
"Nona, nona. Nona Xia."
Xiao Wei berlari sambil memanggil-manggil nama Xia Lian An.
Xia Lian An yang mendengar itu keluar dari dalam kamarnya dan melihat Xiao Wei berlari ke arahnya.
"Ada apa Xiao Wei, kenapa kau terburu-buru seperti itu?"
Xiao Wei berhenti tepat di depan Xia Lian An, dia mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"No... Nona, tuan putri.. Tuan putri datang, dia... Dia.."
"Bicaralah yang benar Xiao Wei, ada apa dengan kakak tertua?"
Xiao Wei menarik nafas lalu menghembuskannya pelan.
"Nona, tuan putri datang, dia... Dia terluka."
"Apa, kakak tertua terluka? Dimana dia sekarang?"
"Di dalam kereta, nona. Kakinya terkena panah."
"Ayo cepat kita kesana!"
Xia Lian An berjalan dengan cepat menuju kereta yang di naiki oleh putri tertua, di ikuti Xiao Wei di belakangnya.
"Kakak, apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kenapa dengan kaki kakak?" Ucap Xia Lian An begitu melihat putri tertua di kereta.
"Aku akan menceritakannya nanti, sekarang bantu aku dulu."
"Ah, iya."
Xia Lian An di bantu Xiao Wei memapah putri tertua turun dari kereta, dan membawanya ke salah satu kamar yang ada di rumah Xia Lian An.
"Xiao Wei, ambilkan air hangat dan panggilkan tabib kesini."
"Baik nona."
Setelah Xiao Wei pergi, Xia Lian An melihat kaki putri tertua yang masih terdapat mata panah dan kayu yang menancap disana.
Dengan hati-hati, Xia Lian An merobek pakaian yang putri tertua kenakan, dan sekarang terlihat jelas panah yang menancap pada kaki putri tertua itu.
"Nona, ini air hangatnya. Saya akan memanggil tabib sekarang." Ucap Xiao Wei.
Xia Lian An, memeras kain yang sudah ada di dalam wadah berisi air hangat itu, lalu mengelap kaki putri tertua yang kotor terkena cipratan darah.
"Kakak, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Tanya Xia Lian An.
"Seseorang tahu aku mempunyai bukti kejahatan dari salah satu menteri. Lalu saat aku akan kesini, aku di kejar oleh orang suruhannya. Mereka yang tidak bisa mengejarku memanah ke arahku, dan kakiku terkena panah mereka."
Xia Lian An melihat luka yang putri tertua miliki.
"Nona, tabib sudah ada di sini." Ucap Xiao Wei yang datang membawa tabib.
Tabib itu langsung mendekati putri tertua, dan melihat kakinya.
"Saya akan mencabut sisa anak panah ini dari kaki nona, mohon untuk menahan rasa sakitnya." Ucap tabib itu.
"Baik, lakukanlah."
Tabib itu lalu memegang patahan panah yang menancap pada kaki putri tertua, dan dengan kuat menarik keluar panah itu dari kaki putri tertua.
"Aaaaaakhhh!!!!" Jerit kesakitan putri tertua terdengar cukup keras.
Tabib itu langsung memberikan bubuk untuk menghentikan darah yang keluar dari kaki putri tertua, dan menutupnya dengan kain.
"Pergi dan beli obat juga ramuan sesuai dengan yang ada didalam resep ini, aku sangat membutuhkan ramuan itu sekarang." Tabib memberikan sebuh resep pada Xia Lian An.
"Xiao Wei kau pergi ke toko obat yang ada di tengah pasar sekarang."
"Baik nona."
Xiao Wei pun segera pergi untuk membeli obat yang ada pada resep itu.
Sementara itu, tabib memberikan akupuntur pada kaki putri tertua agar rasa sakitnya berkurang.
"Tabib, apa panah itu beracun?" Tanya Xia Lian An.
"Untungnya ini tidak beracun. Tapi aku harus memberinya obat agar lukanya tertutup dengan sempurna secepatnya."
Putri tertua merasa begitu beruntung karena meski Xia Lian An bukan lagi adik iparnya, tapi Xia Lian An masih peduli kepadanya.
"Nona, tolong siapkan wadah. Aku akan langsung membuat ramuan setelah pelayan anda kembali membeli obat." Ucap sang tabib.
"Baik tabib."
Xia Lian An keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil wadah yang tabib perlukan.
Begitu mendapatkan wadah yang di cari, Xia Lian An kembali ke kamarnya dan melihat jika Xiao Wei sudah ada di dalam kamar.
"Ini wadah yang anda minta, tabib."
Tabib itu menerima wadah dari Xia Lian An, dan membuka satu bungkus obat yang Xiao Wei bawa. Kemudian tabib itu meracik ramuan itu hingga menjadi bubuk yang tidak begitu lembut.
Tabib itu memasukan obat lain kedalam wadah lalu mengaduknya, dan terakhir dia mengambil satu genggam ramuan itu dan menambahkan sedikit air.
Setelah itu, tabib langsung menempelkan ramuan yang dia buat tadi di atas kain tipis yang menutupi luka putri tertua, dan menutupinya dengan beberapa helai kain lagi lalu mengikatnya.
"Biarkan itu selama dua hari, setelah itu baru boleh membuangnya. Dan biarkan luka itu terbuka, agar cepat kering. Obat ini, kau harus merebusnya selama 30 menit dengan api sedang, Lalu berikan padanya untuk di minum selagi hangat."
"Baik tabib, terima kasih atas pertolongan tabib." Ucap Xia Lian An kepada tabib.
Xiao Wei lalu mengantar tabib itu sampai di depan rumah Xia Lian An.
"Lian'er, terima kasih atas bantuanmu." Ucap putri tertua.
"Kakak, sudah seharusnya aku melakukan itu."
Putri tertua mengangguk.
"Baiklah, aku akan meminta Xiao Wei untuk merebus obatnya. Kakak beristirahatlah dulu."
"Iya."
Putri tertua melihat Xia Lian An keluar dari kamar itu sambil membawa beberapa bungkus obat.
"Xuan Yi, kau benar-benar sudah kehilangan Lian'er sepenuhnya."
Kepergian Xia Lian An ke negara Ming beberapa hari yang lalu sudah di dengar oleh putri tertua, dan dia tahu jika kaisar Shun tidak akan pernah lagi mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Xia Lian An.
Banyak orang yang menyayangkan hal itu. Bukan hanya putri tertua dan raja kecil. Bahkan pangeran Xia pun juga merasa seperti itu.
Tapi semuanya sudah terjadi, dan kaisar Shun hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan pada Xia Lian An dulu.
Sekarang bahkan Xia Lian An tidak ingin mengungkit nama kaisar Shun di depan putri tertua, meskipun mereka berdua tahu jika saat ini kaisar Shun tengah terluka.
***
Di istana kerajaan, putra mahkota Zhang datang dan saat ini tengah duduk bersama dengan pangeran Xia di dalam kamar kaisar Shun.
Pangeran Xia melihat kantong wewangian yang ada di pinggang putra mahkota Zhang. Itu adalah kantong wewangian pemberian Xia Lian An yang kemarin kaisar Shun ceritakan padanya.
"Kau sangat cepat datang kesini putra mahkota Zhang, bukankah jarak negara Qin dan negara Ming cukup jauh?" Ucap pangeran Xia.
Putra mahkota Zhang tersenyum "Kau benar. Tapi sebenarnya, sudah beberapa hari ini aku berada di kota Yu, setelah mengantar nona Xia kembali dari negara Ming."
Kaisar Shun merasa tidak nyaman saat mendengar jika putra mahkota Zhang mengantar Xia Lian An langsung ke kota Yu.
"Kau begitu mempunyai banyak waktu, putra mahkota Zhang."
"Aku akan selalu mempunyai banyak waktu jika itu berurusan dengan nona Xia."
Putra mahkota Zhang terus mengatakan hal yang tidak ingin kaisar Shun dengar, dia ingin membuat kaisar Shun sadar jika dirinya tidak mempunyai kesempatan untuk bersama dengan Xia Lian An lagi.
"Apa hubungan kalian berdua sudah semakin dekat?" Ucap kaisar Shun pada putra mahkota Zhang.
Putra mahkota Zhang mengangguk "Kami sedang menjalani sebuah hubungan yang akan membuat aku dan nona Xia saling mengenal satu sama lain. Karena aku dan nona Xia tidak ingin ada kesalahpahaman kelak."
Kaisar Shun mengangguk mengerti.
"Ternyata mereka sudah sejauh itu. Qing Lian, benarkah kau tidak bisa memberikan aku kesempatan lagi?"
Putra mahkota Zhang melihat perubahan pada wajah kaisar Shun, dan itu membuatnya merasa jika apa yang dia lakukan adalah benar.
Semua yang pernah kaisar Shun lakukan pada Xia Lian An akan menjadi sebuah kenangan. Dan putra mahkota Zhang tentu tidak ingin kenangan itu akan membuat dua orang yang tidak akan mungkin bersama bisa menjalin hubungan lagi.