King's Regrets

King's Regrets
Eps 51



Di istana kerajaan negara Qin, permaisuri Rui yang di temani oleh selir Nuan sedang menikmati teh hangat mereka.


Permaisuri Rui memperkirakan jika saat ini selir Ning pasti sudah berada di luar wilayah negara Qin dan juga negara Ming.


"Sepertinya, selir Ning akan mendapatkan sedikit pelajaran di luar istana." Ucap permaisuri Rui.


"Maksud yang mulia?" Tanya selir Nuan sambil meletakan gelas teh nya.


"Jika di lihat, kemungkinan saat ini selir Ning telah berada di suatu tempat diluar wilayah dua negara (negara Qin dan negara Ming). Bukankah disana akan banyak bandit atau perampok?"


Selir Nuan mengangguk " Yang mulia benar. Tapi... Jika terjadi sesuatu pada selir Ning di luar sana, yang mulia kaisar pasti akan mendapat kesulitan dari keluarga selir Ning dan para pendukungnya."


"Kau benar. Karena itu, sebelum mereka melakukan apa yang mereka inginkan pada selir Ning, aku memerintahkan dua orang pengawal hebat untuk mengikuti selir Ning dan dua pengawal itu akan mencegah mereka melakukan sesuatu pada selir Ning di luar sana."


"Jika seperti itu, kita bisa menjadikan keluarnya selir Ning dari istana sebagai bukti, bahwa dia sudah melanggar aturan istana."


"Benar, keluarga selir Ning pasti akan membelanya, tapi tanpa mereka tahu, kita telah memiliki bukti penggelapan sebagian besar pendapatan negara yang sudah ayah selir Ning lakukan, yang putri tertua berikan pada kita."


"Hari dimana mereka membela selir Ning pun, akan menjadi hari terakhir mereka di dalam istana ini."


"Bukan hanya di dalam istana, yang mulia tidak akan mengampuni keluarga selir Ning atas kasus ini, apalagi saat yang mulia tahu, jika mereka terbukti berkolusi dalam meracuni permaisuri Yan dulu."


"Keluarga selir Ning itu, yang sulit di tangani."


"Selir Nuan, kelak aku ingin pergi mengunjungi permaisuri Yan setelah bayi ini lahir. Apa kau ingin pergi bersamaku?"


"Tentu saja yang mulia, saya sudah sangat merindukan permaisuri Yan."


Permaisuri Rui menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Permaisuri Yan, sebentar lagi semua akan berakhir. Kita semua akan mulai hidup dengan bahagia bersama."


***


Sementara kaisar Shun dan Xia Lian An sudah sampai di negara Ming, selir Ning yang diam-diam menyelinap keluar dari negara Qin dengan menggunakan seekor kuda yanh dia beli, masih berada di tengah perjalanan.


Selir Ning yang pergi sendirian tidak tahu harus pergi kemana, dia kehilangan jejak kereta kaisar Shun yang berjalan begitu cepat.


Saat ini selir Ning tengah duduk di bawah pohon untuk beristirahat, karena cuaca hari ini cukup panas. Namun dia tidak menyadari, jika dia tengah di awasi oleh beberapa orang yang sudah mengikutinya sejak dia keluar dari kota terakhir dia singgahi.


"Benar-benar s*alan! Kenapa kereta kaisar sangat cepat jalannya. Dan kuda ini, kenapa juga jalannya semakin lambat saja." Gerutu selir Ning sambil menatap kuda yang dia naiki dengan kesal.


Sraaaak


Selir Ning mendengar suara dari balik rumput yang cukup lebat dan tinggi, dia lalu berdiri untuk melihat siapa di balik rerumputan itu.


"Anda sedang mencari apa nona?"


Selir Ning segera berbalik ketika mendengar suara laki-laki dari arah belakang tubuhnya.


"Si.... siapa kalian, dan mau apa kalian?"


Selir Ning mundur beberapa langkah melihat tiga orang laki-laki dengan pakaian sederhana namun terkesan seperti sekelompok bandit berada di depannya.


"Kami hanya pengembara yang kebetulan lewat, dan kami melihat nona sendirian duduk disini. Jadi kami menghampiri nona."


"Lebih baik kalian pergi! Jika tidak kalian akan menyesal!"


Para laki-laki tak di kenal itu saling memandang dan tertawa bersama melihat selir Ning marah.


"Nona, tidak baik pergi sendirian di tempat seperti ini. Lebih baik kami menemani perjalanan nona. Bagaimana?"


"Aku tidak butuh kalian, lebih baik kalian pergi!"


Ketiga laki-laki itu bukannya takut malah semakin tertawa, seolah sudah menemukan mainan baru.


Merasa dirinya terpojok, selir Ning mencari cara agar dia bisa pergi dari tempat itu. Dia lalu melihat ke arah kudanya, bermaksud akan kabur dengan kuda itu.


Saat ketiga laki-laki tengah tertawa, selir Ning berjalan mendekati kuda miliknya. Tapi sayang, suara langkah kakinya terdengar dan membuat ketiga laki-laki tersadar jika selir Ning akan kabur.


"Nona, anda mau kemana?" Ucap salah seorang laki-laki itu sambil menghalangi jalan selir Ning.


"Minggir kalian, aku adalah seorang selir istana. Beraninya kalian padaku!"


"Hahaha jika kau adalah selir istana, maka aku adalah putra mahkota, nona. Hahaha!"


"Benar, benar. Dan aku adalah seorang kaisar hahaha."


Selir Ning sangat takut melihat mereka bertiga, selama ini dia tidak pernah bertemu dengan orang-orang seperti mereka.


"S*al! Aku harus lepas dari mereka. Sekarang kaisar pasti sudah sampai di istana negara Ming dan bertemu dengan si j*lang itu disana."


Selir Ning lalu mengeluarkan kantong uang miliknya yang dia bawa.


"Aku mempunyai banyak uang disini, kalian bisa mengambilnya. Tapi biarkan aku pergi." Uca selir Ning pada ketiga laki-laki itu.


"Nona, apa kau pikir uang yang sedikit itu bisa untuk makan kami bertiga selama satu minggu? Hahaha."


"Nona, ikut saja dengan kami. Kami akan menjaga nona di jalan dengan baik."


"Benar, nona."


"Sudah aku katakan, aku adalah seorang selir istana. Berani sekali sekali kalian lancang padaku!" Seru selir Ning yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Ketiga laki-laki itu menatap selir Ning dengan tajam, dan salah satu di antara mereka mendekati selir Ning.


"Kau ini hanya wanita rendahan, beraninya membentak kami!"


Plak!


Satu tamparan keras membuat selir Ning jatuh keatas tanah.


Selir Ning memegangi pipinya yang tadi tampar, di sudut bibir kirinya ada sedikit darah akibat tamparan laki-laki tadi. Dan perutnya yang masih sedikit kram, mulai terasa sakit lagi.


"Jika kau masih tidak menurut pada kami, kami akan menyiksamu sebelum menjualmu ke rumah budak!"


Selir Ning menggelengkan kepalanya mendengar ancaman dari mereka. Air matanya mengalir, dan tubuhnya gemetar dengan hebat. Dia teringat apa yang pernah di ucapkan oleh permaisuri Yan dulu.


"Kau akan mengalami hal yang lebih menyakitkan dan lebih hina dari apa yang pernah aku alami, selir Ning."


(Ucapan permaisuri Yan dulu)


Selir Ning yang mengingat perkataan itu berfikir, jika tiga orang yang ada di depannya saat ini adalah orang suruhan dari permaisuri Yan untuk melecehkannya.


"Kalian, kalian pasti orang yang di perintahkan oleh Qing Lian untuk mencelakai ku. Beraninya kalian!" Ucap selir Ning pada ketiga laki-laki itu.


Mereka yang tidak tahu maksud dari perkataan selir Ning saling manatap, tapi karena melihat tatapan selir Ning pada mereka itu, membuat mereka tidak suka.


"Beraninya kau menatap kami dengan tatapan seperti itu!"


"Aaaaakh!" Teriak selir Ning saat salah satu laki-laki itu menarik rambutnya hingga kepalanya mendongak.


"Kami sudah baik-baik meminta untuk menanimu, tapi kau tidak mau. Jadi jangan salahkan kami jika kami akan menemani mu dengan kasar, nona." Ucap laki-laki yang menarik rambut selir Ning.


Selir Ning menggelengkan kepalanya "Tidak, lepaskan aku. Kalian akan menyesal jika melakukan sesuatu padaku!"


"Dasar wanita tidak tahu diri!"


Plak!


Lagi satu tamparan mendart di pipi selir Ning.


Tubuh selir Ning di lempar dan tersungkur diatas tanah. Sementara ketiga orang itu mendekati selir Ning bersamaan.


Selir Ning yang melihat mereka mendekat, menggelengkan kepalanya dan merangkak mencoba menjauh dari mereka.


"Kau akan menyesal karena tidak menurut pada kami, nona."


"Tidak pergi kalian!"


Selir Ning melemparkam sebuah batu kearah mereka.


Ketiga laki-laki yang semakin kesal dengan selir Ning, menendang perut selir Ning, sehingga membuat selir Ning berteriak dengan sangat kencang dan seketika dia tidam sadarkan diri karena tidak bisa menahan rasa sakit pada perutnya.