King's Regrets

King's Regrets
Eps 28



Tepat hari ke 31 bulan ke 3, pesta untuk menyambut festival lampion didalam istana di lakukan secara meriah.


Suara alunan musik dan petasan begitu menggema di halaman dan aula istana kerajaan. Selain para menteri, kaisar juga mengundang beberapa tokoh penting di masyarakat untuk ikut merayakan festival itu.


Para pelayan dan pengawal membawa beberapa lampion dengan berbagai bentuk yang cantik. Lampion-lampion itu nantinya akan di lepaskan oleh kaisar, permaisuri dan anggota kerajaan lainnya.


Suasana hari itu benar-benar sangat meriah.


Di dalam aula semua orang telah menunggu kaisar Shun datang, mereka telah menempati tempat mereka masing-masing dengan istri dan anak-anak mereka.


Terlihat di sebelah kiri ada keluarga dari permaisuri Yan, dan keluarga selir Zhu. Sedangkan di sebelah kanan ada keluarga dari selir Ning dan selir Nuan.


Keluar selir Ning melihat keluarga permaisuri Yan dengan tatapan tidak suka, terlebih tatapan ibu selir Ning pada mereka.


"Lihat saja, setelah anak ku menggantikan posisi anak kalian sebagai permaisuri, kami akan menginjak-injak keluarga kalian dengan baik."


Orang-orang yang datang ke pesta itu saling berbicara satu sama lain, itu karena sangat jarang kaisar mengadakan pesta menyambut festival lampion seperti ini.


"Kaisar dan selir Ning tiba." Ucap kepala pengawal dengan suara kerasnya.


Semua orang memberi hormat kepada kaisar Shun saat kaisar Shun berjalan masuk kedalam aula istana.


"Salam kepada kaisar, semoga yang mulia panjang umur."


Para tamu berbisik, karena orang yang datang bersama dengan kaisar bukanlah permaisuri Yan, melainkan selir Ning.


Kaisar tidak menanggapi bisikan-bisikan itu dia terus berjalan dan menaiki tangga.


"Simpan semua formalitas kalian, dan mari nikmati pesta ini bersama!" Ucap kaisar Shun sambil menganggkat gelas emas yang berisi anggur.


"Terima kasih atas kebijaksanaan yang mulia." Ucap semua orang yang ada didalam aula maupun di luar aula kerajaan.


Selir Ning terlihat begitu angkuh di samping kaisar Shun, bagaimana pun dia sudah meminta seseorang untuk membubuhkan obat pada makanan permaisuri Yan, agar malam ini permaisuri Yan tidak bisa datang untuk menemani kaisar.


Itu akan membuat orang-orang melihat dirinya saja yang ada di samping kaisar Shun.


***


Di dalam kamar permaisuri Yan, seorang pelayan yang di perintah oleh selir Ning membubuhkan obat kedalam makanan permaisuri Yan, tengah berlutut di depan permaisuri Yan.


Tubuh pelayan itu gemetar dan berkeringat, terlihat dia begitu ketakutan karena perbuatannya di ketahui oleh koki istana kerajaan yang langsung melaporkan dan membawa pelayan itu pada permaisuri Yan.


"Katakan padaku, obat apa yang selir Ning berikan pada makanan ku?" Ucap permaisuri Yan.


"Ha... hamba tidak..."


"Jika kau ingin selamat, sebaiknya kau mengatakan yang sebenarnya." Ucap Xiao Wei yang sejak tadi berdiri di samping permaisuri Yan.


"Ampuni hamba yang mulia, mohon ampuni hamba." Ucap pelayan itu sambil bersujud pada permaisuri Yan memohon ampun.


"Kalau begitu katakan, obat apa yang kau masukan kedalam makanan itu?" Tanya permaisuri Yan.


"Itu.. itu adalah obat pencuci rahim, yang mulia."


Permaisuri Yan, Xiao Wei dan koki istana terkejut mendengar itu. Obat pencuci rahim adalah obat yang sangat berbahaya dan keras, obat itu bisa membuat orang tidak bisa mempunyai keturunan, karena rahim yang di miliki oleh orang yang sudah mengkonsumsi obat itu akan mengering dan tidak akan bisa di buahi (mandul).


Permaisuri Yan menggenggam ujung kursi dengan erat, dia benar-benar tidak percaya jika selir Ning masih ingin membuatnya tidak bisa mempunyai anak.


"Selir Ning, sepertinya kau ingin merasakan tidak punya keturunan."


Permaisuri Yan menatap Xiao Wei, dia lalu membisikan sesuatu pada Xiao Wei.


Xiao Wei yang mengerti menganggukan kepalanya, dia kemudian membawa pelayan itu keluar dari kamar permaisuri Yan, dibantu oleh kedua pengawal istana.


"Yang mulia, hamba mohon ampuni hamba. Yang mulia, hamba tahu salah, mohon ampuni hamba yang mulia."


Pelayan itu terus berteriak meminta ampun pada permaisuri Yan, tapi itu tidak terlalu lama karena salah satu pengawal di istana Yue Ji memukul tengkuk pelayan itu, sehingga pelayan itu tidak sadarkan diri.


Setelah pelayan itu keluar, permaisuri Yan duduk temenung didalam kamarnya.


"Kakak."


Permaisuri Yan menoleh dan melihat adiknya sudah berada di depan pintu kamarnya yang terbuka.


"Bagaimana, apakah semua sudah siap?"


"Iya kakak."


Qing Hao Min melihat makanan yang masih utuh diatas meja, dia lalu mendekati meja itu.


"Jangan coba untuk memakannya." Cegah permaisuri Yan.


"Apa dia mencoba untuk meracuni kakak lagi?"


Permaisuri Yan mengangguk "Dia ingin aku tidak bisa mempunyai keturunan."


"Kurangajar!! Di benar-benar sudah tidak bisa di ampuni lagi." Ucap Min'er dengan geram.


"Tidak apa-apa, semuanya sudah siap. Jadi kita hanya tinggal melakukannya saja malam ini."


"Kakak benar, aku sudah tidak sabar melihat reaksi kaisar Shun."


Xiao Wei yang tadi membawa pelayan itu, kembali ke kamar permaisuri Yan.


"Yang mulia, hamba sudah melakukan apa yang anda perintahkan."


"Baik. Min'er, kau pergilah ke aula istana lebih dulu. Aku akan kesana nanti."


"Baik kakak."


Qing Hao Min pun pergi dari kamar permaisuri Yan.


"Kau, tolong buang semua makanan ini. Ingat jangan sampai ada yang mengetahui apa yang terjadi malam ini." Ucap permaisuri Yan pada koki istana.


"Baik, yang mulia."


"Xiao Wei, bantu aku berganti pakaian dan menata ulang riasan rambut ku."


"Baik, yang mulia."


Xiao Wei kemudian mengambil pakaian yang beberapa hari lalu permaisuri Yan beli, Xiao Wei juga mengeluarkan perhiasan dan jepit rambut yang sesuai dengan pakaian yang akan permaisuri Yan kenakan.


Dengan hati-hati dan cekatan, Xiao Wei membantu permaisuri Yan berganti pakaian dan memakai riasan.


"Anda benar-benar terlihat sangat cantik, yang mulia." Ucap Xiao Wei mengagumi kecantikan permaisuri Yan.


"Jadi setiap hari aku tidak cantik?" Tanya permaisuri Yan.


"Ampuni hamba yang mulia, bukan maksud hamba berkata seperti itu."


"Hahaha sudah, sudah. Aku hanya menggodamu saja."


"Yang mulia."


"Baiklah, ayo kita ke aula sekarang. Aku sudah tidak sabar melihat wajah selir Ning yang terkejut melihatku baik-baik saja."


"Baik, yang mulia."


Xiao Wei menggandeng tangan permaisuri Yan dan mereka berjalan menuju aula istana kerajaan.


Sementara itu di dalam aula, alunan musik terus terdengar mengiringi penari cantik meliuk-liukan tubuh mereka di depan kaisar Shun dan orang-orang yang ada disana.


"Mereka sangat lincah dan cantik." Ucap kaisar Shun pelan.


"Yang mulia, apakah bagi yang mulia hamba kurang cantik?" Ucap selir Ning dengan manja.


"Hahaha tentu saja kau yang tercan...."


Ucapan kaisar Shun berhenti berbicara ketika tiba-tiba suasana didalam aula istana senyap.


"Yang mulia permaisuri Yan tiba." Suara kepala pengawal terdengar begitu keras dari dalam aula istana.


Kaisar Shun terdiam saat melihat permaisuri Yan berjalan masuk kedalam aula istana. Dia sangat terpesona oleh penampilan permaisuri Yan malam ini.


Bukan hanya kaisar Shun saja, semua orang yang datang juga seolah tersihir oleh kecantikan dan keanggunan permaisuri Yan.


Tapi tentu tidak dengan selir Ning, yang merasa kesal karena permaisuri Yan muncul.


"S*al! kenapa wanita j*lang ini tidak sekarat di dalam kamarnya?"


Permaisuri Yan melihat kebencian dan kemarahna pada selir Ning, dan dia sangat menikmati pemandangan itu.


"Salam kepada yang mulia kaisar. Maafkan hamba yang sudah terlambat. Mohon yang mulia tidak menghukum hamba." Ucap permaisuri Yan sambil memberi hormat pada kaisar Shun.


Semua pejabat berbisik mendengar perkataan permaisuri Yan yang terdengar seperti orang yang begitu takut pada kaisar Shun.


Ya, permaisuri Yan sengaja mengatakan hal itu di depan semua orang. Itu karena agar mereka bisa melihat, jika kaisar yang mereka agung-agungkan adalah orang yang suka menghukum permaisuri nya sendiri.


Di tambah malam ini kaisar Shun datang ke aula bersama dengan selir Ning, bukan dengan dirinya. Tentu itu akan membuat para pejabat semakin berfikir yang tidak-tidak.


Kaisar Shun masih diam, dia masih terpesona oleh kecantikan permaisuri Yan.


Permaisuri Yan melihat itu, dan menggunakannya untuk lebih menekan kaisar Shun.


Bruuk


"Yang mulia, hamba mohon ampuni atas keterlambatan hamba. Seseorang telah merusak pakaian yang akan hamba pakai, jadi hamba harus menunggu pakaian hamba yang lain di antar ke istana hamba."


Semua orang termasuk kaisar Shun terkejut melihat permaisuri Yan yang tiba-tiba bersujud dan menangis di depan kaisar Shun.


Ini semakin membuat para pejabat merasa tidak enak, mereka berbisik dan menilai jika kabar yang pernah tersebar di masyrakat, tentang kaisar Shun yang tidak peduli dan kejam pada permaisuri Yan adalah sebuah kebenaran.


"Permaisuri Yan...."


"Tolong ampuni hamba yang mulia." Ucap permaisuri Yan dengan cepat memotong ucapan kaisar Shun.


"Permaisuri Yan, bangunlah. Yang mulia kaisar tidak akan menghukum mu." Ucap selir Ning.


Permaisuri Yan tersenyum mendengar saura selir Ning.


"Terpancing."


Permaisuri Yan mendongakan kepalanya dan menatap selir Ning.


"Ya, bahkan seorang selir pun bisa berkata seperti itu padaku, Apakah aku tidak pantas untuk di anggap lagi bagi yang mulia?" Ucap permaisuri Yan sambil berusaha membuat matanya memerah didepan semua orang.


"Kau...."


"Cukup! Permaisuri Yan, selir Ning hanya sedang mewakili ku berbicara. Kau tidak perlu menekannya."


Permaisuri Yan tersenyum kecut, dia lalu berdiri.


Klontang


Semua mata membulat saat melihat permaisuri Yan mencopot jepit rambut berbentuk phoenix dan melemparkannya ke lantai.


"Yang mulia, apa yang sudah anda lakukan?" Ucap ibu dari permaisuri Yan.


"Kalian sudah melihatnya sendiri, bahkan demi seorang selir. Yang mulia kaisar mampu mengatakan hal itu kepadaku, permaisuri negara Qin ini."


Selir Ning mengepalkan tangannya, dia tidak menyangka jika permaisuri Yan berani melakukan itu.


"Yang mulia, aku tahu yang mulia tidak pernah sedikitpun menyukai ku. Dan setiap kali yang mulia merasa kesal pada ayah ku, yang mulia akan menyakiti ku tapi...."


"Permaisuri Yan!" Seru kaisar Shun memotong ucapan permaisuri Yan.


"Tapi hamba tidak ingin terus berada di bawah kaki yang mulia, dan bahkan seorang selir pun bisa menginjak ku dengan seenaknya." Sambung permaisuri Yan.


"Lancang!" Teriak kaisar Shun yang sudah tidak tahan.


Bruk


Kembali permaisuri Yan bersujud pada kaisar Shun sambil terisak.


"Hamba mohon, biarkan hamba pergi. Dan yang mulia bisa bersama dengan selir Ning. Hidup bahagia selamanya."


Semua orang tercengang dengan apa yang permaisuri Yan katakan, mereka tentu saja tidak percaya akan hal itu.


"Qing Lian!" Seru perdana menteri Qing.


"Aku berulang kali hampir mati didalam istana, aku juga berulang kali koma karena apa yang sudah kaisar dan selir Ning lakukan padaku. Jadi aku memohon pada yang mulia agar melepaskan ku." Ucap permaisuri Yan lagi.


Para pejabat saling berbisik. Mereka tentu sangat terkejut dengan semua pengakuan permaisuri Yan, dan mereka kembali mengingat kejadian dimana permaisuri Yan di racuni di dalam istana oleh tuan Xi, kakak dari selir Ning.


Selir Ning yang merasa di permalukan mengeratkan giginya menahan emosi. Dengan semua yang di katakan oleh permaisuri Yan, tentu saja para menteri tidak akan setuju jika kelak dia menggantikan posisi permaisuri Yan.


"Dasar *******, beraninya dia!"


Kaisar Shun mengepalkan tangannya, dia menatap permaisuri Yan yang masih bersujud dengan perasaan yang tidak bisa dia katakan. Kesal, marah, benci, dan sakit yang menusuk. Semua dia rasakan saat itu juga.


"Yang mulia, bukankah anda sudah keterlaluan melakukan itu kepada permaisuri Yan?" Ucap Qing Hao Min.


Ucapan Qing Hao Min membuat semua mata menatapnya.


"Meski kau tidak menyukai kakak hamba karena perbuatan ayah hamba, tapi bukan berarti yang mulia bisa seenak hati memperlakukan kakak hamba dengan buruk." Ucap Min'er lagi.


Qing Hao Min berdiri dan berjalan mendekati permaisuri Yan.


"Min'er kembali!" Ucap ibunya.


Qing Hao Min tidak mengindahkan ucapan ibunya, dia terus berjalan dan dia langsung berlutut didepan kaisar Shun.


"Hamba sebagai adik dari yang mulia permaisuri, memohon agar yang mulia kaisar mengabulkan permintaan kakak hamba."


Perdana menteri Qing dan istrinya terkejut, mereka tidak menyangka jika putranya akan melakukan itu.


"Qing Hao Min! Kau lancang sekali!" Seru kaisar Shun sambil menatap Min'er dengan tajam.


"Gamba akan menerima hukuman dari yang mulia, tapi hamba mohon agar yang mulia melepaskan permaisuri Yan. Dia bukanlah wanita yang kuat, sudah cukup dia menahan semuanya, yang mulia."


Kaisar Shun semakin mengeratkan kepalan tangannya pada ujung kursi kebesarannya.


Seharusnya dia merasa sangat senang karena bisa langsung menceraikan permaisuri Yan didepan semua orang, tanpa harus membuat permaisuri Yan melakukan kesalahan, tapi dadanya terasa begitu sesak mendengar permaisuri Yan dan adiknya memohon, agar dia melepaskan permaisuri Yan.


"Qing Hao Min, ini adalah urusan didalam keluargaku. Kau tidak berhak ikut campur!" Seru kaisar Shun.


Mendengar itu, permaisuri Yan diam-diam tersenyum penuh arti.


"Jika demikian, bisakah yang mulia berjanji kepada hamba jika kaisar tidak akan menyakiti kakak hamba lagu, dan akan menghukum selir Ning jika terbukti selir Ning melakukan kejahatan pada kakak hamba?"


Deg


Selir Ning merasa dirinya terpojok, dia merasa sangat khawatir sekarang. Dia takut jika apa yang dia lakukan hari ini telah di ketahui dan akan di bongkar oleh permaisuri Yan dan adiknya.


"Jangan bicara sembarangan! Aku... Aku tidak pernah menyakiti permaisuri Yan!" Ucap selir Ning membela diri.


"Yang mulia." Ucap Qing Hao Min memohon.


Kaisar Shun mengehela nafas "Baik, aku berjanji."


Selir Ning menatap kaisar Shun dengan tidak percaya.


"Kaisar, bagaimana bisa kaisar mengatakan itu?" Ucap selir Ning.


"Aku percaya kau tidak melakukan apa yang dia katakan tentangmu." Ucap kaisar Shun pada selir Ning.


Permaisuri Yan tersenyum penuh kemenangan, dia menganggukan kepalanya pelan.


Qing Hao Min melihat gerakan permaisuri Yan itu, dia lalu berdiri.


"Yang mulia, izinkan hamba membawa seseorang kemari."


Selir Ning kembali merasa cemas.


"Siapa?"


"Seorang pelayan yang membawa makanan untuk permaisuri Yan, ketika dia tinggal di istana Ju."


"Seorang pelayan?"


"Benar yang mulia."


Selir Ning menatap nanar pada permaisuri Yan dan adiknya.


"Bukankah pelayan itu sudah ku minta untuk kembali ke kampung halamannya, dan tidak akan kembali lagi? Bagaimana dia bisa di temukan?"


Wajah selir Ning seketika terlihat pucat, tangannya gemetar dengan hebat.


"Baik, bawa dia masuk." Ucap kaisar Shun.


"Yang mulia, bukankah ini adalah hari yang bahagia. Kenapa kita harus mendengarkan ucapan yang akan membuat suasana menjadi suram?" Ucap selir Ning mencoba mengalihkan kaisar Shun dari topik pelayan itu.


"Be... Benar yang di katakan oleh selir Ning, yang mulia." Ucap ibu dari selir Ning.


"Oh, apakah selir Ning takut jika pelayan yang meracuni permaisuri Yan ini mempunyai hubungan dengan mu?" Tanya Min'er.


"Kau bilang meracuni permaisuri Yan?" Tanya kaisar Shun.


"Benar, yang mulia. Alasan kenapa dulu ayah hamba meminta izin untuk membawa permaisuri Yan kembali ke kediaman adalah, karena hidup permaisuri Yan hanya tinggal satu nafas saja."


"Bagaimana bisa hal itu terjadi di dalam istana ku?"


"Itu bisa terjadi, karena seseorang telah merencanakannya dengan matang." Min'er melirik ke arah selir Ning.


"Aku... aku tidak mengenal pelayan yang kau maksud itu." Ucap selir Ning.


Selir Ning lalu menatap kaisar Shun " Yang mulia, tolong percaya pada hamba."


Kaisar Shun menatap selir Ning yang terlihat begitu tertekan. Lalu berbalik melihat Min'er.


"Banyak pelayan di dalam istana, selir Ning tidak mungkin terlibat." Ucap kaisar Shun.


Qing Hao Min mengepalkan tangannya, dia benar-benar ingin sekali membunuh kaisar Shun saat itu juga.


"Biarkan pelayan itu masuk." Ucap Min'er yang sudah tidak tahan.


Seorang pengawal membawa masuk seorang pelayan yang tangannya telah di ikat oleh tali dengan kuat.


Pelayan itu langsung berlutut saat berada didepan kaisar Shun dengan ketakutan.


"Katakan semua yang kau tahu!" Perintah kaisar Shun tanpa basa basi lagi pada pelayan itu.


Melihat pelayan yang dulu pernah dia perintahkan meracuni permaisuri Yan, selir Ning semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan hebat.


"Ampuni hamba yang mulia, hamba akan mengatakan semua kebenarannya." Ucap pelayan itu dengan takut.


"Katakan!"


"Hamba, hamba di perintah oleh... oleh selir Ning, untuk membawa makanan...pada permaisuri Yan saat..saat permaisuri Yan berada di istana Ju. Selir Ning juga..meminta hamba untuk mengatakan, jika... Jika makanan itu dari yang mulia kaisar, itu agar.. agar permaisuri Yan mau memakannya."


Pelayan itu terlihat sangat ketakutan, air matanya mengalir dengan deras saat mengatakan semua kebenaran yng dia tahu.


"Kau! Kau jangan memfitnahku! Aku... Aku tidak mengenalmu, bagaimana bisa aku memerintahkan mu!" Ucap selir Ning mencoba membela diri.


"Benar yang mulia, selir Ning kami tidak mungkin melakukan hal yang kejam seperti itu, mohon yang mulia menghukum pelayan rendahan ini." Ucap ibu selir Ning ikut membela.


"Hamba tidak berbohong, hamba tidak memfitnah selir Ning, yang mulia. Hamba benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya. Mohon percaya pada hamba, yang mulia. Hamba tidak berbohong." Ucap pelayan itu sambil bersujud dan menangis.


"Kau, aku tidak akan memgampuni mu karena sudah memfitnahku!" Seru selir Ning.


"Cukup! Seret pelayan itu pergi, beraninya memfitnah anggota kerajaan. Cambuk dia sampai mati!" Ucap kaisar Shun penuh emosi.


"Tidak, ampuni hamba yang mulia. Hamba mengatakan yang sebenarnya. Mohon percaya pada hamba yang mulia. Yang mulia hamba mohon, yang mulia, yang mulia!"


Wanita itu terus berteriak mohon pengampunan pada kaisar Shun saat di seret oleh dua pengawal istana keluar dari aula istana kerajaan.


Permaisuri Yan memejamkan matanya, air matanya mengalir mendengar keputusan kaisar Shun, yang meyakinkan dirinya jika nyawanya tidak lebih berharga dari selir Ning.


Tapi air mata itu bukanlah air mata permaisuri Yan yang saat ini, itu adalah air mata dari permaisuri Yan yang asli. Dia pasti sangat kecewa dan hatinya pasti sangat terluka mendapat perlakuan yang tidak adil seperti itu dari orang yang dia cintai.


Nafas selir Ning memburu, jika dia tidak terus berteriak bahwa pelayan itu memfitnahnya dan kaisar Shun tidak percaya padanya. Pasti saat ini dia yang di cambuk sampai mati.


"Yang mulia, dengan ini aku jadi mengerti." Ucap permaisuri Yan sambil mendongakan kepalanya dan menatap kaisar Shun.


Kaisar Shun diam melihat permaisuri Yan yang masih duduk di lantai.


"Aku jadi sangat mengerti, jika nyawa ku sangatlah tidak berarti bagi yang mulia."


Kaisar Shun tersentak mendengar perkataan permaisuri Yan yang seolah menusuk jantungnya, sehingga membuatnya merasa begitu sakit.


Permaisuri Yan berdiri, dia lalu mengambil belati kecil yang terselip pada pinggang Qing Hao Min.


"Yang mulia!" Seru semua orang saat melihat permaisuri Yan mengambil belati itu.


"Permaisuri Yan!" Seru kaisar Shun juga dengan penuh keterkejutannya. Dia seketika berdiri dan berjaln menuruni tangga.


Craaaaaasssh!


Kaisar Shun yang tengah menuruni tangga berhenti ketika melihat permaisuri Yan memotong ujung rambutnya sendiri.


Semua orang juga tercengang melihat permaisuri Yan melakukan hal itu.


Di era kerajaan, memotong rambut sendiri menandakan berakhirnya sebuah hubungan antara seseorang dengan orang lain atau dengan keluarganya.


"Yang mulia, dengan ini hamba ingin melepaskan diri dari anda. Mohon yang mulia mengabulkan permintaan hamba untuk yang terakhir kalinya." Ucap permaisuri Yan sambil menyodorkan rambutnya kepada kaisar Shun.


Kaisar Shun terpaku, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.


Sementara semua orang merasa jika permaisuri Yan melakukan hal yang begitu terburu-buru tanpa berfikir dengan jernih.


Tapi itu berbeda dengan selir Ning. Dia begitu terlihat sangat bahagia, karena dengan begitu posisi permaisuri yang dia inginkan akan segera dia dapatkan.