
Xia Lian An yang hari ini akan kembali ke negara Qin merasa ragu untuk naik ke atas kereta. Pasalnya dia pasti akan mengalami yang namanya mabuk perjalanan lagi, seperti saat dia berangkat ke negara Ming.
"Nona, apa yang sedang nona pikirkan, kenapa tidak naik ke dalam kereta?" Tanya Xiao Wei yang melihat nona nya belum naik juga ke kereta.
"Em... Xiao Wei, sepertinya lebih baik aku naik kuda saja." Ucap Xia Lian An dengan senyum canggungnya.
"Naik kuda? Nona, perjalanan kita sangat jauh. Nona akan merasa lebih lelah jika harus menaiki kuda."
Xia Lian An menggeleng "Tidak, aku merasa akam lebih baik naik kuda. Aku akan naik ke dalam kereta saat aku lelah nanti."
"Nona."
"Untuk sekali ini, Xiao Wei."
Xiao Wei yang melihat Xia Lian An benar-benar tidak mau naik ke dalam kereta mengalah, dan dia menganggukan kepalanya.
Xia Lian An tersenyum bahagia, karena dia tidak perlu lagi naik kereta kuda yang akan membuatnya pusing dan mual itu.
Xiao Wei lalu berkata kepada pengawal bayangan putra mahkota Zhang untuk menyediakan satu lagi kuda untuk Xia Lian An.
Saat mengetahui itu, pengawal bayangan sempat terkejut. Tapi kemudian dia pergi meninggalkan Xiao Wei dengan kereta kuda dan yang lainnya.
Xiao Wei kembali pada Xia Lian An.
Tak berselang lama, putra mahkota Zhang datang dan di belakangnya ada pengawal bayangan yang tadi berbicara dengan Xiao Wei.
"Tuan Jiang?" Ucap Xia Lian An.
Putra mahkota Zhang berdiri di depan Xia Lian An dan menatapnya.
"A... ada apa tuan Jiang?" Tanya Xia Lian An dengan sedikit gugup.
"Aku dengar kau ingin naik kuda sendiri kembali ke negara Qin?"
Xia Lian An menatap Xiao Wei, dan Xiao Wei menundukkan kepalanya di tatap oleh nona nya.
"Nona Xia?"
"Ah, I..iya tuan Jiang. Saya ingin menaiki kuda sendiri."
"Kenapa, apakah kereta yang aku siapkan tidak cukup nyaman?"
Xia Lian An menggelengkan kepalanya cepat "Tidak, tidak. Bukan seperti itu, tuan Jiang."
"Jadi kenapa nona Xia tidak mau naik ke dalam kereta kuda yang sudah aku siapkan?"
"Sebenarnya.... Sebenarnya saya mabuk perjalanan dengan kereta." Ucap Xia Lian An pelan.
Putra mahkota Zhang menatap Xia Lian An dengan bingung. Di zaman ini ada orang yang mabuk perjalanan menggunakan kereta, padahal kereta adalah satu-satunya kendaraan yang bisa di pakai di daratan.
"Nona Xia..."
"Aku berkata yang sebenarnya, tuan Jiang. Aku tidak bisa berlama-lama duduk di dalam kereta yang berguncang."
Putra mahkota Zhang menghela nafas, dia sedang berfikir cara agar Xia Lian An tidak menaiki kudanya sendiri saat kembali ke negara Qin. Itu terlalu berbahaya.
"Tuan Jiang, biarkan aku memakai kuda sendiri. Aku tidak akan terluka." Ucap Xia Lian An lagi.
"Itu tidak mungkin nona Xia. Akan ada banyak bahaya di luar sana." Ucap sang ratu yang baru saja sampai.
"Yang mulia." Ucap Xia Lian An sambil memberi hormat.
"Jiang'er. Mungkin lebih baik kau ikut mengantar nona Xia ke negara Qin."
"Tidak perlu yang mulia, putra mahkota tidak perlu mengantar saya." Ucap Xia Lian An dengan cepat.
"Jika ibu ratu berkata demikian, kalau begitu saya...."
"Kakak tidak boleh pergi kemanapun!" Ucap seseorang dengan lantang.
Ratu, putra mahkota Zhang dan Xia Lian An menoleh ke arah orang yang berbicara.
Ruan Yi yang tadi melarang putra mahkota Zhang untuk pergi, berjalan mendekat dan berdiri di samping sang ratu.
"Ruan Yi, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya ratu.
Putra mahkota Zhang menatap Ruan Yi, dia tidak suka jika ada orang lain yang ikut campur dengan urusannya. Terlebih jika itu mneyangkut Xia Lian An.
"Kau tunggulah disini, aku akan meminta pelayanku untuk bersiap." Ucap putra mahkota Zhang tanpa peduli dengan ucapan Ruan Yi tadi.
"Kakak Jiang, aku bilang kakak tidak boleh pergi dengan wanita ini." Ucap Ruan Yi sambil menatap Xia Lian An dengan tidak suka.
"Ini urusanku, lagi pula aku akan mengantarkan calon permaisuri ku kembali. Jadi apa salahnya?"
Kedua mata Ruan Yi membulat karena terkejut, begitu juga dengan Xia Lian An yang sama terkejutnya.
"Kakak Jiang, apa maksud kakak? Wanita rendahan ini...."
"Ruan Yi! Aku sudah berkata tadi, jika nona Xia adalah calon permaisuri ku. Jadi kau harus menghormatinya dan belajarlah untuk memanggilnya kakak."
Putra mahkota Zhang yang kesal pada Ruan Yi berbalik dan pergi menuju istananya.
Ruan Yi menatap benci pada Xia Lian An.
"Bibi ratu, bibi sangat mengerti bagaimana perasaanku pada kakak Jiang selama ini. Aku yang lebih pantas menjadi istri kakak Jiang." Ruan Yi memegangi lengan ratu sambil merengek.
"Kau ini, kakak Jiang mu hanya menganggapmu sebagai adiknya. Kau juga adalah keponakan ku sendiri. Kau harus mengerti itu, Ruan'er."
"Tapi bibi ratu..."
"Sudah, kakak mu sudah memutuskan untuk menjadikan nona Xia sebagai calon permaisurinya. Jadi kau harus menghormati keputusannya, dan jangan berulah."
"......Baik bibi ratu."
Ruan Yi menatap Xia Lian An dengan tatapan penuh permusuhan, dan Xia Lian An membalas tatapan itu dengan tatapan biasa.
"Wanita rubah ini, aku tidak akan membiarkan mu bersama dengan kak Jiang, dasar penggoda!"
Xiao Wei yang melihat tatapan benci Ruan Yi, merasa akan ada hal yang tidak baik pada Xia Lian An.
Tidak sampai 15 menit, putra mahkota Zhang kembali dengan pakaian yang berbeda dan dia datang dengan seorang pelayan yang selalu ada di sampingnya.
"Yang mulia, anda tidak perlu mengantar saya ke negara Ming. Saya sungguh tidak...."
Xia Lian An terdiam setelah putra mahkota Zhang menggandeng tangannya dan membawanya ke depan kereta kuda.
"Ayo masuk, kita akan tiba di kota yang berada di luar pintu gerbang sebelum malam, jika kita berangkat sekarang. Jadi kita bisa menginap disana." Ucap putra mahkota Zhang pada Xia Lian An.
"Tapi yang mulia...."
"Berhenti berbicara dan memanggilku dengan sebutan itu, cepat naik."
Xia Lian An menatap ratu seolah meminta izin untuk pergi, ratu yang melihat itu menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Setelah memastikan Xia Lian An duduk dengan baik di dalam kereta, putra mahkota Zhang berpamitan kepada sang ratu.
Sraaaak
Tirai pintu kereta terbuka, putra mahkota Zhang masuk dan duduk di samping Xia Lian An.
"Yang... Tuan Jiang, kau sungguh akan ikut dengan ku ke negara Qin?" Xia Lian An menatap putra mahkota Zhang dengan penuh tanya.
"Tentu saja, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu selama di perjalanan."
"Kau tidak perlu...."
Putra mahkota Zhang menarik tubuh Xia Lian An dalam pelukannya.
"Berhenti berbicara, aku sudah memutuskan hal ini. Jadi aku akan melakukannya."
Xia Lian An hanya mengangguk dalam pelukan putra mahkota Zhang.
Kereta mulai bergerak meninggalkan istana kerajaan negara Ming menuju ke negara Qin.
Ratu melihat kereta itu dengan bahagia, karena pada akhirnya putranya benar-benar telah memilih seorang wanita yang akan menjadi permaisurinya kelak.
Sementara Ruan Yi yang ada di samping ratu, melihat dua kereta kuda itu dengan perasaan kesal dna benci.