King's Regrets

King's Regrets
Eps 71



Perdana menteri Qing yang seluruh gelarnya sudah di cabut oleh kaisar Shun, dan bukan lagi seorang perdana menteri di istana kerajaan di bawa ke aula tempat hukuman, dimana dia akan di penggal sesuai dengan yang kaisar Shun katakan kemarin.


Para rakyat yang di lewati oleh perdana menteri Qing itu melemparkan batu, dan sayuran busuk ke arah kereta tahanan yang berjalan menuju aula hukuman.


"Dasar orang kejam, mati saja sana!"


"Kami tidak sudi di pimpin oleh menteri kejam seperti mu!"


"Rasakan hukuman yang kau dapat!"


Orang-orang pun mulai memaki perdana menteri Qing sambil melemparkan batu dan sayuran busuk itu.


Perdana menteri Qing sendiri terduduk dengan lemas di kereta tahanan dengan tangan dan kaki di ikat rantai besar, tubuhnya tidak sesegar beberapa minggu yang lalu, bahkan rambut dan pakaian yang dia kenakan tidak lagi rapi dan sebagus biasanya.


Kereta tahanan itu terus diarak melewati pasar ibu kota menuju aula hukuman yang letaknya 200 meter dari istana kerajaan.


Para pengawal menyeret tubuh perdana menteri Qing yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi keluar dari kereta tahanan menuju aula hukuman, lalu membuatnya berlutut di depan rakyat yang akan melihat perdana menteri Qing mendapat hukuman mati.


Qing Hao Min yang juga ada disana menatap perdana menteri Qing dengan tatapan sedih dan juga kecewa.


Laki-laki tua yang selalu membuatnya bangga dan merasa dia adalah seorang ayah yang paling baik di dunia, ternyata dialah yang sudah membuat kakaknya harus kehilangan ibu kandungnya dan hidup menderita di dalam istana.


Kedua tangan Qing Hao Min mengepal dengan kuat, dia benar-benar tidak ingin keluarganya hancur. Tapi dia juga tidak mau ayahnya terus memanggung dosa selama hidupnya.


"Jika saja ayah tidak melakukan kejahatan itu, kita pasti masih bisa hidup dengan bahagia."


Setelah titah kaisar Shun di bacakan, mantan perdana menteri Qing di bawa ke tempat dimana dia akan di penggal oleh seorang algojo yang berdiri tegak dengan pedang besar di tangannya.


Kepala mantan perdana menteri Qing di letakan ke atas tempat pemenggalan oleh dua orang pengawal yang ada disana.


Sang algojo berjalan dan berdiri di samping kepala mantan perdana menteri Qing, dan mengayunkan pedangnya ke atas lalu....


Kreeeeeeessss!


Min'er memejamkan kedua matanya saat kepala ayahnya di penggal di depan kedua matanya.


"Selamat jalan ayah, semoga kelak kita bisa bersama dan menjadi satu keluarga yang bahagia."


Air mata Min'er mengalir, bagaimana pun dia adalah ayah kandungnya sendiri. Ayah yang sudah membesarkannya dan selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya.


Dengan menahan semua perasaan yang ada di dalam hatinya. Min'er berjalan pergi meninggalkan aula hukuman itu, karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.


Jasad seorang pejabat istana yang melakukan kejahatan dan mendapat hukuman mati, akan di kubur bersama dengan para penjahat lainnya di pemakaman yang di sediakan oleh istana, dan anggota keluarga mereka tidak akan bisa untuk datang dan melihat makam mereka. Itu juga termasuk hukuman bagi mereka yang sudah melakukan kejahatan yang kejam saat masih hidup.


Min'er pergi, dia langsung meninggalkan aula hukuman menuju rumahnya. Rumah yang sudah memberikan kehangatan dan kebahagiaan pada dirinya sejak kecil.


Air mata Min'er terus mengalir sepanjang jalan menuju rumahnya, dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sedih bercampur kecewa terhadap keluarganya yang kini sudah hancur.


Ayahnya telah meninggal dan ibunya di seret ke pengasingan selatan, dimana sudah di pastikan dia akan hidup menderita disana hingga akhir hidupnya.


Kraaaak


Bayangan masa kecil Min'er saat bermain dengan kedua orang tuanya muncul, Min'er terjatuh dan duduk di atas tanah karena tidak kuasa menahan semua perasaannya.


"Ayah, ibu."


Min'er terisak sendirian di rumah yang mempunyai banyak kenangan itu.


***


Di kota Yu, Xia Lian An berdiri di samping rumahnya. Dia membawa nampan berisi dua cangkir teh.


Xia Lian An meletakan nampan itu di atas meja batu yang ada di sampingnya. Dia lalu mengambil salah satu cangkir teh dan mengangkat cangkir teh itu di depan badannya.


"Ayah, aku memberikan teh terakhir ini untuk mu sebagai rasa terima kasih dari putrimu karena telah membersakanku selama ini. Semoga di kehidupan selanjutnya, ayah bisa hidup dengan bahagia. Selamat jalan." Ucap Xia Lian An sambil menatap lurus ke depan seolah sedang berbicara dengan seseorang.


Xia Lian An lalu meminum dan menghabiskan teh itu dalam satu tegukan. Setelah meminum teh itu, Xia Lian An memberikan penghormatan terakhir kepada mantan perdana menteri Qing dengan bersujud tiga kali.


Cangkir teh yang kedua, Xia Lian An tujukan untuk ibu kandung Xia Lian An yang asli.


"Ibu, aku telah membalaskan dendam untuk ibu dan aku sendiri. Kelak di kehidupan selanjutnya, kita akan hidup dengan bahagia bersama."


"Terima kasih nyonya, kau telah melahirkan anak yang begitu kuat dan berbakti. Semoga anda mendapat kebahagiaan di beberapa kehidupan berikutnya, saya akan menjaga tubuh putri anda dengan baik."


Xia Lian An lalu kembali meminum habis teh itu dalam satu tegukan, dan bersujud tiga kali sebagai penghormatan terakhirnya pada ibu kandung Xia Lian An yang asli.


Semua yang di lakukan oleh Xia Lian An di lihat Xiao Wei dan Xiao Fen, mereka berdua menyeka air mata mereka yang jatuh.


Mereka tidak kuasa melihat apa yang tengah nona nya lakukan saat ini, mereka juga merasa bahagia karena semua penderitaan yang selama ini nona nya rasakan telah berakhir, dan orang-orang yang sudah menyakitinya sudah mendapatkan hukuman.


Air dingin berhembus, Xia Lian An melihat beberapa butir salju mulai turun dari langit.


"Bahkan alam pun ikut memberikan penghormatan terakhirnya kepada kalian." Gumam Xia Lian An.


Xia Lian An menatap Xiao Wei dan Xiao Fen yang berdiri tidak jauh darinya.


"Bantu aku bawa masuk kembali cangkir-cangkir ini, dan siapkan air rebusan gingseng yang kemarin aku beli, ketika tuan muda Min sudah datang." Ucap Xia Lian An.


"Baik nona." Ucap Xiao Wei dan Xiao Fen bersamaan.


Xia Lian An mengangguk, dia lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Setelah semuanya terjadi, Xia Lian An yakin jika Min'er akan kembali ke rumahnya. Min'er sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain Xia Lian An, di tambah saat ini perasaannya sedang tidak baik dan tidak ada tempat untuknya bersandar.


Min'er juga belum banyak mempunyai pengalaman, dia tidak tahu harus melakukan apa selain pergi dan hidup dengan Xia Lian An saat ini.


"Min'er, aku pasti akan menjagamu dan merawatmu seperti kau yang selalu menjaga kakakmu dulu." Ucap Xia Lian An.


Xia Lian An duduk di tempat tidurnya, dan menatap lurus keluar kamarnya yang dia buka.


Kehidupan di dunia bukanlah sesuatu yang bisa kita gunakan sesuka hati. Dimana ketika kita menginginkan sesuatu, kita bisa melakukan segala macam cara untuk mendapatkannya. Semua akan ada timbal balik atas apa yang telah kita lakukan.