King's Regrets

King's Regrets
Eps 77



Hari ini, sesuai dengan apa yang putra mahkota Zhang katakan. Dia mengumpulkan rakyat negara Ming di depan aula luar, karena dia akan memberikan pengumuman secara langsung dan memperkenalkan wanita yang akan menjadi permaisuri negara Ming.


Semua orang berkumpul di bawah aula luar dan menunggu putra mahkota Zhang datang, begitu juga dengan pembunuh bayaran yang sudah ayah Ruan Yi sewa untuk membunuh Xia Lian An.


Ruan Yi dan ibunya yang duduk di sebuah restoran tidak jauh dari aula luar, menantikan sebuah kejadian besar yang akan mengubah takdir mereka.


"Nona Xia terhormat, hari ini adalah hari terakhir mu di dunia ini."


Setelah semua orang berkumpul, tak lama kemudian putra mahkota Zhang tiba bersama dengan Xia Lian An di sampingnya.


Semua orang yang melihat itu saling berbisik dan mempertanyakan siapa wanita yang berada di samping putra mahkota mereka sekarang ini.


Sedangkan Ruan Yi yang melihatnya mengepalkan tangan dengan erat.


"Seharusnya aku yang berdiri di samping kak Jiang di sana saat ini." Ucap Ruan Yi kesal.


"Tenanglah, pada akhirnya kau yang akan berdiri di samping putra mahkota."


"Ibu benar."


Di aula luar, putra mahkota Zhang dan Xia Lian An berdiri dan menatap seluruh rakyat negara Ming.


"Semua rakyat negara Ming, hari ini aku putra mahkota Zhang akan memberitahu kalian wanita yang akan menjadi calon permaisuri negara Ming kita ini."


Orang-orang berbisik setelah putra mahkota Zhang berkata. Karena mereka mengira yang akan menjadi permaisuri adalah Ruan Yi, sebab dia adalah wanita berbakat dan juga masih memiliki hubungan saudara dengan kaisar.


"Dia adalah seorang wanita dari negara Qin, dia adalah seorang wanita yang sangat luar biasa, dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku tertarik dan berhasil membuatku sangat mencintianya, Dia... juga pernah menjadi permaisuri negara Qin dulu."


Suara bisikan semakin riuh setelah putra mahkota Zhang berkata bahwa Xia Lian An pernah menjadi permaisuri negara Qin. Mereka tentu sangat terkejut dengan itu, putra mahkota mereka akan menikahi seorang wanita yang pernah menikah dengan kaisar negara lain.


Ruan Yi dan ibunya pun ikut tersentak dan tidak percaya saat mengetahui siapa Xia Lian An sebenarnya.


"Tenang, aku tahu kalian sangat terkejut, tapi aku ingin tegaskan kepada kalian. Bahwa aku putra mahkota negara Ming, tidak akan pernah menikah dengan wanita lain, selain dengan wanita bernama Xia Lian An, dari negara Qin ini!"


Semua orang terkejut, begitu juga dengan Ruan Yi yang tidak menyangka jika putra mahkota Zhang akan berkata seperti itu. Jika putra mahkota Zhang sudah berkata demikian, maka jika Ruan Yi terus memaksa ingin menjadi permaisuri, hanya akan membuatnya terhina dan menjadi bahan lelucon di negara Ming.


"Jadi, jika kalian tidak setuju. Kalian tidak akan pernah mempunyai kaisar baru setelah ayah kaisar tiada!"


Semua orang saling menatap dan mengangguk satu sama lain.


"Kami akan menerima keputusan yang mulia putra mahkota, semoga yang mulia putra mahkota dan calon permaisuri bahagia selamanya." Ucap salah seorang sambil memberi hormat pada putra mahkota Zhang dan Xia Lian An.


"Selamat kepada yang mulia putra mahkota dan yang mulia calon permaisuri. Semoga kalian selalu berbahagia." Ucap semua orang sambil memberikan hormat.


Syuuuuuuutttt.... Jleb


Sebuah anak panah meluncur dengan baik dan menancap pada bahu kiri Xia Lian An saat semua orang memberi hormat pada putra mahkota Zhang dan Xia Lian An.


"Lian'er!!" Teriak putra mahkota Zhang yang melihat Xia Lian An terjatuh sambil menahan panah yang menancap pada bahu kirinya.


Semua orang yang datang terkejut melihat calon permaisuri mereka terkena panah.


Putra mahkota Zhang menahan tubuh Xia Lian An sebelum dia benar-benar jatuh di atas lantai.


"Tangkap dia! Aku akan menghukum berat orang yang mencoba membunuh permaisuriku!" Seru putra mahkota Zhang sambil mengangkat tubuh Xia Lian An.


Putra mahkota Zhang lalu berjalan dengan cepat sambil menggendong tubuh Xia Lian An yang berlumuran darah menuju kereta kerajaan.


"Cepat kembali ke istana!" Ucap putra mahkota Zhang pada pengawalnya yang membawa kereta.


Dengan cepat kereta kerajaan itu kembali ke istana.


Sementara orang yang telah melesatkan panah itu berlari meninggalkan kerumunan dengan cepat.


"S*al! Karena mendengar putra mahkota berkata dia adalah mantan permaisuri negara Qin, aku jadi tidak fokus dan panah tidak terkena jantungnya!" Ucap pembunuh bayaran itu kesal.


Dua pengawal bayangan putra mahkota Zhang yang tahu siapa orang yang sudah berani melesatkan anak panah itu, mengikuti pembunuh bayaran dengan cepat.


Buugh


Dengan satu pukulan, pembunuh bayaran yang tidak mengetahui jika dirinya sedang di ikuti jatuh di atas tanah oleh satu pukulan keras dari salah satu pengawal bayangan putra mahkota Zhang. Pembunuh bayaran itu tersungkur dan langsung tidak sadarkan diri.


Kedua pengawal bayangan yang melihat pembunuh bayaran itu pingsan, langsung membawanya ke depan putra mahkota Zhang untuk mendapatkan hukumannya.


Sementara di istana timur, dua orang tabib tengah berusaha menyelamatkan Xia Lian An yang banyak mengeluarkan darah dari bahu kirinya.


Salah satu tabib mencabut anak panah itu dengan hati-hati, dan tabib yang lain langsung menaburkan obat di atas luka panah itu agar darah berhenti keluar.


Kedua tabib itu melakukan yang terbaik demi menyelamatkan calon permaisuri putra mahkota mereka.


"Yang mulia, kami telah membawa orang yang melesatkan anak panah pada yang mulia permaisuri." Ucap salah seorang pengawal bayangan pada putra mahkota Zhang.


Putra mahkota Zhang yang mendengar itu langsung keluar, begitu juga dengan Min'er yang sama marahnya pada orang yang sudah melukai kakaknya.


Byuuuur


"Uhuk, uhuk, uhuk."


Pembunuh bayaran itu terbatuk setelah dia di siram satu ember air oleh salah satu pengawal istana.


Putra mahkota Zhang dan Min'er menatap tajam pembunuh bayaran itu.


"Ya... Yang mulia putra mahkota." Ucap pembunuh bayaran saat dirinya melihat putra mahkota Zhang di depannya.


"Katakan, siapa yang sudah menyuruhmu untuk membunuh permaisuri ku!" Seru putra mahkota Zhang.


"A... Ampuni hamba yang mulia."


"Aku tidak butuh permohonanmu, aku ingin kau berkata siapa dalang dari semua ini?"


"Ha.... Hamba akan.... Uhuk uhuk.."


"Dia telah diracuni oleh orang yang menyuruhnya." Ucap Min'er.


Mengetahui itu, pengawal bayangan mendekati pembunuh bayaran untuk mendesaknya sebelum dia mati.


"Katakan siapa, jika kau tidak ingin mati sendiran dan menerima hukuman dari langit."


Pembunuh bayaran itu tidak menyangka jika dia telah diracuni oleh kepala keluarga Ruan.


"Uhuk uhuk uhuk..."


"Cepat katakan!" Seru putra mahkota Zhang.


Pembunuh bayaran itu menatap putra mahkota Zhang, mulutnya terbuka seperti akan mengatakan sesuatu.


"Ru...."


Bruuk


Pembunuh bayaran itu terjatuh dan mati sebelum menyelesaikan ucapannya.


Putra mahkota Zhang menatap pembunuh bayaran itu dengan geram.


"Dia sempat berkata Ru sebelum mati." Ucap Min'er.


"Ru...." Ucap putra mahkota Zhang.


"Benar, apa yang mulia tahu keluarga bermarga Ru yang tidak menyukai kakak saya?"


Putra mahkota Zhang diam, dia mengingat-ingat marga keluarga itu.


"Ruan!" Seru sang ratu yang baru saja sampai bersama dengan kaisar setelah mendapat kabar dari salah satu pelayannya.


"Ibu ratu, ayah kaisar."


"Salam kepada yang mulia kaisar dan yang mulia ratu." Ucap Min'er.


Ratu mengangguk.


"Apa maksud ibu ratu mengatakan Ruan? Apakah ini ada hubungannya dengan keluarga paman Ruan?"


"Aku tidak yakin, tapi kemarin aku melihat Ruan Yi keluar dari istana dengan kesal setelah melihat kau dan Lian'er bersama di taman istana. Aku pikir akan terjadi sesuatu yang tidak baik dan memberitahukannya pada ayahmu lebih dulu, tapi ibu lupa memberitahukannya padamu."


Putra mahkota Zhang terdiam, tangannya mengepal dengan kuat.


"Jika ini adalah perbuatan keluarga mereka, aku tidak akan pernah memaafkannya."


"Meski dia adalah saudaraku, tapi ayah tidak akan membelanya jika ini memang perbuatan mereka." Ucap kaisar.


Min'er yang mengetahui siapa orang yang mencoba membunuh kakaknya diam, mungkin istana mempunyai hukuman sendiri bagi mereka. Tapi Min'er tentu tidak akan melepaskan mereka yang sudah hampir membunuh kakaknya.


Dua tabib yang menangani Xia Lian An keluar dari dalam kamar istana timur.


"Tabib, bagaimana keadaan Lian'er?" Tanya ratu setelah melihat dua tabib itu keluar.


"Salam kepada yang mulia, kami sudah menghentikan darah yang keluar dari lukanya, dan juga sudah memberikan obat serta membalutnya. Kami akan datang lagi dua jam setelah ini untuk mengganti kainnya." Ucap salah seorang tabib istana.


"Baik, syukurlah dia selamat. Menantu kita selamat yang mulia." Ucap ratu pada kaisar.


Mendengar ratu memanggil Xia Lian An dengan sebutan menantu, dua tabib mengerti mereka harus memanggil Xia Lian An apa untuk ke depannya.


Setelah kedua tabib itu pergi. Kaisar, ratu, putra mahkota Zhang dan Min'er masuk ke dalam kamar istana timur.


"Nona. Kenapa nona harus mengalami hal seperti ini lagi? Maafkan hamba yang tidak bisa melindungi nona." Ucap Xiao Wei yang terduduk lemas di samping tempat tidur sambil menangis.


Semua orang melihat Xiao Wei menangis, mereka mengerti bagaimana dekatnya hubungan antara nona dan pelayannya itu. Terutama Min'er yang sudah melihat mereka bersama sejak dia masih kecil.


"Xiao Wei." Ucap Min'er.


Xiao Wei yang mendengar Min'er memanggilnya segera berdiri, dan mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang pada ratu dan yang lainnya.


"Kau adalah pelayan yang sangat baik, Lian'er sangat beruntung memiliki mu di sampingnya." Ucap ratu pada Xiao Wei.


Xiao Wei hanya bisa menundukan kepalanya, saat ini dia sedang tidak bisa berkata apa-apa karena melihat nonanya terluka di atas tempat tidur.


Ratu pun bisa memahami itu jadi dia hanya menganggukan kepalanya.


Dengan pelan, ratu duduk di sisi tempat tidur dan menatap wajah Lian'er yang tampak begitu pucat setelah kehilangan banyak darah.


"Maafkan ibu yang terlambat memberitahu putra mahkota tentang kedatangan Ruan Yi kesini, sehingga dia tidak mempersiapkan pengawal yang lebih banyak untuk melindungimu." Ucap ratu.


"Ibu ratu, ibu jangan menyalahkan diri sendiri. Kita semua tidak tahu jika mereka akan melakukn hal yang kejam seperti ini pada Lian'er." Ucap putra mahkota Zhang.


"Yang di katakan oleh yang mulia putra mahkota benar, yang mulia. Jika kita tahu akan terjadi hal seperti ini, mungkin saya pun akan bertindak pada mereka terlebih dulu." Ucap Min'er.


Ratu hanya mengangguk, dia menyeka air matanya dengan sapu tangan yang selalu dia bawa. Ratu benar-benar sedih melihat Xia Lian An terbaring lemas di atas tempat tidur.


Kaisar menepuk bahu istrinya agar tidak terlalu bersedih atas apa yang menimpa pada Xia Lian An.


"Kita akan menyelidiki hal ini, dan menghukum dengan berat pelakunya. Jadi kau jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri." Ucap kaisar pada ratu.


Ratu mengangguk "Baik, saya mengerti."


Min'er tidak menyangka jika di istana kerajaan ini pun akan bertemu dengan wanita seperti selir Ning.


"Orang-orang serakah itu, aku akan mengurus kalian dengan baik."


Min'er mengepalkan tangannya, dan akan mulai membuat rencana untuk membalas keluarga Ruan karena sudah melukai kakaknya sampai seperti itu.