
Di istana, seorang pelayan terlihat berlari dari paviliun He menuju istana raja. Pelayan itu berlari sambil ketakutan.
Sampai di depan istana raja, pelayan itu berhenti dan mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Kau pelayan, apa yang kau lakukan disini?" Tanya seorang pengawal yang melihat pelayan itu.
Pelayan itu melihat dua pengawal di depannya lalu memegang kedua lengan salah satu dari pengawal itu.
"Cepat, cepat tolong aku. Selir Ning, selir Ning..."
"Hei, bicara yang benar." Pengawal itu mencoba melepaskan tangan pelayan yang memegangi lengannya.
"Selir Ning. Tolong dia... Aku mohon."
"Apa yang terjadi disini?"
Pelayan dan kedua pengawal melihat ke samping.
"Yang mulia permaisuri." Ucap ketiga orang itu sambil memberi hormat.
Permaisuri Rui berjalan mendekati mereka dan menatap pelayan dari paviliun He.
"Ada apa aku kesini dan membuat keributan?" Tanya permaisuri Rui.
"Ampuni hamba yang mulia, hamba kesini ingin meminta bantuan."
"Bantuan, kenapa?"
"Selir Ning, selir Ning mengamuk yang mulia. Dia berteriak-teriak memanggil dan mengutuk permaisuri terdahulu. Dia sudah memecahkan banyak barang di dalam kamarnya."
Kedua mata permaisuri Rui melebar dia sungguh tidak mengerti dengan selir Ning. Bahkan sudah sampai seperti ini pun masih tidak mau bertobat.
"Ada apa kakak ipar?" Tanya raja kecil yang baru saja tiba.
"Ah kau sudah datang."
"Salam pada kakak ipar permaisuri."Ucap raja kecil.
"Pelayan dari paviliun He datang, dia berkata jika selir Ning mengamuk dan berteriak mengutuk permaisuri Yan."
"Apa? Beraninya dia! Aku akan memberitahu hal ini pada kakak kaisar."
"Tidak, jangan. Yang mulia saat ini masih terluka, dia tidak perlu mengetahui hal ini dulu."
"Kakak ipar, kakak kaisar belum memberikan hukuman atas apa yang sudah selir Ning lakukan saat kakak kaisar ke negara Ming. Dan juga, aku masih tidak rela jika selir Ning di biarkan begitu saja setelah melakukan banyak kejahatan pada permaisuri Yan."
"Aku mengerti bagaimana perasaan mu, tapi saat ini kita juga tidak bisa mengganggu istirahat kaisar. Tunggu sampai yang mulia jauh lebih baik, kita akan memberitahu yang mulia."
Raja kecil hanya mengangguk, dia tahu apa yang permaisuri Rui katakan benar. Saat ini kondisi kaisar Shun belum stabil akibat tertusuk pedang yang beracun.
"Baiklah kakak ipar."
Permaisuri Rui mengangguk, dia lalu menatap pelayan selir Ning yang masih berdiri di depannya.
"Kau kembalilah, dan pergi dengan dua pengawal ini untuk mengikat selir Ning agar dia tidak mengamuk lagi dan memecahkan lebih banyak barang."
"Baik, terima kasih yang mulia."
Pelayan selir Ning itu lalu pergi bersama kedua pengawal yang tadi dia temui untuk membantu mengurus selir Ning di paviliun He.
Setelah itu permaisuri Rui dan raja kecil berjalan menuju istana raja untuk menemui kaisar Shun.
"Yang mulia, bagaimana keadaan yang mulia?" Tanya permaisuri Rui setelah mereka tiba di dalam kamar kaisar Shun.
"Aku sudah jauh lebih baik, hanya saja aku tidak bisa menggerakan tanganku dengan leluasa."
"Tabib istana sudah memberikan obat dan melakukan akupuntur kepada yang mulia, yang mulia pasti akan segera pulih."
"Iya, kau benar."
Permaisuri Rui mengangguk, dia melihat lengan kaisar Shun yang masih di balut oleh kain obat.
Kaisar Shun menatap permaisuri Rui yang terus melihat lengannya.
"Permaisuri, tadi aku mendengar samar-samar ada keributan di luar. Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa yang mulia, yang mulia tidak perlu memikirkan hal yang lain lebih dulu. Saat ini yang mulia hanya harus beristirahat agar tangan yang mulia segara pulih."
Kaisar Shun hanya mengangguk, meskipun dia tahu jika permaisuri Rui menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi dia tidak ingin memaksa permaisuri Rui untuk mengatakannya, karena dia akan mengetahuinya sendiri nanti.
"Xuan Yuwen, bagaimana perkembangan pembangunan bendungan di pinggiran kota?" Tanya kaisar Shun pada raja kecil.
"Semua berjalan dengan baik kakak kaisar, kakak tidak perlu memikirkannya."
"Baiklah, itu bagus."
***
Praaang! Praaang!
Suara benda pecah saling bersahutan di dalam kamar selir Ning karena di lempar dan di banting oleh selir Ning yang tidak di perbolehkan keluar oleh kaisar Shun.
Kaisar Shun belum memberikan hukuman kepada selir Ning, dia hanya memerintahkan kepada para pengawal untuk berjaga agar selir Ning tidak keluar satu langkahpun dari dalam kamarnya.
"Selir Ning, tenangkan diri anda. Jangan membanting barang-barang lagi." Ucap pelayan selir Ning yang berdiri di sudut kamar karena ketakutan.
"Diam! Pergi kau dari sini, panggil yang mulia kaisar kesini! Aku tidak mau di kurung!" Seru selir Ning dengan keras.
Braak!
Pintu kamar terbuka, pelayan yang selalu berada di samping selir Ning masuk ke dalam kamar bersama dengan beberapa pengawal yang dia bawa dari istana.
"Kau! Kemana saja kau pergi dasar pelayan rendahan? Cepat panggilkan yang mulia kaisar kesini!"
Pelayan itu menatap selir Ning, dia lalu menganggukan kepalanya pada dua pengawal yang berdiri di belakangnya.
Dua pengawal itu lalu berjalan mendekati selir Ning setelah mendapatkan kode dari pelayan.
"Kalian, mau apa kalian? Aku adalah selir Ning, selir kesayangan yang mulia kaisar! Jangan berani mendekatiku!"
Kedua pengawal itu tidak peduli dengan seruan selir Ning, mereka terus berjalan mendekati selir Ning dan menangkap kedua tangan selir Ning lalu membawa selir Ning ke tempat tidur.
"Lepaskan! Lepaskan aku, kalian pengawal rendahan! Beraninya menyentuhku, lepasakan aku!"
Selir Ning terus memberontak dan mencoba melepaskan diri dari kedua pengawal yang mempunyai tenaga berkali-kali lipat dari dirinya.
Pelayan itu lalu memberikan tali kepada kedua pengawal yang memegangi tangan selir Ning, dan membantu mereka mengikat kedua tangan dan kaki selir Ning.
"Lepaskan aku! Kalian manusia rendahan, beraninya melakukan ini padaku!" Teriak selir Ning yang tangan dan kakinya sudah terikat di atas tempat tidurnya.
"Maafkan kami selir Ning, ini semua atas perintah yang mulia." Ucap pelayan itu.
"Yang mulia? Tidak, yang mulia tidak mungkin melakukan ini padaku! Aku adalah selir kesayangannya."
Para pelayan yang ada di dalam kamar selir Ning keluar, begitu juga dengan kedua pengawal tadi.
"Kami akan menjaga anda dari luar kamar." Ucap pelayan itu sebelum dia pun ikut keluar dari kamar selir Ning.
"Kalian kembali, lepaskan aku lebih dulu! Jangan pergi!"
Semua pelayan dan pengawal tidak menggubris teriakan selir Ning, mereka terua berjalan keluar dan menutup pintu kamar selir Ning.
"Kalian berjagalah disini, aku akan membuatkan makanan untuk selir Ning lebih dulu." Ucap pelayan itu pada dua pelayan lainnya dan pada dua pengawal istana.
"Baik kak." Ucap dua pelayan yang di minta untuk berjaga itu.
Setelah itu, pelayan yang selalu ada di samping selir Ning berjalan menuju dapur untuk membuatkan makanan bagi selir Ning.
Sebenarnya pelayan itu sudah tidak ingin melayani selir Ning lagi, tapi dia tidak bisa menolak perintah dari kaisar Shun. Jadi dia terpaksa tetap di samping selir Ning.