King's Regrets

King's Regrets
Eps 54



Sore harinya Xia Lian An mendapatkan surat dari merpati lagi, kali ini surat itu dari orang yang membantunya untuk mencegat kaisar Shun dan para pengawalnya di perjalanan menuju negara Qin.


Xia Lian An tersenyum membaca surat itu, dia lalu membakarnya agar tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang sudah dia lakukan pada kaisar Shun.


"Kita belum tahu seorang pangeran atau putri yang ada didalam kandungan permaisuri Rui saat ini. Aku harus pergi menemui seorang guru besar dan memintanya untuk berdoa, agar itu adalah bayi laki-laki, jadi kehidupan permaisuri Rui dan selir Nuan didalam istana bisa semakin kuat." Ucap Xia Lian An.


Didalam istana negara Qin, hanya permaisuri Rui dan selir Nuan yang membantunya ketika selir Ning dan kaisar menyakitinya. Meski kedua selir itu hanya membantu memberi obat dan menemaninya, dia sudah sangat beruntung. Karena kedua orang itu tidak seperti selir Ning.


Apalagi permaisuri Rui dan selir Nuan membantunya membalaskan dendam pada selir Ning di dalam istana setealah dia bukan lagi seorang permaisuri, jadi sudah sewajarnya dia membantu mereka berdua.


"Nona, apakah besok kita akan kembali?" Tanya Xiao Wei.


"Besok kau bereskan semua barang-barang, besok lusa kita baru akan kembali."


"Baik nona."


Xia Lian An berjalan keluar kamar, dia melihat taman istana timur yang belum sempat dia nikmati keindahannya selama dia berada disana.


"Aku tidak terlalu memperhatikan, ternyata taman ini sangat indah." Ucap Xia Lian An sambil berjalan menyusuri taman itu.


"Benarkah, apakah di negara Qin tidak ada taman seindah ini?" Ucap seseorang yang baru saja sampai di taman istana timur itu.


Xia Lian An melihat ke arah orang yang berbicara itu. Seorang wanita yang cantik dan anggun tengah berjalan mendekatinya.


"Maaf, jika boleh tahu siapa nona ini?" Tanya Xia Lian An pada wanita itu.


"Aku adalah Ruan Yi. Keponakan kaisar."



Wanita bernama Ruan Yi itu berdiri didepan Xia Lian An dan menatap Xia Lian An seperti sedang menilai Xia Lian An dari penampilannya.


"Saya Xia Lian An. Jika boleh saya tahu, apa keperluan nona Yi datang ke istana timur ini?"


"Ini adalah istana milik paman ku, aku mau pergi kemana bukankah itu urusanku dan tidak perlu memberitahu mu?"


Xia Lian An tersenyum, dia tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan seorang wanita lagi, yang ternyata tertarik pada putra mahkota Zhang dan menganggap dia sebagai saingannya.


"Anda benar, jadi silahkan lanjutkan. Saya tidak akan menganggu lagi."


Xia Lian An berbalik dan ingin meninggalkan taman istana timur dan Ruan Yi.


"Kau, kau hanya wanita biasa yang datang karena di undang dari negara Qin. Jangan bermimpi untuk masuk kedalam istana ini lagi, dan jangan berani bermimpi untuk bersama dengan kak Jiang." Ucap Ruan Yi dengan sombongnya.


Xia Lian An benar, jika Ruan Yi datang kesini untuk memberi peringatan padanya karena Ruan Yi menyukai putra mahkota Zhang.


"Anda salah paham dengan saya nona Yi, saya tidak tertarik berebut laki-laki dengan siapapun. Terlebih orang itu adalah anggota kerajaan."


"Itu bagus, karena kau tahu diri. Jika aku tahu kau menggoda kak Jiang, kau akan menerima akibatnya."


Xia Lian An tersenyum, dia lalu kembali berjalan meninggalkan Ruan Yi sendirian. Terlalu malas bagi Xia Lian An meladeni wanita yang sifatnya sama seperti selir Ning.


"Nona, anda berbicara dengan siapa? Saya lihat, sepertinya wanita itu sangat tidak menyukai anda." Ucap Xiao Wei setelah Xia Lian An sampai di kamarnya.


"Oh dia, dia wanita yang menyukai putra mahkota Zhang. Dia kesini untuk berkata agar aku tidak menggoda putra mahkota Zhang."


"Padahal dari penampilannya, dialah yang suka menggoda yang mulia putra mahkota. Tapi dia tidak berhasil melakukannya."


Xia Lian An tersenyum melihat Xiao Wei yang kesal dengan wanita yang dia temui tadi.


"Saya juga nona, saya merindukan kue buatannya."


"Apakah dia sudah membuat kue baru lagi disana?"


"Saya harap dia membuat banyak kue baru, nona."


Xiao Wei menantikan kepulangan mereka besok lusa, dia tidak sabar mencoba beberapa kue yang di buat oleh tangan ahli Xiao Fen.


***


Di pinggiran padang rumput, kaisar Shun dan para pengawalnya yang di serang oleh sekelompok orang yang tidak di kenal terluka.


Lengan kiasar Shun tertusuk pedang salah seorang dari kelompok orang yang menyerang mereka, dan saat ini dia di bantu pengawalnya tengah menghentikan darah yang terus keluar dari lengan kaisar Shun.


Dalam kondisi seperti itu, kaisar Shun meminta seorang pengawal agar kembali ke istana terlebih dulu untuk menyampaikan apa yang dia alami kepada adiknya dan panglima perang. Dengan begitu mereka akan datang dengan seorang tabib dan mencari sekelompok orang yang sudah menyerangnya.


"Shhh, sebenarnya siapa mereka? Beraninya menyerangku secara tiba-tiba." Ucap kaisar Shun sambil menahan rasa perih pada lengannya.


Kaisar Shun melihat beberapa pengawalnya yang mati dan terluka. Kali ini dia pergi membawa wakil kepala pengawal dan pengawal yang hebat, tapi mereka berhasil di kalahkan. Itu menandakan jika sekelompok orang yang menyerangnya bukan orang biasa.


"Aku akan menangkap kalian dan menghukum kalian dengan berat karena sudah berani melukai ku." Tangan kaisar Shun mengepal.


Tengah malam, panglima perang dan satu kereta kuda dengan tabib istana di dalamnya tiba di perkemahan kaisar Shun.


Tabib yang baru turun dari kereta langsung masuk kedalam tenda untuk mengobati kaisar Shun.


"Bagaimana caramu melindungi yang mulia, sampai yang mulia terluka seperti itu!" Seru panglima perang pada wakil kepala pengawal.


"Ampuni saya panglima, saya pantas mendapatkan hukuman." Wakil kepala pengawal itu berlutut didepan panglima perang.


Panglima perang menatap wakil kepala pengawal itu dengan tajam.


Tabib istana keluar dari dalam tenda setelah mengobati lengan kaisar Shun.


"Bagaimana yang mulia?" Tanya panglima perang pada tabib.


"Pedang itu mengandung racun, dan itu membuat lengan yang mulia membengkak dan mulai menghitam. Saya hanya bisa menggunakan obat untuk mengurangi racun dan rasa sakit yang akan di rasakan oleh yang mulia kaisar."


"Kenapa kau tidak bisa mengeluarkan racun itu dari yang mulia?"


"Kita membutuhkan bahan untuk membuat obatnya, dan itu hanya ada di istana."


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Setelah sampai di istana, kaisar harus segera di obati."


"Baik panglima."


Pengawal yang panglima perang bawa membongkar tenda, dan kaisar Shun di papah oleh panglima perang naik ke kereta kuda.


Mereka berangkat setelah semua beres, agar mereka bisa sampai di negara Qin keesokan harinya.


Didalam kereta, kaisar Shun menahan rasa sakit pada lengannya. Otot-otot lengannya seperti sedang di jabut satu persatu dari tubuhnya, di tambah ada rasa panas dari obat yang tabib istana berikan padanya.


"Racun apa yang mereka gunakan pada pedang yang mereka pakai, kenapa tanganku seperti ini?" Gumam kaisar Shun.


Keringat dingin pun keluar dari tubuh kaisar Shun karena menahan rasa sakit yang terus menjalar pada lengannya.


Perjalanan mereka masih lama untuk sampai di gerbang perbatasna negara Qin, dan obat yang bisa menyembuhkan racun di lengannya hanya ada di istana. Jadi, kaisar Shun harus menahannya sampai mereka sampai di istana, dan tabib hanya bisa memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit saja pada kaisar Shun selama perjalanan mereka.