King's Regrets

King's Regrets
Eps 81



Semua orang yang ingin menyingkirkan Xia Lian An, dan memisahkannya dari putra mahkota Zhang telah mendapatkan hukumannya.


Ruan Yi dan ayahnya terbukti beberapa kali melakukan percobaan pembunuhan terhadap Xia Lian An, mereka berdua di hukum mati. Dan ibu dari Ruan Yi yang mendengar suami dan anaknya di hukum mati menjadi gila, dan di kurung di dalam penjara gelap.


Sekarang tangan Xia Lian An pun sudah mulai pulih, meski dia belum bisa bergerak dengan leluasa seperti sebelumnya.


"Jadi permaisuri ku, kapan kita akan mengadakan pernikakan? Par menteri dan rakyat sudah bertanya-tanya kepad ayah kaisar dan ibu ratu." Ucap putra mahkota Zhang.


"Bahuku sebentar lagi akan sembuh, aku tidak ingin menyulitkanmu saat pernikahan nanti. Jadi mohon kau bisa sedikit bersabar."


"Baiklah, aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun, jadi jika harus menunggu beberapa hari lagi tidaklah masalah."


"Terima kasih, kau sudah sangat bersabar untukku."


Putra mahkota Zhang menggenggam tangan Xia Lian An.


"Kau adalah wanita pertama yang sudah berhasil membuat tidur nyenyak ku terusik, jadi tentu aku harus bersabar demi mendapatkanmu yang sudah mengusiknya, agar tidurku kembali nyenyak."


"Hahaha, kenapa aku tidak tahu jika kau begitu pandai berkata manis seperti ini?"


Putra mahkota Zhang tersenyum, karena dia sendiri juga tidak tahu sejak kapan dia bisa berbicara seperti itu pada seorang wanita.


"Ternyata kalian berdua berada disini."


Xia Lian An dan putra mahkota Zhang yang mendengar suara ratu, langsung menoleh dan berdiri.


"Salam kepada yang mulia ratu." Ucap Xia Lian An.


"Kau masih saja tidak mau memanggilku ibu?" Ucap ratu.


Xia Lian An menatap putra mahkota Zhang.


"Apa kau akan menunggu Jiang'er memberimu izin terlebih dulu?" Ucap ratu lagi.


"Bu.... Bukan maksud saya seperti itu yang mulia, saya hanya...."


"Jika begitu kau harus mulai memanggilku ibu, dan memangggil yang mulia kaisar dengan sebutan ayah."


Xia Lian An mengangguk ".... Baik ibu ratu, ayah kaisar."


Ratu dan kaisar sangat senang mendengar Xia Lian An memanggilnya dengan sebutan ayah dan ibu seperti putra mahkota Zhang memanggil mereka.


"Semua orang sudah menunggu hari bahagia kalian." Ucap kaisar.


"Ayah kaisar, bahu Lian'er belum sembuh sepenuhnya. Kami sudah sepakat akan mengadakan pernikahan setelah bahu Lian'er benar-benar pulih." Ucap putra mahkota Zhang.


"Baiklah, jika begitu ibu akan mempersiapkan mulai dari sekarang. Karena ibu yakin, tidak akan sampai satu bulan bahu Lian'er akan sembuh."


"Ibu ratu tidak perlu melakukan banyak hal, saya tidak...."


"Lian'er, biarkan ibumu mengurus semuanya. Kami sudah sangat lama menunggu saat-saat seperti ini." Ucap kaisar memotong ucapan Xia Lian An.


"Baiklah jika seperti itu."


Ratu memeluk Xia Lian An dengan lembut "Ibu berharap kalian akan selalu bahagia, meskipun kalian akan tinggal di luar negara Ming."


"Terima kasih ibu."


Ratu membelai pipi Xia Lian An, dia benar-benar sangat bahagia karena putranya menemukan wanita yang begitu baik dan bijaksana.


"Besok ibu akan membawa beberapa orang ke istana timur untuk mengukur tubuhmu, ibu ingin membuatkan beberapa pakaian untukmu."


"Baik ibu ratu."


Kaisar dan putra mahkota Zhang bahagia melihat interaksi kedua wanita yang mereka cintai.


Dari jauh, Min'er juga merasa bahagia, karena keluarga putra mahkota Zhang bisa menerima kakaknya dengan sangat baik di dalam istana kerajaan itu.


Min'er adalah seorang laki-laki, dan dia adalah anak kandung satu-satunya keluarga Qing. Jadi tentu dia harus keluar dari rumah Xia Lian An dan mempunyai rumah sendiri setelah dia menikah nanti.


Karena itu, Min'er diam-diam telah menjual rumah dan semua tanah juga barang-barang yang orang tuanya tinggalkan untuknya.


Min'er tidak mau hidup dalam bayangan masa lalu, yang hanya akan membuatnya terpuruk karena rasa kecewanya yang begitu besar pada kedua orang tuanya itu. Karena itu dia menjual semua yang di tinggalkan oleh ayah dan ibunya.


***


Di istana Yue Ji, di dalam istana kerajaan negara Qin. Permaisuri Rui telah mendengar jika Xia Lian An akan menikah dengan putra mahkota Zhang dari negara Ming.


Kabar baik ini tentu membuatnya sangat bahagia, karena akhirnya Xia Lian An akan menikah dengan laki-laki yang sangat mencintainya.


"Akhirnya dia akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dia inginkan." Ucap permaisuri Rui pada dirinya sendiri.


Permaisuri Rui mengusap perutnya yang sudah membesar.


"Cepatlah lahir sayang, ibu ingin memperkanalkanmu dengan orang yang paling baik di istana ini, terhadap ibu dan bibi Nuan mu."


"Apa yang sudah membuat yang mulia permaisuri terlihat begitu bahagia?"


Permaisuri Rui melihat selir Nuan datang bersama dengan pelayan setianya.


"Permaisuri..... Ah bukan, maksudku kak Lian, sebentar lagi dia akan menikah dengan putra mahkota dari negara Ming."


"Kak Lian, maksud yang mulia... permaisuri Yan?"


Permaisuri Rui mengangguk "Sebentar lagi dia akan menjadi permaisuri negara Ming, jadi tentu aku harus memanggilnya dengan kak Lian. Aku tidak mau dia terus mengingat nama dia di istana ini."


"Yang mulia benar, karena dia akan hidup bahagia dengan orang yang sangat mencintainya."


"Iya, aku turut berbahagia."


"Apakah yang mulia akan memberikan hadiah pada kak Lian?"


"Tentu saja, dulu dia memberikan sepasang gelang giok ini untuk kita. Aku ingin membuatkan satu buah gelang giok untuknya, agar dia tahu jika kita akan selalu bersama dengannya."


"Itu sangat bagus, aku juga akan memesan jepit rambut yang sangat indah untuk kak Lian."


Permaisuri Rui mengangguk dengan senang.


Selama ini mereka selalu melihat Xia Lian An hidup dalam kesulitan dan penderitaan, tentu setelah mendengar kabar bahagia itu mereka berdua sangat ikut berbahagia.


"Yang mulia, kak Lian akan menikah dengan putra mahkota negara Ming, yang tidak lain adalah teman yang mulia kaisar. Apakah yang mulia...."


"Selama ini yang mulia kaisar tidak pernah membahas mengenai itu, mungkin dia memendam semuanya sendiri."


Selir Nuan mengangguk.


"Sebelum aku hamil, aku pernah berkata padanya, jika dia telah melakukan kesalahan besar pada kak Lian. Mungkin karena itu dia sadar, jika apapun yang dia lakukan tidak akan pernah membuat kak Lian kembali."


"Dulu, yang mulia kaisar memang sudah bertindak keterlaluan pada kak Lian. Hati wanita mana yang begitu mudah melupakan rasa sakit hatinya, dan di perlakukan sangat tidak adil seperti itu oleh suaminya sendiri."


"Kau benar, tapi akhirnya kak Lian sudah menemukan kebahagiaannya sendiri setelah keluar dari istana ini."


"Yang mulia benar."


Selir Nuan menatap perut permaisuri Rui yang sudah sangat besar itu.


"Apa yang sedang pangeran kecil kita lakukan saat ini?" Ucap selir Nuan.


"Mungkin dia sedang tidur, karena beberapa waktu yang lalu dia bergerak tanpa henti. Seperti aku tidak di perbolehkan untuk tidur olehnya."


"Hahaha, benar-benar calon kaisar yang sangat tegas. Bahkan pada ibundanya pun seperti itu."


Permaisuri Rui tersenyum, dia mengusap perutnya yang sudah besar beberapa kali.