King's Regrets

King's Regrets
Eps 29



Setelah malam pesta penyambutan festival lampion beberapa hari kemarin, istana nampak sunyi. Seolah semua aura hangat yang biasa menyelimuti istana kerajaan itu hilang bagai di telan bumi.


Begitupun di dalam istana raja, semuanya nampak sunyi dan dingin. Bahkan pelayan istana yang biasanya terlihat ceria, saat ini mereka seolah muram tak bersemangat.


Di atas meja yang ada didalam kamar kaisar Shun, terlihat sebuah kotak coklat yang berisi rambut, jepit rambut phoenix dan juga sebuah surat dari permaisuri Yan.


Surat itu tidak berani kaisar Shun buka, hatinya seolah sudah tertusuk kayu yang begitu tajam. Nafasnya pun seolah enggan untuk keluar dari dalam dirinya.


Selama dua hari itu kaisar Shun tidak bisa tidur dengan tenang, pikirannya terus terjaga oleh kejadian di aula istana malam itu.


Bahkan wajah permaisuri Yan yang di penuhi oleh air mata, terlihat begitu jelas dalam ingatannya.


Kaisar Shun menatap kotak coklat itu, dia mengepalkan tangannya seolah menyesali apa yang sudah dia lakukan pada permaisuri Yan.


"Kasim ketua."


Kasim ketua yang mendengar suara kaisar Shun memanggilnya, langsung bergegas masuk kedalam kamar kaisar.


"Hamba disini yang mulia." Ucap kasim ketua sambil membungkukan badannya.


"Selidiki semuanya. Selidiki apakah pelayan yang di hukum mati malam itu, benar-benar orang yang selir Ning perintah untuk meracuni permaisuri Yan saat di istana Ju atau bukan."


Kasim ketua terkejut mendengar perintah kaisar Shun.


"Yang mulia, anda..."


"Jangan banyak bicara, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Lakukan itu dengan diam-diam."


"Baik, yang mulia. Hamba akan melaksanakannya."


Kasim ketua kembali membungkukan badannya sebelum dia keluar dari kamar kaisar Shun.


"Permaisuri Yan, jika aku sudah mengetahui kebenarannya. Apakah kau akan memfaakan ku?"


Kaisar Shun menyentuh kotak coklat itu, dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di mengerti.


**


Di paviliun He, selir Ning yang seperti mendapatkan kemenangan besar sedang berbahagia.


Dia meminta pelayannya untuk membeli beberapa makanan, dan buah. Dia juga meminta koki di paviliun He untuk memasakan beberapa makanan enak untuknya.


"Akhirnya hari ini tiba, sebentar lagi permaisuri Yan akan pergi dari istana untuk selamanya." Ucap selir Ning dengan penuh bahagia.


Selir Ning lalu berjalan dan duduk di depan meja riasnya, dia bercermin dan melihat pantulan wajahnya sendiri didalam cermin.


"Sebentar lagi, penampilanmu akan berubah. Jepit rambut yang jelek ini juga akan berubah menjadi jepit rambut phoenix yang indah."


Selir Ning terus membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan menggantikan posisi permaisuri Yan, dan akan menjadi ratu di negara Qin.


Tapi selir Ning tidak tahu, semua hayalannya itu akan tercapai atau tidak.


Sementara di istana raja seperti makam yang sunyi dan dingin, berbeda dengan di istana Yue Ji.


Permaisuri Yan tidak merasa sedih atau pun tertekan setelah melakukan hal yang sangat mengejutkan malam itu. Dia justru terlihat sangat bahagia dengan Xiao Wei dan pelayan yang lainnya.


"Xiao Wei, kau pergilah ke pasar dan beli bahan-bahan untuk membuat kue."


"Apa yang akan yang mulia lakukan dengan itu?"


"Kau akan tahu nanti, setelah keluar dari istana ini. Aku tentu harus bisa mandiri dengan mengandalkan kemampuan sendiri."


"Baik yang mulia, hamba akan segera membelinya."


Xiao Wei dan seorang pelayan pergi meninggalkan istana untuk membeli bahan-bahan yang permaisuri Yan inginkan.


"Keluarga Qing tidak akan peduli lagi pada permaisuri Yan ini, setelah kaisar menyetujui untuk melepaskan. Jadi untuk bertahan hidup, aku harus berusaha sendiri di era kerajaan yang kejam ini."


Permaisuri Yan kemudian pergi ke gudang, tempat dimana dia menyimpan semua uang dan perhiasan yang dia miliki.


Setelah masuk kedalam ruangan yang tidak begitu besar, permaisuri Yan melihat beberapa kotak berukuran tidak begitu besar. Dia lalu membuka dua kotak diantara beberapa kotak yang ada disana.


Crieeet


Permaisuri membuka kotak pertama, kotak itu berisi kepingan emas yang sangat penuh. Itu adalah uang emas yang di berikan setiap bulan oleh kaisar Shun selama dia menikah dengannya.



Crieeet


Permaisuri Yan membuka kotak yang kedua, dan kotak itu berisi kepingan perak yang tidak kalah banyak.



"Ternyata permaisuri Yan ini sangat kaya, bodoh sekali selama ini dia tidak menggunakan semua emas dan perak ini dengan baik."


Permaisuri Yan melihat kotak lain yang lebih kecil, kotak itu berwarna emas dengan ukiran yang sangat cantik.


"Aku yakin jika itu adalah mas kawin yang kaisar Shun berikan pada permaisuri Yan yang asli dulu." Gumam permaisuri Yan.


Setelah melihat-lihat, permaisuri Yan mengambil satu kotak kosong yang tidak begitu besar. Dia memasukan sebagian kepingan emas dan perak itu kedalam kotak yang ada di tangannya.


"Ini sepertinya cukup untuk membeli dua buah toko dan yang lainnya di luar ibu kota." Ucap permaisuri Yan sambil melihat kepingan emas dan perak yang ada didalam kotak.


Setelah itu permaisuri Yan kembali menutup dua kotak besar berisi kepingan emas dan perak, kemudian menguncuncinya.


Permaisuri Yan berjalan keluar dari gudang penyimpanan dan menguncinya dengan kunci yang dia bawa.


Sambil membawa kotak ditangannya permaisuri Yan kembali ke kamarnya. Dia sudah mempunyai banyak rencana didalam kepalanya untuk isi dari kotak yang dia bawa.


Permaisuri Yan masuk kedalam kamar dan menyimpan kotak itu di dalam lemari, tanpa di sengaja permaisuri Yan melihat sebuah gelang giok berwarna biru muda yang sangat cantik. Permaisuri Yan yang penasaran mengambil giok itu.


"Gelang giok? Kenapa di dalam ingatan permaisuri Yan yang asli tidak ada ingatan tentang gelang giok ini?" Gumam permaisuri Yan.


Permaisuri Yan membawa gelang giok itu dan memperhatikan gelang itu dengan teliti sambil mengingat-ingat dari mana gelang itu berasal.


"Yang mulia, yang mulia permaisuri. Hamba sudah kembali."


Permaisuri Yan mendengar suara Xiao Wei di balik pintu kamarnya.


"Xiao Wei, kemarilah." Ucap permaisuri Yan.


Xiao Wei masuk ke dalam kamar permaisuri Yan setelah mendengar perintah permaisuri Yan dari dalam kamar.


"Hamba disini yang mulia." Ucap Xiao Wei.


Permaisuri Yan memperlihatkan gelang giok yang ada di tangannya pada Xiao Wei.


"Kau tahu gelang giok ini dari mana?" Tanya permaisuri Yan pada Xiao Wei.


Xiao Wei memperhatikan gelang giok yang ada di tangan permaisuri Yan.


"Bukankah gelang giok ini pemberian dari ibu suri, ketika yang mulia pertama kali masuk kedalam istana setelah yang mulia dan yang mulia kaisar menikah dulu?"


"Pemberian dari ibu suri?"


"Benar yang mulia, bahkan anda pernah memakainya beberapa kali. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi... Semenjak yang mulia kaisar marah dan melarang anda memakai gelang itu, anda tidak pernah lagi terlihat memakainya dan selalu anda simpan."


"Apakah karena ibu suri sudah meninggal, jadi ingatan tentang gelang ini pun tidak ada dalam diriku?"


"Yang mulia, apa telah terjadi sesuatu?"


Permaisuri Yan menggelengkan kepalanya, dia lalu berdiri dan berjalan ke arah lemari. Permaisuri Yan kembali menyimpan gelang giok itu.


"Aku akan mengembalikan gelang itu nanti." Gumam permaisuri Yan.


Xiao Wei melihat permaisuri Yan dengan heran, itu karena permaisuri Yan tidak mengingat tentang gelang giok pemberian dari ibu suri.


Permaisuri Yan menatap Xiao Wei dan tersenyum.


"Kau sudah membeli semua yang aku inginkan, Xiao Wei?"


Xiao Wei tersadar dari lamunannya dan langsung membungkuk.


"I... Iya yang mulia, semua sudah hamba beli."


"Kalau begitu ayo kita pergi ke dapur istana, aku akan mengajarimu membuat kue baru yang enak."


Permaisuri Yan berjalan dengan semangat menuju dapur istana, di susul oleh Xiao Wei yang masih merasa heran pada permaisuri Yan.


"Xiao Wei, aku tahu kau pasti merasa aneh padaku. Aku akan memberitahu semuanya padamu setelah kita keluar dari istana ini."


Setelah sampai di dapur istana, permaisuri Yan langsung melakukan aksinya. Yaitu membuat kue yang biasa dia makan di jaman modern, sebelum dia melintasi waktu dan masuk kedalam tubuh Qing Lian (permaisuri Yan yang asli).


Koki istana dan Xiao Wei ikut membantu permaisuri Yan, mereka juga ikut belajar dan mengingat bahan dan bagaimana cara permaisuri Yan membuat kue-kue itu.


Setelah hampir 3 jam, akhirnya permaisuri Yan berhasil membuat beberapa jenis kue. Semua kue yang sudah di buat tertata rapi diatas meja.


Xiao Wei dan koki istana yang baru pertama kali melihat kue-kue itu terpesona dan tidak percaya jika permaisuri Yan yang membuat kue-kue itu.


Ini adalah ilustrasi kue buatan permaisuri Yan 😊



(Gambar hanyalah ilustrasi dari penulis. Dan gambar disesuai dengan pemikiran Qing Lian An yang sekarang jiwanya berada dalam diri permaisuri Yan ✌😁).


Permaisuri Yan merasa puas dengan apa yang sudah dia lakukan selama beberapa jam di dalam dapur.


"Ini cukup sulit, bahan-bahan di jaman kuno tidak bisa di dapatkan dengan mudah. Tapi hasilnya cukup memuaskan." Gumam permaisuri Yan.


Melihat Xiao Wei dan koki istana sangat terpesona dengan kue-kue buatan dirinya, permaisuri Yan mendekati mereka.


"Kalian bisa mencoba kue-kue itu." Ucap permaisuri Yan.


"Ampuni hamba yang mulia, hamba tidak berani." Ucap koki istana.


"Kau adalah seorang koki, kau harus mencoba kue yang aku buat. Jika rasanya enak aku akan membuatnya lagi."


"Tapi yang mulia..."


"Tidak apa-apa."


Permaisuri Yan mengambil salah satu kue yang sudah dia buat, lalu memberikannya pada koki istana.


"Cobalah ini."


Dengan sedikit ragu, koki istana menerima kue itu lalu memakannya dengan pelan.


"Bagaimana rasanya?" Tanya permaisuri Yan.


"Yang mulia, ini sangat enak. Hamba tidak pernah meraskan kue seperti ini sebelumnya." Ucap koki istana dengan semangat.


"Benarkah, kalau begitu kau coba kue yang lainnya. Xiao Wei kau juga boleh mencobanya."


"Baik, yang mulia."


Xiao Wei lalu mengambil kue yang berbeda dan memakannya.


"Yang mulia, koki istana benar. Kue yang anda buat sangat enak." Ucap Xiao Wei setuju dengan apa yang koki istana katakan sebelumnya.


"Aku senang mendengarnya. Dengan ini, aku bisa membuka toko kue."


"Yang mulia, apa maksud yang mulia?" Ucap Xiao Wei yang tidak mengerti ucapan permaisuri Yan.


Permaisuri Yan tersenyum "Xiao Wei, setelah kejadian di pesta festival lampion malam itu. Aku sudah meminta kepada yang mulia kaisar untuk melepaskanku didepan banyak orang, bahkan aku telah memotong rambutku sendiri. Setelah aku keluar dari istana nanti, tentu aku harus berusaha untuk hidup ku sendiri."


"Yang mulia, mohon jangan mengatakan hal itu. Kami semua sangat membutuhkan yang mulia permaisuri." Ucap koki sambil berlutut.


"Kalian juga tahu bagaimana perlakuan yang mulia kaisar padaku selama aku di dalam istana. Selama ini aku sudah sangat beratahan. Kalian adalah orang yang sangat baik padaku. Terima kasih."


"Yang mulia." Xiao Wei ikut berlutut.


Koki istana dan Xiao Wei memangis, mereka sangat tidak menyangka jika permaisuri Yan sudah memutuskan hal itu.


"Berhentilah menangsi, aku tidak ingin membuat orang lain salah paham." Ucap permaisuri Yan.


"Maafkan hamba yang mulia."


"Tidak apa-apa, kalian berdirilah."


Koki istana dan Xiao Wei berdiri seperti apa yang permaisuri Yan katakan.


"Yang mulia, bisakah yang mulia membawa serta hamba, jika yang mulia meninggalkan istana?" Ucap koki istana.


Permaisuri Yan terkejut dengan pertanyaan dari koki istana.


"Apa yang kau katakan, kau adalah seorang koki di istana ini. Bagaimana mungkin aku membawamu?"


Bruuk


"Hamba mohon yang mulia, tolong bawa hamba dengan yang mulia permaisuri. Hamba mohon pada yang mulia."


Koki istana bersujud dan memohon kepada permaisuri Yan.


Alasan kenapa koki istana ingin mengikuti permaisuri Yan adalah, karena selama di dalam istana hanya permaisuri Yan dan Xiao Wei yang menghargai apa yang dia buat.


Saat dia membuatkan makanan dan tidak sesuai dengan keinginan permaisuri Yan, permaisuri Yan tidak menghukumnya dengan pukulan atau cambukan. Dia hanya akan menegur dan memaafkan kesalahan koki, dan itu adalah hal yang sangat langka didalam istana.


Melihat koki istana memohon sampai bersujud, permaisuri Yan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Bangunlah, aku akan mencoba berbicara pada yang mulia kaisar untuk membawamu nanti." Ucap permaisuri Yan.


"Terima kasih yang mulia, hamba bersumpah akan selalu setia pada permaisuri Yan. Terima kasih atas kebaikan yang mulia permaisuri."


"Sudahlah, kau bisa berdiri sekarang."


"Baik, terima kasih yang mulia."


Koki itu berdiri. Permaisuri Yan melihat Xiao Wei dan koki istana yang begitu sangat ingin ikut bersamanya.


"Mungkin setelah kita keluar dari sini, kehidupan kita akan sangat sulit. Apakah kalian masih ingin mengikutiku?"


"Kami akan setia mengikuti kemana pun yang mulia permaisuri pergi. Kami akan menyerahkan nyawa kami pada yang mulia permaisuri." Ucap Xiao Wei dengan tegas.


"Baiklah, terima kasih atas kesetiaan kalian berdua. Aku sangat beruntung bertemu dengan kalian."


Setelah itu permaisuri Yan meminta Xiao Wei dan koki istana untuk membawa kue-kue itu kedalam kamarnya, lalu meminta mereka membereskan dapur istana yang cukup berantakan.