Life

Life
Terluka



Suasana pesta pernikahan ini sangatlah menggembirakan bagi sebagian besar orang. Namun, tidak dengan pengantinnya. Diluar memang terlihat bahagia namun didalam tidak.


Mereka sama sekali tak menatap satu sama lain, mereka hanya sibuk sendiri.


" Jul.. selamat ya, ini hadiah dari ku.. Jangan dipakai ya saat malam tiba.. jangan lupa.. hehe.." Kata Anya teman SD Juli yang rumahnya dekat dengannya.


" Hah! maksudnya?? apa ini??"


" Sudah terima ya.. dah.."


" Apa sih, Anya itu.. Hemm.. jadi curiga..." Batinnya Juli.


Juli pun langsung mengabaikannya.


Lalu, tiba-tiba saja Feli dan Bryan datang menemuinya untuk memberikan selamat pada mereka berdua.


" Selamat ya, aku doakan yang terbaik untuk kalian berdua.. ini dari ku, semoga berguna.."senyumnya Feli.


" Owh, ya kalian berdua barengan ya??"


" Ah.. tidak.." Kompakan jawabnya.


" Pak.. selamat ya.. saya doakan yang terbaik untuk bapak dan istrinya selalu yang terbaik.."


" Ya.. Hemm." sambil tersenyum masam.


" Loh.. kalian mau pergi gitu aja.. Feli.. kau tak ingin menemaniku disini sebentar saja.. Ga papa kan mas??"


Tanya Juli pada Tama namun dibalas hanya dengan tatapan yang sangat tajam padanya.


" Ahhk, sudahlah.. tak apa.. jika kau pergi.. silahkan dimakan dulu hidangannya.." Kata Juli sambil terus menyuruh Feli pergi dengan Bryan.


" Ya.." Feli yang kebingungan dengan sikap Juli membuat ia hanya menuruti perkataannya.


" Ya, ayo Fel.." Ajaknya Bryan menuju tempat makan.


Dan mereka berdua pun langsung mencari tempat makan. Mereka sangat canggung dengan duduk yang berhadapan seperti itu.


" Ini membuat ku teringat sesuatu.." batinnya Bryan.


Di satu sisi yang lain.


Juli sudah sangat lelah, dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 9 malam. Walaupun yang lain masih asik bersenda gurau dan bergosip. Tetap saja tidak dengan situasi yang dihadapi oleh Juli, Tama seakan-akan sangat mengabaikannya. Sikapnya sangat berubah drastis. Itu pula yang membuat daerah sekitarnya berubah menjadi suram bahkan sangat suram dan dingin.


Tak lama acaranya pun selesai Juli pun sudah kembali ke kamar dengan riasan dan gaun yang masih menempel ditubuhnya. Ia enggan dilepaskan oleh para pembantu yang telah meriasnya. Ia sangat merasa risih saat dibukakan bajunya.


Ia pun segera melepas baju dan berlanjut untuk mandi agar tubuhnya merasa segar. Sedangkan Tama dia enggan untuk kembali ke kamarnya mereka berdua. Dia akhirnya pergi ke klub malam seperti biasa dia minum-minum sampai mabuk, walau seperti itu dia tetap saja bersikap dingin pada semua orang yang ada disana. Bahkan ada banyak perempuan malam disana yang terus menggodanya tetap saja ia tak ingin dengan mereka semua, hingga ia merasa bosan dan akhirnya ia pulang.


" Huh! dasar wanita jalang yang resehh.. mengganggu saja.. Hey.. kau, kalau jalan tuh hati-hati.. Jangan nabrak sembarangan dong kau tak tau siapa aku.. Aku Tama Ryan Amartha, seorang yang sangat hebat dan sukses dimasa muda. Kau, kenapa kau ada di kamar ku??"


Tama berbicara sambil berjalan mendekat kearah Juli yang sedang didepan pintu kamarnya dengan sempoyongan.


" Ma-maaf.. Biakan aku membantu mu berjalan, Kau.. kenapa jadi seperti ini??"


Saat ia membantu Tama berjalan masuk kedalam kamarnya, kotak kalung kecil itu jatuh didepan pintu kamarnya tepatnya disudut rak sepatu.


Juli membawanya langsung ke ranjangnya dan merebahkannya disana. Melihatnya yang seperti itu ia merasa sangat tak enak hati, karenanya Tama pasti sangat frustasi, mungkin karena itulah waktu kemarin ia sangat marah padanya padahal hanya tergores sedikit saja.


" Maaf.. maaf.. Huhu.. maafkan aku, karena aku kau mungkin sangat frustasi.."


Lalu tiba-tiba saja Tama bangun dengan mata yang masih merem. Lalu ia membuka matanya perlahan dan melihat jika Juli sedang menangis dihadapannya.


" Hei.. ke-kenapa kau menangis?? apa ada yang salah??" Kata Tama dengan suara seperti orang mabuk.


" Hah! Kau bangun.. sudah.. sudah.. kau istirahatlah.. biarkan aku yang merawat mu untuk menebus kesalahanku saat ini."


Juli pun langsung membuka kancing kemejanya dan bersiap ingin menggantikannya dengan piyama tidurnya yang sudah disiapkan oleh Bibi pembantu Tama.


Sebelum pakaiannya terlepas Tama tiba-tiba saja langsung menciumnya tanpa aba-aba. Itu membuat Juli terkejut hingga ia sudah tak bisa melepaskannya untuk beberapa detik kedepan.


" Ciuman pertama ku, direbut paksa oleh pria ini.. walaupun dia sekarang suami sah ku.. tapi, rasanya aneh.." batinnya.


" Emmhhh.. Emm.. Ta.. Tama.. Lepass.. "


Dengan sekuat tenaganya ia mencoba untuk melepaskannya dari pagutan Tama.


" Akkhh.. Aku kehabisan nafashh.."


Akhirnya terlepas juga. Wajah Tama berubah menjadi sangat merah dan panas. Begitu pun juga dengan Juli sendiri, ada seperti aliran listrik yang menyengatnya ketika Tama menciumnya.


" Hah!! " Sambil mengelap mulutnya dengan tangannya.


Melihat hal itu Tama yang sudah tak terkendali pun langsung menyambar kembali, tapi kali ini tidak selembut pertama, justru sangat kuat dan mendominasi. Bahkan hingga ia menggulingkan Juli sampai berada dibawahnya.


" Apakah itu akan terjadi.. tidak, aku tidak mau.. aku masih belum siap.. tidak.. Kumohon jangan.. "


Namun hal itu tak didengar oleh Tama, ia terus saja menciumnya dan bahkan ia ingin lebih. Hingga akhirnya ia membuka bajunya dengan paksa sampai robek.


" Ahhkk.. tidak.. ku mohon jangan.. Jangan!!"


" Syuuuttt.. bukankah kau sudah menjadi istri ku.. kenapa tidak.. Aku ingin.. aku menginginkannya.."


" Tidak.. ku mohon jangan sekarang.. aku tak bisa.. ku mohon.."


" ( Muach ) Aku tak bisa menunggu.. dia sudah bangun.. aku menginginkannya.."


" Tidak.. aku tak bisa.. ku mohon jangan lakukan itu.. huhu.. Hikss.. hiks.."


Melihat ia menangis Tama pun tersadar bahwa apa yang ia lakukan itu tidaklah benar. Hingga tanpa sadar ia sudah menggenggam tangan Juli dengan sangat kuat dan meninggalkan jejak yang sangat jelas.


" Maaf.. maaf, aku telah melukai mu dan membuat mu tanpa pakaian.. maaf.. aku akan pergi ke kamar mandi.."


" ..........."


" Ada apa dengannya?? sikapnya berubah drastis.. Terimakasih.. engkau masih melindungi ku.." Batinnya Juli.


Tama yang sudah sangat lelah akan hasratnya tak tersalurkan itu pun hanya bisa berdiam diri dalam air dingin, untuk menenangkan pikiran dan perasaannya sekaligus menghilangkan rasa mabuknya.


" Apa yang kau lakukan padanya Tama.. sadar hey.. dia masih kecil.. kau sangat cabul Tama.. Tapi, aku sekarang merasa aneh dengan diri ku sendiri aku... terkadang aku bersikap lembut dan ingin tau tantangnya, namun juga aku bentak-bentak dia sampai marah seperti kemarin itu.. ada apa sebenarnya dengan diri ku ini.. Ahhkk.."


" Kata Papah, aku berubah karena kotak itu.. Apa benar?? Awal aku memiliki kotak itu.. aku merasa kotak itu bisa menghibur ku saat aku merasa kesepian.. Hemm.."


" Huh.. ini sangat menyiksa ku.. jika seperti ini terus.. "


***