King's Regrets

King's Regrets
Eps 74



Beberapa hari setelah Xia Lian An menyetujui putra mahkota Zhang menikahi dirinya, putra mahkota Zhang membawa Xia Lian An, Min'er dan Xiao Wei ke negara Ming.


Putra mahkota Zhang sudah berjanji pada Xia Lian An untuk memperkenalkan dirinya pada rakyat di negara Ming, sebagai calon permaisuri yang akan dia nikahi.


Min'er tentu merasa senang dan juga khawatir, bagaimana pun kakaknya pernah menjadi permaisuri di negara Qin. Dan sekarang dia akan di kenalkan pada rakyat negara Ming, dia takut jika rakyat negara Ming tidak menerima kakaknya sebagai permaisuri mereka, dan membuat kakaknya kesulitan.


"Tuan muda Qing, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya putra mahkota Zhang yang duduk di samping Min'er di dalam kereta kuda.


"Saya mengkhawatirkan kakak saya. Walaupun yang mulia dan keluarga kerajaan menerima kakak saya, tapi bagaimana jika rakyat tidak menerima dan bahkan mengusir kakak saya dari negara Ming setelah tahu siapa kakak saya."


"Jika itu terjadi, maka aku yang akan pergi meninggalkan negara Ming untuk menjadi rakyat negara Qin."


"Yang mulia, anda adalah satu-satunya penerus yang mulia kaisar, anda yang akan menjadi kaisar selanjutnya. Bagaimana bisa anda berkata demikian?"


"Aku tahu, sebagai putra mahkota dan putra satu-satunya, aku akan menggantikan ayah kaisar ku kelak. Tapi, aku juga ingin menjalani kehidupan yang aku inginkan bersama dengan orang yang aku cintai, aku tidak ingin terikat pada aturan tak tertulis yang mengharuskan anggota keluarga kerajaan berhak mempunyai beberapa selir, dan aku juga harus selalu mengikuti keinginan para menteri yang selalu merasa kurang dan tidak pernah mau memikirkan keinginan kita sendiri."


"Kau adalah putra mahkota yang bijak, tapi yang mulia pasti sangat mengerti jika kita tidak menuruti keinginan mereka, mereka akan melakukan pemberontakan terhadap istana kerajaan."


"Aku tahu itu, karena itu aku akan membuktikan pada rakyat negara Ming, jika permaisuri yang aku pilih bukanlah wanita yang tidak bisa melakukan apa-apa. Dia adalah permaisuri yang tangguh dan hebat."


"Terima kasih atas semua kebaikan dan kepercayaan yang mulia kepada kakak saya, dan saya mohon kepada yang mulia untuk selalu melindunginya."


"Tentu saja, tanpa kau memintanya aku pasti akan melakukan itu pada nona Xia."


"Sejak kecil kakak saya tidak pernah mendapatkan perhatian dari ayah maupun ibu, bahkan.... Dulu kakak sering di perlakukan seperti seorang pelayan di rumah. Hanya setelah dia berusia 11 tahun, dia tidak sengaja bertemu dengan ibu suri dan di puji oleh beliau, ayah dan ibu berubah. Tapi semua kebaikan mereka hanyalah sebuah kebohongan untuk memaksa kakak saya masuk ke dalam istana."


"Tapi bukankah kakak mu dulu sangat mencintai kaisar Shun?"


Min'er mengangguk "Iya, tapi dia tahu siapa dirinya, dan tidak pernah berfikir untuk masuk ke dalam istana."


"Aku mengerti. Kau tenang saja, aku akan memperlakukan kakakmu dengan sangat baik. Jika dulu dia selalu mencoba menarik perhatian kaisar Shun hanya untuk mendapat sedikit rasa suka dari kaisar Shun. Maka, dia akan mendapatkan begitu banyak perhatian dan cinta dariku dan kedua orang tuaku."


"Terima kasih. Kakak saya adalah orang yang sangat beruntung karena bisa di cintai oleh yang mulia putra mahkota, saya jadi bisa lebih tenang karena kakak telah bersama dengan orang yang akan selalu menjaganya."


"Kau juga masih bisa untuk ikut menjaganya, bagaimana pun kau adalah adik nona Xia yang paling dia sayangi."


"Iya, yang mulia."


Putra mahkota Zhang mengangguk.


Sementara di kereta kuda yang lain, Xia Lian An tengah memakan permen rasa jeruk yang dia buat sendiri sehari sebelum mereka berangkat ke negara Ming, untuk mengurangi rasa mual selama di dalam kerata menuju negara Ming.


"Nona, jangan terlalu banyak makan makanan manis itu. Nona akan sakit perut setelah sampai di sana." Ucap Xiao Wei mengingatkan.


"Aku sungguh tidak tahan lagi Xiao Wei, tidak bisakah kita berhenti sebentar?"


Xiao Wei mengangguk, dia lalu membuka tirai jendela kereta di sampingnya dan memberitahu kepada pengawal untuk berkata pada putra mahkota Zhang agar berhenti sejenak.


Tidak lama kereta kuda yang mereka naiki berhenti setelah pengawal yang berbicara dengan Xiao Wei, memberitahu putra mahkota Zhang yang berada di kereta yang lainnya.


"Nona, mari turun. Saya akan membantu anda." Ucap Xiao Wei yang sudah lebih dulu keluar dari kereta.


Xia Lian An yang kepalanya sudah sangat pusing turun dari kereta di bantu oleh Xiao Wei.


"Kau baik-baik saja?" Tanya putra mahkota Zhang pada Xia Lian An setelah melihat Xia Lian An turun dari kereta.


"Kepalaku sangat sakit." Ucap Xia Lian An pelan seraya memegangi kepala.


"Baiklah, kita istirahat dan membuat tenda disini. Kebetulan sebentar lagi hari akan gelap. " Ucap putra mahkota Zhang.


Beberapa pengawal putra mahkota Zhang lalu bersiap mendirikan tenda untuk mereka, karena malam ini mereka akan bermalam di dalam tenda.


Xia Lian An yang kepalanya terasa sangat pusing membaringkan kepalanya di atas pangkuan Xiao Wei.


"Kau sungguh tidak apa-apa?" Ucap putra mahkota Zhang dengan khawatir.


Xia Lian An mengangguk pelan "Iya, aku tidak apa-apa."


Putra mahkota Zhang benar-benar baru pertama ini melihat ada seseorang yang mabuk naik kereta kuda, jadi dia tidak tahu harus melakukan apa.


"Yang mulia, tenda sudah selesai." Ucap pengawal pribadi putra mahkota Zhang.


Putra mahkota Zhang mengangguk, dia lalu mengusap kepala Xia Lian An.


"Tenda sudah selesai di dirikan, kau bisa beristirahat di dalam tenda." Ucap putra mahkota Zhang pada Xia Lian An.


Xia Lian An bangun dari pangkuan Xiao Wei lalu mengangguk dengan lemas.


Tanpa di duga, putra mahkota Zhang menggendong tubuh Xia Lian An dan membawanya masuk ke dalam tenda.


"Beristirahatlah, aku akan meminta Xiao Wei untuk membuat sup gingseng." Ucap putra mahkota Zhang sambil membaringkan Xia Lian An di atas tempat tidur.


"Iya, terima kasih."


Saat ini Xia Lian An tidak memikirkan apapun, dia sedang pusing dan tidak mau berpikir hal yang lainnya.


Setelah Xia Lian An berbaring dengan baik, putra mahkota Zhang keluar dari tenda.


"Kepalanya masih sakit, aku akan menyuruh Xiao Wei untuk membuatkan sup gingseng"


Min'er mengangguk "Dulu kakak tidak pernah seperti ini setiap kali pergi dengan kereta."


"Mungkin setelah tidak sadarkan diri karena keracunan, kepala dan perutnya tidak kuat mendapatkan guncangan yang terus-menerus."


"Iya, mungkin saja."


"Aku akan menemui Xiao Wei, kau temanilah kakak mu dulu di dalam."


"Baik."


Min'er lalu berjalan masuk ke dalam tenda dan melihat kakaknya berbaring lemah di atas tempat tidur.


"Apa kakak baik-baik saja?"


Xia Lian An melihat Min'er berdiri di depannya.


"Kakak tidak apa-apa, istirahat sebentar dan semua akan baik-baik saja."


"Kau benar-benar membuatku khawatir, kak."


"Maaf, aku juga tidak tahu setiap naik kereta kuda selalu seperti ini."


"Tidak apa-apa, kakak beristirahatlah. Besok kita baru melanjutkan perjalanan, hanya melewati dua kota lagi kita akan sampai di negara Ming."


"Iya, baiklah."


Min'er kemudian keluar dari dalam tenda, agar kakaknya beristirahat dengan baik.


Di tenda yang lain, Xiao Wei sedang membuat sup gingseng untuk Xia Lian An.


Sup itu bisa membuat tubuh Xia Lian An terasa lebih hangat dan lebih berenergi setelah perjalanan yang membuatnya mabuk.


20 menit kemudian, Xiao Wei masuk ke dalam tenda Xia Lian An sambil membawa sup gingseng di atas nampan.


"Nona, saya membawakan sup gingseng untuk anda. Minumlah selagi masih hangat." Ucap Xiao Wei.


Xia Lian An yang mendengar suara Xiao Wei mencoba untuk duduk.


Xiao Wei melihat wajah nonanya sangat pucat, dan lemas.


"Minumlah dulu supnya, ini akan membuat tubuh nona lebih hangat."


Xiao Wei memberikan mangkuk berisi sup gingseng pada Xia Lian An.


"Terima kasih, dan maaf sudah merepotkanmu."


"Nona jangan berkata seperti itu, ini sudah tugas saya sebagai pelayan nona. minumlah dulu supnya."


Xia Lian An mengangguk, dia lalu meminum sup gingseng dan menghabiskannya dalam sekali minum.


"Ini sangat enak, rasa gingsengnya sangat kuat tapi tidak terasa begitu pedas. Kau sangat pandai membuat sup ini."


"Terima kasih nona, saya mempelajarinya dari Xiao Fen."


"Kalian seperti dua saudara yang saling melengkapi."


"Ini juga berkat nona, kami sangat senang tinggal bersama dengan nona."


"Iya, aku juga. Kalian sangat baik dan sudah banyak membantu ku."


Xiao Wei mengambil mangkuk kosong dari tangan Xia Lian An.


"Nona beristirahatlah, agar tubuh nona cepat pulih."


"Iya."


Xiao Wei lalu keluar meninggalkan Xia Lian An di dalam tenda sendirian.


"Dia sudah meminum supnya?" Tanya putra mahkota Zhang yang melihat Xiao Wei keluar dari tenda Xia Lian An sambil membawa mangkuk kosong.


"Sudah yang mulia, sekarang nona sedang beristirahat lagi."


"Aku mengerti, kau juga beristirahatlah."


"Terima kasih yang mulia."


Putra mahkota Zhang mengangguk.


Putra mahkota Zhang membuka sedikit tirai yang terpasang pada pintu tenda, dia melihat Xia Lian An tidur di atas tempat tidurnya.


"Semoga besok kau sudah jauh lebih baik."


Putra mahkota Zhang kembali menutup tirai itu dan berjalan menuju tenda lain untuk menemani Min'er.