King's Regrets

King's Regrets
Eps 35



Toko kue milik Xia Lian An semakin hari semakin ramai, bahkan dia harus menambah jumlah pekerja didalam toko. Min'er juga terkadang ikut turun tangan membantu Xia Lian An di toko dengan membawakan kue-kue dari dapur yang sudah matang.


Setiap satu mingyu sekali Xia Lian An pasti akan membuat menu kue baru, dan di tambah dia juga membuat menu minuman untuk mendampingi kue yang dia jual.


Bukan hanya tempat duduk yang penuh, antrian yang panjang pun terlihat seperti ular dari dalam toko kue hingga keluar sampai di jalan.


Dari sebuah restoran seseorang melihat toko kue milik Xia Lian An yang sangat ramai itu, senyumnya terlihat mengembang di balik kipas yang dia bawa.


"Dia pasti sangat lelah setelah melayani begitu banyak pembeli." Gumam orang itu.


Setelah hampir dua jam mereka berpacu melayani para pembeli, akhirnya antrian pembeli berkurang dan toko kue pun seperti mendapatkan udara segar dari luar.


"Nona Xia, di dapur tidak ada lagi bahan kue yang tersisa. Dan ini adalah kue terakhir yang sudah matang." Ucap Xiao Fen yang datang membawa satu nampan kue terakhir.


"Kalau begitu, kue itu akan aku beli."


Semua orang menoleh ketika seorang laki-laki berbicara dari pintu toko.


Xia Lian An terkejut melihat orang yang berbicara itu.


"Putra mahkota Zhang?" Ucap Xia Lian An tanpa sadar.


Putra mahkota Zhang tersenyum melihat Xia Lian An yang ternyata masih mengingatnya, meski dia bukan lagi seorang permaisuri.


Xia Lian An langsung berjalan mendekati putra mahkota Zhang yang berdiri didepan pintu toko kue nya.


"Salam pada putra mahkota Zhang, semoga yang mulia panjang umur." Xia Lian An memberi hormat.


"Hentikan itu, aku sangat tidak suka kau melakuknanya padaku." Ucap putra mahkota Zhang.


Xia Lian An menegakan kembali tubuhnya dan menatap putra mahkota Zhang.


"Saya bukanlah orang yang berkuasa, jadi sudah seharusnya memberi hormat kepada anda."


Putra mahkota Zhang menggelengkan kepalanya, dia lalu melihat ke arah lain.


"Aku ingin menikmati kue itu, tolong bawakan kue itu dan minumannya ke meja ku." Ucap putra mahkota Zhang pada Xiao Fen yang masih memegang nampan berisi kue.


"Ba.. Baik yang mulia." Ucap Xiao Fen.


Putra mahkota Zhang menatap Xia Lian An sambil tersenyum.


"Silahkan, yang mulia." Ucap Xia Lian An.


"Kau tidak mau menemaniku menikmati kue yang kau buat?"


Xia Lian An tertegun dengan pertanyaan dari putra mahkota Zhang.


"Saya akan berganti pakaian saya terlebih dulu. Saya mohon anda bisa menunggu sambil meniknati kue itu, yang mulia."


"Baiklah kalau begitu."


Xia Lian An menundukkan kepalanya sebelum dia pergi untuk berganti pakaian.


Putra mahkota Zhang melihat-lihat toko kue milik Xia Lian An. Dia melihat dekorasi toko benar-benar sangat elegan dan juga bisa membuat orang yang ada didalam merasa nyaman.


Di tambah ada aroma wangi kue saat kue yang baru matang keluar dari pemanggang, itu menambah suasana semakin ingin menikmati kue-kue yang ada didalam toko.


Xiao Fen datang sambil membawa dua gelas teh dan satu piring dengan beberapa kue.


"Silahkan, yang mulia." Ucap Xiao Fen pada putra mahkota Zhang.


"Iya."


Putra mahkota Zhang duduk di kursi dan mengambil satu gelas berisi teh yang ada didepannya, dia mengangkat gelas itu dan akan meminumnya. Tapi gerakan itu terhenti saat dia melihat Xia Lian An keluar dari satu ruangan dengan pakaian berwarna putih dan jepit rambut yang indah diatas kepalanya.



"Aku sudah tahu, dia pasti terlihat lebih cantik menggunakan pakaian seperti itu, dari pada memakai pakaian kerajaan."


Putra mahkota Zhang benar-benar terpesona akan kecantikan dari Xia Lian An, hingga dia meletakkan kembali teh yang akan dia minum.


Xia Lian An berdiri tepat di depan putra mahkota Zhang lalu tersenyum.


"Apakah yang mulia menunggu terlalu lama?" Tanya Xia Lian An.


"Bisakah nona Xia memanggilku dengan namaku saja? Memanggil ku dengan sebutan yang mulia, sangat tidak nyaman. Kita seperti orang yang baru pertama kali bertemu."


Xia Lian An duduk di depan putra mahkota Zhang.


"Anda adalah salah satu anggota kerajaan, putra mahkota dari negara Ming yang sangat di hormati dan di kagumi. Bagaimana bisa saya memanggil anda dengan nama anda?"


"Aku tidak masalah, lagi pula kau juga bukan dari negara Ming. Yang artinya kau bisa tidak memanggilku dengan sebutan yang mulia."


Xia Lian An mengangguk, dia lalu menjepit satu kue dengan sumpit dan meletakkan kue itu diatas piring kecil didepan putra mahkota Zhang.


"Cobalah, kue itu saya sendiri yang membuatnya."


Putra mahkota Zhang tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk membuat Xia Lian An memanggil namanya secara langsung.


Xia Lian An hanya tersenyum menanggapi ucapan putra mahkota Zhang.


"Bagaimana yang mulia bisa tahu jika saya berada di kota ini?"


Putra mahkota Zhang meletakan gelas berisi teh diatas meja.


"Jika aku berkata, aku mengirim seseorang untuk mencarimu. Apa kau akan marah padaku?"


Xia Lian An diam, dia lalu menuangkan teh kedalam gelas putra mahkota Zhang yang kosong.


"Yang mulia bukanlah orang yang senggang, untuk apa melakukan hal itu?"


Putra mahkota Zhang menatap lekat Xia Lian An.


"Jika aku berkata, karena aku menyukaimu. Apa kau akan percaya padaku?"


Xia Lian An terdiam, dia meletakan kembali teko keramik kecil diatas meja.


"Apakah di negara Ming tidak ada wanita yang cantik dan menarik perhatian yang mulia putra mahkota Zhang?"


"Aku tidak pernah melihat wanita lain setelah melihatmu di dalam istana negara Qin dulu."


Xia Lian An tersenyum "Bukankah saat itu saya masih menjadi istri yang mulia kaisar?"


Putra mahkota Zhang mengangguk "Walau aku tahu kau adalah permaisuri negara Qin, tapi aku tidak bisa melupakan perasaanku begitu saja."


Xia Lian An terdiam. Dia mengingat apa yang Min'er katakan padanya tentang putra mahkota Zhang yang menyukai dirinya secara diam-diam.


"Nona Xia, aku tahu kau baru saja bebas dari kehidupan didalam istana. Dan aku juga tahu kau sangat menyukai kehidupanmu yang sekarang ini. Tapi aku..."


"Maaf yang mulia, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri. Saya tidak akan membuka hati saya sebelum saya bisa membalas semua rasa sakit yang pernah saya rasakan pada orang-orang yang sudah menyakiti saya. Jadi.."


Putra mahkota Zhang mengangguk, dia mengerti apa yang Xia Lian An katakan.


"Kalau begitu, aku akan menunggu. Aku akan menunggu sampai nona Xia selesai membalas semuanya."


Xia Lian An tertegun mendengar ucapan putra mahkota Zhang yang terdengar begitu tulus padanya.


Putra mahkota Zhang menyentuh tangan Xia Lian An dan menggenggamnya pelan.


"Tapi kau harus berjanji padaku, kau tidak boleh terluka sedikitpun. Dan jika kau membutuhkan bantuan, aku akan dengan senang hati membantumu secara diam-diam."


Tiba-tiba ada perasaan hangat yang mengalir dalam tubuh Xia Lian An saat putra mahkota Zhang mencoba melindungi dirinya, itu karena dalam kehidupan dia di era modern maupun sekarang di jaman kuno. Dia tidak pernah bertemu dengan orang yang tulus mencintainya dan selalu ingin melindungi dirinya.


"Nona Xia, bisakah kau berjanji padaku akan hal itu?" Tanya putra mahkota Zhang.


Xia Lian An yang tersadar dari lamunannya menatap putra mahkota Zhang dan menganggukan kepalanya pelan.


"Iya, saya berjanji."


Mendengar itu, putra mahkota Zhang merasa sangat senang dan juga lega. Karena dengan begitu dia akan menjadi salah satu orang yang akan Xia Lian An andalkan.


"Terima kasih ,yang mulia." Ucap Xia Lian An.


"Aku akan menerima ucapan terima kasih mu, jika kau tidak lagi memanggilku dengan sebutan yang mulia."


Xia Lian An tertawa pelan mendengar permintaan putra mahkota Zhang yang menurutnya seperti anak kecil.


"Kenapa, apa aku tidak boleh. Aku akan merasa lebih dekat denganmu jika kau memanggilku dengan nama ku. Seperti kau memanggil adikmu."


"Sungguh kekanak-kanakan."


"Aku tidak peduli, aku hanya memintamu untuk memanggilku dengan nama ku. Hanya itu."


"Baiklah, baiklah. Tuan Jiang." Akhirnya Xia Lian An mengalah untuk memanggil putra mahkota Zhang dengan sebutan tuan Jiang.


Mendengar Xia Lian An memanggilnya dengan sebutan nama, putra mahkota Zhang tersenyum senang.


"Apa kau senang? Jika begitu makanlah kue nya, karena hari ini toko akan tutup lebih cepat."


"Nona Xia, apa aku boleh ke rumahmu? Aku ingin merayakan hari bahagia ini bersama dengan mu dan pelayanmu."


"Jika kau ingin mentraktir kami, kenapa tidak makan bersama disini. Jadi semua pekerja yang ada disini juga bisa ikut menikmatinya."


"Itu boleh juga, lalu mari kita pergi membeli bahan-bahan untuk memasaknya."


Xia Lian An terdiam "Apa kau bersungguh-sungguh?" Tanya Xia Lian An tidak percaya.


"Tentu saja, di negara Ming aku sering pergi ke pasar dan membeli semua bahan makanan yang ingin aku makan sendiri."


"Bukankah kau mempunyai banyak pelayan?"


"Mereka tidak aku ijinkan untuk membeli bahan-bahan makanan ku. Karena itu, aku sangat hafal beberapa nama sayuran dan... aku juga bisa memilih ikan yang masih segar."


Xia Lian An di buat tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Seorang putra mahkota dari kerajaan besar, pergi ke pasar dan membeli semua bahan-bahan makanan yang ingin dia makan sendiri. Sungguh menakjubkan.