
Dari mulai part ini nama selir Zhu akan berganti menjadi permaisuri Rui.
Hari terus berganti, selir Zhu yang sudah menjadi permaisuri Rui juga telah mendapatkan kehormatannya dari para pejabat istana juga dari para pelayan dan pengawal di istana.
Setiap pagi dan sore kaisar Shun akan membawa permaisuri Rui ke aula istana untuk menerima salam dari para pejabat istana.
Dulu permaisuri Yan tidak pernah mengalami hal itu, tentu saja permaisuri Rui tidak ingin dia mengalami hal yang sama. Dengan para pejabat istana memberi hormat padanya, itu juga bisa membuat selir Ning semakin tidak senang.
Sore ini setelah dari aula istana untuk menerima salam dari para pejabat, permaisuri Rui kembali ke istana Yue Ji dengan pelayan setianya.
"Permaisuri Rui."
Permaisuri Rui berhenti melangkah, dia membalikan tubuhnya dan melihat putri tertua sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Salam kepada yang mulia putri tertua." Ucap permaisuri Rui sambil memberi hormat pada putri tertua.
Putri tertua melihat permaisuri Rui begitu sopan seperti permaisuri Yan, dan itu membuatnya senang.
"Tidak perlu seperti itu padaku, panggil saja aku kakak tertua seperti Lin'er memanggilku."
Permaisuri Rui menganggukan kepalanya.
"Baik, kakak tertua. Sepertinya kakak kemari mempunyai keperluan."
"Iya, kau benar."
"Kalau begitu, silahkan. Kita bisa berbicara di dalam."
"Baiklah."
Permaisuri Rui dan putri tertua berjalan masuk kedalam istana Yue Ji, dan duduk di kursi yang ada di salah satu ruangan di dalam kamar permaisuri Rui.
"Jika boleh saya tahu, keperluan apa yang sudah membuat kakak tertua datang dari kota Zo kesini?" Ucap permaisuri Rui dengan hati-hati.
Melihat permaisuri Rui yang sepertinya takut pada dirinya, putri tertua pun tertawa.
"Kau, apa kau begitu takut padaku? Kau sangat kaku sekali."
"Maafkan saya kakak tertua."
"Tidak perlu minta maaf, aku tahu bagaimana rasanya menjadi dirimu sekarang ini."
Permaisuri Rui terdiam, bagaimana pun ini kali pertama dia dan putri tertua berbicara langsung. Biasanya dia hanya akan memberi hormat lalu pergi dari hadapan putri tertua.
"Aku kesini untuk memberikan ini." Putri tertua meletakan dua kotak diatas meja.
"Itu...."
"Ini adalah hadiah dari Lian'er untuk mu, dia juga meminta maaf karena tidak bisa mengucapkan selamat atas kau yang sudah menjadi permaisuri Rui."
Putri tertua mendorong kotak dengan penutup kain berwarna emas kepada permaisuri Rui.
Permaisuri Rui menerima kotak itu, lalu membukanya dengan pelan.
"Ini, gelang ini..."
Putri tertua tidak tahu perihal tentang gelang giok itu, tapi putri tertua yakin gelang itu pasti mempunyai cerita tersendiri bagi mereka.
"Dan yang ini, tolong permaisuri berikan pada selir Nuan. Ini juga dari Lian'er."
Putri tertua mendorong kotak dengan penutup kain berwarna hijau pada permaisuri Rui.
"Kakak tertua, bagaimana keadaan permaisuri Yan sekarang?"
Putri tertua sempat terkejut mendengar permaisuri Rui masih memanggil Xia Lian An dengan sebutan permaisuri Yan.
"Dia sangat baik, dia mempunyai dua toko kue yang sangat berkembang. Dia hidup begitu bahagia dengan Xiao Wei dan Xiao Fen di sampingnya."
Permaisuri Rui menganggukan kepalanya "Saya senang mendengarnya."
Putri tertua melihat mata permaisuri Rui yang merah menahan air matanya agar tidak jatuh. Mungkin ini yang di katakan meski tak sedarah namun bisa saling merasakan layaknya saudara.
"Baiklah, aku sudah memberikan benda yang Lian'er titipkan padaku untuk permaisuri dan selir Nuan. Aku masih harus menemui kaisar Shun."
"Terima kasih karena sudah membawakan gelang ini pada kami, kakak tertua."
Permaisuri Rui mengantar putri tertua hingga pintu istana Yue Ji.
"Permaisuri Yan, ternyata anda masih menyimpan gelang ini." Permaisuri Rui menggenggam erat gelang giok itu.
**
Sementara di paviliun He, kondisi selir Ning sudah mulai membaik. Tabib pun hanya sekali sehari datang ke paviliun He.
Saat ini selir Ning sedang duduk di tepi tempat tidurnya, dia manatap lurus ke depan seperti sedang memikirkan sesuatu.
Selir Ning yang masih tidak terima jika selir Zhu yang menjadi permaisuri, memikirkan cara agar posisi permaisuri kosong lagi.
Selama selir Ning masih hidup, jika dia tidak bisa menjadi permaisuri, maka orang lain pun tidak akan pernah bisa duduk di posisi itu.
Keinginan selir Ning menjadi ratu negara Qin sudah menjadi obsesi yang melekat pada dirinya, dan tidak akan melepaskan siapapun yang berani menempati posisi itu.
Pelayan selir Ning yang mendengar ucapan selir Ning terkejut, dia tidak menyangka jika yang telah membuat kaisar Shun menceraikan permaisuri Yan adalah selir Ning.
Terlebih sebelumnya dia pernah mendengar jika yang seharusnya tidak punya anak adalah Qing Lian.
"Aku harus memberitahu yang mulia kaisar, aku tidak mau terus melayani wanita yang kejam seperi selir Ning ini."
Pelayan selir Ning pergi secara diam-diam untuk menemui kaisar Shun.
Di dalam istana raja, kaisar Shun tengah berbicara dengan putri tertua di ruang baca.
"Ini adalah semua bukti dari penggelapan uang pajak di kota Yu beberapa tahun terakhir. Aku juga sudah membawa menteri keuangan kota Yu kesini untuk di adili besok."
Putri tertua memberikan beberapa buku keuangan milik menteri keuangan dan buku bukti penggelapan uang pajak yang harusnya di bayarkan.
"Beraninya dia berbuat ini di wilayah kerajaan ku!" Kaisar Shun meremas buku yang ada di tangannya.
"Untuk beberapa bulan ke depan, aku akan meminta orang untuk mengubah kota Yu. Sudah cukup mereka hidup di tekan oleh orang tidak berguna itu."
"Baiklah, silahkan kakak lakukan itu."
Putri tertua menganggukan kepalanya.
"Yang mulia, seorang pelayan dari paviliun He datang untuk menemui anda." Ucap kasim ketua yang berada diluar ruang baca kaisar Shun.
"Biarkan dia masuk." Ucap kaisar Shun dari dalam ruang baca.
Setelah mendapatkan perintah dari kaisar Shun, pelayan selir Ning itu masuk.
"Salam kepada yang mulia kaisar, salam kepada tuan putri." Ucap pelayan itu sambil membungkukan badannya.
"Katakan, apa yang terjadi lagi pada selir Ning?"
"Ampuni hamba yang mulia, hamba ingin mengatakan sesuatu tentang apa yang pernah selir Ning katakan ketika dia sendirian di dalam kamarnya."
"Apa yang dia katakan?" Tanya putri tertua.
"Selir Ning pernah berteriak sewaktu perutnya sakit, bahwa yang seharusnya tidak akan pernah punya anak adalah permaisuri Yan, dan selir Ning juga tadi berkata, jika dia akan kesulitan untuk menyingkirkan permaisuri Rui karena kondisi tubuhnya yang sekarang."
Mendengar itu, tangan kaisar Shun memcengkeram kursi dengan kuat, wajahnya berubah muram.
"Selamat yang mulia, wanita yang selama ini yang mulia sayangi dan bela, ternyata adalah wanita yang memiliki hati sangat kejam." Ucap putri tertua pada kaisar Shun.
Sudah sejak awal putri tertua tidak menyukai selir Ning, dia bisa melihat tatapan selir Ning yang sangat ambisius dan akan melakukan apapun demi mencapai keinginannya.
Bahkn putri tertua juga pernah menasehati kaisar Shun agar berhati-hati pada selir Ning, tapi tidak di dengar oleh kaisar Shun.
"Kau, apa kau benar-benar mendengar selir Ning berkata seperti itu?" Tanya kaisar Shun pada pelayan selir Ning.
"Benar yang mulia, hamba berani bersumpah. Hamba tidak berani untuk membohongi yang mulia." Pelayan itu bersujud didepan kaisar Shun, untuk menunjukan jika yang dia katakan adalah kebenaran.
"Baiklah, aku akan meminta orang untuk mengamati selir Ning, aku tidak akan memaafkan dia jika dia memang melakukan itu."
Putri tertua melihat kaisar Shun yang tengah emosi.
"Kau baru menyadari jika wanita itu berhati jahat setelah kehilangan permaisuri Yan, bukankah sangat terlambat?"
Putri tertua berdiri "Kalau begitu aku pergi dulu, setelah dua bulan aku baru akan kesini lagi." Ucap putri tertua.
"Baik, terima kasih kakak."
Putri tertua yang merasa kecewa pada kaisar Shun karena terlambat melihat kebenaran, langsung pergi meninggalkan istana raja.
Kaisar Shun yang melihat rasa kecewa pada kakaknya hanya bisa diam menahannya.
"Kau keluarlah, dan jika selir Ning melakukan sesuatu cepat laporkan padaku."
"Baik yang mulia."
Setelah membungkukan badannya, pelayan itu pergi meninggalkan ruang baca kaisar Shun.
"Selir Ning, selama ini aku sudah baik padamu. Tapi yang kau lakukan malah membuatku sangat kecewa dan membencimu." Ucap kaisar Shun dengan geram.
Kaisar Shun menatap ke sembarang arah.
"Ternyata apa yang dulu Qing Lian katakan benar, aku yang buta karena tidak bisa melihat kebenaran yang ada di depan mata. Aku yang tidak percaya pada permaisuri ku sendiri. Memang pantas kau lebih memilih meninggalkan ku yang bodoh ini."