
Esok harinya mereka sampai di istana kerajaan negara Ming.
Dengan tubuh yang lemas, Xia Lian An turun dari kereta di bantu oleh Xiao Wei.
"Hati-hati nona." Ucap Xiao Wei.
Xia Lian An berhasil turun dari kereta, tapi tubuhnya yang lemas karena mabuk kereta membuatnya hampir jatuh dan menimpa tubuh Xiao Wei yang kecil.
"Lian'er!" Seru putra mahkota Zhang tanpa dia sadari, jika dia memanggil Xia Lian An dengan nama kecilnya karena terkejut.
Putra mahkota Zhang langsung berlari mendekati Xia Lian An, lalu memeluknya dari samping.
"Kau baik-baik saja?" Putra mahkota Zhang menyentuh kening Xia Lian An.
Tanpa memikirkan apa-apa lagi, putra mahkota Zhang mengangkat tubuh Xia Lian An dan membawanya ke istana timur.
"Ada apa dengan nona Xia, putra mahkota?" Ucap sang ratu yang melihat putranya menggendong Xia Lian An.
"Dia sakit ibu ratu, sepertinya dia tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh dengan kereta."
"Cepat, bawa dia untuk beristirahat. Ibu akan meminta pengawal untuk memanggilkan tabib istana kesana."
"Baik, terima kasih ibu ratu."
Putra mahkota Zhang lalu terus berjalan ke istana timur, sementara Min'er dan Xiao Wei menyusul mereka setelah membereskan barang-barang mereka di kereta.
Di istana timur, putra mahkota Zhang membaringkan Xia Lian An di atas tempat tidur dengan hati-hati.
"Maaf, lagi-lagi aku merepotkan mu setelah sampai disini." Ucap Xia Lian An dengan pelan.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi tabib akan sampai. Kau beristirahatlah."
Xia Lian An mengangguk pelan.
Putra mahkota Zhang begitu mengkhawatirkan kondisi Xia Lian An saat ini.
"Yang mulia, bagaimana kakak?" Ucap Min'er sesampainya di kamar istana timur.
"Aku tidak tahu, tabib istana belum sampai untuk memeriksanya."
Min'er melihat kakaknya berbaring di atas tempat tidur, wajahnya terlihat sangat tidak baik.
"Yang mulia, hamba sudah datang." Ucap tabib istana sambil memberi hormat.
"Cepat masuk dan periksalah." Ucap putra mahkota Zhang pada tabib istana.
Tabib istana lalu masuk kedalam dan memeriksa kondisi Xia Lian An.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya putra mahkota Zhang.
"Nona ini hanya kelelahan yang mulia, ini adalah obat untuk memulihkan tubuhnya. Yang mulia bisa memberikannya setelah nona bangun, saat ini biarkan nona ini beristirahat."
"Baik."
"Jika begitu saya mohon pamit, yang mulia."
"Iya."
Setelah tabib istana pergi, putra mahkota Zhang memerintahkan pelayan yang setia di sampingnya untuk membuatkan makanan dan sup. Agar jika Xia Lian An bangun semua sudah matang.
"Kau juga beristirahatlah, di samping ada kamar lagi." Ucap putra mahkota Zhang pada Min'er.
"Aku tidak apa-apa."
Putra mahkota Zhang mengangguk.
Tidak lama setelahnya, kaisar dan ratu datang ke istana timur untuk melihat kondisi Xia Lian An.
"Putra mahkota, bagaimana keadaan nona Xia?" Ucap ratu setelah mereka sampai di kamar istana timur.
"Dia hanya kelelahan ibu ratu, tabib juga sudah memeriksanya."
"Itu bagus."
"Salam kepada yang mulia kaisar dan yang mulia ratu." Ucap Min'er seraya memberikan hormat.
"Apa kau adik dari nona Xia?" Tanya kaisar.
"Benar yang mulia, hamba adik dari Xia Lian An."
Kaisar mengangguk.
Kaisar dan Min'er melihat ratu duduk di samping tempat tidur, dan menatap Xia Lian An dengan cemas.
"Sepertinya, yang mulia ratu begitu menyukai kakak hamba."
"Benar, sudah lama kami menunggu putra mahkota tertarik dengan seseorang. Karena itu, saat dia melihat jika putranya menyukai seorang wanita, dia sangat senang. Kami berharap nona Xia dan putra mahkota bisa selalu bersama."
"Terima kasih atas kebaikan yang mulia kaisar dan yang mulia ratu kepada kakak hamba."
"Tidak perlu seperti itu, justru kami yang seharusnya berterima kasih kepada nona Xia, karena sudah membuat putra mahkota menarik perhatiannya."
Min'er senang, karena ternyata sikap kaisar dan ratu pada kakaknya begitu baik dan terbuka.
"Ayah kaisar, ibu ratu. Besok setelah keadaan nona Xia sudah membaik, aku akan memberitahu kepada rakyat bahwa aku sudah menemukan calon permaisuri, dan akan memperkenalkan nona Xia kepada mereka semua sebagai calon permaisuri ku."
"Jika begitu, itu artinya nona Xia sudah...."
Putra mahkota Zhang mengangguk "Benar ibu ratu, dia sudah bersedia menjadi permaisuri ku. Tapi seperti apa yang sudah saya katakan pada kalian beberapa hari kemarin lewat surat, jika kami akan tinggal di kota Yu yang ada di negara Qin. Dan akan ke istana sesekali untuk mengunjungi kalian."
"Itu tidak masalah."
"Ibu ratu dan ayah kaisar tidak keberatan?"
"Tidak, kami justru sangat senang mengetahui jika akhirnya kau bisa bersama dengan wanita yang kau cintai."
"Ibumu benar, lagi pula ayah masih bisa mengurus kerajaan ini 20-30 tahun lagi."
"Yang mulia, anda masih terlihat begitu sehat dan segar. Anda bisa memimpin negara ini lebih dari 20-30 tahun." Ucap Min'er.
"Hahaha baiklah, jadi aku bisa melihat cucu-cucu ku nanti menikah."
"Benar yang mulia."
Semua orang yang ada di dalam kamar tertawa.
"Baiklah, biarkan nona Xia beristirahat. Ibu dan ayahmu akan kembali lagi setelah nona Xia sudah jauh lebih baik." Ucap ratu.
"Baik ibu ratu, terima kasih."
Ratu menganggukan kepalanya, dia dan kaisar lalu keluar dari kamar istana timur.
"Yang mulia putra mahkota juga lebih sekarang beristirahat, saya khawatir jika kakak saya bangun nanti yang mulia kelelahan."
"Baiklah kalau begitu."
Putra mahkota Zhang menatap Xia Lian An sebelum dia keluar dari kamar.
Xiao Wei yang sudah membereskan barang-barang Xia Lian An masuk.
"Tuan muda, lebih baik sekarang anda beristirahat. Biarkan saya yang menemani nona disini." Ucap Xiao Wei.
"Baiklah, jika terjadi sesuatu pada kakak, kau harus cepat memberitahuku."
Min'er yang juga kelelahan pun pergi ke kamar samping untuk beristirahat. Sementara Xiao Wei duduk di kursi yang ada di dalam kamar untuk menemani Xia Lian An.
Di tempat lain, kaisar dan ratu sedang berada di dalam istana mereka tengah membicarakan sesuatu.
"Ratu ku, seperti yang sudah kita tahu jika setelah menikah, mereka akan tinggal di negara Qin. Untuk mendapatkan persetujuan dari kaisar Shun, aku akan pergi kesana."
"Yang mulia, biarkan kasim yang kesana untuk mewakili yang mulia. Bagaimana pun, anda adalah seorang kaisar. Akan banyak bahaya yang menunggu kaisar di luar sana."
".... Hmmm, kau benar, jika begitu aku akan meminta kasim ketua kesana dengan membawa surat dan beberapa hadiah untuk kaisar Shun."
"Iya, yang mulia."
Saat ini keluarga dari adik kaisar sedang berusaha mencari celah untuk menyakiti anggota kerajaan terutama kaisar, jadi meski rakyat melihat keluarga kerajaan baik-baik saja, tidak begitu dengan salah satu adik dari kaisar yang tidak bisa mendapatkan tahta itu dulu.
Bagaimana pun ini adalah kehidupan dengan banyak perselisihan di dalam keluarga kerajaan, ada yang bisa menerima dengan baik jika dia tidak bisa mewarisi tahta, ada juga yang tidak rela dan ingin merebut tahta itu dari saudaranya sendiri.
***
Sore harinya, Xia Lian An bangun dengan tubuh yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Xia Lian An menyibakan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan duduk di sisi tempat tidur. Dia melihat kesana kemari, karena tidak ada seorang pun di dalam kamar itu selain dirinya.
Kraaaak
Pintu terbuka, dan Xia Lian An melihat Xiao Wei masuk membawa sebuah nampan.
"Nona, nona sudah bangun." Ucap Xiao Wei dengan senang.
"Iya, tidurku sangat nyenyak dan sekarang aku sudah merasa sangat baik." Ucap Xia Lian An.
"Syukurlah jika memang begitu nona, yang mulia putra mahkota dan tuan muda Qing sangat mengkhawatirkan anda. Bahkan yang mulia kaisar dan yang mulia ratu juga datang untuk melihat keadaan nona."
"Ya... Yang mulia kaisar dan yang mulia ratu juga datang kesini?"
"Benar nona, mereka juga mengkhawatirkan nona. Bagaimanapun nona adalah tamu dan juga calon permaisuri yang mulia putra mahkota."
"Dimana tuan Jiang?"
"Yang mulia putra mahkota sedang meminta pelayannya untuk memanaskan lagi sup yang mereka buat untuk nona."
Xia Lian An mengangguk.
"Kau sudah bangun, bagaimana keadaan mu sekarang?" Ucap putra mahkota Zhang sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
"Aku sudah lebih baik."
Putra mahkota Zhang berjalan mendekat, dan menyentuh kening Xia Lian An lalu mengangguk.
"Makanlah obat ini, setelah itu kita makan." Putra mahkota Zhang memberikan sebutir pil berwarna coklat pada Xia Lian An.
Xia Lian An menerima pil itu dan menatapnya "Inikah pil zaman kuno, besar sekali."
Putra mahkota Zhang melihat Xia Lian An yang terus menatap pil itu.
"Ada apa, apa kau tidak bisa menelan pil itu?" Ucap putra mahkota Zhang.
"Tidak, bukan begitu. Aku akn memakannya sekarang."
Dengan nekat dan terpaksa, Xia Lian An memasukan pil itu ke dalam mulutnya dan menelannya.
"Eh, pil ini langsung hancur setelah masuk ke dalam mulut. Aku seperti sedang memakan permen, hanya saja... rasanya sedikit pahit dan aneh."
Melihat Xia Lian An sudah memakan obatnya, putra mahkota Zhang tersenyum.
"Baiklah, ayo ke ruang samping. Para pelayan istana sudah menyiapkan makanannya."
"Baik, terima kasih."
Xia Lian An lalu berdiri dan berjalan keluar bersama dengan putra mahkota Zhang ke ruangan yang ada di samping kamarnya.
"Kakak, bagaimana keadaan kakak?" Ucap Min'er saat melihat kakaknya keluar dari kamar.
"Aku sudah lebih baik, maaf sudah membuat mu khawatir."
"Tidak apa-apa, bagus jika sekarang kakak sudah baik seperti semula."
"Iya."
Putra mahkota Zhang, Xia Lian An dan Min'er berjalan bersama menuju ruangan yang ada di samping kamar istana timur, untuk menikmati makanan yang sudah di sajikan para pelayan istana disana.
"Bukankah ini terlalu banyak tuan Jiang?" Ucap Xia Lian An setelah mereka sampai.
"Kau perlu makan lebih banyak, agar tubuhmu cepat membaik." Ucap putra mahkota Zhang sambil meenggandeng tangan Xia Lian An dan mendudukannya di salah satu kursi.
Xia Lian An melihat meja makan yang di penuhi oleh makanan itu.
"Kakak, yang mulia putra mahkota melakukan ini juga untuk kesehatan kakak." Ucap Min'er yang duduk di samping kakaknya.
"Benar, jadi kau harus makan lebih banyak."
"Baiklah."
Putra mahkota Zhang lalu menyumpitkan daging dan meletakkannya di atas mangkuk Xia Lian An.
"Terima kasih."
Mereka bertiga pun mulai menikmati makanan itu bersama.
Setelah beberapa saat, mereka selesai makan dan berjalan bersama ke sebuah taman.
"Besok aku akan mengumpulkan rakyat negara Ming, dan memberitahu mereka jika kau adalah calon permaisuri mereka."
"Besok?"
"Benar, ayah kaisar juga sudah memerintahkan kasim ketua pergi menemui kaisar Shun untuk meminta izin padanya, agar aku di perbolehkan tinggal di kota Yu bersama denganmu setelah kita menikah nanti."
"Kau melakukannya dengan sangat cepat."
"Tentu saja."
"Kalau begitu, kita harus memperluas kamar kakak di rumah. Dan kita juga perlu membuat dua kamar lagi untuk para keponakanku nanti." Ucap Min'er.
"Min'er, kenapa banyak sekali yang aku pikirkan?" Ucap Xia Lian An.
"Bukankah aku mengatakan yang sebenarnya? Kita tidak mungkin membuat kamar baru saat kakak sudah hamil keponakanku."
"Bagaimana jika membeli rumah baru yang lebih besar?"
"Aku tidak mau, aku sangat menyukai rumah itu."
"Oh iya, aku dengar tetangga kita akan menjual rumahnya, bagaimana kalau kita membelinya. Kita bisa membongkar dinding pembatasan rumah kita dan rumah itu lalu membuat beberapa kamar dan yang lainnya."
"Maksudmu rumah yang tepat berada di samping dinding pembatas rumah kita itu?"
"Benar, mereka ingin menjualnya karena mereka akan pindah mengikuti anak pertama mereka."
"Itu bagus, aku akan memerintahkan pengawal bayanganku untuk segera membeli rumah itu sebelum orang lain membelinya." Ucap putra mahkota Zhang.
Xia Lian An melihat jika putra mahkota Zhang benar-benar rela meninggalkan istana yang besar, demi bisa hidup bersamanya, meski nanti dia akan hidup di rumah yang jauh lebih kecil dan sederhana.
Entah ini sebuah kebahagiaan, ataukah awal dari sebuah kejadian tidak terduga lainnya yang akan dia alami oleh Xia Lian An nanti. Tapi apapun yang akan terjadi, dia tidak akan lagi menghadapinya sendiri. Sebab dia mempunyai putra mahkota Zhang dan adiknya yang akan selalu melindungi dirinya.