King's Regrets

King's Regrets
Eps 21



Setelah keluar dari istana dan tinggal di kediaman putri tertua, permaisuri Yan terlihat lebih bahagia. Mungkin karena selama ini dia sudah tertekan didalam istana kerajaan oleh kaisar Shun dan selir Ning.


Hari ini putri tertua mengajak permaisuri Yan pergi ke beberapa toko perhiasan, toko kain, ke tukang jahit pakaian kepercayaan putri tertua dan juga ke rumah makan terkenal di kota Zo.


Selama di kota Zo, permaisuri Yan benar-benar seperti burung yang baru saja keluar dari sangkarnya. Putri tertua pun merasa sangat senang melihat permaisuri Yan begitu bahagia.


"Jika saja Xuan Yi memperlakukan mu dengan lebih baik, kau mungkin akan merasa lebih bahagia dari ini."


Permaisuri Yan melihat putri tertua memandangnya dengan tatapan yang penuh rasa kasihan dan penyesalan. Dia berjalan mendekati putri tertua dan memeluk lengannya.


"Aku tidak suka jika kakak tertua melihatku dengan seperti itu." Ucap permaisuri Yan.


"Ah, maaf. Aku hanya merasa menyesal atas perlakuan Xuan Yi padamu selama ini."


Permaisuri Yan menggelengkan kepalanya "Itu bukan salah kakak tertua."


Permaisuri Yan berjalan dan melihat beberapa kain yang ada didepannya.


"Kakak tertua bukanlah yang mulia kaisar, jadi kakak tertua tidak perlu merasa seperti itu. Lagipula kakak tertua pernah berkata, jika aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan." Lanjut permaisuri Yan.


"Adik Yan, apa kau bahagia?" Tanya putri tertua.


Permaisuri Yan menatap putri tertua dan tersenyum.


"Bahagia itu bisa karena banyak hal, seperti saat ini. Aku sangat bahagia bisa keluar dengan kakak tertua."


Putri tertua tersenyum mendengar penuturan permaisuri Yan. Meski bukan itu yang ingin putri tertua dengar, tapi itu sudah cukup membuatnya lega.


"Apa aku boleh membuat pakaian dengan kain-kain ini?" Tanya permaisuri Yan.


"Iya. Kau pilihlah bahan paling bagus yang kau inginkan."


"Terima kasih kakak tertua."


Permaisuri Yan lalu melihat-lihat dan memilih beberapa kain yang dia inginkan.


Setelah membeli kain dan mengirim kain-kain itu ke penjahit kepercayaan putri tertua, mereka lalu pergi ke sebuah rumah makan.


Pemilik rumah makan itu sudah sangat mengenal putri tertua, jadi dia menyiapkan ruangan khusus untuk putri tertua dan permaisuri Yan dilantai atas.


"Ini adalah rumah makan yang sering aku datangi, aku harap kau suka dengan masakan yang mereka buat." Ucap putri tertua.


"Jika ini adalah rumah makan yang kakak tertua sering datangi, itu berarti semua makanan disini tidak perlu diragukan lagi rasanya."


"Kau ini sangat pandai berbicara, adik Yan."


Putri tertua dan permaisuri Yan tertawa bersama.


**


Di istana kerajaan, selir Nuan tengah menyiapkan pakaian untuk kaisar Shun. Itu sudah menjadi tugasnya dan tidak pernah tergantikan, walau selir Ning pernah meminta kaisar Shun agar dia yang melakukannya.


Selir Nuan, mengambil pakaian berwarna coklat keemasan dengan pola naga yang sangat tegas.


Setelah memilih pakaian, selir Nuan melihat kaisar Shun masuk kedalam kamar. Rambutnya nampak jatuh tergerai, namun tetap terlihat rapi.


"Hamba sudah menyiapkan pakaian untuk anda yang mulia." Ucap selir Nuan dengan lembut.


"Bantu aku memakainya."


Selir Nuan sedikit terkejut mendengar permintaan kaisar Shun, itu karena sebelumnya kaisar Shun selalu di bantu oleh kedua pelayannya.


"Apa kau tidak bersedia melakukannya?" Tanya kaisar Shun yang melihat selir Nuan diam.


"Ampuni hamba yang mulia, hamba akan melakukannya."


Kaisar Shun mengangguk, dia lalu berjalan mendekati selir Nuan dan berdiri didepannya.


Selir Nuan dengan hati-hati membantu kaisar Shun mengenakan pakaiannya dan juga memasangkan ikat pinggang berwarna emas pada kaisar Shun.


Kaisar Shun melihat selir Nuan dengan seksama "Aku bahkan tidak pernah memintanya untuk mengganti pakaian ku." Gumam kaisar Shun.


Selir Nuan mendengar gumamam kaisar Shun, dia mengerti siapa yang di maksud oleh kaisar Shun.


Kaisar Shun sedikit mendongakan kepalanya dan tersenyum.


"Itu tidak mungkin, aku sama sekali tidak menyukai wanita itu."


Selir Nuan berdiri dan kembali merapikan pakaian kaisar Shun. Setelah itu selir Nuan berjalan mendekati sebuah meja dengan cermin kecil diatasnya.


"Silahkan duduk yang mulia, hamba juga akan membantu merapikan rambut yang mulia."


Kaisar Shun menurut, dia berjalan dan duduk di kursi kecil.


Selir Nuan mengambil sisir kecil lalu dengan pelan mulai menyisir rambut kaisar Shun yang cukup panjang namun halus seperti sutra.


"Tidak ada salahnya kita menyukai seseorang, itu hanya akan merubah kehidupan kita sedikit lebih indah dan berwarna, yang mulia." Ucap selir Nuan saat menyisir rambut kaisar Shun.


Kaisar Shun diam, dia mencoba memahami apa yang selir Nuan katakan. Selama ini dia memang tidak pernah merasakan adanya rasa nyaman dengan selir Ning, dia hanya menggunakan selir Ning untuk membuat permaisuri Yan terluka dan membenci dirinya. Sehingga permaisuri Yan memintanya untuk bercerai karena tidak tahan.


Selir Nuan yang melihat kaisar Shun terdiam menjadi mengerti, jika kaisar Shun sebenarnya juga menyukai permaisuri Yan.


"Sudah selesai yang mulia." Ucap selir Nuan.


Kaisar Shun menatap pantulan dirinya dalam cermin kecil didepannya.


"Iya. Kau sudah bisa kembali."


"Baik yang mulia."


Selir Nuan membungkukan sedikit badannya sebelum dia meninggalkan kamar kaisar Shun.


Setelah selir Nuan pergi, kaisar Shun berdiri dan mengambil gelas teh yang ada di meja lain lalu perlahan meminum teh itu.


Sekilas kaisar Shun mengingat permaisuri Yan yang kemarin sempat tersenyum pada kakaknya dengan sangat manis.


"Sepertinya aku harus membuat rencana untuk pergi ke negara lain dengan permaisuri Yan." Gumam kaisar Shun tanpa dia sadari.


Kaisar Shun tidak menyadari apapun yang dia lakukan itu tidak akan berarti bagi permaisuri Yan saat ini. Dan meski perasaan kaisar Shun telah berubah pada permaisuri Yan juga itu sudah sangat terlambat.


"Kasim ketua." Ucap kaisar Shun.


Kasim ketua yang sejak tadi berdiri diluar pintu kamar segera masuk saat mendengar kaisar Shun memanggilnya.


"Hamba disini yang mulia."


"Kau atur semuanya. Bulan depan aku dan permaisuri Yan akan pergi ke negara Ming."


"Baik yang mulia."


"Ingat untuk menyiapkan hadiah yang terbaik."


"Hamba mengerti yang mulia."


Kasim ketua keluar. Wajah kasim ketua sangat kebingungan.


Selama ini kaisar Shun tidak pernah membiarkan permaisuri Yan keluar dari dalam istana kerajaan. Tapi sekarang dia malah mengajak permaisuri Yan berkunjung ke negara lain.


Ini adalah catatan baru dalam sejarah kerajaan negara Qin selama era kaisar Shun berkuasa.


Setelah kasim ketua pergi, kaisar Shun tersenyum.


"Aku sudah memenuhi keinginan mu untuk pergi keluar istana, jadi kau juga harus memenuhi keinginanku kali ini, permaisuri Yan." Ucap kaisar Shun sendiri.


Selir Ning yang baru akan masuk kedalam istana raja mendengar ucapan kaisar Shun. Wajahnya yang semula terlihat senang seketika berubah.


"Kenapa harus permaisuri Yan lagi yang mendampingi kaisar, bukankah kaisar tidak menyukainya? Jangan-jangan kaisar sudah...."


Selir Ning berbalik dan pergi meninggalkan istana raja dengan pikiran yang penuh tanya dan perasaan khawatir.


Selama perjalanan kembali ke paviliunnya, selir Ning terus memikirkan apa yang sudah terjadi pada kaisar Shun.


Beberapa minggu yang lalu kaisar masih terlihat sangat membenci permaisuri Yan, tapi sekarang dia justru ingin membawa permaisuri Yan pergi ke negara Ming.


"Permaisuri Yan, aku tidak akan membiarkan mu merebut kasih sayang kaisar dariku. Malam ini aku akan membuat kaisar kembali tergila-gila padaku." Gumam selir Ning sambil tersenyum licik.