
Kreeek
Xia Lian An membuka pintu kamar sambil membawa nampan berisi makanan untuk adiknya. Karena sejak sore kemarin Min'er datang, dia tidak mau memakan makanannya walau hanya satu suapan.
Xia Lian An melihat adiknya masih berbaring di atas tempat tidur, dia meletakan nampan berisi makanan itu di atas meja.
"Min'er, kakak membawakan makanan untuk mu. Kau harus memakannya sebelum dingin."
Min'er tidak menjawab, dia hanya melihatnya dari atas tempat tidur.
Xia Lian An berjalan mendekati adik laki-lakinya, dan duduk di samping tempat tidur Min'er.
"Setiap orang akan mendapatkan balasan yang telah dia perbuat, hukum dunia tidak akan pernah memperlakukan kita dengan tidak adil."
Min'er menatap kakaknya, dia lalu memeluk Xia Lian An dengan tiba-tiba.
"Kakak, apakah kau akan meninggalkan aku sendirian?" Ucap Min'er.
Xia Lian An tertegun dengan apa yang adiknya katakan, dengan lembut Xia Lian An menepuk-nepuk punggung Min'er untuk menenangkannya.
"Aku adalah kakakmu, tentu aku tidak akan pernah meninggalkan mu."
"Tapi aku bukan...."
"Kau adalah adik kandungku, berhenti berfikir jika kau bukanlah adikku. Aku akan selalu melindungimu, kita akan hidup bersama."
Min'er mengangguk.
Xia Lian An melepaskan pelukan mereka "Sekarang kau harus makan, aku tidak mau adikku sakit karena tidak mau makan. Aku sudah memasakanmu hati kelinci untukmu."
Min'er mengangguk, dia lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kursi dan duduk disana.
"Apa semua ini kakak yang memasaknya?"
"Tentu saja, kakak ingin membuatkan makanan untuk mu agar kau makan dengan kenyang."
"Terima kasih kak."
Xia Lian An mengangguk sambil tersenyum "Makanlah."
Min'er mengangguk, dia lalu mulai memakan makanan yang di bawa oleh Xia Lian An.
Xia Lian An senang karena Min'er bisa menerima semua kenyataan dengan besar hati dan kuat. Karena tidak semua orang bisa menerima keluarganya hancur seperti Min'er.
"Kau harus hidup dengan baik, Min'er."
Setelah beberapa menit, Min'er telah menghabiskan makanan yang di bawa oleh Xia Lian An. Xia Lian An pun senang melihat Min'er memakan semua makanan yang dia bawa itu.
"Besok ikutlah dengan kakak." Ucap Xia Lian An.
"Kakak mau kemana?"
"Kakak ingin memancing di sungai."
"Me... Memancing?"
Xia Lian An mengangguk, dia tahu Min'er dan Xia Lian An yang asli belum pernah memancing di sungai. Jadi besok dia akan mengajak adiknya itu pergi memancing untuk pertama kalinya.
"A... Apa kakak tahu cara memancing?"
"Tentu saja, aku akan mengajari mu nanti, kita pasti akan dapat ikan yang besar-besar dan banyak."
Min'er melihat kakaknya yang sangat percaya diri jika dirinya bisa memancing, itu karena selama ini dia tidak pernah melihat kakaknya memancing.
Melihat tatapan Min'er yang tidak percaya padanya, Xia Lian An menepuk bahu Min'er.
"Jika kau tidak percaya, maka besok kau harus ikut dengan kakak. Kakak akan menunjukan kehebatan kakak memancing ikan."
"Baiklah kalau begitu, kakak."
Xia Lian An mengangguk dengan pasti seraya tersenyum pada adiknya.
Setidaknya dengan mengajak Min'er pergi memancing, bisa sedikit menghiburnya dari kejadian kemarin.
"Nona, nona." Suara Xiao Wei terdengar, dan tak lama dia sudah berdiri di depan pintu kamar Min'er.
"Ada apa, kenapa kau berlari seperti itu?"
"Nona, seseorang mencari anda. Dia berkata jika dia ingin menyewa restoran anda."
"Menyewa restoranku?"
"Benar nona."
Xia Lian An dan Min'er saling menatap sejenak, mereka lalu berjalan keluar dari kamar Min'er untuk menemui orang yang di katakan oleh Xiao Wei.
"Maaf. Apakah anda adalah nona Xia, pemilik restoran yang ada di samping pasar itu?" Tanya seorang laki-laki setelah bertemu dengan Xia Lian An dan Min'er.
"Benar tuan, saya adalah pemilik restoran itu. Nama saya Xia Lian An."
"Begini nona, keluarga saya bermarga Lu. Satu-satunya keluarga bermarga Lu di kota ini.... Jadi nona Xia, minggu depan saya ingin mengadakan pesta pertunangan dengan calon istri saya. Dikarenakan rumah calon istri saya sedang dalam renovasi, jadi kami tidak bisa mengadakan pesta pertunangan kami di rumahnya. Dan saya kemari... Ingin menyewa restoran nona Xia, untuk tempat pesta pertunangan saya dan calon istri saya tiga hari lagi."
Xia Lian An terdiam, dia sedang memikirkan untuk setuju atau tidak dengan apa yang laki-laki bermarga Lu itu katakan.
"Begini tuan Lu, saya bisa saja menyewakan restoran saya kepada anda satu hari. Tapi... Saya ingin anda juga menggunakan semua pekerja dan koki yang ada di restoran saya itu."
"Baik nona Xia, saya setuju."
"Dan untuk harga...."
"Saya akan memberikan 50 koin emas ini untuk menyewa restoran anda dan semua pekerja anda dalam satu hari." Tuan Lu memberikan satu kantong berisi 50 koin emas kepada Xia Lian An.
Xia Lian An berfikir jika tuan Lu ini orang kaya yang sangat baik dan loyal. 50 koin emas hanya untuk menyewa restoran dan para pekerjanya sehari, ini terlalu banyak.
"Tuan Lu, harga yang saya berikan adalah 30 koin emas. Jadi anda simpan saja kembali 20 koin emas milik anda." Ucap Xia Lian An.
"Tidak apa-apa nona, anggap saja sebagai ungkapan terima kasih saya dan calon istri saya, karena nona Xia bersedia menyewakan restoran milik nona Xia kepada kami."
Xia Lian An menerima kantong yang berisi 50 koin emas itu dari tuan Lu itu.
"Baiklah tuan Lu, terim kasih. Saya akan memberitahu para koki untuk menghidangkan makanan yang terbaik saat pesta pertunangan tuan Lu dan calon istri tuan Lu nanti."
"Terima kasih nona Xia."
"Dan juga, selamat atas pertunangan anda dan calon istri anda. Semoga kalian selalu bahagia selamanya."
"Terima kasih atas ucapan dan doa dari nona Xia. Kalau begitu saya pamit, nona Xia."
"Silahkan tuan Lu."
Laki-laki bernama tuan Lu itu pergi meninggalkan rumah Xia Lian An.
"Sepertinya, restoran kakak akan semakin terkenal setelah pesta pertunangan tuan Lu nanti, dan banyak yang akan ikut menyewa restoran kakak."
"Ini adalah awal yang baik, kakak yakin kita akan bisa berdiri dengan kemampuan yang kita miliki."
"Kakak benar, aku sangat mengagumi kehebatan kakak dalam usaha ini."
"Kau juga harus membantu kakak mengawasi penginapan baru."
"Tentu kak, aku akan selalu membantu kakak."
"Bagus kalau begitu, mulai sekarang kita akan hidup dan berusaha bersama."
"Tapi... Bagaimana kalau putra mahkota negara Ming itu masih ingin menikah dengan kakak, apa kakak akan pergi dari kota Yu dan tinggal di negara Ming?"
"Kau tahu kenapa kakak memilih kota ini sebagai tempat yang kakak pilih untuk melanjutkan hidup setelah keluar dari istana, dari pada kota-kota lain yang kau pilihkan, Min'er?"
Min'er menggelengkan kepalanya.
"Karena kota Yu ini adalah tempat kelahiran kakak, di kota ini kakak dan ibu tinggal dulu. Dan di kota Yu ini juga, kakak di lahirkan oleh ibu kandung kakak dengan susah payah yang di bantu orang-orang disini. Karena itu, kakak ingin menetap dan tinggal di kota Yu ini. Kakak ingin hidup di kota ini sampai kakak meninggal."
"Jadi, apakah kakak akan menolak putra mahkota negara Ming itu?"
"Dia adalah calon kaisar negara Ming, dia harus tinggal di dalam istananya. Dan pasti tidak mungkin untuk tinggal di kota Yu yang masih dalam wilayah negara Qin ini."
"Tapi... jika dia mau hidup dengan kakak disini, bagaimana?"
"Kau ini, jangan asal....."
Xia Lian An tidak melanjutkan ucapannya saat melihat putra mahkota Zhang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya yang masih terbuka.
Semua yang Min'er katakan adalah untuk memancing jawaban dari Xia Lian An jika putra mahkota Zhang tetap ingin menikahinya. Namun belum tahu alasannya, Xia Lian An sudah melihat putra mahkota Zhang berdiri disana.
"Kenapa kau berhenti bicara nona Xia? Aku juga ingin tahu alasanmu yang lainnya, selain kota Yu ini adalah tanah kelahiranmu."
"Tu... Tuan Jiang, sejak kapan kau.... Ada disana?"
"Sejak nona Xia berkata jika kota Yu ini adalah kota dimana nona Xia di lahirkan, dan saya tidak mungkin tinggal dikota yang masih dalam wilayah negara Qin.
Xia Lian An terdiam, putra mahkota Zhang mengatakan hampir semua yang dia katakan pada Min'er tadi. Jadi itu artinya, dia sudah cukup lama berada di depan gerbang rumah Xia Lian An tanpda dia tahu.
Xia Lian An hanya bisa tersenyum canggung pada putra mahkota Zhang. Itu karea dia tidak tahu jika putra mahkota Zhang sudah ada di depan rumahnya saat dia memberikn jawaban atas pertanyaan yang Min'er tanyakan padanya.
Jika saja dia tahu sejak awal kalau putra mahkota Zhang ada disana, dia akan lebih memilih untuk tidak menjawabnya.
Putra mahkota Zhang berjalan mendekati Xia Lian An, Min'er yang melihat itu perlahan berjalan pergi meninggalkan kakaknya dengan putra mahkota Zhang.
"Em.... Tuan Jiang."
"Iya nona Xia." Ucap putra mahkota Zhang sambil terus berjalan ke arah Xia Lian An.
"Aku akan membuatkan teh untuk mu, silahkan ke aula rumah, tuan Jiang." Xia Lian An mencoba mengalihkan penbicaraan.
Putra mahkota Zhang yang tahu jika Xia Lian An sudah panik, dan sedang mengalihkan pembicaraan mereka hanya tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, jika itu keinginan nona Xia."
Xia Lian An tersenyum dengan kaku pada putra mahkota Zhang sebelum dia berjalan lebih dulu di depan putra mahkota Zhang.
Putra mahkota Zhang melihat Xia Lian An berjalan lebih cepat dari biasanya.
"Saat dia sedang panik seperti itu, dia terlihat sangat menggemaskan."