
Kehidupan Xia Lian An sekarang benar-benar membuatnya bahagia, dia tidak lagi merasa khawatir akan ada orang suruhan selir Ning atau keluarga selir Ning untuk membunuhnya.
Xia Lian An pun menjadi bebas mau kemana dia pergi, tanpa memikirkan rencana perlindungan diri dari selir Ning, karena saat ini selir Ning sudah berada di alam lain bersama dengan ayahnya.
"Kak, kita mau kemana?" Tanya Min'er yang berjalan di samping Xia Lian An.
"Kita akan pergi ke petani sayur, kita membutuhkan banyak sayur untuk persediaan restoran kita yang akan kita buka besok."
"Bukankah di pasar juga ada?"
"Itu tidak cukup, kita akan langsung pergi ke petani sayur. Selain sayuran yang kita dapat masih segar, harganya pun akan lebih murah."
"Aku tidak begitu mengerti, tapi kedengarannya sangat baik."
"Hahaha tentu saja, kau nanti akan mengerti nanti."
Xia Lian An dan Min'er terus berjalan, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah perkenunan yang penuh dengan sayuran dan ada beberapa orang yang tengah memetik sayuran-sayuran itu.
"Nona, ada urusan apa nona kesini?" Ucap seorang laki-laki yang sepertinya pemilik dari kebun sayur itu.
"Aku akan membuka restoran baru besok, dan aku ingin membeli sayuran-sayuran itu untuk persediaan di restoran kami."
"Silahkan nona, saya akan memberikan harga murah jika anda membeli dalam jumlah banyak."
"Tuan tenang saja, kami memang akan membeli banyak sayur. Karena saya membuat berbagai menu dengan bahan sayuran."
"Baik, baik. Silahkan nona lihat dulu sayuran yang saya miliki. Ini adalah sayuran terbaik nona."
Xia Lian An mengangguk lalu melihat-lihat sayuran yang baru saja di petik dari kebun itu.
"Semuanya bagus dan segar." Ucap Xia Lian An.
"Tentu saja nona, sayuran yang saya tanam ini adalah sayuran terbaik di kota. Anda tidak akan menyesal membelinya."
"Baiklah, aku ingin 3 sayuran itu. Masing-masing beri aku 15 kilo."
"Wah.. baik nona, saya akan langsung menyiapkannya untuk nona. Saya juga akan memberikan tambahan sayur, karena nona membeli banyak."
"Baik, terima kasih tuan."
Pemilik kebun sayur itu lalu pergi untuk menyiapkan sayuran yang Xia Lian An beli.
Xia Lian An melihat ada kereta gerobak yang tidak jauh dari tempatnya berada, kereta itu biasa di pakai untuk membawa sayuran yang sudah di panen kepada pengepul sayur yang berada di pasar kota Yu dan sekitarnya.
"Min'er pergilah untuk menyewa kereta kecil itu, kita tidak mungkin membawa semua sayuran itu sendirian." Xia Lian An menunjuk ke kereta gerobak yang tak jauh dari mereka berdiri.
"Baik kak."
Setelah Min'er pergi, Xia Lian An kembali melihat-lihat sayuran yang lainnya.
"Hmm jagung? Aku bisa menambahkan sup jagung telur dalam menu. Kebetulan sup ini bisa menambah energi bagi orang-orang." Gumam Xia Lian An.
"Tuan, apakah jagung ini sudah bisa di petik?" Tanya Xia Lian An pada salah satu petani.
"Iya nona, itu sudah bisa. Rasa jagungnya pun manis."
"Baiklah, terima kasih tuan."
Xia Lian An lalu berjalan ke arah pemilik kebun sayur dan berkata jika dia juga ingin membeli jagung yang tadi dia tanyakan.
Setelah semua sayuran yang di inginkan Xia Lian An sudah siap, sayuran itu di letakan ke dalam kereta gerobak yang Min'er sewa.
"Kak, apakah ini tidak terlalu banyak?" Min'er terkejut melihat sayuran yang di beli oleh kakaknya cukup banyak.
"Tidak, kita akan melakukan pembukaan restoran. Jadi kita memerlukan banyak bahan makanan."
"Oh, baiklah."
"Setelah ini, kita akan pergi ke tempat penjualan ikan di dekat dermaga para nelayan."
"Iya, kita juga memerlukan ikan. Tapi ikan yang akan kita beli adalah ikan yang masih hidup."
Min'er menatap kakaknya dengan bingung, dia sama sekali tidak mengerti semua rencana yang sudah kakaknya susun itu.
Kereta kecil itu berjalan menuju dermaga para nelayan berada.
Sekitar 20 menit, mereka sampai di depan tempat dimana biasanya para nelayan menjual hasil tangkapannya.
"Maaf tuan, apa anda menjual ikan yang masih hidup? Saya ingin membelinya."Ucap Xia Lian An pada salah seorang nelayan.
"Nona, jika anda ingin membeli ikan yang masih hidup. Anda bisa pergi ke toko ikan yang ada di sana, semua ikan yang di jual toko itu masih hidup."
"Terima kasih tuan."
Xia Lian An melihat toko yang di tunjuk oleh nelayan itu. Dia lalu pergi ke toko ikan yang dia lihat tadi.
Benar saja, semua ikan yang di jual toko itu hidup, dan itu membuat Xia Lian An sangat senang.
"Nona, apa anda ingin membeli ikan?" Tanya pemilik toko.
"Benar tuan, saya ingin membeli ikan ini, dan dua ikan yang di sana. Tolong beri saya masing-masing 10 ekor."
"Baik nona, akan saya siapkan segera."
Xia Lian An tahu ini pekerjaan yang melelahkan, tapi dia ingin semua bahan-bahan makanan yang dia beli adalah bahan-bahan terbaik, agar para pengunjung di restorannya puas dan senang.
Setelah membeli ikan dan sayur, Xia Lian An yang di temani Min'er kembali ke retoran mereka.
Kali ini Xia Lian An tidak merasa pusing naik kereta karena kereta yang dia naiki adalah kereta gerobak dimana kereta itu terbuka tanpa penutup di atasnya seperti kereta kuda pada umumnya.
"Xiao Wei, Xiao Fen. Cepat bantu aku membawa semua sayur ini." Ucap Xia Lian An setelah mereka sampai di depan restoran.
Xiao Wei dan Xiao Fen bergegas keluar dan melihat begitu banyak sayur dan juga ikan yang di beli oleh nona nya.
"Bawa semuanya ke dapur, dan letakan ikan-ikan ini kedalam kolam kecil yang ada di belakang."
"Baik nona."
Xiao Wei, Xiao Fen dan beberapa pekerja lainnya membawa semua sayur dan ikan itu ke dapur.
"Sayur dan ikan sudah, setelah ini kau butuh beberapa bumbu, minyak, daging, dan yang lainnya yang belum di beli." Ucap Xia Lian An.
Satu hari itu Xia Lian An sangat sibuk mempersiapkan semuanya, karena besok dia akan resmi membuka restoran yang dia miliki.
Sementara penginapan akan di buka keesokan harinya setelah restoran itu resmi di buka.
***
Di istana Yue Ji, permaisuri Rui telah mendengar kabar mengenai Xia Lian An yang akan membuka penginapan dan restoran barunya.
Permaisuri Rui sangat senang, akhirnya Xia Lian An benar-benar bisa hidup dengan bahagia, dan hidup sesuai dengan keinginannya.
"Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Bantu aku menyiapkan hadiah untuk permaisuri Yan." Ucap permaisuri Rui kepada pelayan setianya.
"Baik yang mulia."
Pelayan itu lalu pergi untuk melakukan apa yang permaisuri Rui perintahkan.
"Permaisuri Yan, akhirnya kau bisa melakukan apa yang selama ini kau inginkan. Aku yakin kau akan selalu bahagia."
Permaisuri Rui mengusap perutnya beberap kali yang sudah terlihat sedikit membesar itu.
"Jika anak ini adalah perempuan, apakah yang mulia akan tetap memperlakukanku dengan baik di istana?" Gumam permaisuri Rui membayangkan apa yang akan terjadi saat anak yang ada di dalam perutnya lahir.
Permaisuri Rui belum tahu apakah anak yang dia kandung adalah laki-laki atau perempuan, karena dia selalu menolak jika tabib akan memeriksa jenis kelamin bayi itu. Dia ingin, melihat bagaimana sikap kaisar Shun padanya setelah tahu jenis kelamin anaknya setelah dia lahir nanti.