King's Regrets

King's Regrets
Eps 26



Esok harinya sesuai dengan rencana, permaisuri Yan keluar dari istana untuk bertemu dengan adiknya di restoran yang ada di ujung pasar.


Xiao Wei juga sudah kembali ke istana setelah menemui adik permaisuri Yan.


Kali ini permaisuri Yan akan menyelinap keluar istana, karena dia tidak akan berpenampilan seperti biasanya. Melainkan seperti seorang pria.



...Ilustrasi permaisuri Yan berpenampilan sebagai pria...


"Aku merasa, aku lebih pantas memakai pakaian seperti ini dari pada pakaian yang setiap hari aku pakai." Ucap permaisuri Yan setelah Xiao Wei membantunya berganti baju.


"Yang mulia, anda tidak boleh berbicara seperti itu." Ucap Xiao Wei.


"Aku hanya bercanda Xiao Wei. Sudah, aku akan pergi sekarang. Kau tolong jaga pintu kamar."


"Baik yang mulia."


Permaisuri Yan dengan lincah keluar dari istana Yue Ji, dia melewati beberapa pelayan yang ada di dapur istana dan berhasil keluar lewat pintu belakang.


"Huh, cukup berbahaya. Tapi waktu menyelinap dengan Yu'er tidak sesulit ini." Gumam permaisuri Yan yang kini sudah berada diluar istana.


Permaisuri Yan lalu berjalan menuju restoran yang ada di ujung pasar di ibu kota.


Hanya beberapa menit untuk permaisuri Yan sampai di depan restoran itu, karena dia berjalan dengan cepat.


"Sudah ku katakan, pakaian ini sangat nyaman. Aku bisa berjalan lebih cepat."


Permaisuri Yan masuk kedalam restoran, dan langsung naik ke lantai dua untuk menemui adiknya.


Di kursi dekat jendela, permaisuri Yan melihat jika adiknya sudah berada disana sambil menikmati tehnya.


"Aku kira kau akan terlambat, ternyata kau sudah disini." Ucap permaisuri Yan saat berada didepan adiknya.


Qing Hao Min menatap orang yang berbicara padanya, matanya langsung melebar dan teh yang dia minum hampir dia muntahkan.


uhuk


uhuk


uhuk


uhuk


Permaisuri Yan menepuk punggung adiknya agar dia berhenti batuk karena tersedak air teh.


"Apa sudah lebih baik?" Tanya permaisuri Yan sambil duduk didepan adiknya.


Adiknya mengangguk, dia menatap kakaknya yang berpenampilan seperti seorang pria. Tentu saja dia sangat terkejut sampai tersedak tadi.


"Kakak?"


"Bagaimana, bukankah aku terlihat lebih tampan dari mu Min'er?"


Qing Hao Min tidak menyangka jika kakaknya akan melakukan hal di luar bayangannya, benar-benar membuat orang tidak tahu harus berkata apa.


Melihat adiknya hanya diam, permaisuri Yan memukul kepala Min'er dengan kipas yang dia bawa.


"Aw, kenapa kakak memukulku?"


"Berhenti melihatku seperti itu, kau akan dianggap menyukai ku oleh orang lain."


Mendengar itu Min'er langsung melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang melihat ke arah mereka.


"Kak, bagaimana bisa kau keluar dengan pakaian pria seperti ini?" Tanya Min'er sedikit berbisik pada permaisuri Yan.


"Ini akan memudahkan ku, lagi pula tidak ada orang yang tahu kalau ini adalah aku."


Min'er mengangguk, dia tidak ingin kena pukul lagi. Jadi hanya bisa mengiyakan apa yang kakaknya katakan.


"Jadi, untuk apa kakak meminta bertemu dengan ku disini?"


"Beberapa hari lagi di istana akan mengadakan pesta untuk menyambut datangnya festival lampion. Aku yakin selir Ning akan melakukan sesuatu, karena beberapa hari ini dia tidak berulah padaku."


"Lalu, apa rencana kakak?"


Permaisuri Yan tersenyum penuh arti pada adiknya, kemudian dia membisikan sebuah rencana pada Min'er.


Min'er mengangguk mengerti, dia ikut tersenyum setelah permaisuri Yan membisikan rencananya untuk menghadapi permaisuri Yan.


"Tapi, jika dia melakukan jebakan yang membuat kakak di lecehkan bagaimana?"


"Jika dia berani melakukan itu, maka aku akan mnegembalikannya pada selir Ning dengan lebih baik lagi."


Min'er mengangguk.


"Kak, aku merasa kau sudah sangat berubah. Apa kaisar Shun menyiksamu lagi?"


Permaisuri Yan tersenyum "Seseorang akan berubah jauh lebih kuat dan kejam setelah melewati pintu kematiannya. Dan aku sangat berterima kasih, karena dewa memberiku kesempatan untuk membalas mereka yang pernah menyakitiku."


"Aku mengerti, apapun yang akan kakak lakukan aku pasti akan mendukung dan membantu kakak."


"Terima kasih Min'er."


Min'er mengangguk.


Permaisuri Yan mengambil gelas keramik kecil lalu menuangkan teh kedalam gelas itu.


"Aku ingin lihat bagaimana kaisar akan bertindak kali ini." Ucap permaisuri Yan.


"Aku benar-benar ingin membunuhnya."


"Jangan terburu-buru."


Permaisuri Yan melihat Min'er begitu sangat menyayangi kakaknya, tapi sayang hingga meninggal kakaknya yang bodoh lebih memilih untuk bertahan dengan kaisar Shun.


"Kelak biarkan aku yang melindungi anak ini."


Permaisuri Yan meminum teh yang ada di tangannya.


"Kak. Apa kau tahu, jika putra mahkota negara Ming sudah lama menyukaimu?"


Pruuuuuut


uhuk


uhuk


uhuk


Perkataan Min'er berhasil membuat permaisuri Yan terkejut dan menyemburkan teh yang ada didalam mulutnya.


"Kakak."


Min'er mencoba membersihkan bajunya yang basah akibat semburan teh dari permaisuri Yan.


"Kau, apa yang kau katakan tadi?" Tanya permaisuri Yan.


Min'er manatap kakaknya "Kau sudah mendengarnya tadi."


"Min'er, jangan sembarangan bicara. Dia tahu siapa aku, dan tidak mungkin seperti itu."


"Kak, aku sangat tahu bagaimana seorang pria menyukai seorang wanita. Dan aku melihat dia selalu tersenyum saat melihatmu, dia juga menatapmu dengan lembut dan penuh perasaan."


"Sepertinya kau terlalu banyak membaca buku cerita."


"Tidak, aku tidak melakukan itu. Aku berkata yang sebenarnya kak."


Permaisuri Yan diam, dia mencerna apa yang adiknya katakan. Permaisuri Yan juga mengingat bagaimana perlakuan putra mahkota Zhang selama ini padanya.


"Hahh, biarkan saja. Aku masih belum bisa terlibat dengan masalah perasaan putra mahkota itu. Saat ini, aku hanya ingin membalas orang-orang yang sudah menyakitiku dengan perlahan."


Qing Hao Min mendadak merasa merinding mendengar perkataan kakanya yang penuh makna itu.


"Kalau begitu aku akan mencari orang yang akan membantu kita melakukan rencana ini, aku juga ingin melihat wajah mereka yang memalukan itu." Ucap Min'er.


"Iya, kau cari orang yang bisa di percaya."


"Baik kak."


Setelah beberapa saat berbicara, permaisuri Yan dan adiknya berpisah.


Sebelum kembali ke istana, permaisuri Yan membeli beberapa makanan yang di jual di pinggir jalan pasar. Karena saat keluar dengan Xiao Wei, dia belum mencoba semua makanan yang ada disana.


Selesai membeli makanan itu, permaisuri Yan bergegas kembali ke istana lewat pintu belakang seperti ketika dia pergi.


Setelah berhasil masuk kedalam istana, dia segera berlari ke arah kamar. Disana dia melihat Xiao Wei berdiri dengan perasaan cemas.


"Xiao Wei." Bisik permaisuri Yan pada telinga Xiao Wei.


"Aaagh!"


"Sttttttt, berhenti berteriak. Ini aku."


Melihat jika orang yang berbisik adalah permaisuri Yan, Xiao Wei langsung menutup mulutnya dengan kedua tanganya sendiri.


Permaisuri Yan langsung menarik tangan Xiao Wei dan masuk kedalam kamar. Setelah merek masuk, permaisuri Yan langsung menutup pintu dan menguncinya.


Xiao Wei melihat permaisuri Yan mengunci pintu.


"Hehehe apa kau terkejut, Xiao Wei?" Tanya permaisuri Yan.


"Tentu saja yang mulia anda membuat hamba sangat ketakutan."


Xiao Wei masih memegangi dadanya karena masih merasakan jantungnya yang berdetak dengan cepat.


"Maafkan aku. Lihatlah, aku bawakan makanan untuk mu."


Permaisuri Yan menunjukan beberapa bungkus makanan yang dia beli sebelum kembali ke istana.


"Terima kasih yang mulia. Tapi sebaiknya anda segera mengganti pakaian anda, hamba khawatir selir Ning akan datang lagi."


"Apakah dia datang?"


"Benar, tidak lama setelah yang mulia pergi, dia dan pelayannya datang dan memaksa ingin bertemu dengan yang mulia."


"Lalu, apa dia mendobrak kamarku?"


Xiao Wei menggeleng "Tidak yang mulia, selir Ning kembali setelah seorang pengawal datang dan berkata jika yang mulia kaisar mencarinya."


Permaisuri Yan mengangguk "Baiklah, sekarang kau bantu aku dulu berganti pakaian."


"Baik yang mulia."


Xiao Wei dengan cepat mengambil pakaian yang bersih untuk permaisuri Yan, lalu dia membantu permaisuri Yan berganti pakaian dan menata rambutnya.


Selesai berganti pakaian, Xiao Wei juga membantu permaisuri Yan menyimpan pakaian pria yang telah dia kenakan saat keluar istana tadi.


"Padahal aku lebih menyukai memakai pakaian pria itu. Riasan kepala ini membuat kepalaku pusing." Gumam permaisuri Yan.


Tak berapa lama kemudian, Xiao Wei datang membawakan teh dan juga beberapa piring berisi kue yang sudah permaisuri Yan beli.


"Yang mulia, isrirahatlah. Saya akan memijit kaki anda." Ucap Xiao Wei.


Permaisuri Yan berjalan ke arah Xiao Wei dan duduk di kursi panjang. Sementara Xiao Wei duduk di kursi kecil dan memangku kaki permaisuri Yan lalu memijitnya.


"Xiao Wei, apa kau tidak merasa bosan disini?" Tanya permaisuri Yan tiba-tiba.


"Yang mulia, apa yang sudah yang mulia katakan?"


"Aku merasa sangat bosan dan lelah berada di dalam istana ini. Apalagi, aku juga harus menghadapi selir Ning yang selalu ingin mneyingkirkan ku."


"Yang mulia, anda tidak boleh berkata demikian."


"Yang mulia kaisar juga sejak awal tidak menyukai ku, bahkan bekas pukulannya di tubuhku masih bisa terlihat dengan jelas."


Xiao Wei terdiam, memang benar apa yang permaisuri Yan katakan. Ada beberapa bekas pukulan kaisar Shun di punggung permaisuri Yan yang sengaja permaisuri Yan biarkan.


"Yang mulia."


"Xiao Wei."


"Iya yang mulia."


"Jika suatu hari aku keluar dari istana, apakah kau akan tetap mengikutiku?"


"Yang mulia, saya sudah mengikuti nada sejak berusia 10 tahun. Anda adalah orang yang paling baik yang saya kenal. Jadi saya akan selalu ikut dengan yang mulia."


"Meski aku tidak bisa membayarmu seperti sebelumnya?"


Xiao Wei menurunkan kaki permaisuri Yan dan langsung bersujud di depan permaisuri Yan.


"Hamba mohon jangan berkata seperti itu yang mulia, apapun yang terjadi, meski hamba harus mengorbankan nyawa hamba, hamba akan selalu mengikuti kemanapun yang mulia pergi. Hamba tidak peduli apakah yang mulia membayar hamba atau tidak."


Permaisuri Yan berdiri dan membantu Xiao Wei bangun.


"Kau sangat baik padaku. Terima kasih Xiao Wei."


Permaisuri Yan melihat air mata Xiao Wei mengalir dan membantu menyekanya. Dia merasa jika permaisuri Yan yang asli benar-benar sangat beruntung memiliki Xiao Wei di sampinya.


"Di pesta pada acara festival lampion nanti, kita akan melihat apakah kita akan tetap tinggal didalam istana atau tidak." Ucap permaisuri Yan.


"Yang mulia."


Permaisuri Yan tersenyum "Jangan khawatir, aku akan melindungi mu."


Xiao Wei kembali meneteskan air matanya. Dia merasa tidak tega dan kasihan pada permaisuri Yan yang hidup penuh dengan derita.


Dulu saat masih di kediaman perdana menteri Qing, permaisuri Yan seperti seorang putri yang tidak di anggap. Mereka lebih menyayangi Qing Hao Min, adik permaisuri Yan.


Setelah menikah dengan kaisar Shun. Hidupnya semakin memilukan, karena selalu mendapatkan hinaan dan pukulan dari kaisar Shun.


"Baiklah, ayo kita makan kuenya. Aku sengaja membeli banyak agar kau juga ikut makan bersama ku." Ajak permaisuri Yan sambil membantu Xiao Wei berdiri.


Xiao Wei merasa sangat senang, karena bisa selalu bersama dengan permaisuri Yan. Walaupun dia juga banyak mengalami hal yang tidak menyenangkan selama mengikuti permaisuri Yan didalam istana.