
Tabib pribadi putri tertua sudah tahu obat apa yang di beli oleh wanita yang suruh oleh selir Ning, dia juga sudah mengganti beberapa bahan yang ada didalam obat itu agar efek dari obat itu berubah.
Tabib Yun sendiri masih tidak bisa percaya jika selir Ning akan melakukan hal yang sangat berani seperti itu didalam istana. Ditambah kakaknya belum lama ini dihukum mati oleh kaisar Shun.
"Tabib Yun, terima kasih atas bantuanmu." Ucap putri tertua.
"Ini sudah menjadi tugas hamba tuan putri."
"Kali ini adik kaisar ku akan melihat dengan baik siapa selir Ning yang sebenarnya."
"Selir Ning terlalu berani mengambil tindakan, obat untuk kemandulan itu sangat berbahaya."
"Kau benar, tapi bagi selir Ning yang ingin mengambil posisi ratu dari tangan permaisuri Yan, itu adalah tindakan yang sangat kecil baginya."
Tabib Yun mengangguk mengerti.
"Dimana wanita itu?"
"Dia sedang pergi menemui adiknya di rumah tuan Hong."
"Oh. Aku pikir aku dan tuan Hong tidak bisa menyelamatkan adiknya kemarin, karena gudang kayu itu mempunyai ruang rahasia bawah tanah."
"Keluarga selir Ning terlalu rumit dan sangat berbahaya."
"Benar."
"Tabib Yun, tuan Hong disini untuk bertemu dengan anda." Ucap seorang wanita yang bekerja di rumah tabib Yun.
"Biarkan dia masuk."
Setelah beberapa saat tidak terdengar apa-apa, pintu ruangan terbuka.
Putri tertua dan tabib Yun melihat tuan Hong masuk.
"Salam kepada tuan putri." Ucap tuan Hong.
"Apa kau kesini bersama dengan wanita itu dan adiknya?" Tanya putri tertua.
"Bukankah dia sudah berada disini? Wanita itu berkata dia akan kembali ke rumah tabib Yun dengan adiknya belum lama ketika saya akan kesini."
"Apa?"
Putri tertua bergegas pergi meninggalkan rumah tabib Yun untuk mencari kedua orang itu.
Tuan Hong yang merasa ada yang tidak beres juga ikut keluar dan menyusul putri tertua.
Putri tertua dan tuan Hong menyusuri jalanan yang biasa dilewati oleh orang-orang dari rumah tuan Hong menuju kearah rumah tabib Yun.
Setelah beberapa kali mereka mencari dan berkeliling di pasar dan dijalan lain, mereka tidak menemukan kedua kakak beradik itu.
"Ini sudah hampir sore, aku yakin mereka sudah tertangkap dan dibunuh oleh selir Ning." Ucap putri tertua.
"Ampuni hamba tuan putri, hamba tidak melakukan tugas hamba dengan baik." Ucap tuan Hong.
"Tidak, ini bukan salahmu tuan Hong. Kita yang ceroboh dan meremehkan selir Ning."
Putri tertua terlihat begitu kesal karena dia tidak bisa membuat kaisar Shun melihat siapa selir Ning yang sebenarnya.
Sementara itu di sebuah rumah tua yang berada di pinggiran kota, wanita dan adiknya yang telah di selamatkan oleh putri tertua terikat tali dan tergeletak diatas lantai. Mereka berdua tidak sadarkan diri.
Apa yang putri tertua katakan benar, mereka berdua telah di tangkap oleh orang yang di perintahkan selir Ning.
"Bagaimana, apakah mereka ada didalam?" Ucap seseorang.
"Iya." Ucap yang lain.
"Selir Ning bilang, kita bisa bersenang-senang dengan wanita itu sebelum membunuhnya. Dan untuk adiknya kita bisa menjualnya pada tuan Tang, dia pasti suka laki-laki yang bertubuh putih dan halus sepertinya."
"Selir Ning sungguh bijaksana."
Setelah hari itu, kakak beradik yang tertangkap oleh orang-orang itu tidak pernah lagi terlihat didalam kota.
Selir Ning yang tidak menyukai adanya seorang penghianat tentu merasa aman sekarang, karena orang yang menjadi saksi kejahatannya sudah mati.
"Kau menyia-nyiakan hidupmu yang baik." Ucap selir Ning didalam kamarnya.
Sekarang selir Ning harus mengubah rencananya lagi, karena rencana untuk membuat permaisuri Yan dan juga kedua selir lainnya mandul tidak berhasil.
Selama dia belum berhasil membuat permaisuri Yan cacat, selir Ning tidak akan berhenti. Karena dengan membuat permaisuri Yan cacat dia baru bisa naik menjadi seorang permaisuri.
"Permaisuri Yan, aku tidak akan berhenti sampai disini!"
Permaisuri Yan sendiri yang tidak mengetahui rencana kejam selir Ning hanya berdiam didalam kamarnya. Obat yang dikirimkan oleh seorang pelayan pun tidak permaisuri Yan sentuh, dia bahkan membuang obat itu.
Itu karena dia masih ingat bagaimana permaisuri Yan yang asli mati keracunan setelah memakan makanan yang dibawa pelayan dari istana kerajaan.
"Xiao Wei."
"Hamba disini yang mulia."
"Baik yang mulia."
Xiao Wei lalu pergi untuk menyiapkan semua yang akan mereka bawa.
"Agh, akhirnya aku bisa pergi dari istana yang sangat membosankan ini dan jauh dari kaisar itu." Ucap permaisuri Yan sambil merenggangkan tubuhnya.
**
Keesokan harinya, putri tertua dan beberapa orang datang ke istana Yue Ji untuk menjemput permaisuri Yan seperti apa yang dia janjikan.
Saat putri tertua datang, dia melihat kaisar Shun juga ada di istana Yue Ji dan sedang duduk bersama dengan permaisuri Yan.
"Salam kepada yang mulia kaisar, semoga yang mulia panjang umur." Ucap putri tertua pada kaisar Shun.
Kaisar Shun kembali dibuat terkejut oleh sikap putri tertua padanya.
"Kakak, tolong jangan melakukan itu padaku."
Putri tertua tidak mengindahkan ucapan kaisar Shun, dia justru berjalan kesisi permaisuri Yan.
"Apa adik Yan sudah siap?" Tanya putri tertua pada permaisuri Yan.
"Iya kakak, saya sudah siap. Apa kita akan berangkat sekarang?"
"Iya."
Melihat kedekatan permaisuri Yan dan kakaknya, kaisar Shun geram.
"Apa yang sudah kau katakan pada kakak tertua ku sampai dia berubah padaku, permaisuri Yan?"
Permaisuri Yan menatap kaisar Shun dengan tidak suka.
"Aku tidak perlu mempengaruhi orang lain agar suka kepadaku, orang-orang bisa melihat dan menilai sendiri. Mana orang yang layak dan tidak layak untuk dihargai."
Tangan kaisar Shun mengepal mendengar perkataan permaisuri Yan.
"Lebih baik yang mulia menemani selir tersayang anda, jika tidak mungkin dia akan membunuh lebih banyak orang lagi diluar sana." Ucap putri tertua.
Kaisar Shun dan permaisuri Yan terkejut mendengar putri tertua.
"Kakak tertua, apa yang kakak katakan? Selir Ning tidak mungkin melakukan hal itu."
"Lihatlah, apa yang permaisuri Yan katakan benar. Kita tidak perlu menghargai orang yang tidak bisa menghargai kita. Begitupun dengan selir Ning yang tidak bisa menghargai hidup orang lain."
Kaisar Shun yang merasa sudah sangat kesal pergi meninggalkan istana Yue Ji tanpa berkata apapun lagi.
"Kakak tertua, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya permaisuri Yan pada putri tertua.
"Aku akan menceritakan semuanya didalam kereta. Sekarang ayo kita berangkat."
"Baiklah kakak."
Putri tertua dan permaisuri Yan berjalan menuju kereta kuda yang berada didepan pintu gerbang istana Yue Ji. Begitu juga dengan Xiao Wei dan pelayan putri tertua yang mengikuti mereka di belakang.
"Kau pasti sangat tertekan di istana. Apalagi dengan perlakuan Xuan Yi padamu." Ucap putri tertua saat mereka sudah berada didalam kereta.
"Aku sudah pernah melewati pintu hidup dan mati saat racun itu menggerogoti tubuhku. Dan saat aku kembali sadar, aku sudah tidak lagi peduli apakah yang mulia kaisar menyukaiku atau tidak."
"Qing Lian."
"Aku sungguh tidak mau tidak di hargai lagi, yang hanya akan di sentuh oleh yang mulia saat dia memukul ku saja."
Putri tertua sangat tahu bagaimana permaisuri Yan harus sekuat tenaga menahan semua itu, dia bertahan karena dia benar-benar sangat mencintai kaisar Shun. Tapi sekarang, permaisuri Yan sepertinya sudah menyerah akan kaisar Shun.
"Jika kau sudah lelah dan menyerah, maka lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Aku akan mendukungmu." Ucap putri tertua sambil meraih tangan permaisuri Yan dan menggenggamnya.
"Apa kakak tidak marah? Yang mulia kaisar adalah adik anda."
"Aku tidak peduli. Ibu suri pernah berkata padaku jika kelak akan datang seorang wanita yang akan benar-benar menyayangi adik ku itu, dan dia akan mengubah semua sifat buruk Xuan Yi."
Putri tertua menatap permaisuri Yan "Dan aku sangat yakin orang itu adalah kamu. Permaisuri Yan, jika hatimu tidak lagi mencintai Xuan Yi, kau bisa meninggalkannya."
Permaisuri Yan tertegun dengan apa yang putri tertua katakan padanya. Tapi dia tentu tidak bisa pergi begitu saja sebelum membalaskan dendam pemilik tubuh asli yang saat ini dia tempati.
"Jika aku berkata, aku bukanlah Qing Lian yang sebenarnya. Apa kau akan percaya kakak?" Ucap permaisuri Yan.
Putri tertua menatap permaisuri Yan penuh tanya.
Melihat tatapan putri tertua, permaisuri Yan tertawa.
"Aku hanya bercanda kak, jika aku bukan Qing Lian yang sebenarnya. Bagaimana mungkin aku mengenalmu, benarkan?"
Permaisuri Yan menoleh kearah jendela dan membuka sedikit tirai yang menutupi jendela kecil di kereta kuda yang dia naiki.
"Tentu saja dia tidak akan percaya. Tapi setelah aku membuat kaisar Shun dan selir Ning menerima semuanya, mau tidak mau dia harus percaya jika aku bukanlah Qing Lian yang dia kenal."
Putri tertua hanya bisa menatap permaisuri Yan dengan perasaan yang sangat menyesal.