-blank gini si.. " Batinnya)


" Jadi boleh kan.. sudah waktunya.." Senyum liciknya Tama.


" Ta.. tapi.. Mas.. "


Brruukk..


" Tu.. tunggu mas.. Emm.. mmhh.."


Tama, yang sudah tak tahan pun langsung mencium Juli dengan sangat intens. Bahkan Juli hampir tak bisa bernafas karena serangan dadakan itu. Bahkan tak sampai disitu saja, tangannya sudah mulai kemana-mana seperti semakin menjalar ke seluruh tubuhnya Juli.


" Apa ini saat nya.. tapi, perasaan ku.. padanya seperti apa?? aku pun tak tahu.. tapi semakin aku mengenalnya, aku semakin.. Apa aku sudah bisa menyerahkan hati ku untuknya??.." batinnya Juli.


" Mmhh.. emmhhh.. Mas.. tung.. tunggu.. Hah.. hah... ak.. aku.. sulit bernafas.."


" Makanya kau harus belajar dulu.. biar bisa bernafas.."


" Hah.. bagaimana bisa??"


" Ya bisa lah.."


" Tapi, itu.. itu.. aku baru pertama kali ini melakukannya.. aku belum bisa.."


" Apa.. jadi.. jadi.. itu, ciuman pertama mu??"


" Iya.. aku, memang belum pernah melakukan itu pada siapapun.."


" Pfftt.. Tapi, syukurlah.. jadi hanya aku dong yang mencuri ciuman itu.."


"......" Malunya Juli tak tertahankan. Ia pun hanya bisa menunduk dan terus memalingkan wajahnya dari Tama yang terus memperhatikannya.


" Tak.. apa itu bagus.. karenanya.. bolehkan.." godanya Tama.


" Apa ini sifat aslinya.. dia.. sangat menyenangkan ketika seperti ini.." gumam Juli dalam hatinya.


" ......" Juli hanya terdiam.


Karena ia terus terdiam, itu menjadi jawaban bagi Tama bahwa ia membolehkannya.


Namun saat ia ingin melakukannya tiba-tiba saja dering telfonnya berbunyi.


Trriingg..


" Huh.. siapa si yang nelfon.. ganggu aja deh.."


" Pfftt.. baru kali ini aku melihat mas yang seperti ini.. hehe.."


" Awas ya.. kau.. lihat saja selesai ini.."


" Hehe.. ampun mas.. ah.. hahaha.. geli mas.."


Tama sedikit mengabaikan dering telfon itu. Tapi, dering telfon itu terus saja mengganggunya. akhirnya ia mengangkatnya juga.


" Nanti akan aku lanjutkan.. lihat saja.." perginya Tama untuk menerima telfon itu.


" Ya.. Hallo, ada apa kak??"


" Tama.. apa kau bisa turun kebawah?? "


" Mau ngapain si kak??" marahnya ia.


" Sudahlah.. temani aku sebentar saja.. aku sedang ingin bersama dengan adik ku tercinta.."


" Iihh.. hiiyy.. kau sedang tak waras ya?? Sejak kapan kau ingin aku menemani mu.."


" Sudahlah.. sekali ini saja.. ya.. ya.."


" Baiklah.. sebentar saja ya.."


" Ya.."


Tama pun menyusul Kakaknya itu.


Ia meninggalkan Juli sebentar didalam kamarnya. Di perjalanannya, ia sangat kesal pada kakaknya yang seenaknya sendiri.


" Huh.. padahal momennya tuh sangat pas.. kenapa si ada aja halangannya.. huh.."


" Tapi, ia benar-benar terlihat sangat cantik tadi.. Hemm.. ah.. ini semua gara-gara kakak.. payah.." gerutunya ia sambil terus mengingat kejadian tadi dengan Juli.


Disamping itu, Juli yang masih menunggu Tama kembali, namun tak kembali-kembali. Hingga ia ketiduran dan sudah terbawa ke alam mimpinya. yang indah.


" Aku kembali.. loh.. yah.. sudah tidur ya.. Hemm.. gagal dong.. huh.. kakak.. awas ya.. akan ku ganggu kau nanti.. lihat saja.."


" Hemm.. sudahlah.. lebih baik aku tidur kembali.. tapi masalahnya, yang dibawah ini yang tak mau tidur.. aiihh.. kenapa susah sekali sih.." kesalnya Tama yang tak bisa memuaskannya.


Dan tanpa punya pilihan lain, ia masuk ke kamar mandi dan berdiam disana untuk meredam yang dibawah sana agar tidur.


Ya, itu adalah satu cerita yang membuat mereka kebanyakan gugupnya.


Namun entah mengapa saat ini ia memilki firasat yang tak bagus mengenai hal ini. Entah apa yang akan terjadi ia pun tak tahu.




Di Kairo, Mesir..



Tempat Feli berada...



Kriingg..



Suara telfon berbunyi..



" Ya.. Hallo.." sahutnya Feli.



" *Ya.. Sedang apa kau*??"



" Aku baru saja selesai mengerjakan tugas kuliah??"




" Ya.. aku baik-baik saja.. kau sendiri??"



" *Hemm.. rasanya aku tak baik-baik saja deh*.."



" Loh.. memangnya kau kenapa?? Apa kau sedang sakit atau apa??" paniknya Feli.



" *Ya.. memang benar, aku tak baik-baik saja. karena*..."



" Karena apa?? kenapa kau baru ngabarin sekarang??.. cepat karena apa kau tak enak badan??"



" *Karena kau*.."



" Hah?? apa kau bilang??"



" *Iya.. karena mu aku jadi semakin rindu pada mu.. kenapa kau harus sekolah disana.. kan jadi jauh*.."



" Pfftt.. ku pikir apa.. kau tega ya.. bikin aku panik terus.. Hem.. biarkan.. aku tak mau pindah.. aku ingin disini.. rasakan.. "



" *Huhu.. kau, jahat.. Eci jahat.. lihat saja siapa yang nantinya akan mengemis ingin kembali ke Indonesia.. ku pastikan itu kau.. lihat saja Eci*.."



" Eh.. eh.. maksudnya apa??"



" *Tidak, pokoknya lihat saja nanti*.."



Baru Feli ingin melanjutkan perbincangannya, namun telfonnya sudah dimatikan oleh Bryan.



" Huh!.. dasar seenaknya saja.. Hemm.. maksud dia apa ya.. kenapa dia bicara seperti itu.."



" Ah, sudahlah.. biarkan saja.. aku ingin istirahat sebentar.. "



Di waktu bersamaan Bryan yang masih mengurusi pekerjaannya itu. Dan ia pun juga masih ditugasi oleh Adirata untuk membuat proposal yang diminta. Saat itulah, ia juga menghubungi seseorang yang ia suruh untuk tetap menjaga Feli disana.



" Ya.. kalian bisakah kalian membelikan buket bunga padanya dan tuliskan " Aku serius dengan ucapan tadi.." oke.. bisakah kalian mengerjakan ini.. dan ingat jangan sampe dia tau soal ini."



" *Baik bos*.."



Setelahnya, ia terus saja memikirkan bagaimana cara agar Feli bisa pindah dan kembali ke Indonesia. Ia benar-benar tak bisa berada jauh dari nya.



Hingga tak lama ia berfikir, dan akhirnya ia menemukan jawabannya.



" Hemm.. sepertinya ini adalah ide yang sangat bagus. hehe.. Eci, kau akan kembali dan takkan bisa kesana lagi.. jika bukan dengan ku.. tunggu saja.."



°°°



Diruang kerja Tama...



" Huh, kenapa hari ini kerjaannya sangat menumpuk.. aku ingin berbaring dan tidur... Hemm.."



Tama pun segera mengistirahatkan matanya. Tapi, ia merasakan sedikit hal yang aneh dalam ruangannya itu. Entah apa itu..



Namun, tiba-tiba ia teringat suatu hal yang membuatnya semakin berfikir keras.



" Ibu.. kenapa aku baru memikirkannya.. ada yang aneh dengan kematian Ibu.. Tapi, aku masih belum bisa mencari kejelasannya.. kata papah.. Ibu hanya serangan jantung.. tapi.. pasti ada alasannya kan mengapa ibu bisa sakit gitu.."



" Dan sampai saat ini aku masih belum bisa menerima keadaan ini.. Aku merindukan mu Bu.. hah.."



Ceklekk...



°°°



Happy reading..🥰